Merlisa harus menerima kenyataan pahit, bahwa mantan kekasih yang masih begitu ia cintai harus bersanding dengan kakak tersayangnya.
Dan lebih parahnya lagi, Merlisa harus terjebak dalam pernikahan sandiwara dengan seorang Arga Sebastian, CEO tampan namun angkuh dan sudah memiliki kekasih. Demi memajukan perusahaan sang papa Merlisa menerima pernikahan yang tidak di dasari oleh cinta.
Bagaimana kisah Merlisa selanjutnya? apakah ia akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ropiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
" Ini gara - gara kakak iparmu." Ucap Arga.
Merlisa hanya mengerutkan keningnya tidak mengerti.
" Maksudmu apa, aku tidak mengerti?" tanya Merlisa.
" Tadi waktu aku di cafe bersama wanitaku, tiba - tiba kakak iparmu menghampiri ku, dan langsung memukul wajahku. Dia bilang kalau aku udah nyakitin kamu, udah beristri tapi masih jalan dengan wanita lain." Ketus Arga.
"Maksudmu kak Dimas?" tanya Merlisa.
" Iya siapa lagi, yang paling parahnya, wanitaku jadi tau kalau aku sudah menikah, huh !" dengus Arga.
" Hahaha, ternyata seperti itu ceritanya." Ucap Merlisa dengan gelak tawanya.
" Gak lucu, ini semua gara - gara kakak iparmu itu." Kesal Arga.
" Sangat lucu tuan, hahaha. Dia bukan kakak iparku, tapi masih calon kakak ipar." Jelas Merlisa.
" Sama saja, beruntung wanitaku tidak marah lagi setelahku jelaskan dengannya." Ucap Arga.
" Ooo." Ucap Merlisa singkat masih mengompres pipi Arga.
" Tapi aku merasa dia marah bukan kau sebagai adik iparnya, tapi dia marah seperti kekasihnya sudah aku sakiti. Atau jangan - jangan kalian ... " Ucap Arga menggantung.
" Hai jangan berpikiran yang tidak - tidak, atau nanti aku robek mulutmu." Ucap Merlisa, sambil menekan lebam di pipi Arga.
" Aaawwww sakit tau, kenapa kau marah, apa jangan - jangan dugaan ku benar ya, hahaha." Goda Arga.
"Sekali lagi kau bicara seperti itu, akanku robek beneran mulutmu itu." Kesal Merlisa ingin berdiri pergi namun lengannya di tarik oleh Arga dan terjatuh di atas pangkuan Arga, Arga melingkarkan tangannya di pinggang Merlisa.
" Mau apa kau, lepasin." Ucap Merlisa berusaha melepaskan tangan Arga dari pinggangnya.
" Katanya kau mau merobek mulutku." Ucap Arga menatap Merlisa dan tersenyum menyeringai.
Merlisa menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah.
"Lepaskan aku tuan Sebastian!" teriak Merlisa.
Arga tidak memperdulikan Merlisa yang terus berontak.
" Kau jangan main pergi saja, kau belum selesai mengobatiku, tadi kan kamu yang memaksa untuk mengobatiku, jadi selesaikan lah." Ucap Arga santai.
" Iya aku akan mengobatimu tapi jangan seperti ini." Ucap Merlisa.
" Memangnya kenapa, kan kedua tanganmu tidak melakukan apapun." Ucap Arga santai.
Merlisa mengoleskan salep untuk mengurangi lebam yang berada di wajah Arga, Merlisa terus tertunduk enggan menatap wajah Arga.
" Hai kalau mengobati orang tuh di lihat dimana letak lukanya." Ucap Arga sambil mendongakkan kepala Merlisa, dan pandangan keduanya bertemu.
Jantung tolong kondisikan, jangan kau lompat dari tempatnya ya. Merlisa jangan sampai kau jatuh cinta dengan pria bunglon ini." Batin Merlisa.
Ingin sekali aku me****t bibirnya itu, tapi tidak tidak Arga, kau harus kontrol sikapmu." Batin Arga.
" Su sudah selesai." Ucap Merlisa salah tingkah.
"Eemmm." Jawab Arga singkat.
Merlisa berlari ke dalam kamarnya, ia berusaha mengatur detak jantungnya yang berpacu cepat seperti habis berolahraga kardio.
****
Pagi ini Merlisa sudah menyelesaikan pekerjaan rumah dan membuat sarapan.
" Hei bangun sudah siang." Ucap Merlisa pada Arga, namun kali ini Merlisa sudah berjaga jarak, jika Arga berbuat sesuatu dia sudah sigap akan menghindar.
"Eemmm, jam berapa ini." Sahut Arga dengan suara khas bangun tidur.
"hampir jam 7 pagi, kau bangun lah. Aku akan berangkat." Ucap Merlisa sudah rapih dengan pakaian formalnya.
" Kenapa begitu pagi? terus kenapa kau berbicara sejauh itu?" Ucap Arga yang bangun dari posisi tiduran.
"Tidak apa - apa aku hanya berjaga - jaga jika ada harimau menerkam, aku sudah siap menghindar." Ucap Merlisa dan berlalu ke ruang ganti Arga untuk menyiapkan pakaian untuknya.
Arga hanya mengerutkan keningnya tidak mengerti.
****
Di gedung SEBASTIAN GROUP, Merlisa sudah di sibukan dengan berkas - berkas yang harus ia kerjakan.
" Merli tolong kau minta tanda tangan pak CEO kita ya, kau harus menunggu berkas itu di tanda tangani segera, karena hari ini berkas itu harus sudah di kirim pada clien." Ucap wanita paru baya itu.
Duhh gimana nih, pria bunglon itu akan tau aku ada di sini. Batin Merlisa.
"Merli kok masih bengong, cepat sana." Ucap wanita paru baya itu.
" I iya bu." Sahut Merlisa gugup.
" Cie yang mau ketemu CEO tampan, jarang - jarang Ca bisa langsung bertatap muka oleh CEO tampan itu." Bisik Anggi yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Merlisa.
Merlisa berjalan menuju lift menekan angka 15, tempat dimana ruangan CEO berada.
" Duh aku harus menutup wajah ku dengan apa nih, dia pasti akan mengenaliku nanti." Gumam Merlisa.
" Permisi apakah pak Arga ada di ruangannya?" tanya Merlisa pada seketaris Arga yang bernama Angga.
" Ada perlu apa ya? biar saya sampaikan." Ucap Angga.
" Saya mau meminta tanda tangan beliau pak." Sahut Merlisa.
Angga mengetuk pintuk dan masuk ke dalam ruangan CEO.
" Silakan masuk mba." Ucap Angga pada Merlisa.
Merlisa masuk ke dalam ruangan CEO dengan menggunakan masker untuk menutupi wajahnya.
" Maaf pak ada yang harus bapak tanda tangani." Ucap Merlisa sambil menyerahkan map di tangannya.
Arga yang tidak asing dengan suara gadis di hadapannya, mendongakan kepala.
" Kenapa kau memakai masker?" tanya Arga, yang terus menatap Merlisa intens.
" Sa saya sedang flu pak." Sahut Merlisa gugup.
" Eemmm, kau pegawai baru di sini?" tanya Arga sedang memeriksa berkas yang di berikan Merlisa.
" Saya anak magang pak, baru beberapa hari bekerja di sini." Sahut Merlisa.
"Ya sudah, kembali bekerja." Ucap Arga dengan wajah datar, sambil menyerahkan berkas yang sudah di tanda tanganinya.
" Terima kasih pak, saya permisi." Ucap Merlisa yang di angguki Arga.
Arga menatap punggung Merlisa yang menghilang di balik pintu.
Seperti tidak asing dengan gadis itu, suaranya dan matanya aku pernah melihatnya tapi di mana ya. Batin Arga.
Arga menelpon seketarisnya Angga.
" Ga bawakan semua CV anak magang di perusahaan, bawa ke ruanganku sekarang." Ucap Arga sambil menutup telponnya.
Tidak beberapa lama Angga sudah membawa CV anak magang yang bekerja di perusahan Sebastian Grup.
"Ini pak yang tadi bapak minta." Ucap Angga sambil meletakan CV anak magang di atas meja.
" Emmm." Ucap Arga singkat yang pandangan matanya masih fokus menatap layar laptopnya.
Arga mulai memeriksa satu persatu CV yang berada di hadapannya, pada akhirnya sampai tertuju pada satu nama Merlisa.
" Jadi dia magang di sini, pantas saja aku tidak asing dengan mata dan suaranya." Gumam Arga tersenyum menyeringai.
Di dalam lift, Merlisa bisa bernafas lega.
"Sepertinya si pria bunglon itu tidak mengenaliku, tapi ia terlihat begitu keren duduk di atas kursi kebesarannya." Gumam Merlisa tersenyum kecil.
****
Jam istirahat Merlisa, Anggi, dan Natan pergi ke kantin untuk mengisi perutnya.
Sambil menunggu pesanan mereka, ke tiganya bercengkrama dan sesekali canda tawa di antara mereka.
" Boleh gabung di sini." Ucap pria yang berbadan tinggi tegap yang menghampiri Merlisa, Anggi, Natan.
Anggi dan Natan melongo melihat pria yang berada di hadapannya, sedangkan Merlisa menatap tajam kepada pria yang sudah duduk berhadapan dengannya.
Bersambung....
Jangan lupa berikan vote, like , rate, dan komennya supaya Author selalu semangat 💪🙏😁