NovelToon NovelToon
Anak Laki-laki Ayah

Anak Laki-laki Ayah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Hamil di luar nikah / Keluarga & Kasih Sayang / Karir / Tamat
Popularitas:533.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: Anissah

Menjadi satu-satunya anak laki-laki yang mewarisi hampir seluruh aset ayahnya, rupanya Teuku Chandra Andiyana merasa memikul setengah tanggung jawab ayahnya dalam hal lain. Usia orang tuanya yang semakin menua, membuat Chandra merasa bahwa dirinya lah yang harus menggantikan peran orang tua untuk adik-adiknya.

Sayangnya, niat baiknya untuk saudara-saudaranya terbentur dengan niat baiknya untuk segera menghalalkan kekasih hatinya. Banyak rahasia yang ia pendam, guna menjaga perasaan dan beban pikiran beberapa pihak. Nyatanya, hal itu malah semakin menyakiti pihak yang ingin ia jaga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ALA29. Mahar untuk Ceysa

"Kami mau pernikahan yang sederhana aja, Yah." Hadi dan Ceysa berbicara hampir bersama.

"Sederhana yang gimana maksudnya?" Givan mengerutkan keningnya.

"Nikah KUA, kumpul keluarga bersama. Masalah dokumentasi, kita bisa foto studio."

Harapan Zuhdi yang ingin mengundang beberapa orang, langsung pudar seketika. Harapan Givan akan resepsi sederhana dengan kumpul keluarga, malah sedikit tidak sesuai dengan ekspektasinya.

"Kalian bujang dan perawan, masa nikahnya gitu aja?" Canda menghela napasnya.

"Tak apa, Biyung. Yang penting, kita sah juga." Bukan apa-apa, Hadi dan Ceysa memikirkan biayanya. Mereka khawatir akan biayanya, mereka tak mau terlalu merepotkan orang tuanya.

"Aku khawatir sama Dayyan, kalau ada resepsi. Nanti dia sama siapa? Nanti Dayyan rewel tak? Nanti aku bisa nyusuin tak?" Ceysa menoleh sekilas pada anaknya.

"Resepsi aja sederhana, Dek. Undang teman-teman kalian, biar pada tau kalau kalian udah sah. Karena ketidaktahuan mereka, mereka nanti bertanya-tanya kalau nanti kalian tiba-tiba gandeng anak banyak." Keith berpikir, agar Sekar pun tahu berita pernikahan itu. Ia pun tak mau Sekar mengganggu Hadi, setelah pernikahan Hadi dan Ceysa karena ketidaktahuan Sekar. Keith memikirkan hal itu, karena ia teringat akan beberapa wanita yang mengganggunya kala ia hanya melakukan satu resepsi pernikahan mereka di rumah mertuanya. Padahal, ia sudah merencanakan dua resepsi untuk mengundang teman-temannya yang berada di Singapore. Jadi, tidak hanya warga kampung halaman istrinya yang tahu bahwa mereka sudah menikah. Tapi, teman-temannya yang di di Singapore juga tahu bahwa mereka sudah menikah.

"Aku tak pusingkan itu, Bang." Sekalipun belum menikah, Ceysa tidak malu untuk membawa Dayyan ke mana-mana.

"Resepsi sederhana aja, Dek. Biar Ayah yang ngatur, kalian tak perlu pikirkan ini itu. Pernikahan kalian harus berkesan, biar kalian ingat kalau pernikahan kalian itu penuh suka cita semua saudara." Givan ingin memberikan sedikit kenangan-kenangan untuk anak-anaknya.

Agar di antara semua anak-anaknya, tidak ada yang merasa iri karena dari mereka ada yang pernikahannya tidak dirayakan. Givan ingin menyamaratakan anak-anaknya, meski beberapa diantaranya bukanlah anak kandungnya sendiri atau anak orang lain.

"Tapi, Yah." Hadi merumit karena tabungannya tak seberapa.

"Tak apa. Kau udah tanya maharnya ke Ceysa?" Givan memaksa, bermaksud untuk tidak terjadi iri hati antar saudara.

"Udah, Yah. Uang aja, seratus dua puluh ribu katanya. Tanggal dua belas Dayyan lahir, dua belas kek jumlah maharnya." Hadi mengutarakan apa yang ia dapat dari Ceysa.

Givan dan Zuhdi saling memandang, jelas mereka tidak bisa berekspresi lain mendengar mahar tersebut.

"Jangan tak enak, Van. Aku tau kok, kau merasa direndahkan dengan jumlah itu. Berapa kau mau? Kau sebutkan aja? Aku bakal sanggupin lewat tangan anak aku." Zuhdi tersenyum lebar.

"Bingung aku, Di. Nikahin gadisnya Canda aja, aku keluar tujuh puluh gram emas. Belum uang dan lainnya. Mahar jandanya Canda aja, empat hektar ladang produktif, nyentuh enam miliar di masa itu. Ceysa dan Jasmine akad private pun, maharnya tak kurang dari tiga puluh mayam emas. Giska aja, sampai mau empat puluh mayam emas kan? Jadi, kau kira-kira aja lah. Tak mau aku menuntut, karena anak-anak perempuan aku pada tau kemampuan laki-laki pilihan mereka dan mereka juga tau nilai yang tak merendahkan diri mereka. Tak mau matok nilai tinggi aku, tapi aku tak sreg dengan mahar yang Ceysa mau." Givan menunduk dan menutupi wajahnya. Ia mengusap wajahnya dan memperhatikan mereka semua satu persatu. Ia merasa direndahkan dengan mahar tersebut, tapi ia tidak mengerti dengan nilai yang diminta oleh Ceysa.

"Yang besar aja coba, Dek. Tak apa." Giska pun merasa tidak cocok dengan mahar tersebut. Ia berpikir, seolah Ceysa tengah beranggapan bahwa mereka tidak akan sanggup jika memberikan mahar yang tinggi. Giska tersinggung, dengan nilai yang begitu kecil dari Ceysa.

"Kalau kau tetap ingin seratus dua puluh, biar Biyung wakilkan nilainya. Kami tak ada yang setuju, Dek." Canda mengambil tengah saja, agar pernikahan ini cepat diselenggarakan. Tak melulu banyak pembahasan, karena memiliki perbedaan keinginan melulu sejak tadi.

"Tapi, Biyung." Ceysa memiliki pemahaman bahwa mahar harus dipenuhi dari mempelai laki-laki itu sendiri, bukan orang tua mempelai laki-laki.

"Tapi apa, Dek? Kenapa?" Canda bernada selalu lembut, membuat anak-anaknya terbuka dengan pendapat mereka masing-masing.

"Mahar kan harus dari Hadi." Kalimat tersebut menjelaskan semuanya.

"Anak Laki-laki itu tetap milik ibunya, yang artinya Hadi tetap tanggung jawab orang tuanya. Kalau Hadi tak punya uang untuk kasih Ceysa makanan, pakaian, ya kami sebagai orang tuanya yang lebih sanggup, wajib kasih untuk menuhin itu semua atas nama Hadi untuk Ceysa dan Dayyan," jelas Giska perlahan.

Figur ibu di sini begitu membantu menengahi mereka semua.

"Tapi kakek dan nenek kemarin yang berperan untuk itu, karena masyik dan abusyik tak mampu untuk itu. Mereka cuma mampu minjamin, tak dengan menjamin." Zuhdi berbicara dengan nada getir, ia teringat akan rasa irinya ketika saat ekonominya begitu terpuruk. Namun, ketika pada adik-adiknya. Jelas orang tuanya bersikap lain, padahal ia selalu berusaha untuk berbakti pada orang tuanya. Sampai dirinya lah yang membuat kokoh bangunan milik orang tuanya, meski pada akhirnya menjadi rebutan adik-adiknya setelah orang tuanya tiada. Ia bersyukur, karena dirinya diberi kecukupan ekonomi. Sehingga, tidak mengulik rumah kecil yang ia buat kokoh tersebut.

"Aku juga apa-apa tuh mamah sama papah, memang keluarganya Canda ada datang kasih bantuan? Hmm, tak ada! Mereka datang untuk marahin kita aja, sampai malas aku dengarnya sampai aku tinggal tidur." Givan pun mengutamakan ketidakberuntungannya dalam satu pihak.

"Anak-anak kita jangan sampai ngerasain kasih sayang satu pihak begitu, Van. Takut nanti mengganggu bakti mereka pada kita." Zuhdi belajar dari pengalamannya kemarin.

"Betul, aku sama keluarga Canda juga kurang akur. Tapi jelas beda sama almarhum ibu mertua, janda cantik soalnya." Givan terkekeh geli.

Canda memukul pangkuan suaminya, kemudian suaminya merangkulnya dan mengusap-usap lengannya. Suasana rileks sejenak, dari pembahasan yang membuat tersinggung mereka itu.

"Disamakan kek Ma aja ya, Ceysa?" Giska menarik kembali soal mahar untuk calon menantunya.

"Berapa memang dulu, Ma?" Ceysa fokus menoleh ke arah calon ibu mertuanya.

"Tiga puluh sembilan mayam emas, untuk mahar. Uangnya seratus juta lebih kalau tak salah, tapi uangnya dipakai untuk biaya resepsi itu. Ma sih dulu ada isi kamar segala macam, hantaran tuh penuh. Tujuh rupa kain jarik, pakaian sehari-hari dan peralatan make up dan lain sebagainya. Buah-buahan dan kue khas juga ada, ada makanan jadi dan ada beberapa sayur mayur. Bahkan ada sapinya juga, ada kambing dan segala macam. Abang-abang Ma pada ngasih hadiah yang ditambahkan untuk bawaan Abu, jadi tak ada kondangan lagi."

Giska dan Hadi melongo saja, mereka kaget mendengar cerita pernikahan yang nampaknya begitu mewah itu.

"Ceysa mau disamakan kek Ma?" Zuhdi menawari ulang, karena Ceysa hanya terdiam dengan mengedipkan matanya.

...****************...

1
Yunia Spm
ampun Abang....
Yunia Spm
pengen nyomot mulut mbak Annisa 😄
Yunia Spm
apa² di pikirin... ya asam lambungnya naik to Izza....
Yunia Spm
ngekek teroooos
Yunia Spm
😆
Rosita💖
Seru ceritanya, ga monoton, banyak ilmu yang bermanfaat..
Bangga sama Othornya...
😘😘😘😘
Red Velvet
rugi gak favoritkan, ni novel seru banget🥰
mbak sri
lest goooo
Mafa
cuzzzzz berangkat. . .
tp up nya jangan lama lama ya kak
Auralia Citra Rengganis
Ok woke kak Nissaaaaaaaaa
fitrizakiah
merapat 💃💃
mboke nio
cuuzzz
Mafa
walah kak nisa jarang up tiba 2 udah tamat
aku tunggu cerita chandra selanjutnya ya
semngat kak nisa
Mafa
abang candra yg manis dan kaya raya tolong ya itu sifat curiganya dikurangi, boleh mirip sama biyung tp jngan lupa ada turunan mamah dinda juga
Batriani Betty
kk anissah makasij se-provinsi ya.. 🙏🙏🙏🙏☺ ceritanya debest. bnget lankuy ya kk cantik. "kunantikisahmuygterbaik" lagi....
HIATUS NYONYA Ris
saya suka...........
HIATUS NYONYA Ris
ih Chandra kok gitu, orang lagi setress kok di manfaatkan... Bunga itu TITIP anak, bukan kasih anak... dosa lho ambil anak orang
Red Velvet
sebegitu menyedihkannya kah nasib Bunga, sampai anaknya pun dia serahkan ke bang Chandra. memang itu sudah tepat, tapi tetap saja ibu mana yg kuat kalau terpisah sama anak yg dilahirkannya sendiri kalau bukan karena terpaksa oleh keadaan semoga akan ada kebahagiaan kelak buat Bunga🥺🥺🥺
Edelweiss🍀
Ini happy ending kah, tp agak gimana gitu karena bang Chandra belum mendapat anak dia sendiri🥺 aku jd gak rela novel ini tamat😥😥😥
Edelweiss🍀
ku harap kak Nisa segera merilis kisah Bunga juga
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!