Nayara Kirana seorang wanita muda berusia 28 tahun. Bekerja sebagai asisten pribadi dari seorang pria matang, dan masih bujang, berusia 35 tahun, bernama Elvano Natha Prawira.
Selama 3 tahun Nayara menjadi asisten pria itu, ia pun sudah dikenal baik oleh keluarga sang atasan.
Suatu malam di sebuah pesta, Nayara tanpa sengaja menghilangkan cincin berlian senilai 500 juta rupiah, milik dari Madam Giselle -- Ibu Elvano yang dititipkan pada gadis itu.
Madam Gi meminta Nayara untuk bertanggung jawab, mengembalikan dalam bentuk uang tunai senilai 500 Juta rupiah.
Namun Nayara tidak memiliki uang sebanyak itu. Sehingga Madam Gi memberikan sebuah penawaran.
"Buat Elvano jatuh cinta sama kamu. Atau saya laporkan kamu ke polisi, dengan tuduhan pencurian?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. Astaga, Robek! 21+++++
Elvano membungkam bibir Nayara dengan bibirnya sendiri. Tangan kiri pria itu meraih tengkuk sang asisten pribadi, membuat gadis itu mendongak dan memudahkan Elvano menyusuri di dalamnya.
Nayara yang sangat amatiran, tidak tau harus berbuat apa selain mengikuti pemain sang atasan.
Di sela ciuman panas itu, tangan kanan Elvano turun mengangkat bokong sang asisten, menggendongnya seperti induk koala.
“Astaga, robek.” Gumam Nayara di sela decapan mereka.
“Biarkan saja. Bahkan saya ingin merobeknya sejak tadi.” Ucap Elvano di atas bibirnya.
Pria itu menciumnya semakin dalam, dan panas. Hingga Nayara tidak sanggup mengimbanginya. Gadis itu pun memukul dada bidang Elvano berulang kali.
“Bapak mau saya kehabisan nafas?” Tanya gadis itu dengan nafas tersengal.
Elvano juga ikut tersengal, namun ia mampu menyeringai. Pria itu kemudian berjalan menapaki tangga, dengan Nayara yang masih berada di dalam gendongannya. Gadis itu secara serta merta mengalungkan kedua tangannya pada leher sang atasan.
“Kamu sangat nakal, Ra.” Ucap pria itu sembari memukul bokong Nayara dengan kencang.
“Sakit, pak.” Ringis gadis itu.
Elvano berhenti di ujung tangga. Ia kembali menekan pinggang Nayara di depan pusat tubuhnya.
“Ini lebih sakit, Ra. Bangun selema berjam - jam karena ulah kamu.” Suara Elvano terdengar serak.
Membuat tubuh Nayara meremang.
“Buka pintunya.” Perintah pria itu. Nayara menurut. Ia menekan beberapa kombinasi angka pada handle pintu, hingga papan persegi itu bisa di buka.
Elvano kembali melangkah, masuk ke dalam kemudian menutup pintu dengan kakinya.
“Turunkan saya, pak.” Pinta Nayara.
“Tidak disini, Ra.” Pria itu melangkah menuju ranjang, kemudian melempar tubuh Nayara dengan lembut.
Di atas tempat tidur King size itu, Nayara hendak bangkit namun dengan cepat Elvano merangkak di atas tubuhnya.
“Pak —
“Kamu tidak akan bisa lari dari saya, Ra. Saya tidak akan membiarkan kamu dekat apalagi menikah dengan pria lain.” Pria itu melepaskan kemeja yang ia gunakan, kemudian membuangnya begitu saja.
Nayara sudah biasa melihat pemandangan perut kotak - kotak pria itu. Jadi, ia santai saja. Tetapi, posisi mereka yang membuatnya gugup. Elvano duduk di atas pa—ha gadis itu
“Bapak jahat sekali. Padahal saya cuma menikah.” Nayara berpura - pura merajuk.
“Kamu tidak boleh menikah dengan pria lain.” Ucap pria itu sembari melepaskan ikat pinggangnya dan kembali membuangnya secara asal.
“Lalu, saya harus menikah dengan — hmmmppttt.”
Elvano kembali membungkamnya. “Kamu terlalu banyak bicara, Ra.”
Nayara pun mengalungkan kedua tangannya pada leher pria itu, kemudian naik meremat rambut tebalnya.
“Kamu tidak ijin memegang rambut saya?” Tanya pria itu, yang kemudian berpindah menyusuri leher jenjang Nayara.
Gadis itu menahan nafas. Tubuhnya mulai merasakan sensasi panas yang luar biasa.
“Bapak pun tidak ijin sebelum mencium saya.” Ucap gadis itu dengan nafas tersengal.
Wajah Elvano kini berada tepat di depan dua aset berharga milik Nayara yang masih tertutup gaun. Satu tangannya pun terulur untuk memberikan sentuhan ringan disana.
“Kenapa kamu menutupi kehindahan ini, Ra? Apa kamu tau, mereka membuat saya gi—la saat melihat kamu menggunakan tank top di ruang tamu.”
Elvano menatapnya dengan tatapan memangsa. Ia cukup lama menahan diri untuk bisa melihat dua bongkahan bulat itu.
Nayara kembali menelan ludahnya dengan kasar. Ia merasakan embusan nafas Elvano di atas permukaan kulitnya.
Tangan Elvano yang lain meraba sisi gaun yang gadis itu gunakan. “Dimana kancingnya?”
Nayara sontak mengangkat punggungnya. Membuat tangan besar pria itu menyusup masuk.
Karena tidak memiliki pengalaman dalam melepaskan kancing gaun wanita, tangan besar itu menariknya dengan paksa.
“Robek lagi, pak.” Pekik Nayara.
“Biarkan saja. Saya bisa membelikan kamu gaun yang lebih baik dari pada ini.” Ucap Elvano sembari menggeram pelan.
“Gaun ini yang paling bagus untuk saya, pak.”
“Tidak — mata Elvano membulat sempurna ketika ia bisa menurunkan gaun Nayara hingga pinggang gadis itu.
“Si - al, Nara! Kamu tidak memakai apapun di balik gaun ini.” Bentak Elvano membuat Nayara menutupi tubuh atasnya dengan kedua tangan.
“Jangan coba untuk menutupinya.” Elvano menepis tangan gadis itu.
“P - pak.” Kepala Nayara menggeleng kencang saat wajah pria itu berada tepat di depan dua aset bulat miliknya.
“Saya pikir, bentuknya panjang seperti pepaya. Ternyata, milik kamu bulat seperti melon. Kenapa bisa seperti ini, Ra? Seharusnya kamu tidak menutupinya selama ini.” Ucap Elvano sebelum membenamkan wajahnya disana.
Pikiran pria itu kini tengah di kuasai oleh kabut gai—rah. Ia tidak akan melepaskan Nayara begitu saja.
“Pakhh.” Nayara meremat rambut Elvano dengan kuat. Ia belum pernah merasakan sensasi seperti ini.
Rasa panas dan geli bercampur menjadi satu.
Sang atasan saat ini mempermainkan kedua bongkahan bulat itu secara bergantian. Tidak hanya dengan tangan, tetapi menggunakan mulutnya juga.
“Pak Elhhh.”
“Jangan ganggu saya, Ra. Ini kesukaan saya. Awas jika kamu berani memamerkannya lagi dengan gaun seperti tadi.”
“Jangan digigit.” Tanpa sadar Nayara meremat rambut Elvano dengan keras.
“Awas kalau rambut saya botak. Kamu akan saya hukum, Ra.” Pria itu beralih turun.
Mendorong gaun Nayara dengan tangannya, hingga terlihat underwear berwarna hitam berenda yang gadis itu gunakan.
Elvano pun meloloskan gaun itu dengan paksa. Lalu membuangnya sembarangan.
“Kamu memiliki tubuh seindah ini. Kenapa kamu selalu memakai pakaian longgar?” Tangan pria itu tidak berhenti menjelajah.
Nayara menggelinjang seperti cacing kepanasan. Ia mencoba menepis tangan Elvano di tubuhnya namun percuma.
Wajah pria itu kembali berada di depan wajahnya. Namun tangannya begitu nakal di bawah sana.
“Apa ini, Ra? Kamu basah, sayang. Ternyata kamu juga menginginkannya.” Ucap pria itu dengan serak.
Kepala Nayara menggeleng kencang. Meski tangan Elvano masih berada di luar kain berenda itu. Namun sensasinya sangat luar biasa.
“Pakhh.”
“Apa kamu sudah tidak sabar? Tunggu dulu, Nara. Kita main - main dulu. Saya akan membuat kamu tersiksa. Seperti kamu yang sudah menyiksa saya.”
“K - kapan saya menyiksa bapak?” Tanya gadis itu terbata.
“Kamu tanya kapan?” Elvano memasukkan tangannya ke balik kain berenda itu.
Nayara sontak merampatkan kedua kakinya, membuat Tangan Elvano terjepit.
“Kamu ingat saat kamu di ruang tamu hanya menggunakan tank top?”
Nayara mencoba berpikir waras, ia pun menganggukkan kepalanya.
“Saya buru - buru ke kamar karena kamu membangunkan dia yang selama ini tertidur.” Suara pria itu terdengar sangat serak. Ia memaksa kaki Nayara untuk terbuka lebar. Dan salah satunya berada di antara inti tubuh pria itu.
“Rasakan, Ra. Malam ini dia terbangun sejak kamu keluar dari kamar dengan gaun si-alan itu. Bayangkan berapa lama saya tersiksa?” Elvano sengaja menempelkan tubuhnya.
“Pak!” Gadis itu menjerit saat satu jari pria itu masuk tanpa permisi.
“Baru jari, sayang. Nanti pasti lebih sakit, jika dia yang datang bertamu.”
...****************...
😝😝😝