Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.
Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.
Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.
Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.
Dan ini baru permulaan.
Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Markas Sementara
Geraman dari dalam goa masih terdengar samar. Namun Luc sama sekali tidak bergerak maju. Sebaliknya, ia justru melangkah mundur satu langkah.
"Kayaknya kita gaboleh masuk sekarang," ucapnya.
Azalea yang sudah bersiap menarik busur langsung menoleh. "Hm? Kenapa?" tanyanya heran.
Luc menunjuk ke arah dalam goa. "Kau ga liat itu goa gelap banget? Kita liat jalan di luar aja udah susah."
Azalea memperhatikan keadaan sekitar. Dan memang benar. Dasar jurang itu sudah cukup gelap untuk membuat jarak pandang mereka terbatas. Mereka hanya bisa melihat berkat cahaya samar dari lumut dan kristal yang tersebar di beberapa tempat.
Sementara bagian dalam goa... Benar-benar gelap gulita. Tidak ada cahaya sama sekali.
"Kalau masuk ke sana, kita bakal bertarung dalam keadaan buta," lanjut Luc. "Dan aku cukup yakin monster yang tinggal di sana jauh lebih terbiasa dengan kegelapan dibanding kita."
Azalea terdiam sejenak. Ia memang tidak suka mengakuinya, tetapi perkataan Luc masuk akal. Masuk ke wilayah monster tanpa informasi dan tanpa penglihatan adalah ide yang buruk.
"Jadi..." Azalea memanggul busurnya kembali. "Kita mau apa kalau tidak masuk ke sana?"
"Itu..." Luc langsung terdiam. Karena jujur saja... Ia sama sekali belum memikirkan bagian itu.
Beberapa detik berlalu.
"..."
"..."
Azalea mulai menyipitkan mata. "Kau belum memikirkan rencana setelah itu, ya?"
"Ahahah," Luc hanya bisa tertawa garing.
"Hebat sekali," ujar Azalea dengan nada sarkas.
Saat itulah Chiron menghela napas panjang di samping Luc. "Sebaiknya Anda membuat markas sementara dulu, Tuan."
"Hm?"
"Kumpulkan perbekalan. Cari sumber air yang lebih layak. Siapkan tempat beristirahat. Dan yang terpenting..." Tatapan Chiron menjadi serius. "Latihan."
Luc langsung memasang wajah tidak suka. "Kenapa ujung-ujungnya latihan lagi?"
"Karena Anda lemah," balas Chiron.
"Omonganmu nusuk banget yah..." gumam Luc menatap Chiron.
Luc menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangguk pelan. Lalu ia mengulangi saran dari Chiron kepada Azalea. "Kurasa kita perlu membuat markas sementara dulu."
Azalea tampak berpikir sejenak. "Kita kumpulkan makanan, cari tempat berlindung, lalu mempersiapkan diri sebelum menjelajahi goa itu?"
"Kurang lebih begitu," balas Luc.
Azalea mengangguk setuju. "Yah, boleh-boleh saja."
Luc cukup terkejut mendengar hal itu. "Kau langsung setuju begitu saja?"
"Tentu," jawabnya, lalu Azalea menoleh ke arah goa yang gelap. "Aku petualang. Masuk ke tempat yang belum diketahui tanpa persiapan adalah cara tercepat untuk mati."
Luc langsung mengangguk setuju. "Nah, akhirnya ada orang yang berpikiran normal."
Ia menoleh ke arah Kentaur yang ada di sebelahnya. "Dengar itu, Chiron? Orang normal dan waras."
"Saya tidak pernah bilang Anda normal, Tuan," balas Chiron cepat.
"Si bangsat..." umpat Luc lirih.
Mereka pun mulai menjauh dari goa tersebut. Sebelum pergi, Luc sempat melirik sekali lagi ke arah mulut goa yang gelap gulita. Entah kenapa... Ia merasa ada sesuatu yang sedang memperhatikan mereka dari dalam sana. Namun saat mencoba melihat lebih jelas, yang terlihat hanyalah kegelapan tanpa ujung. Pada akhirnya Luc memutuskan mengabaikan perasaan itu. Untuk saat ini, bertahan hidup jauh lebih penting daripada rasa penasarannya.
Mereka mengumpulkan berbagai hal yang sekiranya berguna. Beberapa jamur yang aman dimakan. Lumut bercahaya yang bisa digunakan sebagai penerangan. Dan beberapa ranting kering yang mereka temukan di sela-sela bebatuan, meskipun saat ini mereka masih belum tahu cara menyalakannya menjadi api.
Pencarian itu memakan waktu cukup lama. Dasar jurang itu jauh lebih luas daripada yang mereka kira. Bahkan setelah berjalan cukup jauh, mereka masih belum menemukan tempat yang benar-benar cocok.
Hingga akhirnya...
"Ada sesuatu di sana," seru Azalea sembari menunjuk ke arah dinding jurang.
Luc mengikuti arah yang ditunjuknya. Di sana terdapat semacam lengkungan alami yang terbentuk di tebing batu. Bagian dalamnya cukup luas untuk ditempati dua atau tiga orang. Selain itu, posisi tempat tersebut sedikit masuk ke dalam sehingga tidak terlihat jelas dari jalur utama jurang. Dengan kata lain, tempat itu cukup tersembunyi.
Luc masuk lebih dulu sambil memperhatikan area di sekitarnya. Ia tidak menemukan adanya jejak monster, bau aneh ataupun sosok yang bisa mnejadi ancaman bagi mereka.
"Tempat ini cukup bagus," ujar Luc.
"Ya, aku setuju," sambung Azalea.
Mereka mulai meletakkan hasil pencarian mereka di salah satu sudut. Jamur ditumpuk menjadi satu. Lumut bercahaya ditempelkan di celah-celah batu sehingga area itu menjadi sedikit lebih terang. Meski sederhana, tempat itu mulai terasa seperti markas kecil.
Luc memperhatikan hasil kerja mereka sambil mengangguk puas. Setidaknya malam ini mereka tidak perlu tidur di tengah jalan yang di mana hal itu sangat berbahaya.
Saat itu pandangan Luc beralih ke Azalea yang sedang menyusun lumut bercahaya di dekat dinding batu. Rambut silver panjangnya terlihat berkilau samar di bawah cahaya lumut. Entah kenapa Luc terdiam beberapa saat.
Azalea yang menyadari tatapan itu langsung menoleh. "Ada apa?" tanyanya heran.
"Hm?" Luc tampak tidak sadar telah memandangi gadis itu.
"Kau menatapku terus," ucap Azalea tampak tidak nyaman.
Luc berkedip. "Ah.." Ia terlihat berpikir sejenak sambil memangku dagunya dengan tangan. Kemudian ia mendekat dan berkata, "Apa aku boleh panggil kamu Lea?"
Azalea membeku. "Hah?"
"Soalnya Azalea terlalu panjang." Luc mengangkat bahu santai. "Lea lebih gampang diucapkan."
Untuk beberapa detik, Azalea hanya diam. Entah kenapa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Pipi putihnya perlahan memerah samar. Ia segera memalingkan wajah agar Luc tidak menyadarinya.
"Y-ya... boleh saja..." balasnya pelan hampir terdengar seperti bisikan.
"Hah?" Luc memiringkan kepalanya. "Maaf, nggak kedengeran."
Azalea langsung menegang.
Kenapa harus minta diulang sih?! batinnya kesal.
"Ku-kubilang boleh!" ucapnya sekali lagi dengan suara lebih keras.
"Oh..." Luc mengangguk sambil tersenyum kecil. "Kalau begitu, mohon kerja samanya, Lea."
Senyuman itu terlihat biasa saja. Namun entah kenapa membuat Azalea semakin salah tingkah.
"Y-ya..." Ia hanya bisa menjawab singkat sambil menghindari kontak mata.
Luc sendiri tampaknya tidak menyadari apa-apa. Ia langsung kembali sibuk memeriksa tumpukan jamur yang mereka kumpulkan. Sementara itu Azalea diam-diam menatap punggungnya.
Lea... Yah...?
Baru kali ini seseorang memanggilnya dengan nama seperti itu. Panggilan yang terdengar akrab dan ia merasa agak aneh karenanya. Tetapi... Entah kenapa ia juga tidak membencinya.
Di sisi lain, Chiron yang melihat semuanya hanya menghela napas panjang. "Tuan benar-benar berbakat."
"Hm? Berbakat soal apa?" tanya Luc bingung.
"Tidak usah dipikirkan."
"Kalau begitu jangan ngomong setengah-setengah," protes Luc.
Dan untuk kesekian kalinya hari itu, Luc sama sekali tidak menyadari apa yang sedang terjadi di sekitarnya.