Di dunia di mana sekte-sekte besar bersaing demi kekuasaan, lahirlah seorang pemuda bernama Lin Feng. Tidak memiliki latar belakang mulia, tubuhnya justru menyimpan rahasia unik yang membuatnya diburu sekaligus ditakuti.
Sejak hari pertama masuk sekte, Lin Feng harus menghadapi hinaan, pertarungan mematikan, hingga pengkhianatan dari mereka yang dekat dengannya. Namun di balik tekanan itulah, jiwanya ditempa—membawanya menapaki jalan darah yang penuh luka dan kebencian.
Ketika Pedang Abadi bangkit, takdir dunia pun terguncang.
Akankah Lin Feng bertahan dan menjadi legenda, atau justru hancur ditelan ambisinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aku Pemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Luka yang Membekas
Arena Batu yang beberapa saat lalu bergemuruh oleh dentuman serangan kini dipenuhi kabut debu yang mulai turun perlahan. Bau tanah terbakar bercampur dengan keringat dan darah, meninggalkan suasana yang berat. Para murid yang tadi berteriak histeris masih sulit percaya dengan apa yang baru mereka saksikan.
Lin Feng, murid yang selama ini dianggap kutukan, berdiri dengan tubuh berlumur luka. Napasnya terengah, langkahnya gontai, namun ia tetap tegak. Sementara Zhao Liang yang selalu dipuji sebagai murid berbakat, kini berlutut dengan darah menetes dari bibirnya, wajahnya merah padam oleh rasa malu dan murka.
Sorakan penonton pecah lagi, kali ini lebih heboh dari sebelumnya.
“Lin Feng! Dia benar-benar menang!”
“Tidak mungkin… Zhao Liang kalah?!”
“Lihat! Tubuhnya hancur, tapi dia masih bisa berdiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa bertahan sejauh itu?”
Murid-murid berdesakan untuk melihat lebih dekat, sebagian dengan mata berbinar kagum, sebagian lagi dengan wajah masam, jelas tidak suka melihat kenyataan ini.
Tetua Mo mengangkat tangannya, memberi tanda agar suasana mereda. Suaranya tegas, bergema di seluruh arena.
“Pertarungan ini dimenangkan oleh Lin Feng.”
Keputusan itu disambut dengan sorak-sorai yang membahana. Lin Feng sendiri tidak tersenyum. Ia tahu kemenangan ini hanya awal dari sesuatu yang lebih besar. Tubuhnya nyeri seolah tulang-tulangnya akan patah kapan saja, tapi hatinya mantap.
Dua murid keluarga Zhao segera berlari ke arena, memapah Zhao Liang yang hampir roboh. Wajah Zhao Liang pucat, matanya memerah penuh amarah. Bibirnya bergetar, lalu ia berteriak dengan suara serak.
“Lin Feng! Kau dengar aku?! Aku tidak akan mengaku kalah! Ini belum selesai! Aku akan balas seratus kali lipat!”
Ucapan itu membuat beberapa murid terdiam, lalu saling berbisik. Semua tahu sifat Zhao Liang yang keras kepala. Kekalahan ini tidak akan berhenti di sini.
Lin Feng hanya menatapnya sekilas, tatapannya dingin dan tanpa kata. Justru tatapan itu membuat Zhao Liang semakin murka, seolah-olah dirinya tidak dianggap penting.
Ketika Zhao Liang dipapah keluar arena, ia masih terus menoleh ke belakang, matanya penuh dendam. “Ingat ini, Lin Feng… aku akan menjatuhkanmu!”
Di sisi lain arena, Mei Xue yang sejak tadi menonton dengan wajah pucat segera berlari menghampiri Lin Feng. Kedua matanya berkaca-kaca melihat tubuh Lin Feng yang penuh luka lebam, darah merembes dari sudut mulutnya.
“Lin Feng! Kau bodoh sekali, kenapa kau memaksakan diri sejauh itu?!”
Lin Feng tersenyum tipis, meski wajahnya jelas kesakitan. “Kalau aku tidak memaksa, aku pasti sudah jatuh. Aku tidak punya pilihan lain.”
Mei Xue menggertakkan gigi, lalu menopang lengannya. “Ayo, kita harus segera ke aula pengobatan.”
Beberapa murid menatap mereka dengan tatapan iri dan sinis. Ada yang berbisik pelan.
“Hmph, dia hanya beruntung. Kalau Zhao Liang benar-benar serius dari awal, Lin Feng pasti sudah kalah.”
“Tapi tetap saja, kenyataannya dia menang. Itu memalukan sekali bagi keluarga Zhao.”
Bisik-bisik itu terdengar jelas, tapi Lin Feng tidak menanggapi. Ia terlalu lelah untuk memperhatikan komentar orang.
Saat Lin Feng hendak melangkah keluar arena, sebuah suara tenang namun penuh tekanan terdengar.
“Selamat atas kemenangannya, junior.”
Langkah Lin Feng terhenti. Semua murid langsung menoleh ke arah suara itu. Dari deretan kursi batu, Liu Tian berdiri dengan sikap angkuh. Jubah biru murid inti berkibar pelan tertiup angin, wajahnya menampilkan senyum tipis yang sulit ditebak.
Liu Tian, murid tertua Yunhai dan salah satu murid inti yang paling diperhitungkan. Semua orang tahu ia selalu membenci Lin Feng, bahkan sebelum duel ini. Baginya, Lin Feng hanyalah noda yang memalukan di bawah nama gurunya.
Murid-murid segera berbisik heboh.
“Itu Liu Tian! Dia akhirnya bicara.”
“Dia murid yang paling dibanggakan Guru Yunhai. Aku penasaran bagaimana reaksinya terhadap kemenangan Lin Feng.”
Liu Tian berjalan perlahan ke arah Lin Feng. Tatapannya menusuk, senyumnya tetap terjaga. Ia berhenti hanya satu langkah di hadapan Lin Feng, membuat suasana hening menegang.
“Benar-benar luar biasa,” katanya datar. “Siapa sangka seorang yang selalu dianggap kutukan bisa berdiri di atas Zhao Liang. Kau berhasil membuat semua orang terkejut.”
Lin Feng menatapnya lurus, tidak menunjukkan rasa takut ataupun hormat yang berlebihan. “Itu hanya duel ujian. Aku hanya melakukan yang harus kulakukan.”
Senyum Liu Tian melebar sedikit, tapi matanya tetap dingin. “Tentu saja, tentu saja. Aku, sebagai saudara seperguruanmu, merasa… bangga.”
Namun nada suaranya membuat banyak murid mengernyit. Kata “bangga” yang diucapkannya terdengar lebih seperti ejekan daripada pujian. Semua orang tahu kebenciannya pada Lin Feng, jadi ucapan itu justru menambah ketegangan.
Mei Xue yang berdiri di samping Lin Feng menatap Liu Tian tajam. Ia bisa merasakan niat tersembunyi di balik ucapan itu.
Lin Feng hanya mengangguk tipis. “Terima kasih… senior.”
Ucapan itu sederhana, tapi di baliknya ada sikap dingin yang tidak kalah tajam. Untuk sesaat, mata Liu Tian dan Lin Feng bertemu, keduanya saling mengukur tanpa kata.
Liu Tian lalu berbalik, melangkah pergi dengan tenang. Namun sebelum ia benar-benar meninggalkan arena, ia menoleh sekilas. Senyumannya tipis, penuh makna.
“Teruslah bersinar, Lin Feng. Semakin tinggi kau berdiri… semakin indah saat kau jatuh.”
Ucapan itu membuat banyak murid terdiam. Beberapa menghela napas panjang, sadar bahwa api permusuhan antara dua saudara seperguruan ini baru saja dinyalakan semakin besar.
Di bangku khusus para tetua, perdebatan kecil terjadi. Tetua Mo menyipitkan mata. “Anak itu… tubuhnya bukan sekadar tahan pukulan. Ia menyerap energi tekanan lawan, lalu meledakkannya kembali. Ini berbahaya.”
Tetua lain mengangguk setuju. “Jika dibiarkan berkembang, ia bisa menjadi kekuatan yang sulit dikendalikan. Sekte harus berhati-hati.”
Namun Yunhai yang duduk tenang hanya melirik mereka sekilas. “Lin Feng adalah muridku. Selama aku ada, tidak seorang pun boleh menyentuhnya.”
Nada suaranya datar, tapi penuh wibawa. Para tetua saling pandang, tak ada yang berani membantah langsung.
Dengan bantuan Mei Xue, Lin Feng akhirnya meninggalkan Arena Batu. Tubuhnya terasa berat, setiap langkah seperti ditusuk jarum. Sorakan murid-murid masih terdengar samar di belakang, sebagian menyebut namanya dengan kagum, sebagian mencaci penuh iri.
Begitu sampai di kediaman Yunhai, ia langsung jatuh berlutut di depan pintu. Nafasnya memburu, keringat bercucuran.
“Masuklah.”
Suara tenang Yunhai terdengar dari dalam. Lin Feng menguatkan diri, lalu masuk. Di dalam, Yunhai sudah menunggu dengan wajah datar. Tanpa banyak bicara, ia mengeluarkan ramuan obat, lalu mulai mengobati luka muridnya.
“Apa yang kau rasakan?” tanya Yunhai sambil menempelkan ramuan ke luka di bahu Lin Feng.
“Sakit sekali… tapi ada sesuatu yang aneh,” jawab Lin Feng. “Setiap kali aku dipukul, tubuhku seakan bergetar, lalu energi biru-ungu itu muncul dan melindungiku.”
Yunhai mengangguk. “Itulah tubuh unikmu. Ia akan semakin aktif saat kau berada dalam tekanan. Tapi ingat, setiap kekuatan punya harga. Jika kau terlalu memaksakan diri, tubuhmu bisa hancur dari dalam.”
Lin Feng menunduk. “Aku mengerti, Guru. Tapi aku tidak bisa berhenti. Kalau aku berhenti, semua orang akan terus menyebutku kutukan.”
Yunhai menatapnya lama, lalu menghela napas. “Kau keras kepala, persis seperti yang kuduga.”
Setelah beberapa saat hening, Yunhai berkata lagi. “Kemenanganmu hari ini akan mengguncang seluruh sekte. Akan ada yang mendukungmu, tapi jauh lebih banyak yang ingin menjatuhkanmu. Termasuk saudaramu sendiri.”
Lin Feng teringat tatapan Liu Tian di arena tadi. Tatapan penuh kebencian yang terselubung senyuman tipis. Ia mengepalkan tangannya. “Aku tahu. Tapi aku tidak akan mundur.”
Yunhai menepuk bahu muridnya. “Bagus. Ingat, jalanmu baru saja dimulai. Luka ini hanya permulaan dari luka-luka yang lebih besar nanti.”
***
Malam itu, sekte masih ramai membicarakan kemenangan Lin Feng. Nama “kutukan” mulai bergeser menjadi “keajaiban”, meski belum semua percaya.
Di kediamannya, Zhao Liang masih terbaring dengan wajah penuh dendam. Ia bersumpah akan menebus kekalahannya.
Di sisi lain, Liu Tian berdiri di halaman kediamannya, menatap bulan pucat di langit. Senyum dingin terukir di bibirnya.
“Lin Feng… kau pikir kemenangan hari ini membuatmu hebat? Tidak. Itu hanya membuatmu semakin terlihat… dan semakin mudah untuk dihancurkan.”
Angin malam berhembus pelan, membawa aroma konflik yang semakin pekat.
bantu doa ya semoga novel yang ini bisa selesai sesuai dengan jalan ceritanya /Pray/
entar tp gak pernah di gubris
arahmu jgn nonton novel tolong krn ceritanya selalu putus tengah jalan gak tsmat fan quality control naskah gak afa