Jangan lupa untuk follow Ig: naendia9
Karina Zanetta, gadis remaja yang cantik namun sayangnya terkenal dengan sikap dingin dan cueknya bahkan dia dapat julukan Ice cube di sekolahan. Tapi suatu momen Karina di tembak oleh Davino Abimanyu, pria tampan yang kebetulan sangat populer di sekolahan.
"Elo mau gak jadi pacar gue?!" ucap Davin.
Dan saat itu juga seisi sekolahan dibuat heboh oleh tingkah Davin yang menyatakan rasa suka pada Karina. Namun sayangnya Karina belum menjawab iya ataupun menolak perasaan cinta Davin, karena Karina menyukai pria lain dan berharap yang menyatakan cinta itu pria itu bukan Davin.
Dan disisi lain Davin sudah dijodohkan sama kedua orang tuanya dengan Jovita, bahkan mereka setelah lulus akan segera dinikahkan.
Bagaimana kelanjutan kisah cinta Karina? Apakah Karina akan bisa mencintai Davin dengan tulus hati atau Karina masih berharap dengan Crush-nya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naendia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 - Jepit Rambut
Davin yang duduk di taman sembari melihat langit teringat akan jepitan yang selalu di bawanya.
Jemari Davin kemudian merogoh saku jaket nya, "Gue selalu nge bawa jepitan ini, tapi apa elo inget akan kejadian waktu itu?" gumam Davin sembari masih melihat jepitan rambut tersebut di udara.
"Davin, elo di sini?" Mendengar ucapan Jovita Davin langsung memposisikan duduk nya dengan benar sembari cepat - cepat memasukkan jepitan rambut itu masuk ke dalam jaket nya lagi.
Davin lantas melihat Jovita yang membawa makanan ringan dan minuman.
Mereka kemudian duduk di taman, Jovita lantas menaruh nampan di meja yang ada di hadapannya.
Berbagai tanaman hias dan rumput yang tertata rapi ikut menghiasi keberadaan mereka berdua, bahkan matahari pun mulai menenggelamkan sinar nya, untuk berganti malam.
Sinar matahari yang berubah menjadi orange itu juga ikut menghiasi keduanya, Jovita lantas memandang Davin sedikit curiga.
"Elo kenapa liatin gue gitu?" ujar Davin penasaran.
Jovita hanya menggelengkan kepalanya saja kemudian berkata, "Apa elo beneran gak suka sama gue vin?"
Davin terdiam mendengar ucapan Jovita, "Apa elo suka sama Karina?" ujar Jovita lirih.
Namun, Davin hanya bisa terdiam, "yang perlu gue lakuin kan sekarang menjalani alur ini kan? Harusnya elo seneng. Kenapa elo jadi melankolis gini?"
Jovita yang mendengar ucapan Davin barusan sungguh sanggat menohok di hati nya. Perkataan Davin sungguh dingin dan kasar padanya apalagi Jovita sadar kalau Davin terpaksa menjalani hubungan ini dengannya.
"Gue cuman mau elo suka sama gue! Apa gue salah Davin!" teriak Jovita.
"Gue mau elo mencintai gue! Gue mau jadi wanita yang elo sukai Davin! Bukan wanita yang elo anggep sebagai musuh dalam diri elo itu Davin!! Apa gue salah!" teriak Jovita lagi.
Jovita semakin histeris untuk mengungkapkan perasaan nya barusan. Karena baginya memang benar! Seperti yang di ucapkan barusan Jovita seperti di anggap musuh oleh Davin.
Jovita yang duduk di samping Davin kesal sampai - sampai Jovita memukuli paha kaki nya sendiri dengan keras.
"Gue cuman mau elo mecintai gue Davin, selama ini gue berusaha ada untuk elo, apa elo gak bisa menilai gue akan kepedulian dan keseriusan gue mencintai elo? Apa gak ada secuil pun buat gue Davin! Kenapa semua berlari ke Karina! Kenapa Davin!!" teriak Jovita kembali.
Davin yang sedari tadi menahan amarah nya kini sudah tak bisa tertahan kan lagi, setelah Jovita menyebut nama Karina.
Davin reflek langsung berdiri dari duduknya, "Karena gue mencintai dia Jovita! Jauh sebelum elo kenal gue! Jaaauuhh!! Jovita! Elo gak tau apapun soal Karina, jadi jangan pernah elo sebut dia lagi! Di mulut elo itu!"
Davin kemudian melangkah kan kaki nya pergi meninggalkan Jovita, Jovita lantas berdiri dan berkata, "Apa karena dia pernah ngeselamatin elo dari maut yang dulu pernah elo ceritain ke gue?" ujar Jovita melemah, Jovita masih berdiri menatap punggung Davin yang perlahan akan pergi menjauh. Bahkan, air mata Jovita kini sudah menetes dan membanjiri kedua pipinya yang putih itu.
Mendengar hal itu, Davin kemudian menghentikan langkahnya, kenangan itu sungguh kembali berputar lagi di kepala Davin. Bagaimana Karina menolong Davin kala itu.
***
"Gue anter elo balik sekarang aja," ujar Binta.
Karina lantas mengangguk dan mengikuti langkah Binta. Kedua nya kembali di motor yang sama.
Di sepanjang jalan kedua nya saling terdiam sampai akhirnya kedua nya tiba di kediaman Karina.
Karina lantas turun dari motor Binta, "Makasih yah, elo udah anterin gue."
"Udah semestinya kok," jawab Binta tersenyum. Ia juga mengambil helem yang di pakai Karina tadi.
"Elo gak mampir dulu?" ujar Karina mempersilahkan Binta masuk ke dalam rumahnya.
Binta tersenyum sekilas sambil menggelengkan kepalanya perlahan, "sorry Karina, gue mau langsung balik aja. Kapan - kapan aja kalau ada waktu gue mampir kok."
Karina lantas mengangguk, "Elo buruan masuk gih. Gue tunggu elo masuk."
"Ah, em.. o- oke!" Karina menjawab nya dengan gugup. Karina kemudian berjalan cepat masuk ke dalam rumah nya karena saking gugup nya.
Sebelum ia membuka pintu nya dan masuk ke dalam rumah, Karina menoleh dan melihat Binta yang bersandar pada motornya sendiri.
Binta lantas mengayunkan tangannya untuk menyuruh Karina masuk, Karina tanpa perlawanan masuk ke dalam rumah nya, lalu menutup pintunya, yang super mewah dan besar itu, pintu yang berwarna putih.
Karina lantas berdiri di balik pintu sembari tersenyum bahagia. Dalam hati nya sungguh merasakan sesuatu yang akan meluap dari perutnya yang berjalan keluar melalui tenggorokan nya.
Namun, Karina menahan perasaan itu, ia hanya bisa mengekspresikannya dengan sebuah senyuman.
Setelah beberapa saat berlalu Karina mendengar suara motor Binta yang menyala dan pergi menjauh.
Karina sontak membuka kembali pintu nya dan keluar di teras rumah nya melihat Binta yang sedang menaik ki motor dan pergi dari halaman rumah Karina, sampai Karina melihat Binta ke arah gerbang rumah nya yang di buka oleh penjaga rumah Karina.
Setelah melihat Binta pergi Karina kembali masuk ke dalam rumah nya dan segera menuju ke kamarnya.
"Non, Karina udah kembali?" tanya Bi Irah yang baru saja keluar dari dapur dan berpapasan langsung dengan Karina.
"Iya Bi," jawab Karina sembari tersenyum sumringah.
"Aku mau langsung ke kamar yah bi."
Karina dengan segera menuju ke kamar nya dan bebersih badan selepas pergi tadi.
"Kamu ini kenapa sih!" keluh Pak Eko.
"Saya benar - benar baru melihat nona Karina sebahagia itu, beneran deh pak Eko!" tegas bi Irah sambil berbalik arah ke pak Eko yang duduk di kursi mini bar yang ada di dapur.
"Ya sudah lah, kamu itu biarkan saja non Karina juga sudah besar tidak seperti dulu yang masih kecil. Biarkan saja," jelas Pak Eko sambil memakan kacang rebus.
"Semoga saja nona Karina sering bahagia begini. Soal nya saya ikut seneng juga loh Pak Eko." Bi Irah kemudian duduk berhadapan dengan Pak Eko.
"Sudah lah! Nih! Makan kacang," ajak Pak Eko.
Sementara Karina yang ada di dalam kamar sudah mandi dan bersih serta wangi.
Sejenak Karina keluar dari kamar nya sambil membawa sketchbook nya.
"Non Karina!" seru Bi Irah kemudian turun dari duduk nya dan menghampiri Karina, ketika melihat Karina sudah turun ke bawah dan melewati dapur.
Pak Eko juga reflek ikut menoleh, "Non Karina mau kemana malam - malam begini?" ujar Bi Irah.
"Aku cuman mau ke taman bi." Karina tersenyum sambil masih membawa sketch book nya lalu berjalan keluar rumah nya. Sementara bi Irah hanya bisa melihat Karina pergi keluar dari rumahnya.
"Sudah lah, kamu jangan ikut campur terlalu mendalam. Biarkan non Karina menikmati hidup nya. Kamu tau kan, selama ini non Karina juga susah untuk mengekspresikan diri semasa hidup? Kamu jangan membebani nya," jelas pak Eko panjang kali lebar sambil masih memakan kacang rebusnya.
Bi Irah yang masih berdiri tertunduk sejenak saat mendengarkan ucapan pak Eko. Kemudian duduk kembali, "Aku hanya khawatir loh!" seru bi Irah. Tapi, pak Eko hanya menggelengkan kepalanya saja sembari tersenyum.
Karina yang sudah berada di luar rumah nya kini berjalan ke salah satu taman yang berjalan setapak dan menuju ke sebuah ruangan, yang mana ruangan itu berada di belakang rumah utama Karina dan melewati jalan setapak di sebuah taman.
Kanan kiri nya terhias berbagai bunga hias, kedua orang tua Karina memang sengaja membuat ruangan itu yang jauh dari rumah utama dan taman.
Karina lantas membuka pintu ruangan yang di tuju itu, terlihat beberapa canvas dan hasil kukisan terpampang nyata di ruangan itu.
Ruangan ini adalah ruangan yang bisa di katakan ruangan kesukaan Karina, karena ruangan ini Karina bisa meng ekspresikan hobi nya tertuang begitu saja, dan sudah pasti sang Papa lah yang membuat ruangan ini.
Susah senang Karina terkadang mendatangi ruangan studio lukisnya, "Semua masih tersimpan disini," gumam Karina saat dirinya masih berdiri di ambang pintu sambil mengedarkan seluruh pandangan nya di setiap inci ruangan studio lukis nya.
Beberapa lukisan adalah kejadian yang Karina pernah alami, tapi ada hal yang membuat lukisan yang membuat nya lupa. Karina kemudian berjalan ke salah satu lukisan yang tertutup kain putih.
Karina kemudian membuka lukisan yang tertutup kain putih tersebut, "Kenapa gue lupa sama lukisan ini?" gumam Karina kembali, tangannya kembali meraba lukisan nya sendiri dan di tatap nya dengan sendu.
Karina sudah berusaha mengingatnya tapi, Karina sama sekali lupa akan kejadian lukisan yang ada di hadapan nya kini.
"Kok gue bisa lupa gini sih!" Lagi - lagi Karina hanya bisa mengeluh sembari menepuk - nepuk jidat nya pelan.
"Setua itu kah gue sampai gue lupa lukisan ini dan kejadian yang ada di lukisan ini?"
Suara chat masuk berbunyi dari ponsel Karina, lamunan Karina pun terbuyarkan begitu saja.
Dengan segera Karina membuka ponsel nya,
"Kita butuh bicara Karina."
semoga semangatnya juga terus panjang ya. salam dari Aira dan Zayyan di 'aku akan mencintaimu, suamiku' jgn lupa mampir 😉