Alex.. Menikahlah dengan Denada, Berjanjilah ! Jaga Denada, sayangi Denada, lindungi Denada, perlakukan Denada seperti kamu memperlakukanku. Deswita Jovanka
Kenapa, Kenapa kamu memberikanku pilihan yang terberat dalam hidupku... sampai kapanpun tidak akan ada wanita yang bisa menggantikan posisi kamu di hatiku, sekalipun dia adalah kembaranmu. Alexander Harison Galaxi
Tidak kak, aku tidak mau menikah dengan pria yang tidak ku kenal, terlebih aku sudah punya kekasih. Denada Jovanka
Pernikahan yang terjadi tanpa cinta itu, apakah berlangsung lama atau hanya akan bertahan seumur jagung saja ?
Yang penasaran dengan ceritanya, langsung saja kepoin ceritanya disini yuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bilqies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alex VS Marcell
"Hei Kau! Lepaskan wanita itu!" teriak seorang pria memperingati.
Tanpa berpikir panjang Denada mengambil kesempatan untuk menggigit tangan pria itu yang membekap mulutnya, hingga akhirnya Denada berhasil. Namun, tetap saja tubuh mungil itu masih berada di dekapan pria itu.
"Auuw, sial!" umpat pria itu meringis kesakitan.
"Marcell!" teriak Denada tanpa dia sadari buliran bening meluruh dari sudut ekor matanya.
Saat Marcell berjalan mendekat ke arah pria itu. Seketika pria itu menodongkan sebuah belati ke leher jenjang Denada yang terlihat begitu menggoda.
"Jangan mendekat!" Atau kau mau wanita ini mati di tanganku," gertak pria tersebut sambil mendelikkan bola matanya ke arah Marcell.
"Baiklah ... katakan, apa yang kau inginkan sekarang, hah?" tanya Marcell sembari menghentikan langkahnya dan tetap memperhatikan gerak-gerik pria itu.
Melihat pria tersebut masih bergeming tanpa membalas pertanyaan nya, Marcell melontarkan pertanyaan kembali pada pria tersebut, dan berharap pria itu akan tergiur dengan tawarannya.
"Atau kau mau uang? Akan ku berikan, tapi tolong lepaskan wanita itu, Ok!" ucap Marcell sembari mengeluarkan dompet dari saku celananya.
"Tidak! Aku tidak menginginkan itu, bahkan aku tidak tertarik akan tawaranmu itu, Tuan. Aku hanya menginginkan wanita ini ikut bersamaku," sahut pria itu tegas, yang masih menodongkan belati ke leher Denada.
"Marcell ... hiks ... hiks ... hiks ... Tolong aku, aku tidak mau ikut dengannya." Denada terisak dengan suara parau dan tercekat karena rasa takut yang menyelimuti dirinya.
Tiba-tiba dari arah belakang datang lah seorang pria yang tak lain adalah teman bandit tersebut.
"Ayo bro cepat! Apalagi yang kau tunggu, hah?" teriak teman bandit tersebut.
"Berhenti! Sekali lagi aku berikan tawaran yang menarik, aku menawarkan kalian uang. Berapa pun yang kalian minta, akan ku berikan, tapi lepaskan wanita itu!" Marcell kembali memberikan tawaran pada bandit tersebut, berharap keduanya mau menerima tawarannya. Marcell berusaha sekeras mungkin supaya wanita yang dia cintai tidak di bawa oleh kedua bandit itu.
"Bagaimana bro? Apa kau mau, tapi bagaimana dengan tugas kita?" bisik pria itu pada temannya yang barusan datang.
Pada saat mereka sedang bernegosiasi, Marcell tidak melewatkan kesempatannya untuk menarik tubuh Denada dari dekapan bandit itu. Marcell menendang pria itu dan belati nya terlempar. Marcell dengan cekatan menarik tubuh mungil Denada ke belakang punggungnya.
"Sialan! Hajar bro," ucap bandit tersebut dengan sorot tajam menatap Marcell.
Mereka berkelahi satu lawan dua, tampak teman yang satunya jatuh tersungkur mengeluarkan cairan kental di dahinya. sedangkan pria satunya masih tetap untuk bertahan melawan Marcell. Dan saat Marcell lengah, teman bandit yang terjatuh tersungkur tadi mengambil belati yang terjatuh di lantai, kemudian pria tersebut menyeringai menatap Marcell.
"Marcell, awas!" teriak Denada.
CES ....
Pria itu menancapkan belati pada lengan Marcell, dan darah berceceran di lantai.
"Bro ... ayo lari! kita tidak ada waktu. Jangan sampai kita tertangkap," teriak teman bandit itu, kemudian lari meninggalkan Marcell dan Denada yang masih disana.
"Marcell ... cukup! Jangan di kejar, lihat tanganmu terluka."
Melihat cairan kental yang terus mengalir. Denada berinisiatif mengambil dasi dan menggulungkan nya ke tangan Marcell supaya cairan tersebut berhenti.
"Denada, kau tidak apa apa?" tanya Marcell khawatir sembari menelisik wajah cantik Denada.
"Aku tidak apa apa, tidak ada yang terluka. Terima kasih Marcell, hiks ... hiks ... hiks ...." Nutiran kristal pun terus meluruh membasahi pipi mulus Denada.
"Hei, jangan menangis ... kau tau bukan aku paling tidak bisa melihatmu menangis seperti ini. Sudah lah Dena, kau sudah aman sekarang. Aku berjanji akan menjaga dan melindungi mu sampai kapan pun." Marcell menarik tubuh mungil Denada ke dalam pelukannya, seketika tangisan Denada pecah.
"Denada ... aku sudah tidak sanggup kehilanganmu lagi. Sungguh menyesakkan bagiku seperti ada batu karang yang menghimpit dadaku. Melihatmu begitu mesra dengan Alex, memeluk dirimu begitu erat," Marcell mengeluarkan semua apa yang ada di relung hatinya pada Denada, dengan nafas naik turun, dan melepaskan pelukannya.
"Marcell ... maafkan aku, aku paham betul akan perasaanmu itu, tapi apalah dayaku yang tak bisa berbuat apa apa. Posisiku sungguh serba salah."
Marcell meraih kedua jemari tangan lembut Denada. "Ayo kita pergi Denada, ini kesempatan kita untuk pergi dari kota ini. Ikutlah denganku dan kita akan mewujudkan impian kita bersama."
🌷🌷🌷
Sedangkan di tempat lain, seorang pelayan pria mencari keberadaan Alex. Dia ingin menyampaikan sesuatu pada Alex. Tak berselang lama, pelayan pria itu menemukan Alex yang sedang berbincang dengan teman bisnisnya, kemudian pelayan itu berjalan menghampiri Alex dan membisikkan sesuatu pada telinga Alex. Seketika raut wajah Alex memerah, ada seringai di sudut bibir Alex. Lalu Alex meninggalkan teman temannya, pergi ke arah yang di tuju pelayan pria itu.
🌷🌷🌷
"Dengarlah Dena, aku sungguh mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu." Menangkup kedua pipi Denada yang masih basah dengan air matanya.
"Aku pun mencintaimu Marcell ... tapi ini bukan waktu yang tepat untuk kita pergi sekarang. Bersabarlah, tunggu aku akan menyelesaikan semuanya dengan Alex. Ayo kita kembali ke dalam, obati dulu lukamu itu," ucap Denada lembut, lalu mereka berjalan pergi meninggalkan lorong itu dan saat melewati pintu...
BUGH!
Tiba-tiba sebuah bogeman mentah mendarat di wajah mulus Marcell dan terus melayangkan pukulan tanpa berhenti sama sekali.
"Aaaakhh ...." Denada terpekik melihat Marcell mendapat serangan mendadak dari seorang pria yang begitu Denada benci.
"Kak Alex cukup! Apa yang kau lakukan?" Denada melerai pertikaian dua pria itu.
"Marcell tidak bersalah, Kak Alex. Tolong dengarkan dulu penjelasanku, kau jangan main pukul saja!" bentak Denada.
Akan tetapi Alex yang sudah tersulut emosi, tak mengindahkan semua ucapan Denada yang berusaha memisahkan.
Marcell yang mendapatkan serangan mendadak, tidak tinggal diam. Marcell membalas pukulan Alex, baku hantam terus terjadi di antara mereka berdua.
Tanpa mereka sadari ada seorang wanita yang menyeringai, dan seorang gadis yang kaget melihat sebuah perkelahian di sana sambil menutup mulutnya, dia melihat Alex menghajar Marcell dengan membabi buta.
"Kakak, hentikan! Kau melukai Marcel. Aku tidak akan memaafkan mu kak, jika terjadi sesuatu pada Marcel! teriak Sarah yang ikut melerai.
"Sarah, cepat panggil kakak ku!" titah Eva, Sarah pun pergi menemui Mario yang sedang berada di dalam pesta.
Denada masih tidak tinggal diam, melihat Alex yang terus menerus memukul pria yang begitu dia cintai. Saat Alex ingin menghantam wajah tampan Marcell yang sudah mengeluarkan cairan kental di pelipisnya, membuat Denada tidak tega, dan kemudian Denada dengan cekatan pasang badan untuk Marcell.
"Hentikan!"
BUGH!
Sampai akhirnya Denada jatuh tersungkur, mendapati pukulan keras dari tangan besar Alex yang dia kira Marcell.
"Denada ...," teriak Marcell, mendelikkan kedua bola matanya.
Alex yang baru sadar segera menghampiri tubuh Denada yang jatuh tersungkur karena ulahnya. Dan pada saat Marcell ingin membantu Denada, Sarah langsung menarik Marcell.
"Denada ... aku tidak sengaja. Mengapa napa kau menghalangiku untuk menghajar pria itu?" tanya Alex menatap heran ke arah Denada.
"Karena dia tidak bersalah. Dan asal kau tau, Marcell lah yang telah menyelamatkanku," sahut Denada sambil memegangi wajah nya yang lebam. Bekas pukulan Alex, ada darah di ujung pelipisnya.
"Kau payah Alex. Kau tidak bisa melindungi wanita," teriak marcell, ada guratan sedih di wajahnya melihat wanita yang begitu dia cintai terluka.
Seketika rahang Alex mengeras mendengar ucapan Marcell. "Shit! Berani sekali kau mengataiku seperti itu, hah? Memangnya kau siapa?"
Marcell yang hendak menjawab pertanyaan Alex, lalu dia teringat dengan keinginan Denada yang menyuruhnya untuk berpura-pura tidak saling kenal.
Beberapa menit kemudian, datanglah semua keluarga di tempat kejadian, Mario, Nicho, Bastian mereka hadir disana dan di ikuti oleh Sherly, Miranda dan juga Marsha.
"Ada kejadian apa ini ? Kenapa kalian berkelahi, hah?" tanya Mario menatap tajam pada Alex dan Marcell.
"Akan ku ceritakan semuanya pada kalian," ucap Marcell tegas.
"Sebaiknya kita ke ruang keluarga dulu, dan panggilkan Dokter untuk mengobati luka Marcell," titah Mario.
🌷🌷🌷
Mereka semua sudah berada di ruang khusus keluarga di Hotel miliknya. Dan Dokter pribadi Keluarga Harison datang, langsung mengobati lengan Marcell yang terluka, di balut dengan perban. Kemudian Dokter memberikan salep pereda sakit di wajah Denada yang sudah membengkak.
Setelah Dokter sudah selesai mengobati lukanya. Marcell langsung menceritakan semua kejadian penculikan Denada, dan ia berkelahi dengan kedua bandit itu, hingga tangannya terluka.
"Dasar cucu kurang ajar! Kau yang salah Alex. Lain kali dengarkan dulu penjelasan orang lain, jangan asal main tangan. Dan lihat, Denada yang jadi korban pukulan mu," ucap Opa Harison emosi, menatap Alex dengan tatapan elangnya.
"Maaf Opa ... aku bersalah," Alex menunduk tidak berani menatap Opa nya yang sudah tersulut emosi. Kemudian Alex berjalan menghampiri Marcell yang sedang duduk disamping Sarah.
"Maaf bro ... aku sudah salah, tak seharusnya aku memukul mu seperti itu," ucap Alex sambil menepuk pundak Marcell.
Lalu Alex duduk kembali disamping Denada.
"Denada, aku juga minta maaf atas perbuatanku sampai membuatmu terluka seperti ini," Alex meraih tangan Denada sambil terus mengamati wajah Denada.
"Sudahlah, kita harus lebih waspada. Ada musuh di sekitar kita, lebih baik kita cari kedua bandit itu yang ingin menculik Denada," titah Opa Harison tegas.
PRANK ....
Sebuah gelas jatuh ke lantai, semua mata tertuju pada suara gelas yang terjatuh.
.
.
.
🌷Bersambung🌷
tapi karena wanita terkenal dengan mahluk egois jadi nya kalian malah membenarkan semua interakasi denana dengan marchel yang sudah kelewatan batas
*apakah wajar istri pergi bersenang2 dengan pria lain
*apakah wajar istri jalan dengan pria lain pegangan tangan dengan jari2 saling bertautan kayak sepasang kekasih
*apakah wajar istri terlalu sering kontak fisik, pelukan dengan pria lain
pakai akal sehat Thor biar bisa bedakan mana salah mana benar,