"Aduh.... sakit woi! turun ga kamu!" ucap seorang gadis cantik dengan pakaian sederhana dan tingkah yang bar bar nya, menghadang seorang pengendara motor yang baru saja menyerempet nya hingga jatuh ke sawah.
"Sorry." ucap seorang pria dengan wajah yang tertutup helm mahal, dan mengeluarkan suara yang membuat gadis itu tertegun.
wajah nya yang kotor, akibat terjatuh di sawah, membuat nya seakan lupa, bahwa dia baru saja di senggol oleh orang di depan nya. tapi gadis itu malah melamun dan tak sadar untuk bersikap tegas.
Pria itu menatap heran, dan langsung pergi tanpa berkat apa apa lagi, sepertinya memang pria itu memiliki urusan yang lebih penting saat itu.
"Aisshh, dasar goblok, apa yang kamu pikirkan Selin, dia yang nabrak kamu, malah dia yang pergi. woi, liat ya kalau kamu balik lagi, tak cincang kamu jadi gulai!" pekik nya yang mencak mencak seperti seekor monyet. untung saja kondisi di sawah begitu sepi, dan kebetulan saat itu tengah hari, jadi aman tak membuat Selina malu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putrinw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.29
Suara mobil terdengar di perkarangan rumah nya Dimas, langsung saja pria paru baya itu keluar dengan tergesa gesa. Untuk memastikan anak nya pulang dengan keadaan yang selamat.
"Mas, ayah udah nungguin aku." ucap Selin yang melihat wajah ayah nya yang berdiri di pagar rumah nya.
"Ayo turun, jangan lupa bawa oleh oleh nya." ucap Aksa yang langsung gercep membukakan pintu mobil keluar untuk Selin.
Dia juga membuka bagasi mobil nya, karena tadi sempat singgah di salah satu tempat kulineran khas kota. Untuk keluarga Selin, dan juga Oma nya. Dengan langkah tegas, Aksa langsung salim tangan nya Dimas, dan juga salim tangan nya Buna nya Selin.
"Maaf, Om Tante. Kalau Selin pulang nya malam malam begini, terima kasih Tante, sudah mau mengizinkan Selin, pergi dengan saya."
"Iya nak Aksa, kalian pulang dengan selamat udah buat Buna senang kok, jangan panggil Tante, panggil Buna aja."
"Bun!" ucap Dimas yang kesal melihat istrinya itu.
"Ayah, maaf ya Selin pulang nya malam. soalnya tadi Selin jalan jalan ke kota bareng mas Aksa. Ga sempat pamit sama ayah juga, maafin Selin ya ayah." ucap gadis itu yang sudah memeluk lengan ayah nya dengan nada manja nya.
"Iya sayang, kamu masuk ke dalam. Ayah mau ngomong sama pria ini!" ucap nya dengan tatapan lembut, saat melihat wajah anak nya yang sudah terlihat kelelahan.
"Buna, masuk juga!" ucap Dimas dengan tatapan tegas nya.
"Ayah ga boleh galak galak, sama calon menantu!" ucap Buna dengan lirikan tajam nya.
"Bun, anak kita masih kecil, jadi jangan berkata seperti itu. lagian dia bukan Calon menantu kita!" ucap dimas dengan tatapan sebal nya.
Aksa yang melihat perdebatan kedua pasutri itu, hanya bisa menatap datar saja. Sedangkan Selin, hanya meringis pelan saat melihat ayah dan ibu nya berdebat.
"Bun, ayah. Ga enak di liat mas Aksa. Kok malah debat sih."
"Ayah kamu itu yang salah, anak nya udah besar malah dianggap kecil terus." ketus buna yang langsung melirik sebal.
"Tapi bun_
"Udah yuk sayang, masuk. Biarin aja ayah kamu di luar. Nak Aksa, Buna sama Selin masuk dulu ya, ingat jangan di ambil hati ucapan ayah nya Selin, memang lagi cemburu sama anak gadis nya."
Aksa yang mendengar nya hanya tersenyum tipis saja, dia tau pasti saat ini ayah nya Selin mengajukan beberapa pertanyaan kepada nya, dia adalah seorang pria, menghadapi ayah nya Selin bukan apa apa bagi nya.
"Duduk lah dulu!" ucap Dimas dengan tatapan datar nya.
"Iya om." ucap Dimas dengan singkat dan jelas.
"Kamu bawa kemana anak saya, dan kenapa kamu bawa anak saya pergi tanpa izin dulu dari saya?"
"maaf Om, saya awalnya ingin izin, tapi om tidak ada di rumah. Dan saat saya ingin pergi ke tempat kerja om, Tante ana langsung mengatakan bahwa tak perlu sebab beliau yang akan meminta izin kepada Om. maafkan saya om, karena tak sempat meminta izin kepada Om Dimas." ucap Aksa yang menjelaskan.
Dimas langsung menatap pria itu, dan mencari kebohongan di wajah nya. Tapi nihil, pria di hadapan nya, berkata jujur. karena dia bisa menilai, seseorang jujur atau tidak nya saat menjelaskan sesuatu.
"hmm, saya harap, kedepannya kamu harus meminta izin kepada saya terlebih dahulu. Dan jangan dekati putri saya lagi!"
"Maaf Om, tapi sepertinya saya mulai tertarik dengan Selin." ucap Aksa dengan tegas nya. pria itu langsung mengucapkan kebenaran nya.
karena sepanjang jalan, jantung nya berdegup kencang, apalagi gadis itu terlihat cantik dan lucu di mata nya. itulah sebab nya dia merasa mulai tertarik dengan gadis yang bernama Selin itu.
"Berani nya kamu mengatakan hal tersebut!" pekik dimas dengan nada tajam nya.
"maaf kalau saya lancang om, tapi itulah kebenaran nya. di usia saya yang tak lagi remaja ini, saya serius menjalani hubungan, saya juga tak main main dengan putri om Dimas."
Sedangkan di dalam rumah, Selin dan juga Buna sibuk dengan membuka oleh oleh dari Aksa tadi. Yang paling heboh adalah Buna, sebab Makanan dan beberapa baju baju baru untuk nya, begitu cantik. sehingga dia begitu menyukai nya.
"Bagus sayang, liat buna jadi cantik kan?"
"Iya Bun, Buna kan memang cantik. apalagi Buna dulunya kembang desa." kekeh nya sambil menatap ke arah pintu, dan sedikit cemas dengan keadaan Aksa saat ini.
"Ciee,.... perhatian nya ke arah pintu terus, khawatir ya, sama calon nya?"
"Iss, Buna...calon siapa sih, jangan ngomong sembarangan, nanti di dengar orang nya."
"Wih, sok malu malu kamu mah. Buna tau, kamu mulai suka kan, Sama cucu nya Oma nur itu. udah ganteng, kaya, baik, plus dingin dingin gitu. Pokoknya Buna dukung 100 persen!"
"Bun, jangan mulai deh, ayah tau cemburu nanti. Tau sendiri sifat ayah. Bun, kira kira ayah ngomong apa ya, sama mas Aksa?"
"Kepo kamu, udah biarin aja. Urusan laki laki itu. Ayah kamu paling ngancem nak aksa." kekeh Buna yang tau sifat suami nya itu.
"Bun, ga enak kalau di marahin anak orang nya Bun, susulin Bun coba. mas Aksa pasti cape. apalagi tadi kamu ke kota."
"Cieee, cemas banget ni, sama mas Aksa nya?" goda Buna sambil senyum senyum bahagia
"Bun, jangan mulai deh, aku kalau bilang ayah nanti ayah makin marah, mending Buna aja. Kan Buna Pawang nya ayah."
"Iya iya, yaudah Kamu istirahat sana."
Saat Buna menuju ke arah luar, terlihat Aksa sudah ingin kembali pulang. Buna langsung melirik ke arah suami nya yang masih tetap berwajah datar.
"Tante, om, saya pamit dulu. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam, hati hati nak Aksa. Makasih loh, oleh oleh nya."
"Iya Tante."
setelah kepergian Aksa, buna menatap suaminya dengan penuh selidik....
"Kamu ga ngomong macem macem kan mas?!!" tanya Buna dengan nada tegas nya.
"Ngomong apa sih bun, mas kan cuman ngomongin hal lain sama Aksa. Lagian kenapa Buna pake belain dia segala sih."
"Ya kamu kan biasanya Suka ngancem cowo yang deketin anak gadis kita, jangan gitu mas. Selin udah besar, boleh di larang tapi ingat batasan. Kamu kayak ga pernah muda aja." cibir istrinya yang cemberut.
"Sayang maksud mas kan baik, mas menjaga putri kita dari para laki laki hidung belang, mas ga pengen Selin terjebak pergaulan bebas orang orang."
"ckck, kamu ini kebiasaan banget mas. kayak ga pernah muda aja. Kamu dulu juga genit banget ya mas, pas masih muda!"
"Sayang, kan mas cuman genit sama kamu doang." ucap nya sambil merangkul istrinya untuk masuk ke dalam.
"Udah tua masih aja sok romantis." cibir Buna yang memutar bola matanya dengan malas. Pasti ada maunya ni kalau udah peluk peluk begini.
Ayo, mau ngapain ayah dimas?!!