Moza merasakan hari pertama magang seperti sebuah bencana karena harus berurusan dengan atasannya. Tugas yang dia terima terkadang tidak masuk akal dan logika membuatnya emosi jiwa. Sadewa, produser Go TV. Dikenal sebagai playboy karena pesonanya membuat banyak wanita berada di sekitar hidupnya.
===
“Jangan suka mengumpat di belakangku, mana tahu besok malah jatuh cinta.” Sadewa Putra Yasa.
=====
Kelanjutan dari Bosku Duda Arogan dan Bosku Perawan Tua.
Follow IG : dtyas-dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29 ~ Rencana Moza
Hari ini Mada yang mengantar Moza, bahkan memaksa ikut masuk.
“Mada, jangan bikin aku malu. Sana pergi.”
“Bang Dewa bilang boleh, kamu tanya aja kalau nggak percaya.”
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Moza dan Mada di depan gate datanglah Dewa. Menepuk bahu Mada dan mengajaknya masuk.
“Pak Dewa izinkan Mada masuk?”
“Hm, dia mau lihat area kerja kamu. Biarkan saja.”
“Ish, Mada,” ujar Moza lirih karena khawatir kakaknya berulah. Sejak kapan pula kedua pria itu jadi akur, seingatnya Mada masih keberatan dengan kedekatan dirinya dan Dewa.
“Hari ini gue jadi tamunya Bang Dewa bukan kembaran lo.”
Dengan wajah cemberut, ia mengekor langkah Mada dan Dewa. Seperti biasa para pegawai menyapa dan tersenyum pada Dewa dan hanya dibalas dengan anggukan atau dehaman. Jika ditempat umum atau di tengah rapat, memang pria itu selalu terlihat berwibawa dan profesional. Namun, berbeda jika tidak ada yang lain.
“Mada, jangan macam-macam. Kegiatan magangnya baru separuh perjalanan,” ujar Moza saat mereka keluar dari lift.
“Kalian ikut ke ruangan dulu deh, kita selesaikan di dalam,” ajak Dewa lalu mengerlingkan matanya ke arahku.
“Ogah, aku masih marah sama kamu.”
“Cie, udah aku kamu nih. Kemarin masih saya, saya aja,” ejek Dewa.
“Bodo amat.”
Dewa tergelak melihat Moza meninggalkan mereka menuju ruangan tim kreatif.
“Adik kamu kalau lagi ngambek malah tambah menggemaskan,” tutur Dewa menunjuk arah menuju ruangannya.
“Yang bikin ngambek malah ngeselin,” sahut Mada.
***
“Kamu paham ‘kan?”
“Paham Mbak,” jawab Moza ketika mendengarkan arahan dari seniornya.
“Ini nggak buru-buru, jadi bisa diselang kerjaan lain. Minggu depan akan disatukan dengan file lain. Info terus hasil kerjanya ya dan kerjakan setelah istirahat saja.”
Moza menganggukan kepalanya, sempat melirik sekilas jam tangannya dan memang hampir waktunya istirahat. Terdengar ada kegaduhan dari luar.
“Coba aja kita lihat dulu.”
“Maaf Mbak, jangan buat keributan.”
“Siapa yang mau ribut, gue Cuma cari cewek nggak tahu diri dan nggak ngaca, lo gak tau gue siapa? Mahalina dan gue salah satu brandnya Go Tv.”
Moza dan seniornya berdiri dari kubikel dan menoleh ke arah pintu.
“Nah, itu dia.” Mahalina menunjuk Moza.
“Ada apaan sih? Berisik banget, artis kok kayak tukang parkir,” keluh senior Moza mengenali Mahalina yang berulah.
Merasa wajahnya ditunjuk, Moza berdecak lalu menghampiri Mahalina dan wanita yang kemarin cari gara-gara dengannya. Emosinya kembali hadir dan dia tidak peduli kalau harus berurusan dengan dua cecunguk itu, apalagi sampai bermasalah.
“Ada apa ribut-ribut?”
“Kita nggak ada urusan sama situ, urusan kita sama tuh cewek nggak tahu diri.” Mahalina menunjuk wajah Moza, lalu mendekat dan mendorong membuat tubuhnya sempat terhuyung ke belakang.
“Mahalina, jaga sikap kamu.” Akhirnya mereka menjadi pusat perhatian dari para staf lain.
“Dia tuh yang harus jaga sikap. Mana ponsel gue?”
“Tidak ada denganku, di Pak Dewa … mungkin,” sahut Moza sambil mengedikkan bahu.
“Wah hebat banget dia pake minta perlindungan Pak Sadewa. Anak magang nggak tahu diri, godain Pak Dewa sampai diajak makan bareng segala. Udah kasih tubuh lo yang mana sama Pak Dewa dan Pak Fabian,” ungkap Mahalina dan membuat yang lain sempat berbisik-bisik.
“Masa sih Moza kayak gitu?”
“Mahalina, hati-hati kalau bicara,” tegur senior Moza.
“Tarik ucapanmu dan minta maaf!” titah Moza dengan rahang sudah mengeras dan kedua tangannya mengepal.
“Minta maaf sama lo, ogah amat.”
“Kelamaan, mana ponsel gue bangs4t.” Moza didorong dan tersungkur karena tidak sempat berpegangan.
“Hei, kalian pergi dari sini!”
“Apaan sih, kami ini artis Go TV. bisa-bisanya malah ngebelain anak magang yang murahan begini,” teriak Mahalina.
“Karena anak magang ini lebih kompetensi dibandingkan kalian.” Arta ketua tim kreatif sudah berada di tengah insiden dan membantu Moza berdiri. “Kamu nggak apa-apa?”
Moza menggelengkan kepalanya. “Sekali lagi aku minta tarik ucapan kalian dan minta maaf!”
Mahalina dan teman bod0hnya malah tertawa sambil bersedekap.
“Kalian lakukan apa yang dia minta, daripada urusannya jadi panjang. Apapun masalahnya, kali ini posisi kalian salah,” tutur Arta pada kedua biang kerok.
“Ogah amat, nggak sudi gue minta maaf sama dia.”
“Waktu kalian habis,” ujar Moza lalu mengeluarkan ponsel dari saku celananya, menghubungi seseorang. “Mada, aku ingin urusan ini diperpanjang. Ada saksi dan cctv di sini, cukup untuk buat kedua manusia tidak bermoral ini berurusan dengan hukum.”
“Heh, apa-apaan lo?”
Mahalina ingin merebut ponsel Moza, tapi ditahan oleh Arta. “Jangan buat masalah semakin runyam.”
Moza menjauh dan ber bersedekap setelah mengakhiri panggilan dan tersenyum sinis pada kedua wanita yang masih berteriak dan diarahkan keluarga oleh petugas keamanan.
“Ada apa ini?” Dewa akhirnya datang.
“Dewa, lihat kelakuan perempuan itu. Dia hubungi orang untuk cari gara-gara dengan kami. Pake masalah saksi dan cctv. Kamu nggak akan biarkan anak buah kamu bersaksi untuk dia ‘kan?”
“Aku sudah bilang jangan cari masalah,” ujar Dewa.
Mada muncul dari arah belakang Dewa, Moza berlari ke arah pria itu dan menghambur ke dalam pelukannya. “Aku mau pulang.”
“Ayo, akan ada orang yang urus masalah ini.”
“Arta, bawa dua orang ini dan amankan cctv,” titah Dewa.
“Dewa, kamu belain dia,” teriak Mahalina, tapi diabaikan oleh Dewa dan malah fokus pada Moza yang memeluk kembarannya. “Jangan lama-lama,” bisik Dewa.
Insiden tadi membuat para anggota tim kreatif infotainment Go TV bertanya-tanya. Ada masalah apa sampai Moza dan Mahalina bertengkar dan Dewa malah membela Moza. Lalu siapa pria yang dipeluk oleh Moza.
“Yang lain lanjutkan tugas kalian, tidak usah berasumsi macam-macam. Kadang kita tidak tahu siapa lawan kita, jadi hati-hati kalau bicara dan bersikap,” teriak Arta lalu menyusul dua cecunguk yang sudah dibawa petugas keamanan.