Bagaimana jika kamu menyukai adik tirimu sendiri? Itulah yang di rasakan oleh Renzo pemuda tampan yang begitu menggilai adik tirinya yang begitu manis dan polos.
"Keluar selangkah lagi, besok kamu gak akan bisa berjalan lagi. Baby!"
Renzo mengendus leher adik tirinya yang sudah menangis ketakutan.
"No, Abang jangan lakuin itu ...,"
tangisan, permohonan adik tirinya begitu candu bagi Renzo, dirinya akan semakin dominan jika adik tirinya menangis memohon ampun di bawahnya!
"You're driving me crazy darling!"
. . .
"ini salah, kita saudara, kita tidak boleh seperti ini!"
Menghadapi fantasi gila Abang tirinya membuat Nazila hampir hilang arah, hidupnya merasa tidak tenang!
baca dulu 10 bab 😁 biar tau alurnya 🤓🥀🙃💐
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _yan08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter. 29
Malamnya Lorenzo pulang sebab Nazila tak di rawat inap karena kemauan gadis itu sendiri, dan kini dirinya sudah berada di klub buat nongkrong bersama kedua temannya, tak lupa juga Yunita datang sendiri memintai pertanggungjawaban dari seorang Lorenzo.
"Ren plis, ini tuh anak Lo, masa Lo tega sih udah ngehamilin gue tapi gak mau tanggung jawab!" tukas Yunita menggoyang-goyangkan lengan Lorenzo.
"Kenapa Lo bisa seyakin ini kalo gue yang ngehamilin Lo? Lo kan lagi mabok waktu itu?" pungkas Lorenzo menatap remeh pada wanita di depannya ini.
Yunita yang di tatap remeh seperti itu merasa kesal. "Kalo Lo gak mau tanggung jawab gue bakal sebarin semua kelakuan bejad Lo selama ini, agar pihak kampus men DO Lo dari kampus!" kali ini berbalik Lorenzo yang terdiam seribu bahasa, Yunita yang melihat itu merasa senang sebab ancamnya berhasil.
"Fefftt ...." Yunita menyerngit bingung. "Lo beneran ngancem gue?" tanya balik Lorenzo. "Yunita sebelum Lo ngomong kek gitu, lebih baik Lo tanya sama orang yang perkosa Lo waktu itu!" bisik Lorenzo membuat wanita itu terkejut.
'Bagaimana mungkin. "Maksud kamu apa Ren, kan yang perkosa aku waktu itu kamu, kok kamu malah menyangkalnya seperti ini?" tukas Yunita dengan raut wajah sedikit panik.
Lorenzo hanya terkekeh remeh lalu pergi meninggalkan Yunita yang terbengong dan meneriaki dirinya, masa bodoh selagi wanita itu tak keterlaluan dia biarkan saja berlalu seperti orang gila.
"Udah aku bilang kan sayang, dia itu tidak mudah untuk di tipu apa lagi itu bukan perbuatannya ...," bisik seorang laki-laki tepat di telinga Yunita menatap penuh obsesi pada wanita di depannya.
"Bajing*n gila ...! Ini semua gara-gara Lo sialan!" teriak Yunita dengan nafas terengah-engah memukul dada bidang itu, membuat si empunya hanya terkekeh geli dengan pukulan yang seberapa itu.
"Sampai kapanpun gue gak akan Sudi buat nikah sama Lo! Apalagi hamil anak dari Lo! Kalaupun itu terjadi gue bakalan gugurin janin sialan ini!" desis Yunita menatap tajam lelaki di depannya ini.
Lelaki itu mengepalkan tangannya menahan gejolak emosi. "Yakin sayang? Ya sudah kalo itu mau lo!" bisiknya dengan suara lembut dan basah lalu pergi dari sana meninggalkan keterdiaman bagi Yunita.
Kerap kali rasa sesak dan sesal datang secara bersamaan tetapi egonya terlalu besar sehingga mengalahkan pemberontakan hati nuraninya, logika dan pikirannya hanya tertuju untuk Lorenzo seorang.
.
.
"Gimana? Lo di tanya apalagi kali ini?" tanya Liam sedikit sempoyongan akibat sedikit banyak minum.
"Biasa di mintai pertanggungjawaban." Bukan Lorenzo yang menjawab melainkan si Veroza, tak lupa juga dengan seorang wanita malam tengah berjoget di depannya yang dia bayar barusan.
"Gue pulang duluan!" Ucap Lorenzo setelah memantik rokok di bibirnya, lalu pergi keluar dari dalam klub yang nampak semakin ramai karena jam masih menunjukkan pukul 21:31 para anak remaja yang begitu penasaran dengan dunia malam datang berbondong-bondong bersama teman-teman mereka Lorenzo tak peduli itu.
Di tengah malam yang sunyi Lorenzo menatap sepi pada mansion besar itu, lalu masuk ke kamar gadisnya sudah lama rasanya tak tidur bareng ada saja kendala yang menghampiri mereka. "Baby are you asleep?"
"Abang, pinggang Zila sakit, semuanya sakit ...," gumamnya terkulai tak berdaya di atas tempat tidur, efeknya baru kerasa sebab di rumah sakit tadi siang semuanya biasa saja meskipun ada rasa nyeri di perut bagian bawahnya.
Lorenzo melepas baju beserta Hoodie yang di pakainya lalu naik ke atas tempat tidur gadisnya. "Udah jangan nangis, biar Abang usapin dari ini.” bisiknya.
Nazila memeluk lemas tangan kekar yang tengah mengusap perutnya. “Abang habis dari mana?” tanya Nazila berbalik menghadap sang Abang.
Lorenzo menunduk lalu mengecup sayang kening gadisnya. “Abis dari luar, masih sakit perutnya?” tanya Lorenzo.
“Udah berkurang, tapi masih sedikit ngilu …,” jawabnya. “Abang …?” panggilnya.
Lorenzo menunduk menatap mata gadisnya. “Abang janji ya jangan tinggalin Zila, soalnya kalo mereka tau Zila takut di buang,” gumamnya dengan nada lirih.
“Tergantung, kalo kamu nakal aku bakal buang kamu, kalo kamu nurut aman,” jawab Lorenzo. “Gue juga gak bakal bisa hidup tanpa Lo Nazila.” Lanjutnya di dalam hatinya.
“Makanya Abang jangan suka bentak-bentak Zila, Zila kadang berpikir kalo Abang cuma manfaatin Zila terus kalo Abang bosen Abang bakal buang Zila,”
“Makanya kamu nurut, jangan nakal, soalnya aku gak sudah di bantah!”
Nazila mengangguk lesu, dirinya semakin merapatkan tubuhnya untuk memeluk erat tubuh kekar milik abangnya. “Usapin lagi.” Pintanya membawa tangan kekar itu pada perutnya.
Dan … akhirnya pun dirinya tertidur lelap malam yang begitu indah untuk keduanya, perasaan besar dan rasa ingin kebersamaan begitu membuncah, jalani aja dulu jika buntu terus, terpaksa harus di akhiri.
* * *
Keesokan paginya dirinya pun terbangun tak mendapati abangnya yang berada di sisinya yang tertinggal hanya bau parfum pria itu saja. “Hah …,” Nazila pergi beranjak ke kamar mandi dengan di paksakan, wajahnya masih pucat dan tubuhnya masih demam.
Nazila termenung di depan wastafel. “Tiba-tiba Zila jadi kangen ayah Marvin, kira-kira ayah marah gak ya dengan kelakuan Zila selama ini?” molongnya.
“Zila sebenarnya gak mau seperti ini ayah, tetapi perasaan Zila semakin hari semakin gak karuan, Zila tau Zila terlalu bodoh gak berani jujur, Zila juga benci sama kelakuan Zila yang seperti ini!” tangisannya di dalam kamar mandi terisak sesenggukan.
“Maafin Zila ayah, maaf putri ayah udah kotor udah gak seperti dulu lagi!”
Nazila melanjutkan acara mandinya, lalu setelah selesai dirinya merias kantung matanya yang sedikit membengkak, akibat kebanyakan nangis di kamar mandi.
Sehabis mandi dirinya pergi turun ke bawah, untuk sarapan, saat akan turun mengguakan tangga tiba-tiba sebuah tarikan kecil mengangetkan dirinya. “Eh …”
“Ada lift sayang,” ujarnya menggendong sang gadis untuk turun ke bawah.
Nazila mengangguk lalu mengalungkan tangannya. “Abang mau kuliah?” tanyanya lalu di balas anggukan oleh sang empunya.
“Pinggang kamu masih sakit?”
“Udah gak terlalu, tapi Zila gak berani gerak bebas, takut soalnya!”
Lorenzo mengangguk lalu menurunkan sang gadis setalah pintu lift terbuka, mereka berdua berjalan beriringan menuju meja makan, yang di mana sudah di tunggu oleh kedua orangtuanya.