Adelia adalah gadis yang pekerja keras, ia merantau di kota besar agar bisa memenuhi kebutuhan ayah dan kakanya yang berada di rumah. Semua ia berikan agar bisa membahagiakan kedua orang yang sangat ia sayangi namun penghianatan kakak Adelia dan Riki membuat dirinya dibunuh dan meninggal.
Tuhan masih berbaik hati memberikannya kesempatan kedua untuk hidup, namun masalahnya ia berada di tubuh orang lain. ia bertekad untuk membalas dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cahaya_bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu
Suasana malam yang harusnya tenang dan sepi sebagai waktu untuk makhluk hidup beristirahat nyatanya menjadi semakin ramai disaat waktu menunjukkan semakin larut. Malam itu mejadi salah satu momen yang tak akan terlupakan untuk lelaki yang sudah berkepala tiga tersebut.
Karena malam ini ia akan mengikat Vanesaa menjadi calon istrinya dan setelah itu tak akan memperkenankan siapapun mendambakan atau sekedar mempunyai keinginan untuk mendekati gadis pujaan hatinya. Ia senang karena langkahnya untuk mempersunting Vanessa semakin dekat.
"Arya bersiaplah acara akan di mulai". Sang mama mendekat dan membisikan kepada mas Arya agar bersiap dengan acara pertunangan yang di simbolkan kedua cincin yang melingkar di jari masing-masing, namun sejauh mata memandang sedari tadi tak melihat Vanessa.
Padahal Vanessa adalah pusat perhatian malam ini, tanpa gadis itu ia tak bisa bertukar cincin. Sejenak mas Arya terdiam, memikirkan apakah mungkin Vanessa berubah pikiran ? Apakah Vanesaa menyadari jika dirinya tak terlalu cinta ? Ataukah mungkin Vanessa lebih mencintai lelaki lain ?.
Mas Arya melangkah hendak mencari Vanesaa, namun baru dua langkah langsung terhenti saat melihat kehadiran wanita yang sedari tadi membuatnya gelisah, datang dengan kedua orangtuanya yang saling memegang tangan kanan dan kirinya. Vanessa terlihat cantik dengan gaun berwarna salem sampai mata kaki dan lengan pendek.
Mas Arya diam terpaku memandang salah satu ciptaan Tuhan yang terlihat sangat sempurna malam ini sedang tersenyum manis sekali. Bahkan yang lebih membuatnya bahagia karena senyuman itu di tujukkan kepadanya dan berjalan menuju ke arahnya.
"Papa sama mama kesana ya sayang". Orang tua Venessa meninggalkannya saat sudah berdiri di hadapan mas Arya, mereka tak ingin menganggu kedekatan putri dan juga lekaki yang hendak menjadi calon menantu mereka.
"Kau sangat cantik malam ini". Pujinya mengulurkan tangan untuk menggiring Vanessa sampai di atas panggung yang tak terlalu tinggi, namun berhiaskan lampu sebagai tempat mereka akan bertukar cincin.
"Mas Arya juga sangat tampan". Pujinya.
Acara telah di mulai, dan para tamu yang hadir diminta untuk maju ke depan agar lebih mendekat melihat prosesi tukar cincin. Salah seorang wanita datang dan membawakan cincin yang akan mereka sematkan di jari pasangannya.
Mas Arya terlebih dulu menyematkan cincin dengan berhiaskan batu berlian berwarna biru tua yang sangat cantik di cari manis Vanessa sebelah kiri. Setelah mas Arya kini giliran Vanessa yang menyematkan cincin ke jari mas Arya dengan model lebih sederhana tanpa berlian namun tetap serasi dengan cincin yang ia pakai.
Para tamu bertempuk tangan menutup acara tukar cincin tersebut yang berjalan lancar, dan di lanjutkan dengan ramah tamah. Tak terasa waktu berlalu dengan cepat hingga para tamu bersalaman untuk mengucapkan selamat seraya pamitan.
Tinggal Vanessa dan mas Arya juga orangtua mereka. Mas Arya dan Vanessa berjalan di pinggir kolam renang yang memang acaranya di selenggarakan di salah satu restoran dengan kolam renang di bagian dalamnya. Air yang nampak jernih dan juga lampu kecil sebagai hiasan membuat tempat itu terlihat indah.
"Sekarang kau sudah menjadi calon istriku". Mas Arya meraih tangan Vanessa yang tersemat cincin disana dan menciumnya, ia bangga akan keberadaan cincin sebagai pengikat Vanessa yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai istrinya.
"Iya mas Arya juga sekarang menjadi calon suamiku". Katanya seraya tersenyum namun perlahan luntur saat rasa rindu terlintas di benaknya. Hingga mas Arya menyadari akan kesedihan yang terpancar dari sorot mata berwarna hitam cenderung coklat tersebut.
"Ada apa ?". Mas Arya menangkup salah satu pipi vanessa dan melihat dengan jelas kesedihan gadis itu. "Kau tidak perlu menutupi apapun dariku, katakanlah".
Vanessa melihat ke sekitarnya, dimana mereka agak jauh dari para orangtua dan setelah merasa cukup aman untuk bercerita, ia mengungkapkan apa yang berada di benaknya saat ini.
"Seperti yang mas Arya tau kalau mereka bukanlah keluargaku sebenarnya, aku merindukan ayah karena dihari yang penting ini tidak ada ayah di sampingku sekarang, kata kak Alena aku bukan anaknya ayah tapi tetap saja aku sudah terbiasa menganggap ayah sebagai ayah kandungku dan aku merindukannya".
Mas Arya memeluk Vanessa dan mengelus kepala yang di tumbuhi surai lebat tersebut, bahkan wangi Vanessa bisa ia cium dari jarak sedekat ini. "Aku mengerti kita akan bertemu dan mengunjungi ayahmu, apapu yang kau inginkan akan ku penuhi".
******
Setelah melewati perjalanan yang cukupp jauh akhirnya mereka sampai di sebuah desa dimana tempat tinggal Vanessa dulu saat masih menjadi Adelia. Mobil telah masuk ke dalam jalanan yang masih di tumbuhi banyak pohon dan udara yang masih asri.
Tujuan mereka telah sampai di salah satu rumah sederhana yang sudah lama tak Vanessa lihat, bahkan ia cukup gugup saat sampai di depan pintu rumah itu. Entah nanti sambutan seperti apa yang akan mereka dapat.
Bukan hendak mengungkapkan identitas, hanya saja Vanessa akan berkunjung sebagai teman Adelia. Entah Alena telah memberitahukan jadi dirinya yang asli ataukah belum kepada sang ayah, ia hanya bisa pasrah akan keadaan.
Tok tok tok
Pintu kayu bercat coklat tersebut telah ia ketuk, namun tak ada jawaban hingga beberapa kali ketukan masih belum terdengar tanda seseorang dari dalam. Ia jadi berpikir kalau sang ayah mungkin sedang keluar.
"Mungkinkah ayahmu tertidur ?". Mas Arya bertanya saat tak kunjung di buka pintu itu, ia mulai pegal berdiri namun masih setia berada di samping Vanessa untuk bertemu dengan orangtua angkat calon istrinya.
"Kau mencari siapa ?". Suara dari seorang laki-laki paruh baya yang tengah mengangkut tebu kering menggunakan sepeda membuat mereka terkejut dan menoleh. Sejenak tak ada yang menjawab sampai mas Arya membuka suara.
"Yang tinggal disini apakah sedang keluar ?". Tanyanya kepada laki-laki tersebut yang Vanessa sendiri tak ketahui padahal dulunya ia tinggal disini lama, mungkin orang desa lain tapi mempunyai sawah di desa itu.
"Yang mana yang kau maksud ? Kalau cari anak pertamanya ada di penjara kalau anak keduanya pemilik rumah ini sudah meninggal lama". Jelasnya dan masih tak menjawab pertanyaan yang mereka inginkan.
"Kalau bapak-bapak yang tinggal disini sedang ada dimana ?". Vanessa mulai tak sabar, ia ingin tau dimana ayahnya berada. Namun pria paruh baya yang berada di depannya hanya mengatakan dimana keberadaan Alena.
Entah kenapa ia merasa tak enak seperti ada yang membuatnya kian gelisah. Dan sedari tadi tak melihat sang ayah membuat kekhawatirannya semakin kuat. Dalam dirinya berdoa semoga tidak ada sesuatu buruk yang terjadi dengan ayahnya.
"Oh dia juga juga sudah meninggal".
"Apa ??".
.
.
.
.
.
.
.Dukung author dengan cara klik like, komen, vote dan tip agar lebih semangat dalam menulis.
aldikn gak tau
transmigrasi ke tubuh anak orang kaya men punya orang tua baik walaupun sibuk sama kerjaan jadi nggak perlu susah cari duit lagi