Setelah empat tahun menjalin cinta terlarang beda agama yang ditentang orang tua, Manajer hotel Nayla akhirnya menyerah dan memutuskan Zefan, koki di hotelnya.
Namun, Zefan tak terima. Sifat posesifnya berubah menjadi obsesi yang mengancam Nayla. Di tengah keputusasaannya, Nayla bertemu kembali dengan Reno, mantan kekasih SMA-nya.
Terkejut dengan kondisi Nayla, Reno langsung mengambil langkah berani: ia membawa Nayla dari Bali ke Bandung dan menikahinya demi menyelamatkan Nayla dari Zefan.
Nayla awalnya trauma dan menolak, mengingat masa lalu yang menyakitkan dengan Reno. Namun, Reno membuktikan ketulusan cintanya yang tak pernah pudar. Nayla akhirnya menerima.
Dapatkah pernikahan mendadak ini, yang didasari trauma dan janji keselamatan, berjalan harmonis? Atau, apakah bayangan Zefan akan terus menghantui dan menghancurkan kebahagiaan yang baru mereka raih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim elly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29
“Akh, Reno mah dimerahin mulu leher aku! Kesel banget!” gerutu Nayla sambil manyun di depan cermin.
“Biarin, udah nikah ini,” jawab Reno santai sambil melipat selimut.
“Malu, ih, Reno!” Nayla menghentakkan kakinya, wajahnya merah padam bukan karena cinta, tapi karena malu sendiri.
Reno berjalan mendekat dengan wajah tenang. Ia mengambil gunting kecil dan plester dari meja, lalu dengan hati-hati menempelkan plester di leher Nayla.
“Udah, beres. Rambutnya digerai aja, nggak keliatan, kan?” ucap Reno sambil tersenyum puas.
“Bisa aja kamu ngomong gitu,” Nayla mencemberut makin dalam.
“Nih, tandain juga leher aku biar impas,” goda Reno sambil duduk di hadapan istrinya.
“Ogah! Malah pengen lagi nanti,” gerutu Nayla kesal tapi suaranya pelan, hampir malu sendiri.
Reno tertawa kecil, lalu mencubit lembut bibir Nayla yang monyong.
“Udah, yuk sarapan. Nanti kamu marah-marah terus, aku yang repot,” ucapnya sambil menarik tangan istrinya.
Dimeja makan nayla memanggil reno dengan lembut.
“Ren…” panggil Nayla manja.
“Apa, sayang?” Reno menoleh lembut.
“Aku tuh pengin punya anak,” ucap Nayla lirih tapi penuh harap.
Reno menatapnya sebentar, lalu tersenyum. “Nanti kita ke dokter, ya. Biar tau bagusnya gimana.”
“Tapi nanti aja, kalau Tari sama Sasa udah nikah. Soalnya kalau aku hamil, aku mau fokus di rumah,” ujar Nayla sambil tersenyum malu.
“Iya, aku juga nggak bakal izinin kamu kerja. Kamu nggak hamil aja udah capek, apalagi nanti,” Reno menyesap kopi sambil menatap istrinya penuh sayang.
“Kalo aku hamil terus uring-uringan, jangan marah ya,” ujar Nayla, setengah bercanda.
“Siapa yang bakal marah? Emang kamu pernah liat aku marah sama kamu?” tanya Reno lembut.
Nayla menggeleng kecil, senyum di bibirnya muncul tanpa sadar.
“Makanya, jangan mikir aneh-aneh, ya, sayang,” bisik Reno sambil mencium keningnya.
Nayla pun mengangguk, lalu mereka melanjutkan sarapan dengan suasana hangat.Usai sarapan mereka berdua pergi ke hotel.
Cuaca sangat panas siang itu tapi tidak dengan pasangan baru ini mereka terlihat akur dan bahagia dalam perjalanan Reno selalu tersenyum sambil menatap Nayla penuh cinta sebalik nya juga Nayla pun sama.
Hotel siang itu cukup ramai. Nayla sibuk di depan front desk, memeriksa laporan dari Sindi. Sementara Reno sudah masuk ke ruang kantornya.
Saat Nayla menunduk menulis, seorang wanita berambut panjang berdiri di samping meja.
“Maaf, bisa panggilkan Pak Reno?” tanya wanita itu dengan nada tegas — Tania.
“Maaf, Bu, Pak Direktur sedang tidak bisa diganggu,” jawab Citra sopan.
“Saya temannya,” Tania mulai meninggikan suara.
“Mohon maaf, Bu, tapi memang sedang tidak bisa,” sahut Laras.
Nayla yang dari tadi berada di bawah duduk menandatangani laporan diam saja mendengar kan ocehan Tania.
“Saya catat nama kalian! Kalian semua bakal dipecat kalau Reno tahu soal ini!” bentak Tania.
Nayla yang sejak tadi diam, akhirnya mendongak.
“Lo siapa, berani-beraninya mau pecat pegawai gue?” ucap Nayla dengan nada dingin tapi tajam.
Tania terdiam. Wajahnya mendadak pucat saat sadar siapa yang dia hadapi.
“Denger ya,” Nayla berdiri, menatap lurus ke arah Tania. “Reno udah nikah sama gue. Dan lo—nggak ada hak buat nemuin dia lagi. Faham?”
“Aku cuma mau minta kerjaan sama Reno,” jawab Tania gugup.
“Kerjaan? Nggak akan gue biarin Reno deket sama lo. Tujuh tahun cukup lo bikin gue sama dia pisah. Sekarang, keluar dari sini sebelum gue nyuruh security!” suara Nayla bergetar karena emosi, tapi matanya tetap tajam.
“Nay… lo jangan gini! Lo sama Reno bisa jadian dulu gara-gara gue!” teriak Tania saat diseret keluar oleh satpam.
Tapi Nayla tak menoleh sedikit pun.
“Lain kali kalau cewek itu datang, bilang saya atau Pak Reno nggak ada. Kalau dia mau nginep, bilang kamar penuh,” ucap Nayla tegas.
“Iya, Bu,” jawab mereka serempak.
Sore Hari di Ruangan Reno.
Nayla masuk ke ruangannya, melepas sepatu hak tinggi dan menjatuhkan diri ke kursi.
“Capek banget…” keluhnya.
“Harusnya duduk dulu, nanti siang baru keliling,” ucap Reno sambil tersenyum, masih fokus di laptop.
“Sekalian aja, biar capeknya langsung,” balas Nayla.
Ia menatap catatannya. “Sayang, tadi di kamar 302 ada rembes di toilet, harus diperbaiki. Terus di kamar 204 ada noda di dinding, kayak bekas bocor. Di kamar 101, keramiknya retak, kayak habis dibanting sesuatu.”
Reno mengangguk. “Oke, nanti aku suruh tukang. Ada lagi?”
Nayla berdiri, menghampiri Reno, lalu duduk di pangkuannya. Senyumnya berubah lembut.
“Ada,” bisiknya.
“Apa?” tanya Reno penasaran.
“Happy birthday, sayangku,” ucap Nayla pelan sambil tersenyum manis.
Reno tertawa kecil, tangannya otomatis melingkar di pinggang istrinya. “Makasih, ya.”
“Mau kado apa?” tanya Nayla sambil memainkan janggut tipis di dagu Reno.
Reno menunduk sedikit dan berbisik nakal, “Kita ke kamar.”
“Sekarang?” tanya Nayla dengan nada geli.
Reno mengangguk.
“Ada kamar kosong?”tanya nayla jari-jari menari di wajah Reno.
“Hmm… ada dong. Kamar kita, kan selalu ready,” jawab Reno dengan senyum nakal.
“Kalau ada yang nyari kamu gimana?” Nayla menatapnya ragu.
“Nggak ada lah,” ucap Reno yakin. Tapi ponselnya tiba-tiba bergetar.
"Masa,itu ponsel kamu geter terus dari tadi."
ucap nayla sambil menatap ponsel reno.
Nama Ayah muncul di layar. Reno menghela napas lalu mengangkat telepon. Nayla menempelkan telinganya, ikut mendengar.
“Ren, nanti kamu bisa tukeran ke Bandung kalau istri kakakmu udah lahiran, ya,” suara Pak Gunawan terdengar di seberang.
“Iya, Yah. Nanti dipikirkan lagi,” jawab Reno.
“Takutnya istri kamu nggak nyaman.”
“Dia nyaman kok, Yah. Tenang aja.”
“Ya sudah, urus hotel baik-baik.”
Telepon ditutup. Reno menatap Nayla dan tersenyum, lalu tanpa kata mencium bibir istrinya.
Ciuman itu lembut, tapi penuh hasrat. Nayla membalasnya dengan tatapan penuh cinta.
Reno melumati bibir nayla dengan agresif gerakan nya mendominasi.
ia menarik tubuh nayla hingga menempel di dadanya.
Reno terdiam menatap Nayla dengan nafas masih memburu, kemudian dia menarik tangan Nayla pergi ke kamar hotel yang berada di ujung lorong kamar milik Nayla dan Reno tak pernah di sewakan Karna kamar itu di rancang reno khusus untuk Nayla jika suatu saat lelah atau capek bisa tidur disana.
"Sayang ini yakin nggak akan ada yang cari?" ucap Nayla dengan lembut.
"Nggak akan sayang,"ucap Reno sambil menatap dalam Nayla.
"Ok," ucap Nayla dengan tatapan nakal.
Mereka pun larut dalam keintiman siang itu.
Cuaca di luar sangat panas, walau pun di dalam kamar terdapat AC yang sangat dingin, tapi tidak dengan Nayla dan Reno yang hati nya sama-sama membara.
Dua insan yang sama-sama merasakan cinta yang sangat mendalam dan kerinduan yang amat sangat besar,mereka tak akan pernah bisa terpisahkan oleh siapapun.
Bersambung....
kasih author semangat dong.
#vote
#like
#komen
Jangan lupa bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 ok gumawo.