Demi Mempertahankan perusahaan, Isabella terpaksa mengikuti wasiat mendiang ayahnya untuk bertunangan dengan putra dari koleganya. namun, percintaan itu tak berjalan mulus saat David tunangannya ternyata adalah seorang Pria hidung belang dan kasar. Hingga kemudian ia bertemu dan ditolong seorang Pria sangar yang mengaku sebagai kriminal, bernama Morgan.
Namun siapa sangka, tindakan kriminal yang dimaksud Morgan bukanlah kejahatan biasa, Melainkan misi spionase antar negara.
Bagaimana kisah cinta sentimentil, si gadis manja yang kaya dengan Pria kriminal?
follow ig author : unchiha.sanskeh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hasrat Cinta Morgan
Di antara keheningan malam, angin berdesir dengan cahaya temaram dari bulan. aku masih terisak, “Aku tak bisa menolak bahwa aku mencintai kamu, sekalipun aku tak kuasa memaksamu untuk menerimanya Morgan.”
Malam tiba-tiba semakin sunyi dan senyap, sayup-sayup terdengar suara tawa anak-anak yang bersuka ria di ruang makan. Ada sebutir bintang yang menyendiri, jauh dari kumpulan bintang di sekitarnya. Bintang itu begitu murung, namun tetap tegar pada orbitnya. Barangkali manusia tak jauh berbeda dari bintang itu. Setiap manusia harus menanggung nasibnya sendiri-sendiri, perasaannya sendiri-sendiri. Walaupun kesendiriannya itu di bagi dengan orang lain, tidak serta-merta kesendirian itu musnah. Orang berbagi sekadar agar tidak terlalu berat menanggung kesendirian. dan boleh jadi demikian halnya dengan cinta.
Ku pandangi dia, dia berjalan mendekati aku lalu membetulkan syal yang aku kenakan. Aku terharu, mengapa dia masih bisa memberikan perhatian seperti ini kepada wanita yang di tolaknya. Kemarin dia menciumku, salahkah jika aku berpikir bahwa dia telah luluh padaku? Dia bersikap di depanku dengan ekspresi yang murni dan rendah hati, rasanya aku seperti disayat sebilah pisau tajam.
“Kalau lama-lama di ruang terbuka seperti ini dengan syal dan jaket yang tidak dipakai dengan benar kamu bisa masuk angin, Isabella,” aku tahu dia berkata hanya sekadar untuk menenangkan diri. Aku tersenyum simpul berusaha mendukungnya agar kami kembali bersikap baik-baik saja.
Dengan sedikit gugup aku mengusap air mataku.
“Tema pembicaraan kita malam ini ternyata membuat kita jadi tegang dan dingin. Membuat kita jadi berjarak begini. Maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku harus minta maaf meskipun tidak bersalah, karena menyatakan perasaan cinta itu bukanlah sebuah dosa. Aku juga tahu kamu mampu bersikap baik-baik saja, bahkan aku yakin kamu bisa memahami aku. Bisa memahami betapa cinta, yang sering dianggap omong kosong itu, ternyata mmerupakan kekuatan yang tak terhindarkan. Aku tersandung berkali-kali menanggungnya. Tak berdaya.”
Dia mengusap kepalaku, lalu tersenyum simpul.
“Bicaralah, jangan diam terus seperti itu,” kecam ku padanya.
“Belum saatnya aku bicara.” Jawabnya singkat.
“Atau, kamu marah? Marah kepadaku?”
“Tidak, aku tidak marah.aku Cuma merasakan sesuatu yang tidak mudah aku rasakan. Aku perlu waktu untuk benar-benar merasakannya.”
“Ya, aku tahu. Jika melihat hubungn kita sebelum ini, memang jadi terasa ganjil dan aneh kalau aku mencintai kamu. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi, sekalipun bukan rahasia lagi bahwa orang yang paling sering bersama adalah orang yang memiliki potensi paling besar untuk dicintai. Dan aku tinggal serumah bersama kamu. Tapi, kamu harus tahu, aku tidak pernah mengharapkan cinta ini. Ia datang begitu saja, di luar permintaanku.”
Aku menatap Morgan lagi. Lalu sambil mengangkat tangannya, seakan sedang menawarkan sesuatu, aku berkata, “Semua keputusan memang ada di tanganmu, tapi aku Mohon Morgan, jangan pernah berubah.”
Dia diam, hanya diam, seperti larut dalam kebingungan yang tak berujung. Bagaimana mungkin aku masih berharap dia masih mau menerimaku, sekalipun sudah jelas dia menolak keras tentang cinta. Sungguh memerlukan waktu, bukan hanya untuk memahami dan meyakini kesanggupanku untuk masuk ke dalam perasaannya.
“Kenapa masih diam?”
Ku tatap matanya yang menyala karena tak sabar menunggu.
“Memangnya aku akan berubah jadi apa?” jawabnya sambil terkekeh, “Aku belum bisa menerima perasaan dari siapapun.. bukan karena aku ragu; aku tahu, kamu tidak sedang berpura-pura atau terpaksa. Bukan pula karena kamu tidak memiliki daya pesona sebagai wanita untuk dicintai. Kamu memiliki semuanya. Kebaikan hati, kecantikan dan kamu orang yang begitu apa adanya, sifat yang sangat aku sukai. Tapi, itu semua sama sekali bukan penentu yang mutlak, melainkan sekadar pintu pembuka kemungkinan. Aku tidak menutup kenyataan, bahwa kamu memang sudah membuka pintu itu, dan aku tinggal melangkah saja.”
Morgan menatapku dengan tatapan serius, senyuman dan tawa receh yang tadi kudengar sudah menghilang.
“Masalahnya, aku belum berhasrat untuk melangkah ke sana, ke dalam cintamu. Cintamu terlalu murni untuk jatuh kepada seorang pria seperti aku, dan jika kamu mencintaiku karena aku berbuat baik padamu, aku harap kamu jangan salah paham dengan itu. Jangan turunkan standarmu hanya karena kamu melihat hanya kepada satu pria yang ada di depanmu ini. aku tidak sebaik yang kamu pikir, jangan sampai menyesal. jalan kita tidak akan semulus kisah cinta orang lain pada umumnya, atau bahkan lebih sulit dari kisah kamu dan tunanganmu dulu.”
“Belum bukan berarti tidak, kan Morgan? Kalau kamu menolakku, kamu tak akan mengatakan tentang jalan kita di depan bila kita bersama.” Jawabku.