Lima tahun lalu, Keira diusir dari keluarga Mulyono saat perutnya baru membesar.
Tidak ada yang tahu dia sedang mengandung tiga anak sekaligus — anak-anak dari pria paling berkuasa di Jakarta: Kevin Hartono, CEO Hartono Group.
Tanpa uang, tanpa keluarga, tanpa nama — dia membesarkan ketiga anaknya sendirian. Diam-diam, dia membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Menjadi CEO SH Corporation. Menjadi dokter jenius yang dipanggil "Dr. Mira." Menjadi ahli chip SSS-level yang dicari seluruh dunia dengan nama "Ainara."
Sekarang, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai gadis yang pernah dibuang. Tapi sebagai wanita yang bisa menghancurkan siapa saja yang pernah menyakitinya.
Masalahnya? Kevin Hartono — mantan suami yang bahkan tidak tahu dia pernah hamil — baru saja menemukan bahwa putranya, Darren, punya saudara kembar yang identik.
Dan dia tidak akan berhenti sampai menemukan ibu mereka.
"Kei... kamu bisa membenciku. Kamu bisa memukulku. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi."
Tapi Keira sudah bersumpah: *dia yang membuangku, sekarang harus berlutut untuk mendapatkanku kembali.*
Siapa bilang balas dendam terbaik bukan hidup bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
"Aku menemukan adikku."
Tiga hari setelah malam lelang, Kevin untuk pertama kalinya merasa ruang tamu Hartono Group terlalu kecil.
Padahal ruangan itu luas, dingin, dan dirancang untuk membuat siapa pun yang duduk di seberangnya mengingat bahwa mereka sedang berada di wilayah Kevin Hartono. Tapi Jason Liem duduk di sofa hitam itu dengan tenang, seolah tekanan ruangan tidak menyentuhnya sama sekali.
Feng berdiri di belakang Kevin sambil memegang map kerja sama.
"Liem Group ingin masuk ke program dana bantuan hukum?" Kevin membuka dokumen tanpa benar-benar membacanya.
Jason mengangguk. "Setelah siaran Keira, banyak korban kasus warisan dan penggelapan aset mulai mencari bantuan. Liem Group ingin ikut mendanai."
"Murah hati."
"Tidak semurah itu. Saya punya alasan pribadi."
Kevin mengangkat mata. "Keira?"
Jason tidak menghindar. "Ya."
Feng menahan napas.
Kevin menutup map. "Kau sangat memperhatikan perempuan yang baru kau temui."
"Kau juga begitu."
"Aku punya hubungan dengannya."
"Hubungan apa?"
Pertanyaan itu turun seperti pisau kecil.
Kevin bersandar perlahan. "Pak Jason, kau datang ke kantorku untuk membahas program hukum atau menginterogasi hidup pribadiku?"
Jason tersenyum tipis. "Aku datang untuk melihat apakah pria yang berdiri di samping Keira layak berada di sana."
Udara di ruangan itu membeku.
Feng menunduk lebih dalam. Dalam hati, ia sudah menyiapkan doa singkat untuk semua orang yang berani menantang Boss sebelum jam makan siang.
Kevin berkata pelan, "Kau dan Keira sebenarnya apa?"
"Belum waktunya kau tahu."
"Aku tidak suka jawaban itu."
"Aku tidak meminta kau suka."
Kedua pria itu saling menatap. Tidak ada suara keras, tidak ada ancaman terbuka. Tapi meja kaca di antara mereka terasa seperti bisa retak kapan saja.
Kevin akhirnya berkata, "Kalau kau membuatnya menangis, aku akan membuat setiap proyek Liem Group di Jakarta berhenti bernapas."
Mata Jason menjadi dingin. "Kalau dia menangis, aku akan bertanya kenapa kau tidak menjaganya."
Pertemuan itu selesai tanpa jabat tangan.
Jason keluar dari Hartono Group dengan wajah yang sama tenangnya seperti saat datang, tetapi di dalam lift ia menutup mata beberapa detik. Ia tidak datang untuk memancing Kevin. Ia datang untuk melihat pria yang mungkin sudah berdiri di samping adiknya sebelum ia sempat membawa adiknya pulang.
Hasilnya tidak membuatnya lega.
Kevin Hartono berbahaya, posesif, dan terlalu terbiasa menang.
Namun Jason juga melihat hal lain: setiap kali nama Keira disebut, kemarahan Kevin bukan kemarahan laki-laki yang merasa kepemilikannya disentuh. Itu kemarahan orang yang sudah melihat luka Keira dan tidak ingin luka itu dibuka sembarangan.
Jason membenci fakta bahwa ia bisa memahami itu.
Di mobil, ia membuka pesan dari Bi Mei.
Jangan memaksa Nona. Kalau benar dia Kei kecil kita, dia sudah hidup terlalu lama tanpa kita. Datanglah pelan-pelan.
Jason menatap kotak kue di kursi sebelah.
"Pelan-pelan," gumamnya, padahal seluruh dadanya ingin berlari.
Sore harinya, Jason muncul di depan rumah Keira.
Ia tidak membawa rombongan. Hanya seorang sopir yang menunggu jauh di dekat mobil. Di tangannya ada kotak kayu tua dengan ukiran halus di tutupnya.
Keira membuka pintu dengan Rio berdiri tidak jauh di belakang.
"Pak Jason."
"Maaf datang mendadak." Jason mengangkat kotak itu sedikit. "Ini kue dari rumah lama Liem. Aku pikir mungkin kau ingin mencobanya."
Keira tidak langsung menerima. "Kau tahu alamatku."
"Ya."
"Kau menyelidikiku."
"Ya."
Jawaban yang terlalu jujur sering kali lebih sulit dilawan daripada kebohongan.
Keira menatapnya beberapa detik, lalu membuka pintu lebih lebar. "Sepuluh menit."
Jason masuk ke ruang tamu. Matanya sempat menyapu ruangan: gelas anak-anak di meja makan, selimut kecil di sofa, buku gambar Tiffany, dan tablet Ethan yang tertutup setengah. Semua itu seperti bukti bahwa adik kecil yang ia cari tidak hanya hidup, tetapi sudah menjadi ibu.
Keira membuka kotak kayu.
Di dalamnya ada almond cookies kecil, warna keemasan, dengan pola bunga tipis di permukaan. Aromanya naik pelan: almond panggang, mentega, sedikit kulit jeruk, dan teh yang sangat lembut.
Keira mengambil satu.
Ia hanya menggigit sedikit.
Dunia tiba-tiba diam.
Rasa itu tidak datang seperti ingatan biasa. Ia datang seperti mimpi yang sudah terlalu lama terkubur. Ada cahaya sore di jendela. Ada tangan besar yang memegang piring kecil. Ada suara anak laki-laki tertawa dan berkata, jangan biarkan Kei makan terlalu banyak, nanti perutnya sakit.
Lalu ada seseorang mencium pergelangan tangannya, tepat di atas tanda lahir berbentuk daun maple.
Keira menurunkan kue itu perlahan.
Air matanya jatuh tanpa izin.
Jason nyaris bergerak. Ia ingin memanggilnya adik. Ia ingin mengatakan bahwa ia sudah mencarinya sejak kecil, bahwa Bi Mei masih menyimpan baju bayi miliknya, bahwa Engkong Liem tidak pernah berhenti menunggu.
Tapi suara Bi Mei teringat jelas.
Tunggu hasil DNA.
Jangan beri harapan sebelum bukti ada.
Jason hanya meletakkan tisu di meja.
"Rasanya..." Keira berbisik, bingung pada air matanya sendiri. "Aku pernah makan ini."
"Mungkin."
"Di mana?"
"Di tempat yang seharusnya menjadi rumahmu."
Keira mengangkat wajah. "Kau tahu sesuatu tentang masa laluku."
"Aku tahu cukup banyak untuk tidak ingin menebak sembarangan."
"Jawabanmu selalu setengah."
"Karena kebenaran yang salah waktu bisa melukai."
Keira menatapnya lama. Ada kemarahan di matanya, tetapi juga sesuatu yang lebih lembut. Familiaritas yang tidak bisa ia jelaskan.
Di luar pagar rumah, sebuah mobil hitam berhenti mendadak.
Kevin turun bahkan sebelum Feng sempat mematikan mesin.
"Boss," Feng mengejar dengan ponsel di tangan, "Rio hanya bilang Pak Jason masuk lima belas menit lalu. Belum tentu ada masalah."
"Keira menangis?"
Feng terdiam.
Di layar ponsel, pesan Rio memang singkat: Pak Jason membawa kue. Nona Keira menangis setelah mencicipinya. Situasi aman, tapi saya lapor.
Bagi orang normal, "situasi aman" seharusnya cukup.
Bagi Kevin, kata "Keira menangis" sudah menghapus seluruh kalimat lain.
Ia berjalan ke pintu dengan langkah cepat.
Bel rumah berbunyi.
Rio melihat monitor pintu, lalu ekspresinya berubah tipis. "Bos, Pak Kevin."
Keira belum sempat menghapus air mata ketika pintu terbuka.
Kevin berdiri di sana, jasnya masih rapi, tetapi matanya langsung berhenti pada wajah Keira yang basah. Lalu ia melihat Jason duduk di depannya, kotak kue terbuka, tisu di meja.
Keira tiba-tiba merasa situasinya jauh lebih buruk daripada air mata yang belum sempat ia jelaskan. Ia berdiri, tetapi suara yang keluar tertahan di tenggorokan.
Udara ruang tamu turun beberapa derajat.
"Jason Liem," kata Kevin, suaranya rendah dan berbahaya, "sebenarnya apa yang kau lakukan pada Keira?"
Tidak ada yang langsung menjawab malam itu.