NovelToon NovelToon
Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Janda
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Malam merayap lambat, membawa udara dingin yang menusuk hingga ke tulang.

Di pergelangan tanganku, jarum jam menunjuk tepat di angka sepuluh.

Cahaya remang lampu jalan memantul pada kap mobil yang berdebu, menciptakan bayangan panjang yang tampak gelisah, yang sama dengan sisa kafein di dalam darahku.

Perkenalkan, namaku Zaidan. Aku seorang detektif.

Sebagian orang membayangkan pekerjaanku penuh dengan aksi baku tembak glamor layaknya film Hollywood.

Realitanya jauh dari itu. Malam ini, aku hanya duduk mematung di balik kemudi, ditemani aroma kopi instan yang sudah mendingin dan suara radio panggil yang sesekali berkerisik pelan.

Mataku tak sedetik pun lepas dari sebuah rumah kontrakan di ujung gang sempit pemukiman padat ini. Targetku malam ini: Guntur "Si Kancil".

Guntur bukan penjahat amatir. Ia licin, punya seribu cara untuk menguap di keramaian, dan baru enam bulan menghirup udara bebas sebelum kembali memimpin sindikat pencurian kendaraan lintas provinsi.

Dua minggu terakhir waktuku habis untuk membuntutinya.

Menurut informan, malam ini transaksi besar akan terjadi di sana.

Aku menghela napas panjang, sedikit menggeser posisi pistol yang terselip di pinggang agar tidak terlalu menekan kulit.

Di rumah, Maya—istriku—mungkin sudah terlelap, atau mungkin sedang menonton televisi sambil menahan kantuk dan menyiapkan rentetan omelan untuk kepulanganku nanti.

Ada rasa bersalah yang selalu menyelinap setiap kali aku meninggalkannya di jam-jam seperti ini. Namun, sumpah jabatan adalah beban yang harus kupanggul dengan punggung tegak.

Tiba-tiba, sebuah siluet bergerak di balik jendela lantai dua.

Jantungku berdentum lebih kencang memacu adrenalinku dan seketika membakar rasa kantuk.

"Pusat, ini Zaidan. Target terlihat. Saya bergerak masuk," bisikku pada radio kecil di kerah jaket.

Aku membuka pintu mobil sepelan mungkin, tanpa suara.

Segera aku melangkah dengan sangat hati-hati, memastikan sepatu botku tidak mengeluarkan decitan di atas aspal yang lembap.

Gang ini sangat sempit, hanya cukup untuk satu motor.

Di sisi kiri dan kanan, jemuran warga menggantung rendah, menciptakan labirin kain yang menghalangi pandangan.

Guntur berada di lantai dua. Dan aku harus memutar lewat pintu belakang jika tidak ingin terdeteksi oleh kacung-kacungnya yang mungkin berjaga di teras depan.

Tepat saat aku berbelok di tikungan terakhir menuju pintu belakang, sesosok bayangan melesat dari kegelapan.

Ternyata Guntur sudah mencium keberadaanku. Tanpa aba-aba, ia melompat dari balkon lantai dua ke atas tumpukan kardus dan lari tunggang langgang masuk ke celah pemukiman yang lebih padat.

"Berhenti! Polisi!" teriakku sambil memacu langkah.

Pengejaran itu berubah menjadi kekacauan. Aku melompati pagar-pagar rendah dan menerobos sela-sela rumah yang hanya berjarak satu jengkal sampai jaket ku tersangkut di pagar kawat.

Napasku memburu, mataku fokus pada punggung jaket kulit hitam yang ia kenakan.

Guntur berbelok tajam ke sebuah lorong yang gelap dan becek.

Tiba-tiba—"AUNGGGG!"

Suara lengkingan itu memecah kesunyian malam.

Kakiku tidak sengaja menginjak ekor seekor anjing kampung yang sedang tertidur pulas di bawah bayangan pohon mangga.

Anjing itu kaget, berontak, dan refleks menggigit ujung celanaku hingga aku kehilangan keseimbangan.

Aku terjerembap ke depan dengan kecepatan tinggi.

Tubuhku menghantam sebuah pintu kayu yang ternyata tidak terkunci rapat.

BRAKK!

Pintu itu jebol dan aku langsung tersungkur di atas lantai ubin yang licin dan basah.

Aroma sabun mawar yang kuat menyengat hidungku.

Aku berusaha bangkit dengan kepala pening, namun pemandangan di depanku membuat jantungku seolah berhenti berdetak.

Seorang wanita berdiri mematung hanya dua meter dariku.

Tubuhnya hanya dibalut sehelai handuk putih yang tampak rapuh.

Rambutnya masih basah, butiran air masih menetes di bahunya.

Ia baru saja keluar dari bilik mandi sampai dunia seakan membeku selama tiga detik.

"Aaa... aaa..."

Mulutnya gemetar, matanya membelalak ngeri melihat seorang pria asing dengan jaket kulit dan pistol di pinggang tiba-tiba mendobrak masuk ke ruang pribadinya.

"Mbak, tunggu! Saya polisi, saya cuma mengejar—"

"PEMERKOSAAAA!!! TOLOOOONGGG!!!"

Teriakannya melengking, lebih nyaring dari sirine polisi mana pun.

Aku yang panik, berusaha berdiri untuk menutup mulutnya, namun sial, lantai yang licin karena sisa sabun membuat kakiku selip lagi.

Aku jatuh terduduk tepat di kaki wanita itu, posisi yang—jika dilihat dari sudut pandang orang lain—tampak sangat tidak sopan.

Belum sempat aku menjelaskan, pintu depan rumah itu didobrak dari luar.

"Hajar! Jangan kasih ampun!"

Seketika, rumah mungil itu penuh oleh warga yang menghajarku dengan membawa balok kayu dan saringan santan.

Di antara kerumunan itu, seorang pria tua berbaju koko—yang belakangan kuketahui sebagai Ketua RT—menatapku dengan tatapan seolah aku adalah iblis yang paling hina.

Suasana di dalam ruang tamu sempit itu mendadak pengap.

Zaidan, yang beberapa menit lalu masih menyandang status detektif paling disegani di unitnya, kini duduk bersimpuh di lantai ubin dengan napas tersengal.

Satu sudut bibirnya pecah, buah dari bogem mentah seorang pemuda yang terlalu bersemangat melakukan "bela warga".

Sulfi, yang telah berhasil menyambar daster panjang dan memakainya dengan tangan gemetar di balik tirai kamar, muncul dengan wajah pucat pasi.

Matanya sembap, menatap nanar ke arah pintu rumahnya yang kini sudah hancur.

Pak RT, pria paruh baya dengan sarung yang disampirkan di bahu, melangkah maju.

Ia menatap Zaidan dengan tatapan menghakimi, lalu menoleh ke arah Sulfi.

"Neng Sulfi, jujur saja. Apa Anda mengenal lelaki ini?" tanya Pak RT, suaranya berat dan penuh penekanan.

Sulfi memandang wajah Zaidan. Di bawah cahaya lampu neon yang berkedip-kedip, wajah detektif itu tampak babak belur. Rambutnya acak-adakan, jauh dari kesan aparat yang berwibawa.

"Tidak, Pak. Saya benar-benar tidak kenal," jawab Sulfi dengan suara lirih namun tegas.

"Dia mendobrak pintu saat saya baru selesai mandi. Saya pikir dia perampok!" sambung Sulfi lagi, jemarinya meremas pinggiran dasternya dengan kuat.

Zaidan mencoba membuka suara, meski rahangnya terasa kaku.

"Pak RT, tolong dengarkan. Nama saya Zaidan, saya detektif. Saya sedang mengejar DPO kasus pencurian kendaraan bernama Guntur. Saya tidak sengaja terjatuh karena—"

"Bohong!"

Seorang wanita paruh baya dengan daster bunga-bunga—salah satu tetangga yang paling rajin mengamati gerak-gerik orang lain—langsung memotong pembicaraan Zaidan. Ia melangkah ke tengah kerumunan sambil berkacak pinggang.

"Pak RT jangan mau dibohongi! Janda satu ini memang sudah lama mencurigakan. Selalu pulang malam, tertutup, dan lihat sekarang? Mungkin Mas ini salah satu kekasih gelapnya yang sedang kena apes!" seru wanita itu dengan nada provokatif.

"Huuuuu!! Dasar merusak nama kampung!" sorak warga yang berkerumun di ambang pintu.

"Cukup!" bentak Pak RT menenangkan massa. Ia kembali menatap Zaidan.

"Mas, kalau benar kamu polisi, mana kartu anggotamu?"

Zaidan merogoh saku jaketnya dengan cepat. Namun, jantungnya seolah melompat keluar. Kosong.

Ia baru ingat, jaketnya sempat tersangkut di pagar kawat saat aksi kejar-kejaran dengan Guntur tadi.

Dompet dan kartu identitasnya pasti terjatuh di sana.

"Kartu saya, tersangkut di pagar gang sebelah saat saya mengejar target," ucap Zaidan dengan nada putus asa yang tertangkap jelas oleh telinga warga.

"Alasan klasik!" teriak seorang pemuda dari belakang.

"Sudah ketangkap basah di dalam rumah perempuan malam-malam, masih mau mengaku polisi? Cuci kampung! Nikahkan saja mereka!"

"Iya! Nikahkan! Daripada sial kampung ini!" sahut warga lainnya bersahutan.

Zaidan menatap Sulfi, dan Sulfi menatap Zaidan. Keduanya sama-sama melihat kiamat kecil di mata masing-masing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!