NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Suami Bucin

Menikahi Mantan Suami Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kopii Hitam

Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.

Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.

Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.

Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5.

Plak...

Sebelah pipi Bella seketika merah menyala, meninggalkan bekas jari usai mendapat tamparan keras dari Dayat, tubuhnya tersungkur, air matanya mengalir dan jatuh ke lantai.

"Anak kurang ajar," umpat Dayat, amarahnya memuncak.

Beberapa hari ini Dayat benar-benar kehilangan kesabaran, semua kencan buta yang sudah dia atur tidak satupun yang berhasil, dia curiga ada sesuatu yang tidak beres. Setelah meminta seseorang menyelidiki, ternyata benar semua itu ulah Bella.

Ya, setiap menghadiri kencan buta yang diatur Dayat, Bella selalu menolak pria tersebut dengan alasan bahwa dirinya hanya seorang janda, tidak memiliki keterampilan apapun, dia hanya bisa menghabiskan uang dan tidak tau cara mengurus suami, dia bahkan terpaksa mengatakan kalau dirinya mandul, tidak bisa memberi keturunan.

Ketika bertemu dengan pria yang baik dan mau menerima kekurangannya, Bella mengatakan kalau hatinya sudah terpaut pada pria lain, dia tidak mungkin mencintai pria itu, segala sesuatu yang dipaksakan tidak akan berbuah manis.

Sambil mengusap pipinya yang saat ini mati rasa, Bella merangkak dan bersimpuh di kaki Dayat. "Yah, Bella tidak ingin menikah lagi." ucapnya berlinangan air mata.

Bruk...

Tubuh Bella terguling di lantai setelah ditendang oleh Dayat. Namun Bella tidak menyerah, dia kembali merangkak dan meraih kaki Dayat, memohon agar sang ayah mau mendengarnya.

"Bukan giliranmu untuk memilih," tukas Dayat dengan sorot mata tajam membunuh.

"Tapi aku tidak mau, Yah." Bella kembali menolak, dia masih kekeh dengan pendiriannya.

"Tidak mau?" geram Dayat dengan gigi bergemeletuk, kemudian mengambil pecut dan mencambuk Bella bertubi-tubi.

"Au..."

Bella meringkuk memeluk tubuhnya sendiri, air matanya tak henti menetes menahan rasa sakit ketika cambuk yang dilayangkan Dayat mendarat di punggung, lengan dan kakinya. "Sakit, Yah..." pekik Bella dengan suara parau, sekujur tubuhnya terasa remuk.

"Sekarang baru tau sakit?" sergah Dayat yang sudah kesetanan dan kembali mencambuk Bella sekuat tenaga.

Dari sudut dapur, Sari menunduk dan memejamkan mata karena tidak sanggup menyaksikan kekerasan yang dilakukan Dayat terhadap Bella, sesekali matanya terbuka, kakinya hendak melangkah namun terasa berat.

"Cukup, Tuan!" pada akhirnya Sari memberanikan diri bersuara, dia berlari menghadang cambuk yang saat ini tengah melayang di udara, meraup tubuh Bella dalam dekapannya.

"Au..." rintih Sari ketika cambuk tersebut mengenai punggungnya.

Melihat cambuknya salah sasaran, Dayat menghentikan aksinya dan memarahi Sari dengan suara lantang, menghina pekerjaannya yang hanya seorang pembantu, tidak perlu ikut campur urusan orang lain.

Dengan segala keberanian yang baru saja dia kumpulkan, Sari mendongak dan menatap nyalang ke arah Dayat, air matanya menggenang. Tanpa pikir dia pun dengan tegas menantang Dayat, manusia tidak berperikemanusiaan, lebih buas dari hewan, sumpah serapah keluar dari mulut Sari tanpa gentar, kemudian membantu Bella berdiri dan memapahnya ke kamar.

Setelah mendudukkan Bella di tepi ranjang, Sari bergegas mengambil kotak obat, air matanya menetes ketika membersihkan darah pucat bening yang keluar diantara bekas cambukan yang berwarna merah kebiruan dan membengkak.

"Ke-kenapa ja-jadi se-seperti i-ni, Bik? Ke-kenapa Be-Bella ti-tidak ma-mati sa-ja?" isak Bella sesenggukan, dia kesulitan bicara, dadanya sesak, tenggorokan tercekat, sekujur tubuhnya sakit, tulang-tulangnya terasa remuk.

Melihat Bella tersedu-sedu, hati Sari terenyuh lalu memeluk Bella dan menyeka pipinya. Sebagai seorang ibu yang juga memiliki anak perempuan, relung hatinya ngilu melihat penderitaan Bella. Dia tidak habis pikir kenapa Fahri tega menceraikan Bella, anak secantik dan sebaik dia malah dikembalikan ke rawa yang dipenuhi lumpur.

Sari sudah belasan tahun bekerja di rumah itu, dia melihat sendiri perkembangan Bella yang penurut, tidak banyak menuntut dan rajin. Tapi kenapa Dayat dan Hana memperlakukannya dengan kejam?

Lama Sari duduk di tepi ranjang mendekap Bella sambil mengusap-usap rambutnya, sampai akhirnya Bella mendongak dan menatap mata Sari dengan lirih, "Bawa Bella pergi dari sini, Bik!" pinta Bella berderai air mata, dia tidak kuat lagi.

Mendengar itu, dada Sari berdenyut ngilu. Ingin sekali dia membawa Bella pergi tapi bagaimana caranya? Dia hanya seorang asisten rumah tangga, tidak punya hak membawa pergi anak orang.

Di ruang tengah, Dayat duduk di sofa dengan kaki menyilang dan tangan melebar bak seorang raja. Dia memang sengaja menunggu Sari setelah menyuruh asisten rumah tangga lain memanggilnya, raut angkuh pria itu terlihat begitu kentara.

Beberapa menit kemudian, Sari tiba di ruang tengah dan berdiri dihadapan Dayat dengan kepala tegak, menegaskan bahwa dirinya tidak takut pada pria itu.

Melihat Sari berdiri di depannya, Dayat kemudian melempar amplop ke mukanya. "Bereskan barang-barangmu sekarang juga!" usir Dayat, dia memecat Sari, harga dirinya hilang ketika Sari mengumpatnya dengan kata-kata sumpah serapah tadi.

"Baik, terima kasih." angguk Sari dengan sopan, sebenarnya dia sudah muak bekerja di rumah itu, tanpa diusir pun dia memang ingin pergi karena tidak kuat menyaksikan Bella disiksa setiap hari.

Setelah mengambil amplop yang jatuh di kakinya, Sari pun berbalik badan, berjalan ke arah belakang dan masuk ke kamar mengemasi barang-barang miliknya.

Tidak berselang lama, Sari keluar menenteng tas berukuran sedang. Sebelum pergi, dia menyempatkan diri ke kamar Bella terlebih dahulu, dia ingin pamit.

Sesampainya di kamar, Sari mendapati Bella yang sudah tertidur. Dia mendekat dan menyelimuti tubuh ringkih itu lalu mengusap kepalanya. "Non, bibi pergi ya, jaga diri baik-baik!" gumam wanita berusia 47 tahun itu kemudian berlalu pergi tanpa menoleh ke belakang.

Sebenarnya Sari tidak tega meninggalkan Bella sendiri, siapa yang akan melindunginya nanti. Entah apa lagi yang akan terjadi setelah ini, dia tidak berani memikirkannya.

...****************...

Di tempat lain...

Fahri tengah duduk di ruang kerja dengan punggung tersandar di kursi, kedua tangannya terlipat di dada, kepalanya menengadah ke atas menatap langit-langit ruangan, pikirannya melayang, dia bahkan tidak sadar ada Reza yang sudah berdiri di hadapannya.

"Mikirin Bu Bella lagi?" celetuk Reza sambil geleng-geleng kepala.

Mendengar suara Reza, Fahri terkesiap dan menoleh ke arah sumber suara, dia gelagapan, pandangannya kosong.

Melihat reaksi Fahri, Reza menghela nafas berat dan membuangnya kasar. Akhir-akhir ini Fahri sering melamun dan tidak fokus, pekerjaannya pun terkadang berantakan.

Fahri sudah tiga hari tidak pulang ke rumah, dia lebih memilih tidur di kantor, bahkan beberapa pekerjaan penting yang mengharuskannya ke luar, dia serahkan pada Reza, dia malas bergerak, tidak ada semangat.

"Kenapa akhir-akhir ini perasaanku tidak enak, ya? Aku kepikiran Bella terus," tanya Fahri kebingungan.

Mendengar itu, Reza mengerutkan kening. Biasanya perasaan seperti yang dikatakan Fahri barusan mengisyaratkan bahwa orang yang kita pikirkan juga sedang memikirkan kita. Entah mitos atau fakta, Reza juga tidak mengerti.

Kemudian Reza memberi saran agar Fahri mencari tau bagaimana keadaan Bella saat ini, mungkin saja terjadi sesuatu sama Bella sehingga menyebabkan pikiran Fahri terganggu.

1
Uthie
Begitulah laki tuhh,.. sendiri nya gak nyadar udah bikin istrinya cemburu dengan interaksi nya pada wanita lain, sedang saat istrinya interaksi juga dengan laki2 lain sendiri nya lebih terbakar lagiii oleh api cemburu 😁😁
Kopii Hitam: huahaaa, benar ya kk🤣
total 1 replies
Uthie
akhiiirrnyaaa.. buka puasa juga yaa 😂
Kopii Hitam: asekkkk😄
total 1 replies
Uthie
Bahagia selalu yaaa kalian berdua 👍👍😍🤗🤗🤗
Kopii Hitam: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
Uthie
Bella tanda-tanda Hamidun kahh 😁😍
Uthie: 😂😂😂😂😂
total 2 replies
Uthie
Duhhh.. dasar orang tua lucknut bisa nya cuma cari-cari Masalah aja 😡😡
Kopii Hitam: bikin kesel ya kk🤭
total 1 replies
Uthie
niceee 👍😍
Kopii Hitam: 😍😍😍😍😍
total 1 replies
muhammad ihsan
kok cuma satu bab thor
Kopii Hitam: besok ya KK 2 bab
total 1 replies
Uthie
Bagussss.. Hama emang harus di bersihkan 👍👍👍🤩
Kopii Hitam: bersihkan 🤣🤣
total 1 replies
Uthie
Nahhh....bagus itu 👍😡
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡
Kopii Hitam: ok kak👍👍
total 1 replies
Uthie
Nahhh....gitu dong 👍👍😁
Kopii Hitam: siap🙏🙏🙏
total 1 replies
Uthie
senyum-senyum bacanya
Kopii Hitam: hmm😄🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Uthie
Waowwww😂😂
Kopii Hitam: kak🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Uthie
Kasihan nya Bu Sari 😢
Kopii Hitam: iya /Sob//Sob//Sob//Sob/
total 1 replies
Uthie
terlalu lemah 😌
Kopii Hitam: iya kak🤭🤭🤭
total 1 replies
Uthie
coba mampir 👍🙏
Kopii Hitam: siap makasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!