NovelToon NovelToon
Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Dosa Di Balik Jas Putih: Mempelai Terbuang Dan Skandal Malam Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Romansa Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: EsKobok

Briella hanyalah "sampah" di kediaman megah keluarganya—anak haram yang lahir dari perselingkuhan ibunya. Saat ia nyaris tewas disiksa oleh saudari tirinya, Prilly, sebuah pelarian berdarah membawanya ke pelukan pria asing di sebuah hotel remang-remang. Satu malam panas mengubah segalanya. Pria itu adalah Geovani, dokter bedah jenius berdarah dingin yang ternyata merupakan tunangan Prilly. Kini, Briella kembali bukan sebagai korban, melainkan sebagai wanita yang membawa benih sang dokter. Di bawah bayang-bayang balas dendam, Briella memulai permainan berbahaya: Merebut pria milik musuhnya, meski ia harus mempertaruhkan nyawa di atas meja operasi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Surat Kaleng untuk Prilly

​Layar laptop di hadapan Briella memancarkan cahaya biru yang kontras dengan kegelapan kamarnya. Setelah momen emosional mendengarkan detak jantung di ruang USG tadi pagi, kegelisahan justru semakin mencekik lehernya. Ia tidak boleh terlena dengan sisi lembut Geovani yang muncul sesaat, karena pria itu tetaplah penculik yang merampas kedaulatan tubuhnya.

​"Aku harus bergerak sekarang, sebelum sangkar ini benar-benar membuatku lupa siapa diriku," bisik Briella pada kesunyian ruangan.

​Tangannya yang gemetar membuka folder rahasia di dalam penyimpanan awan yang ia akses melalui jaringan terenkripsi hasil negosiasinya dengan Geovani. Di sana tersimpan sebuah foto yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi beberapa malam lalu. Foto itu memperlihatkan jas putih Geovani dengan lencana nama yang jelas, tersampir di kursi tepat di samping tempat tidur tempat Briella berbaring.

​"Hanya satu foto, tapi cukup untuk menghancurkan ketenanganmu, Kak," gumamnya dengan sorot mata yang dingin.

​Briella mulai menyusun pesan anonim melalui layanan surel sekali pakai yang tidak bisa dilacak oleh server lokal mansion. Ia tahu risiko yang ia ambil sangat besar, namun rasa ingin tahu tentang reaksi Prilly jauh lebih kuat daripada ketakutannya pada Geovani. Ia ingin membuktikan bahwa ia bukan sekadar boneka yang bisa disimpan selamanya di puncak bukit ini.

​"Kau pikir kau bisa menyembunyikanku selamanya, Geovani? Mari kita lihat seberapa kuat bentengmu saat Prilly mulai curiga," desis Briella sambil menekan tombol kirim.

​Setelah surel itu terkirim, Briella segera menghapus seluruh riwayat penjelajahan dan mematikan laptopnya. Jantungnya berdegup kencang, seolah suara detak jantung janin yang ia dengar tadi pagi kini bergema di seluruh sarafnya sebagai peringatan. Ia berjalan menuju jendela, menatap lampu-lampu Metropolis di kejauhan yang tampak seperti hamparan berlian yang tak terjangkau.

​"Apa yang sedang kau lakukan, Little One? Belum tidur di jam seperti ini?" suara Geovani tiba-tiba terdengar dari arah pintu.

​Briella tersentak dan berbalik dengan cepat, mencoba menyembunyikan kepanikannya di balik ekspresi lelah. Geovani berdiri di sana, menyandarkan tubuh tegapnya pada bingkai pintu dengan tangan bersedekap. Pria itu tidak lagi mengenakan jas putihnya, hanya kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan aura dominasi yang selalu menyertainya.

​"Aku hanya tidak bisa tidur. Suara detak jantung tadi masih terngiang di kepalaku," ujar Briella, menggunakan momen emosional tadi pagi sebagai tameng.

​Geovani melangkah mendekat, matanya memicing menatap laptop yang tertutup di atas meja rias. "Kau terlalu sering menggunakan akses internetmu akhir-akhir ini. Apakah memantau kampus begitu menyita waktumu hingga kau lupa waktu istirahat yang kutetapkan?"

​"Aku hanya ingin memastikan tugasku sudah terkumpul. Kau sendiri yang bilang aku harus fokus pada masa depanku," sahut Briella sambil berjalan menuju ranjang untuk menghindari jarak yang terlalu dekat.

​Geovani tidak melepaskan tatapannya, ia mendekati meja rias dan menyentuh permukaan laptop Briella yang masih terasa hangat. "Suhu perangkat ini menunjukkan kau baru saja melakukan aktivitas yang cukup intens. Jangan mencoba bermain api di belakangku, Briella. Kau tahu apa konsekuensinya."

​"Kenapa kau selalu curiga? Bukankah kau sudah memantau semua lalu lintas dataku?" tantang Briella, berusaha menutupi fakta bahwa ia menggunakan enkripsi berlapis.

​Geovani berbalik, berjalan lambat menuju Briella yang kini sudah duduk di tepi ranjang. Ia mencengkeram rahang Briella, mengangkat wajah gadis itu agar menatap langsung ke matanya yang gelap. Aroma parfum maskulin yang tajam kembali mengepung indra penciuman Briella, memberikan rasa aman yang palsu sekaligus ancaman yang nyata.

​"Aku memantau karena aku peduli pada keamanan asetku. Prilly sedang gila, Briella. Dia tidak akan segan melakukan apa pun jika dia tahu di mana kau berada," bisik Geovani dengan suara bariton yang dalam.

​"Mungkin aku lebih baik menghadapi kemarahan Prilly daripada terus-menerus menjadi objek penelitianmu yang terkurung," balas Briella dengan nada menantang.

​Geovani mengeratkan cengkeramannya sesaat sebelum melepaskannya dengan sentakan kecil. Ia tersenyum sinis, sebuah ekspresi yang selalu membuat bulu kuduk Briella berdiri. "Kau tidak tahu apa yang kau bicarakan. Prilly akan merobek rahimmu hanya untuk memastikan benihku tidak pernah lahir ke dunia."

​"Dan kau? Kau hanya ingin memanfaatkanku untuk ambisi medismu sendiri," teriak Briella, emosinya mulai tidak terkendali.

​"Setidaknya aku memberikanmu kehidupan yang mewah dan perlindungan yang tidak bisa diberikan oleh siapa pun. Sekarang, tidurlah. Aku tidak ingin melihatmu menyentuh laptop itu lagi sampai besok malam," perintah Geovani sambil berbalik menuju pintu.

​Briella menatap punggung Geovani yang menjauh, rasa puas sekaligus takut merayap di hatinya. Di Metropolis, surel itu pasti sudah mendarat di perangkat Prilly. Ia membayangkan wajah kakaknya yang memerah karena amukan saat melihat bukti bahwa Geovani menyembunyikan sesuatu atau seseorang di tempat yang sangat intim.

​"Permainan dimulai, Dokter. Mari kita lihat siapa yang akan bertahan paling lama dalam api ini," gumam Briella saat lampu kamar padam secara otomatis.

​Malam itu, Briella berbaring di bawah selimut sutra yang dingin, memikirkan setiap langkah yang akan diambil Prilly selanjutnya. Ia tahu bahwa ia sedang mempertaruhkan nyawanya dan janin yang dikandungnya, namun rasa haus akan keadilan dan keinginan untuk menghancurkan kontrol Geovani jauh lebih besar. Ia merasa seperti pion yang mencoba memakan raja dalam papan catur yang sangat berbahaya.

​Di sisi lain mansion, Geovani duduk di ruang kerjanya, menatap monitor keamanan yang memperlihatkan Briella sedang berbaring diam. Ia merasakan ada sesuatu yang janggal, sebuah intuisi tajam yang selalu ia gunakan di ruang bedah. Ia tahu Briella sedang menyembunyikan sesuatu, dan ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk membongkarnya.

​"Kau pikir kau cukup pintar untuk menipuku, Briella? Kita lihat seberapa jauh kau bisa lari di dalam sangkar yang kubangun sendiri," ucap Geovani sambil memutar gelas wiski di tangannya.

​Ketegangan di mansion itu meningkat ke titik didih yang baru. Surat kaleng itu bukan sekadar pesan, melainkan deklarasi perang yang dikirimkan oleh sang tawanan kepada musuh di luar sana. Briella memejamkan mata, membiarkan aroma parfum Geovani yang tertinggal di bantal menyelimutinya, sementara pikirannya terus merancang skenario penghancuran yang lebih besar.

​Besok pagi, Etheria mungkin akan terbangun dengan skandal baru, dan Briella siap untuk menjadi pusat dari badai tersebut. Ia tidak lagi peduli pada kode etik atau keselamatan, karena baginya, luka yang belum kering di hatinya hanya bisa disembuhkan dengan melihat kehancuran pria yang mengklaim sebagai pemiliknya.

​Suara angin di luar bukit Etheria menderu keras, seolah ikut merasakan gejolak pengkhianatan yang baru saja ditanamkan. Briella akhirnya jatuh terlelap, membawa mimpi tentang kebebasan yang dibungkus dengan api dendam. Di balik dinding beton yang dingin, sang iblis dan tawanannya kini sedang menanti fajar yang akan menentukan siapa yang akan menjadi pemenang dalam drama berdarah ini.

1
𝐀⃝🥀Weny
secangkir kopi untuk mu thor
𝐀⃝🥀Weny: sama²🤗
total 2 replies
𝐀⃝🥀Weny
kutunggu next episodenya thor
𝐀⃝🥀Weny
waah... kebetulan yang sangat bagus😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!