NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26 ​Benang Merah yang Tersamar

Hawa dingin sisa gerimis malam masih membekas di selasar kantor hukum relawan di sudut Jakarta Pusat. Aruna duduk tegak di balik meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan draf perkara sengketa komersial. Secangkir teh mawar hangat yang sudah mendingin sama sekali tidak ia sentuh. Pikirannya telanjur terkunci oleh isi pesan teks misterius yang ia terima di klinik kesehatan kemarin siang.

"​Baskara sengaja mengalah hari ini. Dia tahu kamu yang meretas datanya semalam."

​Kalimat itu terus berputar-putar di kepala Aruna layaknya kaset rusak, memicu detak jantungnya untuk kembali berdegup gila-gilaan. Jemarinya yang ramping bergerak kencang, membuka draf revisi Pasal 14 yang baru saja dikirimkan oleh tim legal Dirgantara Group pagi ini. Aruna meneliti setiap bait, setiap tanda koma, hingga klausul mitigasi risiko yang tercantum di sana.

​Semuanya bersih. Tidak ada satu pun jebakan hukum terselubung. Baskara benar-benar memotong seluruh hak kelola logistik koridor barat dari draf kontrak tanpa menyentuh satu sen pun aset milik Prawijaya Group. Pria itu menanggung kerugian marginnya sendiri.

​"Kenapa, Pak Baskara...?" desis Aruna, suaranya parau menembus keheningan kubikal kerjanya.

​Mengapa pria berdarah dingin yang dulu sanggup mencoret draf skripsinya di London hingga ia pingsan, kini mendadak berlagak menjadi seorang martir bisnis yang pudar taringnya? Penghinaan terbesar bagi Aruna bukanlah saat ia ditekan hingga jatuh ke titik nadir, melainkan ketika ia disodori belas kasihan oleh orang yang menjadi alasan di balik hancurnya separuh fungsi organ tubuhnya. Aruna meremas ujung kertas draf tersebut hingga meremuk kasar. Jika Baskara pikir pengorbanan korporat ini bisa menghapus memori dinginnya dinding ruang dosen London, maka pria itu salah besar.

​Sementara itu, di lantai tertinggi menara Dirgantara Group, Baskara berdiri mematung di balik dinding kaca raksasa yang menampilkan panorama Jakarta yang mulai padat oleh mobilitas pagi. Setelan jas hitamnya yang melekat sempurna kontras dengan gurat kelelahan yang samar di bawah pelupuk matanya.

​"Pak Baskara," suara Rian memecah keheningan ruangan setelah mengetuk pintu dua kali. "Draf revisi Pasal 14 sudah dikonfirmasi telah diterima oleh Nona Aruna pukul sembilan tadi. Dan... draf laporan dari tim audit independen yang Anda minta mengenai rekam medis London juga sudah selesai divalidasi."

​Baskara membalikkan tubuhnya perlahan, melangkah menuju meja kerja tanpa ekspresi. "Letakkan di sana."

​Begitu Rian mundur dari ruangan, Baskara segera membuka map dokumen tersebut. Matanya tertuju pada lembaran draf wawancara tertutup dengan perawat yang dulu menjaga ruang koma Aruna di London. Di sana tertulis, Pasien Aruna Prawijaya berulang kali mengalami distorsi emosional dalam kondisi tidak sadar, kerap menggumamkan ketakutan akan kegagalan akademis dan penolakan.

​Plak.

​Baskara menutup dokumen itu dengan sentakan kasar. Napasnya memberat. Rasa bersalah yang sejak kemarin menggores ulu hatinya kini kian melebar, mengoyak habis sisa-sisa keangkuhan maskulin yang ia banggakan. Selama empat tahun ini, ia hidup dalam asumsi keliru bahwa Aruna membencinya karena seorang dosen konglomerat angkuh yang terusik. Baskara tidak pernah tahu bahwa draf tuntutan akademik yang ia berikan telah berubah menjadi vonis mati bagi kesehatan mental dan fisik gadis itu.

​Kenangan malam wisuda saat tubuh ringkih Aruna lunglai di dalam gendongannya, dengan napas yang terputus-putus dan kulit yang mendingin bagai es, kembali menghantam memorinya tanpa ampun. Baskara meremas jembatan hidungnya dengan kuat, mencoba meredam gejolak penyesalan yang terlambat.

​"Aku yang membuatnya seperti itu," gumam Baskara dengan suara rendah yang bergetar.

​Ia menyadari, sikap defensif dan sindiran tajam yang ia lontarkan di lift kemarin pagi sebenarnya hanyalah tameng pengecut untuk menutupi ketakutannya sendiri. Ketakutan bahwa jika ia melangkah terlalu dekat, atau jika ia mendadak bersikap manis, Aruna yang memiliki harga diri setinggi langit justru akan mendeteksi rasa kasihan tersebut sebagai bentuk remehan baru. Dan Baskara tahu, Aruna paling benci dikasihani.

​Kembali ke kantor hukum relawan, Aruna bersiap untuk mengemas barang-barangnya ketika pintu ruangan pribadinya mendadak diketuk dengan ritme yang tergesa-gesa. Saniya, salah seorang rekan sejawatnya di firma hukum sosial tersebut, melangkah masuk dengan rahang yang mengeras cemas.

​"Aruna, ada berkas darurat yang baru saja masuk dari jaringan aliansi petani di wilayah koridor barat," ujar Saniya, meletakkan selembar draf pengaduan baru di atas meja kerja Aruna.

​Aruna mengernyitkan dahi, rasa pening di pelipisnya seketika terusik kembali. "Ada apa dengan koridor barat? Bukankah draf revisi dengan Dirgantara sudah selesai?"

​"Ini bukan tentang Dirgantara, Aruna," potong Saniya cepat, matanya menatap Aruna dengan sorot cemas yang dalam. "Ini tentang draf ekspansi sepihak dari anak perusahaan Prawijaya Group. Ayahmu, Deon Prawijaya, baru saja menandatangani surat perintah pengosongan lahan logistik sekunder di sana secara mandiri, tanpa melibatkan Dirgantara lagi. Dan tebak siapa yang mereka jadikan tameng hukum untuk mengeksekusi lahan itu? Vano."

​Deg.

​Nama Vano seketika memicu detak trauma baru di dada Aruna. Vano pria manipulatif masa lalu yang hampir menghancurkan nama baiknya, pria yang selalu digunakan Deon untuk mendikte hidupnya. Jadi, setelah draf Pasal 14 gagal dijalankan bersama Baskara, ayahnya memilih untuk bergerak sendiri secara liar, menggunakan Vano untuk menindas hak-hak warga lokal demi menambal ambisi bisnisnya yang terhambat.

​Aruna merasakan pasokan udara di sekitarnya kembali menipis. Buku jarinya memutih saat ia mencengkeram draf laporan dari Saniya. Kenyataan pahit ini menamparnya dengan telak, musuh yang sesungguhnya harus ia hadapi di medan laga korporasi ini bukan lagi sekadar masa lalunya bersama Baskara di London. Musuh terbesar yang berdiri dengan kejam di depannya adalah ambisi buta dari darah dagingnya sendiri Deon Prawijaya.

​Jemari Aruna bergerak cepat menyambar ponselnya. Ia membuka ruang obrolan dengan nomor tak dikenal yang mengiriminya pesan kemarin.

"​Siapa kamu sebenarnya? Kenapa kamu tahu semua pergerakan Baskara dan Prawijaya Group?"

​Satu menit. Dua menit. Tidak ada jawaban dari seberang sana. Namun, Aruna tidak memiliki waktu lagi untuk menunggu misteri itu terpecahkan. Dengan sisa kekuatan fisik yang ia paksakan melampaui batas medisnya, Aruna bangkit berdiri, memasukkan draf perkara tersebut ke dalam tasnya dengan gerakan yang sarat akan ketetapan hati yang absolut.

​Jika ayahnya berpikir bisa terus menggunakan otoritas konglomerat untuk menggilas orang-orang lemah, dan jika Vano pikir bisa kembali masuk ke dalam radarnya untuk merusak ketenangannya, maka mereka salah besar. Babak baru dari perang taktik ini telah bergeser, Aruna tidak akan lagi menjadi bidak pasif yang bisa diatur jalannya di atas papan catur Prawijaya Group. Ia akan turun langsung ke medan laga, menjadi benteng pertama yang akan meruntuhkan keserakan korporat milik keluarganya sendiri, bahkan jika ia harus berhadapan dengan Baskara di persimpangan jalan yang sama sekali berbeda.

1
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Hi hi gemes bgt, Ade tp unik jdx, 1 lari, 1 mengejar 🤭👍🥳
Anonim
lanjut ka 😍
Desi Santiani
apa sbnrnya isi flasdisk itu, apaa ad hubungannya sikap bagaska saat dlondon terhadap arunaa ?
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Aduh, jd bulan-bulann para warga 🤭🤦🙈
Anonim
cerita author x ini tak kalah menarik seru bgt 🥰🥰
Ra H Fadillah: halo terima kasih atas bintang 5 nya semoga kamu selalu suka dengan ceritanya ya 💞😉
total 1 replies
Anonim
jadi kepo thorrr
Anonim
ceritanya seruuuuuu😍
Desi Santiani
apa sebenarnya isi flasdisk itu, apa rahasia bagaskara yg selama ini pura2 jahat n kejam krna adanya tekanan atau apa, ahh dbuat skot jantung bacanya
Desi Santiani
semakin seruu thor
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
❥␠⃝ ͭ🍁𝐘𝐖💋🅹🆄🅽👻ᴸᴷ: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!