Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Keesokan harinya, suasana penuh dengan semangat baru bagi Naya. Bukan karena matahari yang lebih terang, atau udara yang lebih segar. Tapi karena ada sesuatu yang mulai bergerak, perlahan, diam-diam, tapi pasti.
Di dalam sebuah gedung tinggi di pusat kota, Naya duduk di balik meja kerjanya. Laptop terbuka, beberapa berkas tersebar rapi di sampingnya. Wajahnya serius, jauh berbeda dari pertemuannya dengan Adinda kemarin.
Hari ini… ia bukan sekadar teman, perempuan bermanik cokelat itu sedang bekerja mencari sebuah info melalui data yang ia pegang.
“Adinda…” gumamnya pelan, matanya menatap layar penuh data.
Jari-jarinya mulai mengetik cepat. Ia memasukkan nama lengkap Adinda ke dalam sistem pencarian data sipil dan kesehatan yang biasa ia akses untuk keperluan hukum.
Klik.
Beberapa data muncul, sebuah nama, alamat, riwayat, dan hal itu merupakan sesuatu yang sangat normal bagi Naya. Lalu kemudian ia menatap lebih dalam data itu alisnya sedikit mengkerut.
“Harusnya ada…” bisiknya pelan.
Ia mengganti pencarian. Kali ini lebih spesifik ke riwayat medis, tangannya lebih hati-hati lagi matanya cukup jeli takut ada yang terabaikan.
Klik.
Loading.
Beberapa detik kemudian, lalu muncul sebuah data yang ia inginkan tapi hanya sedikit, hingga terlalu sulit untuk di akses.
“Ini gak masuk akal,” gumamnya.
Untuk seseorang yang sudah menikah belasan tahun, seharusnya ada catatan kesehatan lebih lengkap. Apalagi jika benar Adinda pernah mengalami sesuatu yang cukup besar sampai bisa “memicu mimpi sekuat itu”.
Naya menyandarkan tubuhnya perlahan, ia menghela nafas pelan. Pikirannya mulai bekerja lebih dalam, seolah menekankan pada dirinya sendiri, 'Masalah ini harus segera teratasi'.
“Entah datanya hilang… atau sengaja dihilangkan.” Kalimat itu keluar begitu saja.
Ia kembali menatap layar. Kali ini lebih fokus. Tangannya bergerak lebih cepat, membuka beberapa jalur akses tambahan yang tidak semua orang bisa gunakan.
Data rumah sakit. Ia mencoba memasukkan nama Adinda lagi, barang kali saja caranya kali ini menemukan hasil. Dan benar saat ia menekan tombol klik ....
Muncul satu hasil meskipun sangat singkat dan tanpa detail lengkap.
“Pasien perempuan – kondisi kritis – tindakan operasi darurat.”
Tanpa tertera nama dokter, dan tanpa diagnosa juga bahkan hasil akhir pun kosong Naya langsung menegakkan tubuhnya, dengan gelengan kepala pelan.
“Ini jelas disensor,” ucapnya pelan.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Ia memperbesar data itu. Mengamati setiap detail kecil, seperti tanggal, bulan dan tahun, namun matanya berhenti di satu titik.
Deg.
Tanggal itu… sekitar lima tahun yang lalu. Naya langsung terdiam. Perlahan ia membuka catatan kecil di sampingnya—catatan dari cerita Adinda kemarin.
Mimpi, di ruang operasi dan tangisan bayi, dua hal itu membuat Naya menyambungkan begitu saja antara Data dan mimpi Adinda, lalu perempuan itu menelan ludah seolah kejadian ini benar-benar tidak bisa dianggap kebetulan semata.
“Jangan-jangan…” Naya ia tidak menyelesaikan kalimatnya sendiri.
Belum. Ah ini belum saatnya. Ia kembali fokus, tangannya kini berpindah ke pencarian lain, Naya masuk ke data kelahiran tanpa memasukkan nama Adinda tapi dengan tanggal yang sama dan juga rumah sakit yang sama dan klik...
Beberapa data muncul lagi, tidak banyak tapi ada satu yang menarik perhatiannya, seorang bayi perempuan yang lahir, di hari yang sama, tanggal yang sama, meskipun status ibu kosong, hanya tertulis "data tidak tersedia" justru itu yang membuat Naya semakin yakin.
Perempuan itu langsung menahan nafasnya.
“Ini… terlalu kebetulan," ucapnya sambil mengucek salah satu matanya seolah tidak percaya. Ia mendekatkan lagi wajahnya ke layar, membaca ulang.
Bayi perempuan, dengan tanggal yang sama rumah sakit yang sama bersamaan dengan Adinda yang sedang melakukan operasi dan data itu hilang.
Semua ini seperti potongan puzzle… yang belum lengkap, tapi mulai membentuk gambar, dan Naya pun semakin yakin jika ada sesuatu yang memang sengaja disembunyikan entah tangan siapa yang bermain kotor seperti ini.
Naya menyandarkan tubuhnya kembali, kali ini napasnya sedikit lega meskipun semua bukti belum terungkap, akan tetapi ada satu hal yang buat dirinya tercengang kembali. Bayi itupun juga tidak ada nama.
Berarti masih ada bagian yang hilang. Dan bagian itu… kemungkinan besar bukan di sistem.
“Tapi di manusia,” gumamnya pelan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Sementara itu, di dalam rumah Sintia berdiri di depan pintu kamar Adinda. Tangannya terangkat… tapi tidak jadi mengetuk, tatapannya tajam penuh curiga. Sejak semalam ada sesuatu yang berbeda yang mulai mengguncang hatinya.
Adinda tidak hanya marah tapi seperti mulai sadar akan sesuatu yang selama ini ia sembunyikan. Dan itu sangat-sangat berbahaya.
“Tidak… tidak boleh sampai dia ingat,” bisiknya pelan.
Tangannya mengepal, untuk kali ini, wanita itu benar-benar merasa terancam, dengan kelakuannya sendiri.
☘️☘️☘️☘️☘️
Kembali ke kantor, Naya menutup laptopnya perlahan. Ia tidak langsung menghubungi Adinda, perempuan itu bukan tipe orang yang gegabah.
Kalau ini benar, maka ini bukan sekadar kasus rumah tangga biasa ini bisa jadi sesuatu yang jauh lebih besar. Ia meraih ponselnya menatap nama Adinda di layar.
Jempolnya sempat menggantung namun akhirnya. Ia hanya mengirim satu pesan singkat.
“Din, aku nemu sesuatu. Tapi kita harus ketemu langsung.”
Beberapa detik kemudian…
Balasan masuk. “Serius?”
Naya menatap layar itu lama, lalu menjawab singkat.
“Iya. Dan… ini bukan hal kecil.”
Di tempat lain, Adinda yang membaca pesan itu, tanpa sadar memegang dadanya sendiri. Detaknya kembali tidak teratur entah kenapa ia merasa hidupnya benar-benar akan berubah. Dan mungkin tidak akan pernah sama lagi.
Bersambung ....
Tipis dulu ya