Karma tidak pernah salah alamat.
Gusti Kanjeng Raden Ayu Kusumawati—ningrat tinggi yang ditakuti, yang telah menghancurkan hidup puluhan perempuan yang mencoba merebut suaminya—terbangun di ranjang dengan pria Eropa yang mengira dia pelacur seharga 550 gulden.
Namanya sekarang Suketi binti Suketo. Statusnya gundik. Milik mantan perwira laut setinggi dua meter. Pria itu posesif. Tergila-gila. Dan tidak akan melepaskannya untuk alasan apa pun.
Akankah Kusumawati berhasil kembali ke kehidupan lamanya yang nyaman penuh pelayan dan kemewahan? Atau kesialan akan terus mengejarnya, memaksanya membayar dosa-dosa masa lalu dengan cara yang tidak pernah dibayangkannya?
Dilarang plagiat, mengambil sebagian scene atau mengubah cerita menjadi video atau bentuk lainnya. Laporkan plagiat ke Ig/FB: @hayisaaaroon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Ke mana saja kau?
Akhirnya dia kembali ke kamar. Duduk di tepi tempat tidur.
Menunggu. Mulai tak sabar.
Pintu terbuka. Kusumawati langsung tersentak.
Tatapan memindai dari ujung kaki ke ujung kepala.
Mencari tanda-tanda Jan Coen baru pulang dari tempat pelacuran. Tapi tak ada.
Jan Coen melangkah masuk.
Kusumawati menatapnya dengan mata galak.
"Dari mana saja kau?!"
Jan Coen menutup pintu dengan tenang.
"Urusan pria."
"Urusan pria apa?" Kusumawati bangkit, berjalan mendekat. "Kau pergi berjam-jam! Aku kira kau—"
Dia berhenti.
‘Aku kira dia apa?’
‘Kenapa aku peduli?’
Jan Coen mengangkat alis.
"Kau kira aku apa?"
"Tidak ada." Kusumawati memalingkan wajah. "Jawab pertanyaanku. Dari mana?"
Suara Kusumawati lebih tinggi dari yang dimaksudkan.
Jan Coen melepas mantelnya, menggantung di kursi.
"Jalan-jalan."
"Jalan-jalan ke mana?"
"Ke sana. Ke sini."
"Jan."
"Hm?"
"Jangan main-main denganku."
Jan Coen menatapnya. Lalu tersenyum.
"Baiklah." Dia duduk di tepi tempat tidur. "Aku mengikuti Slamet."
Kusumawati mengerjap.
"Mengikuti?"
"Ya. Memastikan dia benar-benar ke tabib. Bukan kabur atau melapor ke Kartodirjo."
"Dan?"
Kusumawati berdebar dengan jawaban selanjutnya.
Bukan adiknya yang dia takutkan, tapi drama yang disaksikan Slamet tadi.
Takut sampai ke telinga adik-adiknya.
"Dia benar ke tabib." Jan Coen melepas sepatunya. "Luka-lukanya diobati. Tulang rusuknya dibalut. Lalu dia ke penginapan kumuh di ujung jalan. Tidur di sana."
Kusumawati terdiam.
"Dia cukup bisa dipercaya." Jan Coen melanjutkan. "Untuk sekarang."
"Bagaimana kalau dia berkhianat? Kenapa kau tidak menghabisinya saja?”
Jan Coen mengedikkan bahu. "Aku sudah mengambil langkah pencegahan."
"Langkah apa?"
Jan Coen tersenyum.
"Dari informasi Slamet tadi, aku tahu di mana Kartodirjo menyimpan opiumnya. Gudang di pelabuhan selatan. Dan aku sudah melaporkannya ke polisi kolonial."
Kusumawati membelalak.
"Penyelundupan opium ilegal." Jan Coen bersandar ke bantal. "Hukumannya berat. Besok pagi, polisi akan menyerbu gudang itu. Sekarang mereka masih mengamati. Kartodirjo dan saudara-saudaranya akan kehilangan sumber uang utama mereka."
Kusumawati menatapnya.
"Tanpa uang, mereka tidak bisa membayar pembunuh bayaran." Jan Coen melanjutkan dengan nada santai. "Tidak bisa menyogok pejabat. Tidak bisa melakukan apa-apa. Uang adalah kunci, Keti. Potong uangnya, dan musuhmu akan lumpuh."
Hening.
Kusumawati berdiri di sana, menatap pria di tempat tidur.
‘Dia melakukan semua itu ….’
‘Dalam beberapa jam saja ….’
‘Tanpa aku minta ….’
Ada sesuatu yang berdesir di dadanya.
Sesuatu yang tidak mau dia akui.
Kagum.
Jan Coen menyadari tatapan Kusumawati yang berubah.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
Kusumawati cepat-cepat memalingkan wajah.
"Tidak ada."
"Matamu bilang lain."
"Mataku tidak bilang apa-apa."
Jan Coen tersenyum.
"Kemarilah." Dia menepuk tempat tidur di sampingnya. "Sudah malam. Kau pasti lelah."
Kusumawati ragu sejenak. Lalu melangkah.
Berbaring di samping Jan Coen.
Lengan besar itu langsung melingkar di pinggangnya, menariknya mendekat. Punggung Kusumawati menempel di dada bidang yang hangat.
Terasa ... tidak seburuk dulu. Mereka berbaring dalam diam.
Kusumawati menatap dinding, merasakan napas Jan Coen yang teratur di belakang kepalanya.
"Jan."
"Hm?"
"Tumben."
"Tumben apa?"
"Hanya tidur."
Hening sejenak.
Lalu tawa pelan terdengar.
"Kau kira aku hanya laki-laki yang memikirkan selangkangan?"
Kusumawati tidak menjawab.
"Aku mencintaimu, Keti."
Kata-kata itu dibisikkan pelan. Di telinganya. Hangat.
Kusumawati membeku. Sekujur kulitnya meremang.
Perutnya seperti diaduk-aduk. Dadanya berdesir.
"Aku mencintaimu." Jan Coen mengulang, lebih pelan lagi. Suara dalam. "Bukan hanya menginginkan tubuhmu. Tapi mencintaimu. Sepenuhnya."
Sesuatu pecah di dalam dada Kusumawati.
Tiga puluh tahun lebih menikah dengan mendiang Bupati.
Tidak pernah sekalipun kata itu terucap dari mulut suaminya.
Hubungan mereka formal. Dingin. Hanya untuk keturunan dan kekuasaan. Tidak ada cinta. Tidak ada kasih sayang. Rasanya hampa.
Dan bahkan di akhir hayatnya, saat mendiang Bupati menghembuskan napas terakhir di tempat tidur, bukan nama Kusumawati yang dipanggil.
Tapi nama selir kesayangan.
Tan Ai Rou
Bukan Kusumawati.
Tidak pernah Kusumawati.
Padahal dia sudah menunggu seumur hidup.
Untuk kata-kata itu.
Dan setelah sekian lama sang suami meninggal, rasa sakitnya masih sama.
Mencintai tanpa dibalas.
"Keti?"
Suara Jan Coen terdengar khawatir.
"Kau menangis?"
Kusumawati baru menyadari pipinya basah. Ujung hidungnya mengalir air mata, jatuh ke lengan Jan Coen tanpa izin.
"Tidak." Suaranya bergetar. Ia berdeham pelan. Suara tetap ketus. "Ini ... debu. Banyak debu di kamar ini. Penginapan ini kumuh."
Jan Coen tidak membantah. Kepalanya masih terangkat.
Menatap Kusumawati lama. Melihat sisi rapuh perempuan itu.
Dia mengeratkan pelukannya.
Membiarkan Kusumawati menangis dalam diam.
Menangis untuk tiga puluh tahun pernikahan tanpa cinta.
Menangis untuk harapan yang tidak pernah terwujud.
Menangis untuk kata-kata yang akhirnya dia dengar—dari pria asing yang membelinya dari rumah bordil, bukan dari suami yang dia cintai seumur hidup.
‘Lucu sekali.’
‘Hidupku benar-benar lucu.’
Air mata terus mengalir.
Tapi pelukan Jan Coen terasa hangat. Menyelimuti hatinya yang selama ini dingin, kesepian.
Dan untuk malam ini, Kusumawati membiarkan sisi rapuhnya terlihat.
***
Pagi datang dengan langit mendung. Suasana semakin syahdu.
Awan tebal menutupi matahari. Udara lembap, bau hujan yang belum turun memenuhi udara.
Jalanan tampak kelabu—pedagang-pedagang yang biasanya ramai kini bergerak lamban, wajah-wajah kusam memandang langit dengan was-was.
Suasana bertambah suram. Tapi tidak untuk Jan Coen.
Pria itu ke kedai penginapan dengan wajah berseri-seri. Senyum lebar tidak lepas dari bibirnya. Langkahnya ringan.
"Selamat pagi, Tuan!" Dia menyapa pemilik penginapan yang sedang mengawasi pelayan wanita muda mengelap meja. "Cuaca indah, bukan?"
Pemilik penginapan, pria Tionghoa tua dengan perut buncit, menatapnya bingung.
"T-tuan ... langitnya mendung."
"Mendung yang indah!" Jan Coen menepuk bahunya keras, pria itu hampir terhuyung ke depan. "Oh, dan aku punya kabar gembira. Aku akan menikah! Segera."
"Menikah?" Mata sipit pemilik penginapan seketika melebar.
"Ya! Dengan seorang Raden Ayu!" Jan Coen tersenyum bangga. "Perempuan bangsawan Jawa. Cantik. Cerdas. Galak seperti harimau. Tidak takut padaku."
Pemilik penginapan menatapnya lama. Tak percaya.
‘Perempuan gila mana yang mau menikah dengan singa besar ini?’
‘Pasti dia membual. Orang Belanda ini mungkin sudah gila karena nyainya mati terus.’
"Se-selamat, Tuan." Pemilik penginapan tersenyum canggung. "Semoga ... semoga bahagia."
"Terima kasih!" Jan Coen menepuk bahunya lagi, lebih keras, membuat pria tua itu terhuyung menabrak pelayan yang masih membungkuk mengelap meja dengan minyak khusus. "Nanti kalian semua kuundang ke pesta!"
Dia berjalan kembali ke kamar setelah memesan makanan, masih tersenyum lebar.
Kusumawati sudah duduk.
Rapi. Kebaya hijau tua. Sarung batik pesisir. Rambut disanggul sederhana.
Wajahnya datar. Tanpa senyum. Benaknya dipenuhi Slamet.
Khawatir mulutnya sudah bercerita ke mana-mana.
“Kau terlihat senang sekali?”
“Tentu saja. Aku baru mengumumkan pada semua orang, bahwa kita akan menikah.”
"Kau memberitahu semua orang?" Mata Kusumawati mendelik.
pemberontak yg licik ,
kusumawati terbujuk kah ,kembali ke kadipaten dgn situasi kadipaten ,walau pun bukan soedarsono yg mnjdi bupati
tapi selama ini kadipaten lah yang selalu mnjdi prioritas selama hidup nya
berat sama si Jan cok