NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 ​Pujian yang Menjelma Belati

Setelah menyadari bahwa usaha kerasnya memutar tuas pintu yang terkunci otomatis tidak akan membuahkan hasil, Aruna akhirnya memilih untuk menyerah secara fisik. Ia menarik kembali tangan mungilnya, menyilangkan kedua lengan di depan dada, dan melemparkan pandangannya lurus ke luar jendela kaca. Aruna memutuskan untuk kembali ke taktik andalannya, diam seribu bahasa dan mengabaikan eksistensi Baskara secara total. Ia menganggap pria berwibawa di kursi kemudi itu tidak lebih dari sekadar bayangan semu yang kebetulan berada di ruang yang sama dengannya.

​Namun, Baskara yang sekarang tampaknya telah memiliki tameng kesabaran yang luar biasa berlapis. Pria itu sama sekali tidak terpancing atau meradang karena diacuhkan. Sebaliknya, melihat keheningan Aruna, sudut bibir Baskara justru terangkat tipis.

​Dengan nada suara yang sengaja dilembutkan sebuah intonasi yang dahulu sangat mustahil keluar dari bilik suaranya, Baskara mulai memanggil Aruna dengan barisan panggilan manis yang dulu tidak pernah ada di dalam kamus hubungan mereka.

​"Sayang, apa pendingin ruangannya terlalu menusuk kulitmu?" tanya Baskara lembut, melirik sekilas ke arah Aruna yang masih mematung.

​Aruna tetap diam, rahangnya mengetat.

​"Nona Aruna, kalau kamu lapar, kita bisa berhenti di restoran terdekat. Kamu harus menjaga asupan makananmu agar berat badanmu tidak turun lagi," sambung Baskara, kali ini dengan nada yang sedikit menggoda namun sarat akan proteksi. Bahkan, di sela-sela kemacetan ibu kota, ia dengan berani berbisik, "Bagaimana menurutmu, calon istriku?"

​Mendengar frasa terakhir itu, pertahanan Aruna langsung jeblok. Ia tidak bisa lagi menahan gemuruh amarah di dadanya. Aruna membalikkan tubuhnya dengan cepat, menatap Baskara dengan kilatan mata yang berapi-api.

​"Bisa diam tidak?! Panggilanmu itu membuatku muak!" seru Aruna dengan napas yang memburu, wajahnya memerah padam karena amarah yang memuncak.

​Namun, setiap kali Aruna meledak marah, Baskara justru tidak membalasnya dengan bentakan. Pria itu hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang memancarkan ketenangan, lalu menjawab setiap makian Aruna dengan kalimat yang teramat lembut. Perubahan sikap inilah yang justru membuat Aruna semakin naik darah. Di dalam benak Aruna, kilasan masa lalu di London kembali berputar, saat di mana Baskara selalu berdiri dengan angkuh, menatapnya dengan tatapan merendahkan, dan melontarkan kalimat-kalimat tajam yang membekukan darah. Melihat versi Baskara yang kini begitu lembut dan penyabar justru terasa seperti sebuah anomali yang mengerikan bagi Aruna.

​Baskara tidak hanya merubah tutur katanya, ia juga sengaja mengingat hal-hal kecil tentang Aruna yang bahkan Aruna sendiri sudah lupakan karena saking lamanya terpendam dalam trauma. Ia tahu merek air mineral favorit Aruna, ia tahu lagu klasik yang sering Aruna dengarkan di perpustakaan kampus dulu, dan ia tahu bahwa Aruna selalu meremas jemarinya sendiri saat merasa tidak nyaman.

​"Berhenti bersikap seolah-olah kita ini dekat, Pak Baskara! Kita tidak memiliki hubungan apa pun!" labrak Aruna lagi, mencoba menegaskan kembali garis pembatas di antara mereka.

​Baskara memutar kemudi dengan santai, memarkirkan mobilnya di bawah rindangnya pohon di tepi jalan yang agak sepi, lalu menoleh sepenuhnya menatap Aruna. "Aku tahu kita belum dekat, Aruna. Karena itu, sekarang aku sedang berusaha untuk berjalan lebih dekat ke arahmu."

​Merasa kata-katanya tidak mempan, Aruna mulai mengganti taktiknya. Ia sengaja mengungkit kembali semua hinaan, cacian, dan perlakuan kejam Baskara di masa lalu saat masih menjadi dosennya di London. Aruna menjabarkan setiap kalimat menyakitkan yang pernah keluar dari bibir pria itu, berharap dengan mengungkit masa lalu yang kelam, harga diri dan ego besar Baskara akan tersinggung hingga pria itu mendepaknya keluar dari mobil ini.

​Namun, di luar dugaan Aruna, Baskara justru mendengarkan setiap rincian hinaan itu dengan kepala tertunduk. Tidak ada sanggahan, tidak ada kemarahan. Pria itu justru mengakui semua kesalahan masalalunya dengan jantan.

​"Kamu benar, Aruna. Semua yang kamu katakan itu benar," ucap Baskara, suara beratnya mendadak bergetar karena rasa bersalah yang teramat dalam menembus dadanya. Ia menatap lekat-lekat sepasang mata Aruna. "Aku dulu adalah pria bajingan yang buta. Karena itu... karena aku tahu betapa besarnya luka yang kubuat, sekarang aku di sini, berdiri di depanmu untuk memperbaiki semuanya. Berikan aku kesempatan untuk membayar semua air matamu."

​Bukannya mereda, Aruna justru merasa semakin muak. Terlebih, sepanjang perjalanan setelah itu, Baskara terus-menerus melayangkan pujian untuknya. Dulu di London, di depan mimbar kuliah yang dingin, Baskara selalu menyebut Aruna sebagai mahasiswa sampah, bodoh, tidak berguna. Sekarang? Pria yang sama itu justru tanpa ragu mengatakan bahwa Aruna adalah wanita yang teramat cantik, kuat karena berhasil bertahan hidup, dan sangat pintar dalam menyuarakan pendapatnya. Bagi Aruna, barisan pujian itu terdengar seperti racun berbalut madu, semuanya terasa palsu dan manipulatif.

​"Hentikan semua pujian palsumu itu, Baskara! Aku tidak butuh!" ketus Aruna, memalingkan wajahnya ke arah jendela dengan napas satu-persatu. "Aku lebih suka sosok Baskara yang dulu!"

​Mendengar kalimat itu, Baskara terdiam sejenak. Sorot matanya meredup, memancarkan kepedihan yang teramat nyata. Ia mengembuskan napas pendek, lalu menjawab dengan nada yang teramat lirih. "Jika kamu sampai berkata seperti itu... artinya aku benar-benar sudah keterlaluan dulu, Aruna. Aku pasti sudah sangat jahat sampai membuatmu lebih memilih versi diriku yang kejam daripada versi diriku yang ingin mencintaimu sekarang."

​Aruna bungkam. Kalimat Baskara barusan entah mengapa menyengat bagian terdalam dari hatinya, namun ia segera menepis rasa itu jauh-jauh.

​Semakin Aruna menunjukkan kekesalan dan penolakan, semakin Baskara memperlakukannya seperti sesuatu yang teramat berharga di dunia ini. Perlakuan itu tidak terasa berlebihan atau dibuat-buat seperti pria yang sedang merayu pasangannya, melainkan terasa sangat tenang, tulus, dan konsisten. Setiap gerakan tangan Baskara yang mengatur suhu AC agar Aruna tidak kedinginan, setiap tatapan matanya yang selalu memastikan kenyamanan Aruna, semuanya berjalan dengan ritme yang konsisten tanpa celah.

​Hal inilah yang pada akhirnya membuat Aruna merasa sangat tidak nyaman. Perlakuan manis yang konsisten ini bertolak belakang seratus delapan puluh derajat dengan sosok Baskara Dirgantara yang ia kenal selama bertahun-tahun. Dinding es yang dibangun Aruna di sekeliling dirinya seolah dipaksa berhadapan dengan gelombang kehangatan yang tidak mau menyerah, membuatnya merasa terancam di dalam jeruji besi tak kasat mata yang diciptakan oleh mantan dosennya di dalam kabin mobil tersebut.

1
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!