Budiman Sekar, mahasiswi biasa yang butuh uang, melamar kerja di PT Lestari Group. Tapi nasib berkata lain — lamarannya dialihkan, dan dia berakhir jadi pengasuh pribadi nomor 88 untuk Tan Ardian, mantan Direktur Utama yang kini terpaksa duduk di kursi roda setelah kecelakaan misterius.
Ardian dingin. Angkuh. Sudah mengusir 87 pengasuh sebelumnya.
Tapi Sekar bukan orang yang gampang menyerah. Dia berani, blak-blakan, dan tidak takut membalas tatapan tajam sang CEO dengan senyum lebar.
Yang tidak Sekar tahu: Ardian menyimpan banyak rahasia. Tentang kecelakaan itu. Tentang kakinya. Dan tentang buku catatan kulit cokelat yang diam-diam ia tulis setiap malam — "Panduan Memelihara Kucing Hoki."
Isinya? Semua hal tentang Sekar.
"Hari ke-15: Dia tersenyum. Rasanya seperti matahari masuk lewat jendela yang sudah lama tertutup."
*Ketika sang kucing dingin bertemu anjing kecil yang ceria — siapa yang sebenarnya merawat siapa?*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13
Dufan
Foto wisuda itu tidak dibahas lagi.
Setelah Rio pergi, Ardian hanya meminta Sekar mengganti jadwal terapi di map, lalu kembali menjadi Tan Ardian yang biasa: dingin, irit bicara, dan seperti tidak pernah membiarkan siapa pun melihat bagian rapuh hidupnya lebih dari tiga detik.
Tetapi Sekar tidak bisa melupakan foto itu.
Susanto Kevin yang tersenyum di sebelah Ardian tampak terlalu akrab untuk disebut orang luar. Tangan pria itu merangkul bahu Ardian dengan santai, seolah mereka pernah berada di sisi yang sama, berdiri di bawah langit yang sama, memakai toga yang sama.
Sekar tidak bertanya lagi. Ia tahu ada pintu yang belum boleh dibuka.
Tiga hari berikutnya, ia melakukan pijat rehabilitasi setiap sore. Satu jam penuh. Tidak kurang, tidak lebih. Ia mencatat warna kulit, suhu, respons otot, dan setiap kali Ardian menjawab "tidak sakit" dengan rahang mengeras, Sekar menulis "mungkin sakit, pasien sok kuat" di catatan kecil pribadi.
Ardian pernah melihatnya sekali.
"Apa itu?"
"Catatan medis."
"Tulisanmu menghina pasien."
"Berarti pasien bisa membaca. Fungsi saraf mata aman."
Sejak itu, Ardian tidak lagi merebut sticky note dari tangannya. Ia hanya menatap tajam, lalu membiarkan Sekar mencatat.
Pada hari Kamis siang, ketika mencari termometer cadangan di ruang kerja lantai satu, Sekar menemukan bingkai foto lain di rak bawah lemari. Bingkai itu sengaja ditelungkupkan.
Ia tidak berniat mengintip. Benar-benar tidak. Tetapi saat tangannya menarik kotak alat kesehatan, sudut bingkai tersenggol dan foto di dalamnya terlihat.
Ardian muda di atas kuda.
Usianya mungkin belasan tahun. Rambutnya lebih panjang, tubuhnya tegak, satu tangan memegang tali kekang. Wajahnya tidak tersenyum lebar, tetapi matanya hidup. Ada angin di foto itu. Ada matahari. Ada seorang anak laki-laki yang belum duduk di kursi roda dan belum belajar menyembunyikan sakit dengan kata "terserah".
Sekar membeku.
"Siapa yang menyuruhmu membongkar barangku?"
Suara Ardian datang dari pintu.
Sekar hampir menjatuhkan termometer.
"Saya mencari termometer cadangan," katanya cepat. "Ini tersenggol."
Ardian menatap foto itu. Dalam sekejap, wajahnya menutup.
"Balikkan lagi."
Sekar melakukannya, tetapi dadanya terasa aneh. "Pak Tan suka naik kuda?"
"Dulu."
Satu kata. Pintu ditutup.
Sekar memegang kotak termometer, lalu melihat kursi rodanya. "Kalau kuda tidak bisa, bagaimana dengan komidi putar?"
Ardian mengernyit. "Apa?"
"Dufan." Mata Sekar mulai berbinar. "Ada carousel, bentuknya kuda. Tidak perlu benar-benar naik kuda, tidak ada risiko jatuh ke tanah, tidak perlu helm mahal. Cukup duduk manis dan pura-pura jadi pangeran."
"Tidak."
"Saya belum selesai menjelaskan."
"Tidak."
"Pak Tan pernah ke Dufan?"
Ardian diam.
Sekar menangkap celah itu seperti menangkap kucing lapar di depan nasi goreng. "Belum?"
"Aku tidak suka tempat ramai."
"Bukan pertanyaan saya."
"Aku tidak perlu pergi ke tempat seperti itu."
"Itu juga bukan jawaban."
Ardian memutar kursi rodanya. "Budiman Sekar."
Sekar mengangkat kedua tangan. "Baik, baik. Saya tidak memaksa. Saya cuma memberi saran sebagai asisten rehabilitasi pribadi. Sekali-kali pasien perlu keluar rumah, melihat matahari, dan tahu bahwa dunia tidak semuanya ruang terapi."
Kursi roda berhenti.
Sekar menahan napas.
Lalu Ardian berkata, tanpa menoleh, "Kalau hujan, batal."
Itu bukan setuju. Tetapi pada Tan Ardian, bukan menolak berarti pintu sudah terbuka setengah.
Besok paginya, langit Ancol cerah sekali.
Sekar datang dengan ransel kecil berisi air mineral, topi, tisu basah, obat, sticky note, payung lipat, power bank, dan ekspresi seperti tour guide yang terlalu semangat. Ardian menatapnya dari kursi roda di depan mobil.
"Kamu mau pindah rumah?"
"Ini perlengkapan dasar."
"Untuk perang?"
"Untuk menghadapi panas Jakarta, Pak. Itu lebih ganas dari perang."
Sopir menahan tawa saat membuka pintu mobil. Ardian masuk tanpa menjawab, tetapi ia tidak menyuruh Sekar membatalkan rencana.
Dufan pada hari kerja tetap ramai. Suara anak-anak, musik wahana, aroma popcorn dan jagung bakar bercampur dengan panas aspal setelah disiram matahari. Sekar berhenti sebentar di pintu masuk, matanya bergerak cepat mencari jalur kursi roda.
Petugas berseragam menunjuk jalur akses khusus. "Bisa lewat sini, Pak, Mbak. Nanti beberapa wahana ada antrean prioritas."
Sekar berterima kasih. Ardian hanya mengangguk singkat.
Saat melewati antrean panjang, beberapa orang menoleh. Ada yang melihat kursi roda. Ada yang melihat wajah Ardian terlalu lama. Sekar langsung berjalan setengah langkah di sampingnya, bukan di belakang, bukan seperti pengasuh yang mendorong barang, melainkan seperti teman seperjalanan.
"Enak juga ya," katanya. "Dulu saya waktu kecil cuma lihat iklan Dufan di TV. Kalau minta ke sini, Mama Papa bilang nanti, setelah ada uang lebih. Uangnya selalu dipakai buat hal lain."
Ardian meliriknya.
Sekar tersenyum tanpa sedih. "Jadi hari ini saya juga wisata masa kecil. Pak Tan jangan merasa jadi beban. Saya numpang senang."
"Kamu tidak pernah ke sini?"
"Belum."
"Kenapa memilih tempat pertama dengan orang yang bahkan tidak mau datang?"
"Karena orang itu punya foto naik kuda yang disembunyikan."
Ardian terdiam.
Sekar menunjuk peta wahana. "Kita mulai dari yang paling tidak memalukan. Lihat-lihat dulu, makan es krim kalau panas, lalu carousel."
"Aku tidak bilang mau naik carousel."
"Saya juga tidak bilang sekarang. Saya bilang lihat dulu."
Mereka berjalan melewati wahana yang berputar, kios suvenir, dan anak-anak yang berlari sambil membawa balon. Sekar membeli dua botol air dan satu es krim cone. Ia memberikan air pada Ardian dan memegang es krim sendiri.
"Kamu makan sendiri?"
"Pak Tan tidak makan manis."
Ardian menatap es krim itu. "Aku tidak bertanya karena ingin."
"Saya juga tidak menawarkan karena takut ditolak."
Ia menggigit es krim dengan puas. Lima detik kemudian, es krim mulai meleleh mengenai jarinya.
Ardian mengeluarkan tisu dari tasnya, menyerahkan tanpa bicara.
Sekar menerima tisu itu. "Terima kasih. Lihat, Dufan membuat Pak Tan lebih manusiawi."
"Dufan membuatmu lebih berisik."
"Saya memang begini sejak lahir."
Mereka sama-sama diam sebentar, tetapi suasananya tidak buruk.
Sampai carousel terlihat.
Wahana itu berputar pelan dengan musik ceria. Kuda-kuda putih dan cokelat naik turun, lampu kecil berkelip di tiang emas, anak-anak tertawa sambil melambai pada orang tua mereka. Bagi Sekar, itu pemandangan sederhana. Bagi Ardian, entah kenapa, udara di sekitarnya berubah.
Tangannya mencengkeram sandaran kursi roda.
Sekar melihatnya dalam satu detik.
"Pak Tan?"
Ardian tidak menjawab. Matanya menatap kuda-kuda itu, tetapi seperti tidak melihat wahana. Napasnya pendek. Bahunya kaku. Wajahnya yang tadi datar kini pucat, tipis sekali, tetapi cukup membuat Sekar langsung berjongkok di depannya.
"Pak Tan, lihat saya."
Tidak ada respons.
Sekar menaruh tangan di lengan kursi roda, tidak menyentuh tubuhnya tanpa izin. "Ardian."
Nama itu keluar begitu saja.
Mata Ardian bergerak turun, bertemu matanya.
Sekar baru sadar ia memanggil nama depannya. Tapi ia tidak menariknya kembali.
"Maaf," katanya pelan. "Aku tidak memperhatikan perasaanmu."
Ardian menatapnya.
Musik carousel terus berputar di belakang mereka. Anak-anak masih tertawa. Dunia tidak berhenti hanya karena seseorang di kursi roda sedang berjuang menelan masa lalu.
Sekar merendahkan suaranya. "Aku pikir ini akan lucu. Aku pikir kuda mainan lebih ringan daripada foto itu. Tapi mungkin buat kamu tidak begitu."
Jari Ardian perlahan mengendur dari sandaran.
"Kita bisa pergi," kata Sekar. "Tidak perlu naik apa pun. Tidak perlu membuktikan apa pun. Hari ini cukup sampai melihat pintu Dufan pun tidak apa-apa."
Ardian menatapnya lama.
Untuk pertama kalinya, ia tidak memakai kata tajam untuk menutup diri. Ia juga tidak memalingkan wajah.
Setelah beberapa detik, suaranya keluar sangat rendah.
"Aku mau... coba."