NovelToon NovelToon
Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Status: tamat
Genre:Teen / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.

Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:

[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]

Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.

Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.

Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.

Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?

Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13

Bab 13: Semakin Dekat

"Sudah betah di rumahku?"

Keira masih memeluk Mochi saat Xavier berdiri di dekat pintu, rambut basah, jaket lembap, dan senyum tipis yang membuat seluruh situasi terasa lebih berbahaya daripada seharusnya.

"Mochi yang betah sama aku," jawab Keira akhirnya.

Mochi mengeong tepat waktu, seperti saksi bayaran.

Xavier meletakkan koper kecil di dekat rak sepatu. "Dia memang punya selera."

"Selera buruk?"

"Selera yang berkembang."

Keira tidak tahu harus meletakkan matanya di mana. Pada kucing, pada lantai, pada rambut Xavier yang masih menetes air, atau pada fakta bahwa ia berdiri di ruang tamu cowok itu pada malam hujan dan tidak merasa ingin kabur secepat mungkin.

"Kamu pulang lebih cepat," katanya.

"Urusan selesai."

"Mochi sudah makan. Airnya sudah kuganti. Litter box juga."

"Aku tahu." Xavier melihat sekeliling ruangan yang rapi. "Kamu bahkan menutup lemari."

Keira membeku.

Xavier melewatinya menuju dapur, mengambil handuk kecil. "Tenang. Aku yang lupa menutup."

"Oh."

"Tapi kalau kamu mencatat isi lemariku untuk tugas observasi, setidaknya tulis yang bagus."

"Aku tidak seobsesif itu."

Xavier menoleh. "Kamu yakin?"

Keira mengembalikan Mochi ke sofa dan cepat-cepat mengambil tas. "Aku pulang."

Ia keluar dengan wajah panas, tetapi di balik pintu apartemennya sendiri, ia tersenyum tanpa sadar.

***

Dua minggu berikutnya bergerak seperti sesuatu yang diam-diam berubah bentuk.

Awalnya, Keira masih punya alasan untuk setiap pertemuan. Kelas Psikologi Hubungan. Tugas observasi. Mengembalikan kartu akses. Menanyakan apakah Mochi baik-baik saja. Mengirim foto Mochi yang tidur di dalam kotak sepatu, karena Xavier membalas dengan `dia drama` dan Keira merasa itu penting untuk dibantah.

Lalu alasan-alasan itu mulai tidak diperlukan.

Di koridor The Springs, mereka sering bertemu saat pagi. Xavier membawa kopi hitam, Keira membawa roti yang kadang lupa ia makan. Xavier mulai punya kebiasaan berhenti sebentar.

"Sarapan?"

"Ini roti."

"Roti tidak dihitung kalau cuma dibawa keliling."

Besoknya, Keira benar-benar menggigit roti di depan pintu hanya untuk membuktikan. Xavier melihatnya, lalu berkata, "Bagus. Perilaku meningkat."

Keira hampir melempar roti.

Pagi berikutnya, sebuah paper bag kecil tergantung di gagang pintu Keira.

Di dalamnya ada bubur ayam tanpa sambal, sendok plastik, dan sticky note bertuliskan:

`Roti kering bukan sarapan.`

Keira berdiri di depan pintu selama hampir satu menit, menatap tulisan tangan rapi itu. Perutnya yang biasanya menolak makanan pagi-pagi tidak langsung memberontak saat mencium aroma bubur hangat.

Ia membuka chat Xavier.

`Kamu sekarang observasi atau mengatur menu hidupku?`

Balasannya datang dua menit kemudian.

`Dua-duanya.`

Keira menatap layar, lalu tertawa kecil sendirian. Bubur itu hanya sarapan sederhana. Tapi entah kenapa, sendok pertama terasa seperti seseorang mengingat bahwa tubuhnya masih perlu dijaga.

Ia makan pelan sampai setengah mangkuk habis, lebih banyak daripada sarapan-sarapan sebelumnya minggu itu. Perutnya terasa hangat.

Di kantin kampus, mereka beberapa kali duduk satu meja karena Celine tiba-tiba harus membeli minum, atau Kevin tiba-tiba datang membawa nampan dan duduk tanpa izin. Kevin, seperti biasa, tidak punya rem.

"Xav, akhir-akhir ini lo sering banget bilang `tetangga sebelah`."

Xavier sedang membuka tutup botol air mineral. "Karena dia memang tetangga sebelah."

"Gue juga punya tetangga. Gue nggak menyebut dia tiga kali sehari."

"Mungkin tetanggamu tidak menarik."

Kevin terdiam satu detik.

Keira juga.

Xavier tampak sadar kalimatnya, tetapi wajahnya tetap datar. Ia minum air seolah tidak baru saja membuat Kevin menemukan bahan gosip emas.

Kevin menunjuk Keira dengan sendok. "Lo dengar?"

"Aku tidak terlibat."

"Terlambat. Secara semantik, lo menarik."

Xavier menendang kaki Kevin di bawah meja.

Kevin meringis, tetapi matanya bersinar puas. "Kekerasan tidak menghapus fakta."

Keira menunduk menyembunyikan senyum di balik sendok.

Di kelas Bu Ratna, tugas observasi membuat mereka semakin sering berbicara. Keira mencatat bahwa Xavier selalu membaca pesan sampai selesai sebelum membalas, tidak suka makanan terlalu manis, dan diamnya punya banyak jenis. Diam bosan. Diam berpikir. Diam menahan tawa.

Xavier, di sisi lain, mencatat dengan terlalu serius.

"Kamu menggigit sedotan kalau gugup," katanya suatu hari di perpustakaan.

Keira langsung melepas sedotan es kopinya. "Tidak."

"Baru saja."

"Itu penelitian yang tidak valid."

"Aku punya tiga sampel."

"Kamu mengerikan."

"Tugas observasi."

Mereka duduk di meja panjang perpustakaan, buku terbuka di depan, tetapi percakapan kecil itu terasa lebih penting daripada seluruh teori hubungan di handout Bu Ratna.

Sementara itu, sistem berjalan pelan.

Nokia tua tidak lagi meledakkan hidup Keira setiap hari, hanya memberi notifikasi kecil ketika ia menyelesaikan pertemuan kelas atau ketika interaksi dengan Xavier cukup lama. Nilai Replika naik sedikit demi sedikit. Pakaian yang dulu membuatnya hampir diserang komentar kini berubah menjadi kebiasaan yang tidak lagi mengejutkan siapa pun.

Di kampus, beberapa orang mulai berkata, "Mereka memang couple style."

Keira selalu ingin menyangkal.

Masalahnya, sebagian dari dirinya tidak lagi sepenuhnya marah mendengarnya.

Suatu sore, setelah kelas, Celine menarik Keira ke tangga darurat gedung DKV dengan alasan ingin bicara. Dari wajahnya, Keira tahu ini bukan soal tugas.

"Kei, jujur."

"Kalimat yang tidak pernah berakhir baik."

"Kamu suka dia kan?"

Keira langsung memalingkan wajah. "Siapa?"

Celine memandangnya datar.

"Jangan pakai teknik anak SD."

"Aku tidak suka Xavier."

"Aku belum sebut nama Xavier."

Keira membeku.

Celine menunjuk wajahnya. "Merah."

"Tangga darurat panas."

"Ini Bandung, bukan neraka."

Keira menutup wajah dengan kedua tangan. "Cel, aku pusing."

"Karena suka?"

"Karena hidupku rumit."

Celine berhenti menggoda. Ia bersandar ke dinding, suaranya melunak. "Rumitnya karena dia atau karena hal lain?"

Keira menurunkan tangan pelan.

Karena kanker. Karena sistem. Karena setiap hari yang ia dapat seperti pinjaman yang bisa ditagih kapan saja. Karena ia tidak tahu apakah pantas membiarkan seseorang sedekat itu kalau masa depannya sendiri masih berkabut.

Tapi semua itu tidak bisa ia katakan.

"Aku belum tahu," jawabnya.

Celine menatapnya lama, lalu mengangguk. "Kalau belum tahu, jangan buru-buru lari."

Kalimat itu menempel di kepala Keira sampai malam.

Di The Springs, ia berbaring di kasur, lampu dimatikan, tetapi mata tidak juga mengantuk. Ia membuka Instagram tanpa tujuan. Story pertama yang muncul adalah dari `@xav.offline`.

Foto jendela kamar. Langit Bandung malam. Pantulan lampu kecil di kaca.

Caption-nya:

`Tidak bisa tidur.`

Keira menatap layar.

Jarinya membuka ruang balasan. Ia mengetik:

`Sama.`

Ia menghapus.

Mengetik lagi:

`Kebanyakan kopi?`

Menghapus lagi.

Akhirnya ia hanya mengunci HP dan meletakkannya telungkup di bawah bantal.

Di luar jendela, dari arah unit seberang, cahaya masih menyala tipis.

Keira memejamkan mata, tetapi dadanya tetap terjaga.

1
Evelyn Sharon
Mereka yang kasmaran kenapa jadi aku yang salting yak🫠
Evelyn Sharon
mulai suka nihh 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!