Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Kartini kaget ketika Arga menggenggam tangannya untuk yang pertama kali selama menjadi istri kontrak. Dia tatap wajah pria itu mencari jawaban, kenapa sikap romantisnya muncul secara tiba-tiba.
"Pasti ini hanya trik Arga karena takut aku adukan kepada Kakek," batin Kartini, lalu menarik tangannya cepat, walau ia adalah istri Arga secara hukum tapi genggaman itu terasa dingin. Ia tidak mau disentuh-sentuh dan pada akhirnya ditinggalkan saat kesempatan menikah dengan Nadine tiba.
"Maaf," ucap Arga ketika tatapan Kartini tampak tidak suka ia pegang. Dia lantas menunduk menatap piring, kedua tangannya memegang sendok dan garpu melanjutkan makan. Sesekali Arga melirik Kartini yang banyak diam, padahal biasanya cerewet sekali bagaimana pun situasinya.
Kartini pun hanya makan sedikit, padahal sebelumnya rakus. Walaupun sudah makan satu piring nasi dan nambah lagi, biasanya masih mencari makanan lain. Tetapi kali ini Arga tidak bisa memaksa, mungkin Kartini memang sudah kenyang seperti yang ia katakan.
Makan pun selesai Kartini masih juga tidak banyak bicara.
"Mbul, kita duduk di sana sebentar," Arga menunjuk ke arah pantai. Kartini hanya mengangguk lalu keluar dari restoran mengikuti Arga yang duduk di tepi pantai.
Jreng-jreng, jreng...
Suara gitar mengalun lembut, berharap Kartini mengimbangi dengan suara mendunya, tapi wanita itu hanya menatap kosong ke arah pantai yang gelap.
Arga menarik napas dalam-dalam setelah semua yang ia lakukan tidak mampu meluluhkan hati Kartini, akhirnya meletakkan gitar di pangkuan.
"Setelah ini kamu mau jalan-jalan kemana, Mbul?" Tanya Arga serius dan juga ingin mencairkan suasana.
"Kita pulang saja, Bos," Kartini tentu tidak bisa memutuskan mau kemana, karena tidak tahu wisata mana lagi di negeri orang kecuali rekomendasi dari Arga, lagi pula untuk malam ini ia ingin cepat kembali dan istirahat.
.
Keesokan harinya ketika Arga bangun dari tidur, menatap ke kasur bawah sudah tidak melihat Kartini di sana. "Kemana si Gembul?" Arga bergumam sembari berjalan ke kamar mandi.
Lima menit kemudian Arga sudah kembali ke kasur, menatap jam di handphone masih jam lima lewat tiga puluh menit. Sebenarnya ia masih ingin melanjutkan tidur, paling tidak hingga jam delapan. Tetapi terpaksa keluar mencari Kartini ke pinggir kolam renang vaforit gembul selama dua hari tinggal di tempat itu. Dengan mata yang masih mengantuk, Arga memindai sekitar, tapi tidak nampak si gemoi.
Pikiran Arga melayang ke skenario terburuk, apakah Kartini tersesat atau sengaja melarikan diri? Sebab, sebelum tidur istrinya itu tampak sedang sedih dan kecewa kepadanya.
Arga menyusuri jalan setapak di sekitar resort mewah itu mencari Kartini, tapi tidak menemukan Kartini lalu mencari ke arah pantai. Sepi, keadaan pantai, bahkan pasir putih pun hanya terlihat samar, karena Matahari masih belum muncul.
Arga berhenti ketika baju tidur warna putih yang malam tadi Kartini kenakan tergeletak di atas pasir pinggir pantai.
"Kartini..." Arga ambil baju piama yang masih wangi itu memeluknya erat. "Kartini bunuh diri? Oh tidak!" Arga panik lalu memanggil-manggil nama Kartini, tapi hanya menghasilkan gema.
Pandangannya menyapu sekitar pantai yang belum ada satu orang pun pengunjung. Selain petugas jaga yang jauh dari tempat itu.
Tiba-tiba saja, tatapan mata Arga tertuju kepada seonggok tubuh wanita yang mengapung di air. Baju motif bunga itu jelas yang sering Kartini pakai.
Dengan langkah kaki gemetar, Arga turun ke pantai yang dangkal. Semakin mendekati tkp ketinggian air semakin dalam. Namun, Arga tidak peduli lagi walau kedinginan, celana yang ia kenakan basah hingga setinggi lutut. Ketika sudah sangat dekat tubuh lebar dalam posisi tengkurap itu jelas Kartini.
"Kartiniiii..." Arga berteriak sekencang-kencangnya sambil membungkuk mengangkat tubuh gemoi itu.
Bruuurrr....
"Hahaha..."
Tanpa Arga duga tubuhnya tiba-tiba ditarik kencang hingga jatuh ke pantai menyebabkan seluruh tubuhnya basah.
"Kurang ajar kamu! Gembuuuuullll....!!!!
...~Bersambung~...