NovelToon NovelToon
Menjadi Istri Kedua

Menjadi Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Poligami / Balas Dendam / Cinta setelah menikah / Selingkuh
Popularitas:13.6k
Nilai: 5
Nama Author: Anasta_syia

Menikah adalah hal sakral yang tidak boleh di permainkan. Namun, pernikahan Elena terjadi karena semata-mata ingin menyelamatkan nyawa papanya yang sedang terancam. Dan tanpa diketahui, ternyata dirinya menjadi istri kedua dan bukanlah istri satu-satunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anasta_syia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Suara decitan begitu nyaring di telinga Elena. Wanita itu memutar setir mobilnya dengan cepat dan menginjak pedal rem secara spontan saat melihat seorang anak kecil secara tiba-tiba melintas di tengah jalan membuatnya shock dan membanting setir.

"Huh" Jantung Elena berdegup sangat cepat. Ia menoleh ke arah belakang untuk memastikan anak kecil itu baik-baik saja.

"Eh keluar!!" teriak para warga yang mendadak langsung mengerubungi mobilnya sembari menggedor-gedor kaca mobilnya.

"Iya iya saya keluar. Saya tanggung jawab" Elena melepas sabuk pengamannya dan keluar dari dalam mobil sebelum para warga semakin memanas.

Elena berjalan pelan ke arah anak kecil itu yang tersungkur di jalan dengan memeluk tubuhnya sendiri. Wanita itu berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan anak kecil yang tampak ketakutan itu.

"Heyy kamu gapapa?" tanya Elena lembut.

"Tanggung jawab kamu!!"

"Iya saya bakalan tanggung jawab"

"Elena" Suara seseorang yang begitu familiar di telinganya membuat Elena menoleh dengan cepat. "Aaron?" Lelaki itu tersenyum ke arahnya dan berjalan mendekat. Ia melirik anak kecil di hadapan Elena dan para warga yang berkerumun.

"Biar saya yang menangani ini. Saya pastikan anak ini akan baik-baik aja" ucap Aaron dan akhirnya para warga itu bubar.

"Terima kasih" ucap Elena. Wanita itu kembali memfokuskan pada anak kecil yang menatap dirinya sekarang. "Siapa nama kamu?" tanya Elena lembut.

"Jefan" cicit anak itu sedikit ketakutan.

"Mmm aku minta maaf karena tadi gak sengaja hampir nabrak kamu" ucap Elena merasa bersalah.

"Tapi kamu gapapa kan? Gak ada yang terluka?" tanya Aaron yang ikut khawatir.

"Aku gapapa" Elena melirik ke area sekitar dan melihat ada salah satu minimarket yang berada tak jauh dari tempatnya saat ini. "Gimana kalau kita kesana dulu nanti kakak beliin es krim sama jajan yang kamu mau" ucap Elena dan diangguki oleh bocah itu dengan semangat.

"Mana kunci mobil kamu biar aku parkirin dulu dan kamu bisa bawa dia kesana" ucap Aaron.

Elena memberikan kunci mobilnya pada Aaron. Ia menggandeng tangan Jefan agar ikut dengannya ke minimarket tersebut.

"Kamu mau beli apa?" tanya Elena menawari. Jefan memasukkan beberapa es krim yang ia sukai beserta jajanan ke dalam keranjang yang dibawa oleh Elena.

"Terima kasih kak" ucapnya lucu membuat Elena gemas dan mencubit pipi Jefan pelan.

Usai membayar semua belanjaan itu, Elena dan Jefan duduk di kursi yang disediakan di depan minimarket itu. Aaron yang baru saja datang ikut bergabung dengan keduanya.

"Kamu disini sama siapa? Bagaimana bisa kamu tiba-tiba nyebrang gitu aja? Memangnya kamu mau kemana?" tanya Elena karena sedari tadi ia tak menemukan orang tua Jefan.

"Aku tadi ke taman itu sama Sus" ucap Jefan dan tangan mungilnya menunjuk taman yang ada di seberang sana. "Terus sekarang kemana Sus kamu?" tanya Elena.

"Gatau kan dia gak pernah peduli sama aku. Kalau aku main dia selalu main HP" ucapnya dengan sedih.

"Terus orang tua kamu? Kemana?" tanya Elena lagi.

"Keluargaku orang kaya jadi mereka berdua sibuk cari uang"

"Ouh begitu" Elena menggigit bibirnya merasa bersalah karena membuat anak kecil itu sedih. Ia menatap Aaron yang hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

"Es krim nya enak?" tanya Aaron.

"Enak banget. Boleh nambah lagi?" tanya Jefan dengan bibir yang penuh es krim.

"Boleh" Aaron menggandeng Jefan untuk kembali masuk dan membeli berbagai jenis es krim.

"Tenanglah dia gak akan sedih lagi habis ini" ucap Aaron menenangkan Elena sebelum ia melangkah masuk bersama Jefan.

"Lalu aku harus kemana mengantarkan anak ini? Sus nya pun gak nyariin padahal Jefan nyaris mati kalau tadi aku gak ngerem" gumam Elena.

"Terima kasih kak" Jefan mengambil satu wadah es krim dan memakannya. Ia asik dengan es krim yang ada di tangannya dan tidak mempedulikan sekitarnya termasuk Elena dan Aaron.

Aaron melirik cincin yang tersemat di jari manis Elena. Ia tersenyum getir melihatnya. Dirinya tidak bisa lagi bersama wanita itu meskipun hatinya begitu mencintai Elena.

"Besok... kamu masih masuk sekolah?" tanya Aaron membuat Elena diam beberapa saat. Hubungannya dan pernikahannya dengan Rafael sudah di publish di berbagai media. Hal itu membuat Elena sedikit ragu untuk masuk sekolah karena apa jadinya nanti jika semua teman-temannya mengejek dirinya.

"Aku takut" ucap Elena pelan. Aaron mengangguk mengerti akan perasaan wanita itu. Menikah di usia yang begitu muda ini apalagi belum keluar dari jenjang sekolah SMA pasti banyak sekali yang membicarakan hal itu.

"Ada aku" ucap Aaron meyakinkan.

"Medina dan Felix juga bersamamu bukan?" Elena mengangkat wajahnya dan menatap pria yang masih ia cintai sampai saat ini.

"Jangan hanya karena kamu takut, pendidikan kamu jadi terbengkalai"

"Aku tau tapi... a-aku gak siap sama hujatan anak-anak sekolah" ucap Elena.

"Itu hanya pikiran kamu bukan? Belum terjadi. Hadapi apapun rintangan yang ada di depan dan jangan lari dari masalah" ucap Aaron memberi nasehat pada wanita itu.

Elena menganggukkan kepalanya. Ia melirik Jefan yang masih sibuk dengan es krim nya. "Jefan, kakak harus anter kamu kemana?" tanya Elena.

"Ke Sus aja kak" ucap Jefan membuat Elena bisa bernafas lega.

Setelah menghabiskan es krimnya, Jefan dibawa oleh Elena untuk kembali ke Sus nya. "Sekali lagi kakak minta maaf ya" Jefan mengangguk dan tersenyum lucu.

"Apa kita berteman?" tanya Jefan membuat langkah kaki Elena terhenti. Ia kembali menghadap Jefan yang sedang digandeng oleh seorang wanita yang bekerja untuk menjaga anak itu.

"Tentu. Kenapa tidak?" Elena menautkan jari kelingkingnya di jari mungil Jefan. Bocah lima tahun itu tampak kegirangan karena mendapatkan teman baru.

"Hati-hati kakak" teriaknya saat melihat Elena berjalan menjauh dan perlahan menghilang dari pandangannya.

1
🍁🅐🅝🅖🅔🅛🅐❣️
jgn ngelamun fokuss
🍁🅐🅝🅖🅔🅛🅐❣️
felik cemangat ngedekeyin gebetan 😄😄😄
🍁🅐🅝🅖🅔🅛🅐❣️
nah bener tuhh udah gede jgn males waktu nya belajar untuk mandiri... 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!