NovelToon NovelToon
ALUNA : Transmigrasi Cegil

ALUNA : Transmigrasi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Teen / Transmigrasi
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Dhanvi Hrieya

𝐀𝐥𝐮𝐧𝐚 𝐂𝐚𝐥𝐢𝐬𝐭𝐚 nyaris mati tenggelam dan saat matanya terbuka, ia mulai menyadari jika dunianya yang sekarang hanyalah dunia novel fiksi. Ia terbangun sebagai karakter figuran dalam sebuah novel 𝚝𝚑𝚛𝚒𝚕𝚕𝚎𝚛-𝚛𝚘𝚖𝚊𝚗𝚌𝚎 yang pernah ia bacanya. Sialnya lagi, Aluna bukan siapa-siapa hanya pemeran kecil yang dikenal sebagai biang kerusuhan. Tapi apa jadinya saat ia mulai menyadari, ulah kecilnya mengacaukan alur cerita?
Dalam usahanya untuk memperbaiki kesalahan dan bertahan hidup di dunia yang bukan miliknya, Aluna justru menarik perhatian empat karakter pria berbahaya. 𝐆𝐚𝐯𝐢𝐧𝐨, si obsesif yang tak bisa membedakan cinta dan obsesi. 𝐊𝐚𝐢, si manipulatif yang pandai bermain peran. 𝐉𝐚𝐲𝐝𝐞𝐧, si red flag yang sulit ditebak-beracun tapi memikat. Dan 𝐒𝐞𝐛𝐚𝐬𝐭𝐢𝐚𝐧, ketua geng motor yang haus kendali. Dunia novel mulai runtuh. Alur cerita berubah liar. Aluna jadi buruan. Kini, hanya ada dua pilihan: kabur atau menghadapi mereka satu per satu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhanvi Hrieya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7| Ayo Kita Nikah!

Rambut hitam bergelombang disisir dengan ruas jari jemarinya, buket bunga di tangan kiri digenggam erat. Bibir bawahnya digigit, manik mata coklat beningnya menatap lurus ke arah pintu VIP rawat inap.

"Lo pasti bisa, apapun hasilnya. Lo bakalan baik-baik aja Aluna," gumam Aluna meyakinkan dirinya sendiri.

Kepala Aluna mengangguk, tangannya terangkat mengetuk pintu dua kali. Suara keras di balik pintu terdengar, Aluna menyentuh kenop pintu dan mendorong perlahan pintu ke arah dalam. Pintu di tutup kembali, suara degup jantung Aluna bertalu-talu bak genderang perang. Kedua sisi bibirnya ditarik tinggi ke atas, mata pria di atas ranjang pesakitan berkilat aura membunuh menguar di udara.

"Good morning, Jayden!" seru Aluna sealami dan seceria mungkin, di saat langkah kakinya berhenti di samping ranjang.

Buket bunga tulip putih diletakkan di atas pangkuan Jayden, Aluna duduk perlahan di kursi tanpa diminta. Cengengesan hanya untuk mengurangi tekanan dari aura membunuh Jayden, alis mata tebal Jayden berkerut.

"Gimana keadaan lo?" tanya Aluna menyentuh tengkuk belakangnya terasa dingin.

"Menurut lo?" Jayden melipat kedua tangannya di bawah dada, tanpa menyentuh buket bunga di atas pangkuannya. "Apakah gue bakalan tetap baik-baik aja setelah apa yang lo lakuin ke gue, hm?"

Bibir Aluna berkedut, lidahnya mendadak kelu. Peluh mencuat di dahinya, jari jemari lentik Aluna saling bertautan dan diremas kasar. Kepalanya tertunduk, kelopak matanya perlahan tertutup. Diembuskan napas perlahan dari bibir, Aluna kembali membuka mata saat kedua tangannya terkepal. Kaki kursi berderit saat bergesekan dengan lantai, suara tempurung lutut menghantam lantai mengejutkan Jayden di atas ranjang.

"Gue minta maaf, Jayden. Gue bakalan tanggung jawab sama lo seumur hidup gue, gu—gue bakalan nikah sama lo!" seru Aluna tergagap, kedua tangannya mengepal erat.

Pupil mata Jayden melebar mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Aluna, gadis remaja yang kini berlutut dengan kepala tertunduk itu sebenarnya sedang apa. Mulut Jayden terbuka lebar, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Merasa tak ada respon dari Jayden, Aluna mengangkat kepalanya dengan mata menatap lurus ke arah Jayden dengan tekad kuat.

"Gue siap dan sedia jadi istri lo, bersedia jadi perawan tua di sisi lo tanpa ngeluh. Gue yang bikin lo impoten, dan gue pun bakalan siap terima risikonya kalo lo nggak bakalan pernah jadi lakik seutuhnya," sambung Aluna tegas dan lugas.

Rasanya kedua bola mata Jayden akan keluar dari tempatnya, semburan tawa keras melambung membuat kedua remaja di dalam ruangan tertegun. Keduanya serentak melirik ke arah asal suara, muka Aluna merah padam. Kedua telapak tangannya berkeringat, siapa yang menyangka tiga sosok remaja yang berdiri di pintu yang terbuka lebar kini menatap mereka dengan pandangan beragam. Sementara Kai sudah tumbang dengan tawa keras terduduk di lantai, Kai terbatuk-batuk dengan tangan menekan perutnya.

'Ugh..., sialan. Sejak kapan mereka bertiga buka pintu dan berdiri di sana?' Aluna memaki dalam diam, menelan rasa malu bercampur kesal.

Rahang Jayden mengeras, daun telinganya memerah. Gavino menggeleng tatapan matanya tampak rumit, Sebastian melirik Aluna dan Jayden bergilir.

"ALUNA!" teriak Jayden menggelegar, Aluna langsung berdiri darah di tubuhnya berdesir. "I will kill you!" seru Jayden dengan mata memerah dan melotot.

Aluna bergidik ngeri, tanpa dikomando gadis dengan seragam sekolah lengkap itu langsung melarikan diri. Buket bunga di pangkuan langsung melayang ke arah pintu dilempar oleh Jayden, Aluna melewati ketiganya begitu saja. Berlarian di lorong-lorong dengan napas memburu, kedua sisi bahu Jayden naik-turun.

"Kai sialan. Shut up brengs*k!" seru Jayden dalam satu tarikan napas, urat-urat lehernya bahkan mencuat.

Bukannya berhenti tawa Kai malah semakin keras disertai suara batuk, Sebastian menggeleng tak berdaya di saat Gavino memberikan kode. Sebastian menunduk menarik kerah seragam sekolah Kai dari belakang, menyeretnya menjauh dari ruangan rawat inap Jayden—sahabat mereka. Membiarkan Gavino yang mengatasi kemarahan Jayden, orang-orang yang kamarnya dekat dengan bilik ruangan Jayden merasa terganggu dengan suara keras Jayden dan tawa Kai yang kini masih di seret di lorong rumah sakit.

...***...

Suara lonceng nyaring mengudara seantero sekolah, kerumunan orang-orang keluar dari celah pintu setiap kelas terlihat dengan setiap guru di mata pelajaran jam pertama yang memimpin di depan. Lenguhan serak mengalun, Aluna menggeliat kecil. Pagi yang berat harus ia lewati, kemarahan Jayden tadi pagi membebani pikiran Aluna. Senggolan di lengannya mencuri perhatian Aluna, ia melongok ke samping.

"Lo kenapa mendadak telat hari ini, huh?" tanya Karina mengerutkan dahinya.

Aluna menyandarkan punggung belakangnya di sandaran kursi, disertai dengan desahan panjang.

"Nyelamatin masa depan gue," sahut Aluna sekenanya.

Karina menggeleng ringan, "Lo nih, ya. Kenapa mendadak aneh sih, kayak ada yang berubah dari lo."

Kedua kelopak mata Aluna berkedip dua kali, ia tertegun mendengar perkataan Karina.

"Gu—gue berubah?" Jari telunjuknya bergerak menuju ke arah wajahnya sendiri.

Kepala Karina sontak saja mengangguk mengiyakan, sejak Aluna jatuh ke kolam renang sahabat karibnya ini mendadak tertutup. Bahkan ia lebih fokus menghabiskan harinya tanpa melibatkan Karina, dan itu membuat Karina merasa kurang nyaman.

"Kalo boleh jujur, gue ngerasa lo kayak ngahindar dari gue. Biasanya lo berkicau soal ini dan itu, tiap menit always kirimin gue chat. Belakang ini setiap gue chat lo, balasnya ngaret. Jujur deh sama gue, lo sebenernya ada problem apa sih?" Karina fokus menatap wajah Aluna.

Aluna mengulum bibirnya, tangannya perlahan diturunkan memilih membuang tatapan matanya. Siapa sangka Karina merasakan jarak yang perlahan ia buat, memang sulit untuk memisahkan diri apalagi dari si antagonis di sampingnya ini. Selama ini tokoh Aluna digambarkan lengket dengan Karina, hasutan demi sahutan terus dibisikan di telinga Karina oleh Aluna. Namun, sekarang Aluna memilih menjauh dari Karina, sudah dapat dipastikan Karina merasakan ada yang berbeda dari Aluna.

"Apa gue punya salah sama lo?" tebak Karina mencoba membaca pikiran Aluna.

Aluna menggeleng perlahan, dan meneguk kasar air liur. "Gue cuma capek aja, lo nggak penasaran kenapa gue segitu ngebetnya nggak suka Zea?"

"Itukan karena lo sahabat gue, apa yang gue benci udah pasti lo juga benci. Apa ada alasan lainnya selain itu?"

Aluna mengigit bibirnya, apakah tokoh antagonis ini bisa berubah. Bagaimana pun Karina tidak akan memiliki akhir yang baik, begitu pula dengan tokoh Aluna. Gadis dengan manik mata coklat bening itu perlahan-lahan menoleh ke samping, membalas tatapan penasaran yang dilayangkan oleh Karina.

"Nggak sepenuhnya salah juga sih tapi, gue punya motif egois tersendiri. Alasan kenapa gue benci dia," jawab Aluna merendahkan intonasi nada suaranya, "gue..., gue bukan anak kandung Nyokap dan Bokap gue yang sekarang. Gue cuman anak adopsi mereka, gue satu panti asuhan sama Zea. Gue benci dia karena dia lebih dulu diadopsi ketimbang gue. Gue ngerasa rendah diri, dan..., yeah. Itu karena gue emang berhati jahat aja sih."

Karina terdiam tatapan matanya menatap Aluna dengan ekspresi tak terbaca, Karina mengulas senyum sekilas.

"Gue tau lo anak adopsi, Aluna. Lo kira gue nggak tau lo anak adopsi huh," balas Karina tegas.

"Lo tau?"

Kepala Karina mengangguk, "Yap. Gue tau, gue suka lo karena otak lo penuh dengan ide licik. Gue suka sama keteguhan lo berbuat jahat, karena itu lo dan gue bersahabat. Kita sama."

Tangan Karina terangkat, jari jemari lentik Karina menarik helaian rambut Aluna ke belakang dengan wajah tanpa ekspresi. Seringai terbit di bibir pink tipis Karina, Aluna menahan napasnya. Bulu tubuhnya merinding, ekspresi wajah Karina dalam hitungan detik langsung berubah menjadi polos kembali.

"Gue laper banget, ayo ke kantin." Karina bangkit dari posisi duduknya dengan telapak tangan terulur.

1
Jessica Elvira Aulia
lanjut🙏
Dhanvi Hrieya: 🫶🏻🫶🏻❤️❤️❤️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!