NovelToon NovelToon
Figuran Yang Polos

Figuran Yang Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
​Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebenaran di Balik Topeng

​Langkah Raisa atau sekarang lebih tepat dipanggil Anna terasa berat saat memasuki sebuah rumah mewah yang megah namun terasa dingin. Begitu kakinya melangkah di koridor rumah, kepalanya mendadak berdenyut. Potongan-potongan memori asing merangsek masuk seperti kaset rusak yang diputar paksa.

​Itu adalah ingatan milik Anna yang asli.

​Anna terdiam di tengah ruangan, napasnya tertahan. Memori itu menunjukkan betapa

Anna yang lama kepada Zella; mulai dari merobek buku hingga menyebarkan rumor busuk. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di benak Raisa. Melalui kacamata ingatan Anna, ia melihat sisi lain dari sang "Protagonis Suci."

​"Tunggu dulu..." gumamnya pelan. "Zella ternyata nggak sepolos yang diceritakan di novel."

​Raisa menangkap kilasan ekspresi Zella yang seringkali melebih-lebihkan keadaan di depan Arland atau Ezkiel agar Anna terlihat semakin jahat. Zella tahu persis bagaimana cara memanipulasi situasi agar dirinya selalu menjadi korban yang malang.

​Setelah membersihkan diri dari debu gudang dan sisa makeup "hantu" yang mengerikan, Anna berdiri di depan cermin besar kamarnya. Ia hanya mengenakan piyama sutra sederhana. Rambutnya yang basah dibiarkan terurai.

​Mata Anna membelalak. Tanpa bedak dempul dan riasan hitam yang berantakan, wajah di cermin itu tampak luar biasa cantik. Kulitnya putih bersih, matanya bulat besar, dan bibirnya merah alami yang memberikan kesan menggemaskan sekaligus polos.

​"Kok... cantik banget sih?!" serunya tak percaya, menyentuh pipinya yang kenyal. "Kenapa Anna yang dulu malah hobi dandan jadi hantu kalau aslinya secantik ini?"

​Setelah puas mengagumi diri, Anna duduk di meja belajarnya. Ia mengambil selembar kertas kosong dan sebuah pulpen. Ia harus menyusun strategi agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti di akhir cerita nove​l"Semua tokoh utama harus dihindari. Titik," ucapnya tegas pada diri sendiri.

​Anna menarik napas panjang, melipat kertas itu dan menyembunyikannya di bawah bantal.

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk ke dalam kamar mewah Anna. Raisa—yang kini menghuni tubuh itu—terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar. Setelah mandi dan mengenakan seragam sekolahnya dengan rapi, ia menatap cermin sekali lagi. Rambutnya hanya ia sisir rapi tanpa riasan tebal, hanya sedikit pelembap bibir agar tidak pucat.

​Ia menuruni anak tangga menuju ruang makan. Di sana, sudah duduk Tuan Noah Liam, sang ayah yang merupakan pemilik perusahaan sukses, bersama istrinya yang tampak anggun.

​"Pagi, Pa. Pagi, Ma," ucap Anna lembut sambil menarik kursi di meja makan.

​Suasana meja makan yang biasanya riuh dengan keluhan Anna tiba-tiba menjadi hening seketika. Tuan Noah menghentikan gerakannya yang sedang melipat koran bisnis, sementara sang Mama mematung dengan sendok selai yang masih menggantung di udara.

​Tuan Noah menatap putrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Anna? Ini benar kamu?" tanyanya dengan nada heran yang kental.

​"Iya, Pa. Kenapa?" tanya Anna polos sambil mulai mengambil sepotong roti.

​"Wajahmu..." Mama menyela, matanya membelalak tak percaya. "Kamu tidak pakai... riasan hantu itu lagi? Biasanya kamu tidak mau keluar kamar kalau bedakmu belum setebal satu senti."

​Tuan Noah berdehem, mencoba menutupi keterkejutannya melihat wajah asli putrinya yang ternyata sangat cantik dan menggemaskan tanpa topeng makeup. "Dan kamu... menyapa kami dengan sopan? Biasanya kamu langsung mengomel meminta uang atau mengadu tentang pria De Luca itu."

​Anna hanya tersenyum tipis, hampir saja ia lupa kalau Anna yang asli memiliki sifat yang buruk. "Aku cuma merasa ingin tampil lebih natural, Pa. Dan soal yang lain... aku sudah sadar kalau itu membuang-buang waktu."

​Meskipun merasa ada yang aneh, Tuan Noah tidak bisa menyembunyikan binar bangga di matanya. "Baguslah kalau begitu. Papa lebih suka melihat wajahmu yang seperti ini. Terlihat jauh lebih segar dan... seperti anak Papa yang dulu."

Anna melangkah masuk melewati gerbang sekolah dengan tas tersampir di bahu. Ia berjalan dengan tenang, matanya yang bulat sesekali berkedip bingung karena merasakan suasana koridor yang mendadak hening setiap kali ia lewat.

​"Mereka liatin kenapa ya? Apa seragamku ada yang kotor?" pikirnya polos sembari menunduk mengecek roknya yang rapi.

​Ia benar-benar tidak sadar bahwa wajahnya yang kini bersih tanpa bedak tebal—wajah asli Anna Eliam yang menggemaskan dan cantik alami—tampak seperti malaikat yang baru turun dari langit. Sangat kontras dengan "Anna sang hantu dempul" yang mereka kenal selama ini.

​Sepanjang koridor, bisikan-bisikan mulai pecah seperti ombak.

​"Buset, itu siapa? Anak baru ya?" bisik seorang siswa laki-laki yang hampir menabrak loker karena terus menatap Anna.

​"Gila, cantik banget! Kayak boneka hidup. Nyasar ke sekolah kita dari mana tuh anak?" timpal temannya dengan mata tak berkedip.

​"Tunggu... eh, itu kan si Anna?! Si pengganggu itu?!" seorang siswi memekik tertahan sambil menutup mulutnya. "Kok bisa beda banget? Makeup-nya mana? Ini mah bening parah!"

​Anna yang tidak terbiasa menjadi pusat perhatian hanya bisa mempercepat langkahnya. Ia merasa risih dengan tatapan-tatapan itu. Tujuanku kan mau jadi figuran yang nggak kelihatan, kenapa mereka malah ngeliatin terus sih? batinnya kesal sekaligus bingung.

Bab 11: Keheningan yang Canggung

​Anna berdiri tepat di depan pintu kelas XII-A. Ia mematung sejenak, memandangi papan nama kelas dengan ragu. Tangan kecilnya menggenggam tali tas dengan erat.

​"Aku beneran harus sekolah bareng mereka ya?" rintihnya pelan, bibirnya mengerucut kecil.

​Wajahnya yang polos saat merengek pada diri sendiri itu terlihat sangat menggemaskan, jauh dari kesan angkuh yang biasanya melekat pada sosok Anna Eliam. Setelah mengumpulkan keberanian dan menarik napas panjang, ia melangkah masuk dengan tenang.

​Sret...

​Suara gesekan sepatunya di lantai koridor kelas tiba-tiba menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar. Seketika, hiruk-pikuk di dalam kelas terhenti. Siswa yang sedang tertawa, yang sedang mengobrol di atas meja, hingga yang sedang membaca buku, semuanya membeku. Puluhan pasang mata tertuju lurus ke arah pintu.

​Langkah Anna terhenti. Ia mengerjap bingung, menoleh ke kiri dan ke kanan dengan wajah tanpa dosa.

​Aku salah lagi kah? Apa aku masuk ke kelas yang salah? pikirnya dalam hati.

​Ia tidak tahu bahwa keheningan itu bukan karena benci, melainkan karena mereka semua terpukau. Anna yang biasanya masuk dengan aura permusuhan dan riasan tebal yang menakutkan, kini berdiri di sana seperti karakter dari komik romance—bersih, manis, dan sangat memikat.

​"Kenapa diam semua?" gumam Anna sangat pelan, hampir tidak terdengar, membuat beberapa siswa laki-laki di barisan depan menelan ludah karena terpesona oleh suara lembutnya yang baru.

1
UMMI HABIBAH
lanjut thorrr
wahyu andria
suka karyanya. . .up yang bnyak thor
Teguh Aliyanto
up yg bnayak thorr jagan 1 satu aja
Teguh Aliyanto
semagat💪💪
Teguh Aliyanto
ug yg banyak thor😍😍
Teguh Aliyanto
lanjuth thorr😍
Teguh Aliyanto
lanjuttt🤭🤭
Teguh Aliyanto
lanjur thor😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!