NovelToon NovelToon
Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Rasa Yang Tertelan Jalan Terjal

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Wanita Karir / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:53
Nilai: 5
Nama Author: Icha cicha

Seperti kapal yang terombang-ambing di tengah lautan gelap tanpa bintang, hidup Murni melintasi jurang kebingungan saat jalan kuliahnya tiba-tiba terputus seperti tali yang dipotong kasar. Dunia yang dulu dihiasi dengan impian lembaran kertas putih bersih kini berubah menjadi hamparan jalan terjal yang penuh batu tajam dan genangan lumpur. Tanpa ragu, dia memilih merangkul dunia pabrik yang keras – tangan yang dulu memegang pena dengan lembut kini memegang alat berat dan bahan baku kasar, setiap tetes keringatnya menorehkan cerita perjuangan yang tak pernah terucapkan. Hidupnya seperti lautan yang terus bergelombang, menghantam pantai harapan dengan ombak rasa yang tertelan dalam diam.

Di tengah hiruk-pikuk mesin pabrik yang tak pernah berhenti berputar, cinta datang seperti embun pagi yang menyentuh dedaunan kering.

Akankah cinta yang tulus benar-benar ada di jalan yang penuh duri ini, atau hanya ilusi yang akan sirna seperti kabut pagi saat matahari muncul?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha cicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BALIKAN DARI LAYAR KACA

Hujan musim penghujan kembali menyapa bumi, tapi kali ini tetesan airnya bukan lagi menyertai air mata kesedihan—melainkan seperti iringan musik yang meriah untuk sebuah awal baru. Di dalam kamar kos yang kini terasa lebih hangat, Murni duduk dengan ponsel di pangkuannya, layarnya menerangi wajahnya dengan cahaya lembut yang membawa senyuman kembali ke bibirnya yang dulu sering menggigil karena tangisan.

"Cinta itu seperti ombak yang datang dan pergi di pantai," bisik Murni saat layar menampilkan wajah Khem yang kini tampak lebih tenang, lebih dewasa, dengan bekas lelah yang masih ada tapi kini disertai dengan kilatan harapan yang tak pernah padam. "Kadang ia pergi hingga menyisakan pasir kosong yang membuat kita berpikir ia tak akan kembali—tapi akhirnya ia datang lagi dengan ombak yang lebih kuat, membawa kembali semua kehangatan yang pernah kita rasakan."

Panggilan video itu datang tak terduga pada tengah malam, ketika Murni baru saja selesai menyelesaikan laporan harian dari pabrik. Suara dering ponselnya terdengar seperti petir yang menerangi kegelapan, dan ketika ia melihat nama Khem muncul di layar, hatinya berdebar seperti burung merpati yang ingin terbang keluar dari dadanya. Saat ia menjawab, kata-kata tak bisa keluar dari mulutnya—hanya air mata bahagia yang mengalir lepas dari sudut matanya, seperti sungai yang akhirnya menemukan jalur kembali ke laut.

"Murni... aku tidak bisa move on darimu," ujar Khem dengan suara yang penuh dengan kerinduan yang mendalam, wajahnya terlihat sedikit kabur karena sinar lampu kamar di ujung lain. "Setiap malam aku melihat foto kita, setiap hari aku menemukan kenanganmu di setiap sudut hidupku—dalam aroma kopi yang kuminum, dalam suara hujan yang menerpa jendela, bahkan dalam rasa keripik pisang yang pernah kamu kirimkan padaku."

Murni menangis sambil tersenyum, menutup mulutnya dengan tangan agar tangisannya tidak terlalu keras. "Aku juga tidak bisa melupakanmu, Khem. Setiap kali aku membuat adonan di pabrik, aku merasa seolah sedang mencoba menyusun kembali cerita kita—menggabungkan semua rasa yang berbeda menjadi sesuatu yang utuh lagi."

Dari sana, panggilan video menjadi rutinitas baru yang menyegarkan hati mereka berdua. Mereka berbicara setiap malam, terkadang hingga matahari mulai muncul di ufuk. Kadang mereka hanya diam sambil melihat satu sama lain, menikmati kehadiran yang dulu hanya bisa dirasakan melalui kata-kata di layar. Kadang mereka berbagi cerita tentang hari-hari mereka—Murni menceritakan tentang bagaimana ia berhasil menciptakan resep baru untuk kue kelapa yang menjadi hits di pabrik, tentang bagaimana Ibu Tama mengajarkannya rahasia membuat keripik yang renyah dan tidak cepat lembek. Khem menceritakan tentang bagaimana ia akhirnya bisa mengatur waktu kerja dengan lebih baik, tentang bagaimana ia mulai belajar memasak hidangan khas kota dengan resep yang Murni kirimkan padanya, meskipun hasilnya belum sempurna.

"Kita seperti dua buah bintang yang terpisah oleh jarak yang luar biasa," ujar Khem saat mereka sedang melihat langit malam bersama melalui layar ponsel—Murni melihat langit di atas kota yang penuh dengan bintang yang bersinar terang, sementara Khem melihat langit di kota besarnya yang sedikit kabur karena cahaya kota. "Jarak mungkin memisahkan kita di dunia nyata, tapi di langit yang sama ini, kita masih melihat bintang yang sama—dan itu membuat aku merasa bahwa kita tidak pernah benar-benar terpisah."

Mereka membuat kesepakatan baru, berbeda dari janji yang dulu mereka buat. Kali ini, mereka tidak lagi memaksakan diri untuk merencanakan masa depan yang terlalu jauh ke depan—melainkan menikmati setiap momen yang bisa mereka bagikan, setiap kata yang bisa mereka ucapkan, setiap senyuman yang bisa mereka sampaikan melalui layar kaca. Khem mulai lebih sering menghubungi orang tua Murni, menyapa mereka dengan hormat dan bertanya tentang kabarnya—seolah ingin menunjukkan bahwa ia benar-benar serius untuk menjaga hubungan ini dengan lebih baik. Murni mulai belajar tentang kota tempat Khem tinggal, mengenal budaya dan makanan khasnya, bahkan mulai menyimpan uang untuk membeli buku tentang bahasa daerah tempat Khem berasal.

Salah satu malam, ketika bulan penuh bersinar terang di atas langit kota, Khem menunjukkan sesuatu yang membuat Murni menangis bahagia. Di meja kamarnya, ada sebuah rak kecil yang diisi dengan produk dari pabrik tempat Murni bekerja—bungkus keripik pisang, kotak kue kering, kaleng selai nangka yang dibuat dengan resep keluarga tradisional. "Aku menyimpan semuanya," ujar Khem dengan senyuman lembut. "Setiap kali aku merasakan rasanya, aku merasa seolah sedang berada di sisi kamu, sedang makan bersama di rumahmu."

Murni mengangkat tangannya ke arah layar, seolah ingin menyentuh wajah Khem yang tampak begitu dekat namun tetap jauh. "Cinta kita memang berbeda, Khem. Ia tumbuh di antara jarak dan waktu yang tidak selaras, ia mengalami badai dan badai yang membuatnya goyah—tapi akhirnya ia tetap berdiri kokoh, seperti pohon kelapa yang menghadapi ombak di pantai. Ia mungkin tidak seperti cinta yang lain yang bisa selalu bersama setiap hari, tapi ia lebih kuat karena harus bertahan melalui segala rintangan."

Hujan mulai reda, dan sinar bulan mulai menerobos melalui celah tirai jendela kamar Murni. Cahaya itu menerangi wajahnya yang penuh dengan kebahagiaan, menerangi ruangan yang kini kembali dipenuhi dengan harapan dan cinta. Meskipun mereka masih berada di wilayah yang berbeda, meskipun hubungan jarak jauh masih menjadi bagian dari hidup mereka, mereka tahu bahwa cinta yang mereka miliki adalah sesuatu yang berharga—sesuatu yang layak untuk diperjuangkan, sesuatu yang akan selalu datang kembali seperti ombak yang tak pernah lelah menyapa pantai.

"Aku mencintaimu, Murni," ujar Khem dengan suara yang penuh dengan keyakinan. "Dan aku akan melakukan segala yang bisa aku lakukan untuk memastikan bahwa kali ini, kita akan bisa melewati semua rintangan bersama."

"Aku juga mencintaimu, Khem," jawab Murni dengan suara yang penuh dengan kebahagiaan. "Baik kita berada di sisi yang sama atau terpisah oleh jarak yang jauh, cinta kita akan selalu menghubungkan kita—seperti benang merah yang tak pernah putus, bahkan di tengah lautan luas yang memisahkan kita."

Saat mereka mengakhiri panggilan video dan menyimpan ponselnya, Murni berdiri di depan jendela sambil melihat bulan yang bersinar terang. Udara malam yang segar menyegarkan paru-parunya, dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia merasakan bahwa masa depan mereka tidak lagi seperti kabut yang samar—melainkan seperti jalan yang jelas yang terbentang di depannya, penuh dengan harapan dan cinta yang akan selalu menemani langkahnya.

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Kejutan pertama datang tepat pada hari valentine, ketika matahari baru mulai menyinari atap pabrik makanan ringan. Ia baru saja memasuki ruang kerja ketika semua teman kerjanya berdiri serentak, tangan mereka membawa barang-barang yang membuat matanya melebar kaget. Di tengah ruangan, ada sebuah meja yang dihiasi dengan bunga merah muda dan lilin yang menyala lembut—dan di atasnya, sebuah kotak kayu besar yang diberi segel merah dengan tulisan tangan yang ia kenal begitu baik: "Untuk Murni, cinta terbaik dalam hidupku – Khem."

"Ini bukan dari kita saja, nak," ujar Ibu Yanti dengan senyuman penuh makna. "Ada orang yang bekerja sama dengan kita untuk membuat kejutan ini jadi kenyataan."

Saat Murni membuka kotak itu dengan hati-hati, ia menemukan sebuah kotak kue berisi kue coklat valentine dengan bentuk rumah kecil yang dihiasi dengan hiasan tepung menyerupai sawah dan pohon kelapa—persis seperti rumah yang pernah ia gambarkan saat bercerita tentang impiannya dengan Khem. Di sampingnya, ada sebuah buku catatan yang penuh dengan tulisan Khem, setiap halamannya diisi dengan puisi dan cerita tentang betapa ia merindukannya setiap hari, tentang bagaimana ia belajar membuat resep makanan khas kota dengan bimbingan dari ibu Murni yang secara diam-diam telah berkomunikasi dengannya.

"Aku tahu kamu selalu menginginkan rumah yang damai di pinggir sawah," bunyi catatan di halaman terakhir. "Sampai kita bisa membangunnya bersama, izinkan aku membawakan sebagian impian itu padamu melalui setiap gigitan kue coklat yang kamu makan."

Tak berapa lama kemudian, saat malam tiba dan mereka melakukan panggilan video rutin, Murni melihat bahwa kamar Khem terlihat berbeda dari biasanya. Dindingnya dipenuhi dengan foto-foto kecil yang di susun membentuk bentuk hati besar—foto-foto mereka berdua dari waktu ke waktu, foto-foto pabrik tempat Murni bekerja, bahkan foto-foto makanan yang Murni buat yang ia abadikan dengan hati-hati. Di sudut kamar, ada sebuah rak kayu kecil yang ia namai "Sudut Kota"—di atasnya ditempatkan blender yang ia gunakan untuk membuat jus pisang seperti yang sering Murni buat, alat memasak untuk membuat kari sesuai resep keluarga Murni, dan bahkan sebuah pot kecil yang menanam tanaman pandan yang ia dapatkan dari teman yang pernah berkunjung ke Pulau .

"Ini kejutan untukmu juga," ujar Khem dengan senyuman yang memancarkan kebahagiaan. "Kamu membawa cinta ke dalam hidupku melalui makanan dan cerita kamu. Sekarang aku ingin membuat bagian kecil dari cinta tetap ada di sisiku setiap hari. Aku bahkan sudah bisa membuat kari yang hampir sama rasanya dengan yang kamu buat!"

Tanpa berkata apa-apa, Murni berdiri dan mengambil sebuah kotak kecil dari dalam lemari. Di dalamnya adalah sebuah gelang yang dibuat dari anyaman rotan khas kota, yang ia buat sendiri di waktu senggangnya. Di tengah gelang itu, ada sebuah liontin kecil berbentuk kapal layar—simbol dari hubungan mereka yang seperti dua kapal yang menemukan jalan kembali satu sama lain di lautan luas.

"Aku membuat ini untukmu," katanya dengan suara lembut sambil menunjukkan gelang itu melalui layar. "Setiap helai rotan yang aku anyam mewakili setiap hari yang kita lewati terpisah, tapi tetap terhubung. Kapal layarnya melambangkan bahwa cinta kita akan selalu menemukan jalan untuk sampai ke muara yang sama."

Kemudian, Murni memberikan kejutan kedua yang membuat Khem terkejut hingga tidak bisa berkata-kata. Ia membawa ponselnya ke luar kamar, menuju ke belakang kosnya yang telah ia susun dengan hati-hati. Di sana, ada beberapa pot tanaman pisang yang ia tanam sendiri, dan di antara mereka berdiri sebuah tiang kecil dengan bendera kecil yang memiliki gambar dua hati yang saling bersanding—satu dengan gambar gedung pencakar langit, satu lagi dengan gambar pantai kota.

"Aku menanamnya untukmu," ujar Murni dengan mata yang bersinar penuh harapan. "Setiap kali pohon pisangnya tumbuh, itu seperti cinta kita yang terus berkembang—meskipun kamu berada jauh di kota besar dan aku di sini di tanah ini. Dan bendera ini adalah bukti bahwa meskipun kita berasal dari tempat yang berbeda dengan impian yang berbeda, kita bisa menyatukannya menjadi satu."

Khem menangis bahagia, menyeka air matanya dengan bahu lengan bajunya. "Kita memang benar-benar dibuat untuk satu sama lain, bukan? Cinta kita tidak takut jarak, malahan membuatnya semakin kuat dengan setiap kejutan dan perhatian yang kita berikan satu sama lain."

Di tengah malam, ketika mereka akhirnya harus mengakhiri panggilan, mereka membuat janji baru—bahwa setiap bulan mereka akan memberikan kejutan kecil satu sama lain, bukan dengan hal-hal mahal atau mewah, tapi dengan hal-hal yang berasal dari hati dan penuh dengan makna. Baik itu resep baru yang Khem pelajari, atau anyaman tangan yang Murni buat, atau cerita baru tentang kehidupan mereka yang selalu mereka bagikan dengan cinta yang mendalam.

"Cinta yang tumbuh melalui jarak memang memiliki rasa yang berbeda," bisik Murni saat ia melihat bulan yang masih bersinar terang di atas langit kota. "Ia seperti kopi yang diseduh perlahan-lahan—semakin lama, rasanya semakin dalam dan nikmat. Dan kita akan terus menyeduhnya dengan cinta dan perhatian, sampai akhirnya kita bisa menikmatinya bersama di tempat yang sama."

 

━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━━

Hari-hari berlalu seperti aliran sungai yang tenang—tak lagi bergelombang dengan kegalauan atau terhenti oleh rasa rindu yang menyiksa. Bagi Murni, dunia pabrik makanan ringan di pinggiran kota kini bukan hanya tempat kerja, melainkan panggung di mana ia menuangkan semua energi dan cinta yang ada di dalam dirinya. Setiap pagi, ia tiba sebelum matahari benar-benar bersinar, membawa dengan dirinya aroma kopi hangat dan senyuman yang kini kembali melekat di bibirnya.

"Setiap biji gula yang kubawa ke dalam adonan adalah doa untuk hubungan kita, Khem," gumamnya sambil mencampur bahan-bahan untuk membuat kue kering baru yang akan diperkenalkan bulan depan. Mesin pencampur berputar dengan ritme yang sudah ia hafal, seperti nyanyian yang selalu mengingatkannya akan bagaimana sesuatu yang berbeda bisa menyatu menjadi sesuatu yang indah. Ia kini menjadi salah satu kru terbaik di pabrik—dikenal karena keuletannya dalam mengembangkan resep baru dan perhatiannya terhadap setiap detail proses produksi.

Saat shift pagi berakhir dan teman-teman kerjanya mulai pulang, Murni sering menghabiskan waktu ekstra di laboratorium kecil pabrik untuk bereksperimen. Kali ini, ia mencoba menggabungkan rasa pisang uli khas kota dengan tekstur keripik yang renyah. Ia mencampur tepung dengan bubuk pisang yang dihaluskan sendiri, menambahkan sedikit gula aren untuk memberikan rasa manis alami, dan mengatur suhu oven dengan presisi yang hanya bisa dikuasai oleh seseorang yang benar-benar mencintai apa yang dilakukannya.

"Ini untukmu," bisiknya saat mengambil keripik hasil percobaan ketiganya—yang akhirnya memiliki tekstur dan rasa yang tepat. Ia membungkusnya dengan hati-hati dan menuliskan catatan kecil di atas kemasan: "Rasa bahagia yang selalu ada di hatimu – dari kota dengan cinta."

Sementara itu, di kampung halaman Khem yang terletak jauh di pedalaman, kehidupan juga berjalan dengan ritme yang tenang namun penuh makna. Ia kembali membantu orang tuanya di ladang pertanian mereka—menanam padi, merawat kebun sayuran, dan mengelola usaha kecil warung makan keluarga yang kini mulai dikenal karena hidangan khas daerah yang ia pelajari dari resep yang Murni kirimkan. Setiap pagi, ia bangun sebelum fajar untuk menyiram tanaman, tangan nya yang dulu lebih sering menyentuh keyboard komputer kini terbiasa dengan tanah dan daun tanaman.

"Murni bilang, memasak seperti merawat hubungan—perlu kesabaran dan rasa cinta yang tulus," ujarnya pada ibunya saat mereka sedang membuat kari bersama. Ia dengan cermat mengiris daging sapi menjadi potongan yang sama besarnya, menumis bumbu dengan api kecil hingga harum meresap, dan memasaknya dengan waktu yang cukup lama hingga daging empuk dan bumbu meresap sempurna. Setiap hidangan yang keluar dari dapur mereka selalu mendapatkan pujian dari pelanggan—bahkan ada yang datang dari desa lain hanya untuk mencicipi rendang yang katanya memiliki "rasa cinta yang terasa di setiap gigitan".

Ketika malam tiba dan kegelapan menyelimuti kedua tempat mereka, jadwal video call yang sudah mereka sepakati menjadi momen yang paling dinantikan setiap hari. Biasanya, mereka mulai berbicara saat jam sembilan malam—saat Murni sudah selesai membersihkan kamar dan menyiapkan barang-barang untuk hari esok, dan Khem sudah selesai membersihkan warung dan menghitung pendapatan hari itu.

"Lihat apa yang kubuat hari ini," ujar Murni dengan penuh bangga saat menunjukkan rak baru di pabrik yang diisi dengan produk hasil karyanya. "Kita berhasil menjual ribuan bungkus keripik pisang khusus kemarin—banyak yang bilang rasanya seperti membawa mereka kembali ke masa kecil di kampung halaman."

Khem tersenyum lebar saat melihatnya, kemudian menunjukkan layar ponselnya ke arah warung makan keluarga. "Dan lihat ini—kami baru saja menambahkan menu kue kering yang kamu ajarkan padaku di daftar hidangan. Banyak pelanggan yang memesan untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh!"

Mereka berbagi segala hal—mulai dari cerita sepele tentang teman kerja yang ceria, hingga rencana kecil untuk masa depan. Murni bercerita tentang bagaimana ia akan mengikuti pelatihan manajemen produksi agar bisa membantu mengembangkan pabrik lebih jauh. Khem bercerita tentang rencananya untuk membangun rumah baru di belakang ladang mereka—rumah dengan taman kecil yang akan ia tanami dengan tanaman pisang dan pandan, seperti yang ada di sekitar kos Murni .

"Kita mungkin tidak bisa berada di sisi satu sama lain setiap hari," ujar Khem saat bulan mulai muncul di atas langit kampungnya. "Tapi setiap kali aku menyiram tanaman pisang yang kubeli karena kamu, atau setiap kali aku membuat hidangan yang kamu ajarkan, rasanya kamu selalu ada di sisiku."

Murni mengangguk dengan mata yang penuh kebahagiaan, sambil menatap pohon pisang yang ia tanam di belakang kosnya. Daun-daunnya bergoyang lembut tertiup angin, seolah menyapa Khem yang ada di ujung lain layar. "Aku juga merasakan hal yang sama. Setiap kali mesin berputar dan menghasilkan produk yang bisa membuat orang lain bahagia, aku merasa seolah kita sedang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama—membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik dengan cinta dan kerja keras kita."

Rutinitas mereka mungkin terlihat sederhana bagi orang lain—Murni dengan dunia mesin dan adonan , Khem dengan dunia ladang dan dapur di kampung halamannya. Tapi bagi mereka berdua, setiap hari yang mereka lalui adalah bukti bahwa cinta tidak selalu membutuhkan kedekatan fisik. Kadang kala, jarak justru membuat cinta semakin kuat, semakin dalam, dan semakin berharga—seperti anggur yang semakin nikmat seiring berjalannya waktu.

Saat mereka mengakhiri panggilan dan menyimpan ponselnya, masing-masing merasakan kedamaian yang mendalam di dalam hati. Murni melihat ke arah pabrik yang sunyi di malam hari, dengan lampu-lampu yang masih menyala lembut seperti penjaga yang setia. Khem melihat ke arah ladang padi yang siap panen, dengan sinar bulan yang menerangi permukaannya seperti kain sutra yang indah. Mereka tahu bahwa meskipun hidup mereka berjalan dengan rutinitas yang berbeda, hati mereka selalu berada di tempat yang sama—bersatu oleh cinta yang tak pernah pudar, bahkan di tengah jarak yang memisahkan mereka.

 

...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!