NovelToon NovelToon
Rawa Dibelakang Rumah

Rawa Dibelakang Rumah

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Anak Genius / Penyelamat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Inisial A.R

Suasana di balai kampung berubah hening. Semua mata tertuju pada peluit kecil yang berada di telapak tangan Pak Rahman. Benda itu tampak sederhana. Logamnya telah kusam dimakan usia. Tali pengaitnya bahkan sudah putus. Namun ukiran dua huruf di sisinya masih terlihat jelas.

A.R.

Arga memandangi peluit itu tanpa berkedip.

"Pak..."

"Kalau memang ini peluit pendaki..."

"...apa tidak ada yang pernah melapor kehilangan orang bertahun-tahun lalu?"

Pak Rahman menggeleng perlahan.

"Dulu komunikasi belum seperti sekarang."

"Kampung ini juga sangat terpencil."

"Kalau ada pendaki hilang, belum tentu kabarnya sampai ke sini."

Mang Jaya mengangguk membenarkan.

"Lagipula..."

"Kalau memang ada yang mencarinya, mereka pasti mencarinya di jalur pendakian."

"Bukan di rawa."

Arga menarik napas panjang. Ucapan itu masuk akal. Tak seorang pun akan menyangka ada sebuah kampung kecil tersembunyi di balik hutan lebat.

Salah seorang sesepuh kampung, Pak Darma, ikut mendekat. Beliau mengambil peluit itu, mengamatinya beberapa saat, lalu mengembalikannya kepada Mang Jaya.

"Sudah puluhan tahun..." gumamnya.

"Sekarang benda-benda itu mulai muncul lagi."

Kalimat itu membuat beberapa warga saling berpandangan. Arga menangkap perubahan raut wajah mereka.

Bukan heran.

Melainkan cemas.

"Mulai muncul lagi?" tanya Arga.

Pak Darma tidak langsung menjawab.

Mang Jaya lebih dulu berkata pelan,

"Beberapa hari terakhir..."

"...kadang ada benda-benda hanyut di pinggir rawa."

"Benda apa?"

"Kaleng bekas."

"Pisau kecil."

"Botol minum aluminium."

"Semuanya bukan milik warga sini."

Arga mengernyit.

"Kenapa baru sekarang muncul?"

Mang Jaya menggeleng.

"Itu yang tidak kami tahu. Tapi memang hampir bersamaan dengan munculnya kamu disini Arga."

Arga cukup kaget mendengar fakta itu. Namun dia tetap berusaha tidak terjadi apa-apa.

Setelah warga mulai membubarkan diri, Arga berjalan bersama Pak Rahman menuju rumah.

Di sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.

"Pak..."

"Boleh saya lihat peluit itu lagi nanti?"

Pak Rahman tersenyum tipis.

"Kalau Mang Jaya mengizinkan."

"Kenapa?"

"Entahlah."

"Saya merasa pernah melihat model peluit seperti itu."

"Di mana?"

Arga menggeleng.

"Lupa."

"Mungkin waktu ikut organisasi pecinta alam."

Pak Rahman tidak menanggapi. Namun dalam hati ia mulai khawatir. Semakin jauh Arga menyelidiki rawa itu, semakin sulit pula menghentikan rasa penasarannya. Siang harinya, matahari bersinar terik. Pak Rahman meminta Arga beristirahat agar kondisi tubuhnya benar-benar pulih.

Namun baru beberapa menit berbaring...

Angin kembali berubah arah.

Embusannya kali ini lebih pelan.

Tetapi cukup membawa aroma khas rawa.

Belum sempat Arga menutup hidung, rasa mual kembali datang.

"Huek..."

Ia langsung bangkit dari tempat tidur.bDadanya terasa sesak. Lambungnya seperti diremas.

"Arga!"

Pak Rahman yang sedang menjemur kopi segera masuk ke rumah. Melihat wajah Arga yang pucat, beliau langsung mengambil air hangat.

"Minum sedikit."

Arga meneguknya perlahan. Namun rasa mual justru semakin kuat. Ia buru-buru keluar menuju halaman depan.

"Uwek..."

Yang keluar hanya cairan bening bercampur asam lambung. Tubuhnya gemetar. Keringat dingin membasahi dahinya. Pak Rahman membantu menopang tubuhnya agar tidak jatuh.

"Aneh..." gumam beliau pelan.

"Baunya tidak terlalu kuat hari ini."

Arga mengatur napas.

"Justru..."

"...rasanya lebih menyengat dari biasanya."

Pak Rahman memandang ke arah rawa. Padahal dari tempat mereka berdiri, embusan angin hampir tak terasa. Beliau mulai menyadari sesuatu. Bukan hanya aroma rawa yang membuat Arga mual. Seolah-olah tubuh Arga dapat merasakan sesuatu yang bahkan tidak disadari orang lain.

Menjelang sore, Mang Jaya kembali datang. Di tangannya terdapat sebuah kotak kayu tua.

"Aku menemukan ini ketika membereskan gudang."

Beliau membuka kotak itu perlahan. Di dalamnya terdapat beberapa benda berkarat.

Sebuah kompas tua.

Senter kecil yang kacanya pecah.

Dan sebuah lencana logam berbentuk gunung.

"Lencana ini..." gumam Arga.

Ia mengambilnya dengan hati-hati.

Debu yang menempel perlahan dibersihkan menggunakan ujung bajunya. Di bagian belakang lencana terdapat tulisan yang hampir hilang dimakan karat. Namun masih dapat dibaca.

Mapala Cakrabuana

Arga membelalak.

"Itu..."

"Saya pernah dengar nama itu."

Mang Jaya dan Pak Rahman langsung menoleh bersamaan.

"Kamu kenal?"

Arga menggeleng.

"Bukan kenal."

"Tapi organisasi itu..."

"...sepertinya sudah lama dibubarkan."

Ia memandangi lencana itu sekali lagi. Jika peluit, ransel, dan lencana itu berasal dari orang yang sama...

Maka pendaki misterius yang pernah ditemukan Mang Jaya mungkin benar-benar ada.

Dan di suatu tempat...

Masih ada sebuah kisah yang belum pernah selesai diceritakan.

Menjelang senja, langit Kampung Ciburial kembali diselimuti cahaya keemasan. Burung-burung yang sejak siang beterbangan di atas kebun kopi mulai kembali ke sarangnya. Dari kejauhan terdengar suara azan Magrib berkumandang lembut. Mang Jaya masih memandangi lencana bertuliskan Mapala Cakrabuana yang berada di tangan Arga.

"Kalau benda ini memang milik pendaki itu..."

"...berarti usianya sudah sangat lama."

Arga mengangguk pelan.

"Kelihatannya lebih dari tiga puluh tahun."

Mang Jaya bangkit dari duduknya.

"Tunggu sebentar."

Beliau masuk ke dalam rumah.

Tak lama kemudian, ia kembali membawa sebuah kotak kayu yang warnanya mulai pudar. Kunci kuningannya sudah berkarat, tetapi kotak itu masih tersimpan rapi.

"Aku hampir lupa."

"Masih ada satu benda lagi."

Kotak itu dibuka perlahan.

Di dalamnya tersimpan sebuah buku kecil bersampul cokelat tua. Sudut-sudutnya sudah lapuk, beberapa halamannya menguning dimakan usia.

"Apa ini, Mang?"

"Buku catatan."

"Ditemukan bersama barang-barang yang dulu kukumpulkan di sekitar rawa."

Arga menerima buku itu dengan hati-hati.

Saat dibuka, sebagian besar tulisannya sudah memudar. Banyak halaman yang basah sehingga tintanya meleber dan sulit dibaca.

Namun pada halaman pertama masih terlihat sebuah nama yang ditulis dengan tinta hitam.

A. R...

Huruf-huruf setelahnya sudah hilang karena sobek. Jantung Arga kembali berdegup lebih cepat.

"Inisialnya sama seperti peluit."

Mang Jaya mengangguk.

"Itulah sebabnya aku menyimpan semuanya."

"Barangkali suatu hari ada yang datang mencarinya."

Pak Rahman yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.

"Selama puluhan tahun..."

"...tidak ada seorang pun."

Arga membalik beberapa halaman. Sebagian besar tidak bisa dibaca. Namun di salah satu halaman yang masih utuh terdapat beberapa kalimat pendek.

"Kabut turun lebih cepat hari ini."

"Kompas mulai aneh."

"Kami mendengar suara air, tetapi tidak menemukan sungai."

Halaman berikutnya lebih rusak. Hanya tersisa beberapa kata.

"Jangan..."

"Belakang..."

"Bau..."

"Lari..."

Arga saling berpandangan dengan Pak Rahman. Kalimat-kalimat itu membuat bulu kuduknya berdiri. Rasanya seperti membaca catatan seseorang yang sedang berusaha bertahan hidup.

"Masih ada lagi?" tanya Arga.

Mang Jaya menggeleng.

"Itu halaman terakhir yang masih bisa dibaca."

---

Malam pun tiba. Mang Jaya mengizinkan Arga membawa buku itu untuk dipelajari.

"Asal besok dikembalikan."

"Tentu, Mang."

Arga membungkus buku itu dengan kain agar tidak semakin rusak. Sesampainya di rumah, ia kembali membacanya di bawah cahaya lampu minyak. Semakin lama diperhatikan, semakin ia merasa tulisan tangan itu tampak tergesa-gesa.

Seolah ditulis dalam keadaan panik.

Di halaman paling belakang, yang hampir terlewatkan karena menempel satu sama lain, terdapat bekas goresan pensil yang sangat tipis.

Arga mendekatkan buku ke arah lampu minyak.

Huruf-hurufnya perlahan mulai terlihat.

"Kalau ada yang menemukan buku ini..."

Tulisan berikutnya nyaris hilang.

Arga memicingkan mata.

Dengan susah payah ia berhasil membaca beberapa kata terakhir.

"...jangan masuk..."

"...rawa..."

Tepat saat itu...

"Huek..."

Rasa mual kembali datang. Lebih cepat daripada sebelumnya. Arga buru-buru menutup buku itu. Ia memegang ulu hatinya.

Dadanya terasa sesak.

Anehnya...

Tidak ada angin.

Tidak ada aroma rawa yang masuk ke dalam rumah.

Namun ia tetap merasakan bau menyengat itu, seolah berasal dari tempat yang sangat dekat.

"Uwek..." Ia membungkuk.

Asam lambung kembali naik.

Tangannya gemetar hingga buku tua itu terjatuh ke lantai bambu.

Saat buku itu terbuka karena jatuh...

Selembar kertas tipis yang selama ini terselip di bagian sampul belakang meluncur keluar.

Arga membeku.

Itu bukan halaman buku.

Melainkan...

sebuah potongan peta tua yang sudah menguning.

Di sudutnya terdapat tanda silang berwarna merah. Dan di bawah tanda itu tertulis dua kata yang masih dapat dibaca dengan jelas.

"Rawa Belakang Rumah."

1
Suci Fatana
ikut deg degan
halwa diyah: 😅 selamat deg deg-an kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!