Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.
Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.
Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.
Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29. Rasa bersalah
Begitu kesadarannya benar-benar kembali, Noa tersentak kecil. Ia menyadari posisinya terlalu dekat dengan Landerik. Wajahnya memanas oleh rasa canggung yang datang terlambat. Tanpa menatap Landerik lagi, ia segera bangkit, langkahnya tergesa namun ia tetap menjaga geraknya, seolah takut membuat suara. “Aku harus ke kamar mandi,” ucapnya lirih, lebih seperti bisikan untuk dirinya sendiri. Ia berlalu, dan pintu kamar mandi tertutup perlahan di belakangnya.
Klik.
Suara itu membuat Landerik membuka matanya.
Tatapannya langsung tertuju pada pintu kamar mandi yang kini sudah tertutup rapat. Ia terdiam lama, pandangannya kosong namun pikirannya memikirkan sesuatu, Suara air mulai terdengar dari balik pintu, mengalir pelan, mengisi ruang yang tadi dipenuhi keheningan canggung. Ingatan malam itu datang beruntun, tak utuh, namun cukup jelas untuk membuat dadanya terasa sesak.
Cahaya lampu remang. Suara orang-orang tertawa. Sorakan yang memekakkan telinga. Wajah Noa yang pucat namun bertahan. Dan dirinya sendiri kehilangan kendali. Rasa bersalah menjalar perlahan.
Ia menutup mata sesaat, menarik napas dalam-dalam. Ia ingat bagaimana tubuhnya menyerah, bagaimana alkohol mengaburkan batas, dan bagaimana Noa ada di sana, menopang, bertahan, tidak pernah benar-benar pergi.
Landerik kembali menatap pintu itu. Ada sesuatu yang berubah. Ia tahu itu. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak kepergian Riana, ia merasa takut—bukan pada kehilangan, melainkan pada apa yang mungkin tumbuh dari kesunyian yang ia dan Noa bagi sekarang.
...♡...
Noa keluar dari kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih tenang, meski matanya menyimpan sisa rasa lelah. Rambutnya masih sedikit lembap, dan riasan wajahnya sudah bersih, meninggalkan kesan polos yang kontras dengan gaun semalam. Langkahnya melambat saat ia menyadari Landerik sudah duduk bersandar di kepala ranjang, terjaga sepenuhnya.
Mata mereka bertemu, singkat. Noa segera mengalihkan pandangan. Keheningan menggantung, kaku dan tidak ramah. Hanya suara pendingin ruangan yang bekerja pelan, seolah berusaha mengisi ruang kosong di antara mereka.
“Aku,” Landerik berdeham kecil, suaranya serak. Ia menegakkan punggungnya, berusaha terdengar biasa. “Aku sudah menelepon supir. Kita akan langsung pulang ke rumah.”
Noa mengangguk pelan. “Oh,” jawabnya singkat. “Baik.”
Tak ada pertanyaan. Tak ada komentar. Tak ada raut yang berusaha menggali lebih jauh. Landerik memperhatikan tangannya sendiri, jarinya mengepal lalu mengendur. “Kau tidak perlu menungguku tadi malam,” katanya kemudian, nadanya datar namun ada suatu makna. “Aku merepotkanmu.”
Noa terdiam sejenak sebelum menjawab. “Itu tidak merepotkan,” katanya pelan, terlalu cepat, seakan ia sudah menyiapkan kalimat itu sejak lama.
Sunyi kembali turun.
Landerik menoleh padanya, ingin mengatakan lebih banyak. Tentang penyesalan. Tentang rasa bersalah. Tentang ingatan yang terputus-putus namun menyisakan luka. Namun kata-kata itu seolah tertahan di tenggorokan.
“Aku minta maaf,” akhirnya ia berkata singkat, nyaris formal. Noa menatap lantai. “Tidak apa-apa,” jawabnya, meski suaranya terdengar jauh. Saat itu, ketukan pelan terdengar dari pintu kamar.
“Tuan,” suara supir terdengar dari balik pintu, “mobil sudah siap.” Landerik berdiri lebih dulu. “Kita pergi sekarang.” Noa mengangguk sekali lagi, lalu melangkah menyusulnya dengan jarak satu langkah di belakang, Jarak yang kecil, Namun terasa begitu jauh.
Sesampainya di rumah, suasana mansion terasa dingin dan terlalu sunyi. Noa bahkan belum sempat duduk ketika Matilda sudah menghampirinya, wajah perempuan paruh baya itu langsung menegang saat melihat raut pucat Noa dan Landerik yang berjalan dengan langkah berat.
“Nona Noa ada apa?” tanya Matilda cemas.
Noa menarik napas dalam, berusaha menata suaranya yang masih gemetar. Ia menceritakan semuanya tentang pesta itu, tentang permainan aneh yang membuatnya tidak nyaman, tentang Landerik yang meminum alkohol berulang kali, hingga akhirnya pingsan di hadapan banyak orang. Kata-katanya terputus-putus, namun Matilda mendengarkan tanpa menyela, kedua tangannya mengepal menahan emosi. Begitu Noa selesai, Matilda langsung bersikap sigap.
“Ini tidak boleh dianggap sepele,” katanya tegas, jauh berbeda dari kelembutan biasanya. “Tuan Landerik punya riwayat alergi alkohol. Kita harus memastikan kondisinya benar-benar stabil.”
Tanpa menunggu persetujuan siapa pun, Matilda meraih ponselnya dan segera menelepon dokter pribadi keluarga Van Bodden. Nada bicaranya singkat dan penuh ke khawatiran, jelas ini bukan pertama kalinya ia mengurus keadaan darurat.
Sementara itu, Noa berdiri di dekat tangga, menatap Landerik yang sudah duduk lemah di sofa ruang tengah. Wajahnya masih pucat, sorot matanya kosong, seolah tubuhnya sudah kembali ke rumah tetapi jiwanya tertinggal di malam sebelumnya. Beberapa menit kemudian, Matilda menghampiri Noa kembali.
“Dokter akan segera datang,” ujarnya lembut, kali ini menurunkan suaranya. “Nona tidak perlu merasa bersalah. Anda sudah melakukan yang terbaik.” Noa mengangguk pelan, meski dadanya masih terasa sesak. Ia menatap Landerik sekali lagi—pria yang kini terbaring di rumah megah itu, terlihat rapuh dengan cara yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Noa menyadari satu hal yang membuat hatinya semakin kacau , keadaan Landerik malam itu bukan hanya meninggalkan luka fisik, tapi juga sesuatu yang mulai menggeser batas di antara mereka.
Dokter keluarga tiba tak lama kemudian. Dengan gerak yang tenang dan profesional, ia segera memeriksa kondisi Landerik yang terbaring lemas di atas kasur. Matilda berdiri di sisi tempat tidur, sigap memberikan apa pun yang dibutuhkan, sementara Noa berada sedikit di belakan, tubuhnya sudah bersih, wajahnya pucat, dan matanya masih menyimpan sisa kegelisahan malam tadi.
Pemeriksaan berlangsung tidak terlalu lama. Setelah mengecek tekanan darah, suhu tubuh, dan kondisi pernapasan, dokter akhirnya menarik napas lega.
“Tidak ada komplikasi serius,” ujarnya. “Tubuhnya hanya bereaksi keras terhadap alkohol. Yang ia butuhkan sekarang hanyalah istirahat total, cukup cairan, dan asupan makanan yang terjaga. Jangan biarkan ia kelelahan beberapa hari ke depan.”
Matilda mengangguk mengerti, mencatat setiap instruksi dengan serius. Setelah memastikan Landerik dalam kondisi stabil, dokter pun berpamitan. Matilda mengantar dokter keluar, meninggalkan kamar itu dalam keheningan yang canggung. Hanya ada suara napas Landerik yang masih berat dan Noa yang berdiri mematung di dekat ranjang.
Landerik melirik Noa. Sejak tadi Noa menunduk, jemarinya saling menggenggam seolah menahan sesuatu yang menyesak di dadanya. “Ada apa?” suara Landerik serak, nyaris berbisik. Noa terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menahan air mata itu jatuh.
“A-aku minta maaf,” ucapnya pelan.
“Aku tidak tahu kalau kau alergi alkohol. A-aku membiarkanmu terus minum. Seandainya aku menghentikanmu sejak awal—”
Kata-katanya terhenti. Noa menunduk lagi, bahunya sedikit bergetar. Landerik menatapnya lama, jelas terkejut dengan pengakuan itu. Ia tidak langsung menjawab. Ada sesuatu yang berubah dalam tatapannya bukan marah, bukan menyalahkan, melainkan kelelahan yang bercampur keheranan.
“Itu bukan salahmu,” akhirnya ia berkata. Suaranya lemah, namun tegas.
“Aku yang memilih minum. Aku yang tahu risikonya.”
Noa menggeleng pelan. “Tapi aku tetap merasa bersalah.”
Keheningan kembali menyelimuti kamar itu. di mana dua orang yang terikat oleh pernikahan tanpa cinta mulai menyadari bahwa batas di antara mereka perlahan menjadi semakin kabur.
To Be Countinue…