Sepuluh tahun pernikahan, Chiko merasa sudah tidak ada lagi cinta dengan Humaira.
Chiko mengungkapkan keinginannya untuk bercerai, agar bisa menjalin hubungan yang baru dengan Dinda. Sekertaris baru yang sudah menjadi kekasih Chiko selama beberapa bulan terakhir.
Satu bulan memenuhi keinginan terakhir Humairah sebelum bercerai, membuat Chiko merasa bahwa cintanya kepada sang istri masih sama besarnya seperti dulu.
Akankah Chiko memutuskan kekasihnya? atau tetap pada pendiriannya untuk bercerai dengan sang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon idaa_nafishaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebingungan..
Sepanjang perjalanan pulang, Chiko terus memikirkan tentang perkataan dokter mengenai usia kehamilan Dinda.
Yuni tidak mungkin berbohong soal usia kehamilan seorang pasien,kan? apa Dinda yang berbohong kepada ku?.
"Chiko, aku tahu apa yang kamu pikirkan. Mungkin kamu berpikir kenapa kehamilanku sudah 3 bulan sementara kita baru menikah 1 bulan. Ingat, sebelumnya kita selalu melakukan hubungan suami istri bahkan sebelum kamu menuruti keinginan terkahir dari istri kamu. Ups, maksudnya mantan istri kamu, Humaira."
Chiko memilih diam karena dia sedang fokus menyetir, Chiko memendam semua rasa penasarannya sampai dia sampai di rumah.
Setelah sampai di rumah..
"Chiko, kamu harus percaya padaku karena memang aku tidak pernah melakukan hubungan suami istri dengan orang lain selain kamu."
"Dinda, Kenapa kamu terlihat sangat panik? Bukankah Sekarang kamu sedang hamil dan seharusnya kita membicarakan hal ini di rumah, dengan hati-hati dan duduk santai?" tanya Chiko.
Dinda kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa diikuti oleh Chiko yang duduk di sampingnya.
"Sekarang, katakan. Apa yang ingin kamu katakan kepada aku."
"Chiko, Aku tahu kamu mungkin bertanya-tanya kenapa usia kehamilan itu sudah 3 bulan. Sedangkan usia pernikahan kita baru memasuki satu."
"Apa penjelasan kamu?" tanya Chiko berusaha untuk mengontrol emosinya mengingat sekarang pikirannya sedang terbelah, memikirkan perusahaan yang sudah di ujung kehancuran.
Dinda kemudian berusaha meyakinkan Chiko bahwa dia sendiri juga tidak tahu jika usia kehamilannya sudah memasuki 3 bulan.
"Apa kamu yakin?" tanya Chiko
"Chiko, apa kamu berpikir aku berani untuk bermain dengan laki-laki lain selama aku memiliki hubungan bersama kamu?"
"Aku tidak tahu," Chiko tiba-tiba teringat dengan tanda merah yang sempat dia temukan.
"Chiko, kamu harus percaya padaku bahwa aku sendiri juga tidak mengetahui jika usia kandunganku Ini sudah memasuki tiga bulan. Aku tidak pernah berani untuk bermain dengan pria lain?"
"Dinda, Kenapa kamu selalu mengatakan hal itu berulang kali? padahal aku sama sekali tidak menyinggung perihal hal itu."
Dinda terdiam, sementara Chiko menghela nafas panjang.
"Kau tahu, Aku harap Apa yang kamu katakan benar karena Sekarang aku sedang tidak bisa menyelidiki apakah kamu berkata jujur atau. Sekarang ada hal yang jauh lebih penting yang harus aku selesaikan mengenai perusahaan."
"Jangan khawatir, Aku akan membantu kamu untuk mendapatkan seluruh perusahaan kamu kembali."
"Bagaimana caranya?" tanya Chiko.
"Aku mempunyai teman, Dia seorang CEO muda. Aku akan mencoba untuk menghubungkan kamu dengannya. Siapa tahu, dia mau menolong perusahaan kamu yang sudah diambangkan kehancuran."
"Aku rasa itu tidak diperlukan."
"Kenapa? Bukankah kamu ingin membuktikan kepada kedua orang tua kamu bahwa kamu juga bisa bangkit dari tetap serukan walaupun mereka menarik semua investor dari perusahaan kamu?"
"Dinda, Kenapa kamu tidak menangkap poin penting dari apa yang diinginkan oleh kedua orang tua ku?"
"Apa?" tanya Dinda.
"Orang tua ku ingin melihat apakah kita berdua bisa membangun perusahaan mulai dari nol hingga mencapai kesuksesan."
"Chiko, jika kita benar-benar memulai semuanya dari nol hingga mencapai kesuksesan sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Kita bisa mendapatkannya dalam waktu dekat. Butuh bertahun-tahun untuk membangun kembali kejayaan seperti yang sebelumnya sudah kamu raih, dan aku tidak bisa menunggu waktu itu."
"Dinda..."
"Chiko, aku sudah menahan diri untuk tidak belanja barang-barang kesukaan aku. Jika kamu meminta aku untuk mengikuti kamu dan mulai semuanya dari nol hingga mencapai kesuksesan tentu saja aku tidak menginginkan hal itu."
"Bukankah sebelumnya kamu sudah mengatakan bahwa kamu akan tetap berada disampingku dalam suka maupun duka?"
"Iya, tapi tidak harus hidup dalam kebangkrutan juga."
Chiko menghela nafas panjang, sebelum akhirnya dia memilih untuk naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamar nya meninggalkan Dinda.
"Chiko, bagaimana? apa kamu mau menerima bantuan dari teman ku?" teriak Dinda.
Chiko memilih untuk tidak mendengarkan apa yang dikatakan Dinda. Chiko benar benar pusing. Urusan bisnis belum bisa dia selesaikan, sekarang masalah baru muncul.
Chiko pergi ke balkon kamar dan kembali menghubungi Yuni untuk menanyakan apakah usia kehamilan dari Dinda benar-benar 3 bulan atau ada kesalahan dalam melakukan pemeriksaan.
"Memangnya kenapa?" tanya Yuni.
"Tidak, Aku hanya tidak mengerti apakah mungkin usia kehamilannya 3 bulan sementara aku dan dia baru saja menikah selama satu bulan."
"Jika sebelumnya kamu sering melakukan hubungan suami istri sebelum pernikahan, mungkin saja itu adalah benar-benar anak kamu. Tapi Jika kamu tidak merasa bahwa kamu tidak pernah melakukan hubungan suami istri masuk. Kamu mungkin harus mencari tahu kebenarannya sendiri."
"Apa kamu yakin ini bukan termasuk kesalahan teknis saat melakukan pemeriksaan?"
"Chiko, tidak ada hasil pemeriksaan kehamilan yang salah jika melakukan USG, kecuali perhitungan manual bisa saja salah."
"Terima kasih."
Chiko menghela nafas panjang kemudian mematikan sambungan telepon nya.
Tak lama berselang, Dinda masuk ke dalam kamar dan langsung menghampiri Chiko.
"Aku sudah menghubungi temanku, dia bersedia membantu perusahaan kamu."
Chiko berbalik menatap Dinda.
"Dinda, kita bahkan belum hitungan bulan setelah perusahaan anjlok, Kenapa kamu sudah terlihat sangat bingung sehingga kamu mencoba untuk mencari bantuan secepat kilat? kita bahkan belum berusaha."
"Chiko, jika ada sesuatu yang instan yang bisa segera kita lakukan. Kenapa kita menunggu proses panjang yang melelahkan, terutama saat hasilnya sendiri kita tidak mengetahui apakah itu berhasil atau tidak."
"Kamu bener, tapi..."
"Sudah, terima saja tawaran dari temanku. Agar kita tidak terlalu lama pusing memikirkan tentang perusahaan."
"Baiklah."
Keesokan harinya...
Chiko dan Dinda bertemu dengan teman Dinda yang bernama Wijaya Arfan Gunawan.
Chiko menaruh sedikit curiga karena Dinda terlihat sangat akrab dengan Arfan.
"Terima kasih karena sudah mau membantu perusahaan kami," ucap Dinda sambil tersenyum.
"Sama-sama, Bukankah sudah aku katakan kepada kamu, bahwa aku akan membantu apapun selama aku bisa memenuhi keinginan yang membuat kamu bahagia."
"Maksudnya?" tanya Chiko.
"Maaf Tuan Chiko, aku janjinya sudah berteman sejak lama. Kedekatan kami melebihi kedekatan saudara, terutama setelah kedua orang tua Dinda meninggal dunia."
"Ahh, seperti itu."
"Sayang, kamu jangan berpikir positif. Anggap saja dia adalah kakak ku. Bagian dari keluarga yang masih ada di dunia ini."
Chiko hanya tersenyum walaupun hati kecilnya tidak bisa menerima fakta yang sedang terjadi sekarang.
Dinda, kenapa aku terlambat bertemu dengan kamu? seandainya saja aku bertemu dengan kamu sebelum kamu bertemu dengan Chiko. Mungkin yang sekarang duduk di samping kamu adalah diriku.
...----------------...
...--------------...
Ada yang kangen sama Humaira? dan penasaran sama keadaan Humaira?
Tunggu yaa, setelah nidurin bocil bakal up...
...----------------...
...----------------...
jadi gak nyambung bacanya
saya baca maraton 👍👍👍❤️❤️