Kisah Jerry, Eza dan Nilo seorang wanita 21 tahun yang sangat suka sekali berdiam diri di Rumah dan memiliki ilusi yang sangat kuat.
Bahkan Nilo bisa menceritakan bagaimana rupa suaminya itu, bagaimana mereka menikah, bagaimana mereka melewati malam pertama dengan begitu detail. Namun itu semua hanyalah khayalan Nilo.
Nilo tersesat antara kehidupan nyata dan imajinasinya.
Akankah Nilo tersadar dan bagaimana Nilo menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marimar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps. 29
Setelah membayar biaya treatment Nilo, Eza pun berpamitan pada Viona dan keluar dari tempat surga wanita itu.
“Ayo makan dulu.” Eza menggenggam pergelangan tangan Nilo menariknya berjalan ke arah resto yang berada di dalam mal itu. Wah benar kulitnya 2 kali lebih lembut dari sebelumnya. Batin Eza.
Mereka pun makan bersama, saat Nilo hendak mengambil air mineral, Eza terlebih dulu memegang air mineral itu hingga tangan Nilo memegang tangan Eza.
Seketika wajah Nilo bersemu dan segera melepas tangannya lalu menyelipkan rambut ke belakang telinganya untuk menghilangkan rasa grogi.
Setelah selesai makan siang mereka pun langsung akan kembali ke rumah. Ternyata saat keluar dari Mal sedang turun hujan Eza pun langsung membuka jasnya lalu menarik tubuh Nilo lebih dekat dengannya dan berjalan melewati hujan di bawah jas Eza untuk memayungi mereka berdua.
Seperti biasa Eza selalu membuka tutupkan pintu mobil untuk keluar masuk Nilo. Benar saja Eza sangat pandai menyenangkan hati wanita.
Di sepanjang perjalanan pun Eza terus memegang tangan Nilo. Nilo hanya bisa memutar kedua bola matanya jengah melihat apa yang terus saja Eza lakukan.
Sesampainya di rumah Nilo segera masuk ke dalam kamar dan seketika matanya terbelalak, ia berjalan menuju sudut ranjangnya menyingkap selimut untuk melihat lebih jelas ranjangnya itu lalu mengitari tempat tidurnya.
“Apa aku tumbuh lebih besar, mengapa tempat tidur ini terlihat lebih kecil dari pagi tadi.” Nilo berdiri di depan cermin melihat dirinya dan tempat tidurnya di dalam cermin.
Eza masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamarnya.
“Apa kau mengganti tempat tidurnya?” tanya Nilo saat melihat suaminya tiba.
“Apa kau menyukainya?” Eza berbalik bertanya pada Nilo nyatanya dia lah yang sengaja mengganti tempat tidurnya agar dapat tidur lebih dekat dengan Nilo.
“Sayang apa kau sudah menyukai ku?”
hah, pertanyaan macam apa itu? Batin Nilo kesal dengan pertanyaan blak-blak dari suaminya.
“Siapa yang akan suka dengan pria pemaksa seperti mu?” Nilo beranjak pergi untuk mengganti pakaiannya.
Grep. Belum sempat Nilo meninggalkannya, Eza terlebih dahulu menarik tangan Nilo hingga berputar dan menangkap Nilo masuk ke dalam pelukannya, mata mereka pun saling bertemu hingga terjadi saling tatap antar pasangan suami istri itu.
Di sisi lain, Ben sedang lalu lalang di sekitar pertokoan buah, sudah 2 jam ia berseliweran di jalan karena mencari mangga muda permintaan Divine namun tak kunjung menemukannya karena sekarang bukanlah musim mangga.
Sekarang ini musim hujan, kenapa harus bilang bukan musim mangga, kan hanya ada 2 musim di Indonesia ini. Gerutu Ben di dalam mobilnya bingung mau mencari kemana lagi karena mendengar ucapan pedagang yang mengatakan sudah bukan musim mangga.
“Kenapa Ben lama sekali?” tanya Divine pada suaminya itu.
“Kenapa kamu ingin hanya Ben yang membelinya, ada banyak orang yang bisa mencari mangga muda itu, kau tahu dia itu bodoh?” cakap Gara merutuki Ben yang lamban sembari mondar-mandir di dalam kamarnya.
Divine menaikkan bahunya “Entah rasanya ingin saja.” ucap wanita cantik nan sexy itu.
Ben melihat seseorang yang baru saja turun dari angkutan umum membawa keranjang pasar berisi sayur mayur. “Mungkinkah aku harus ke pasar” gumamnya pelan sembari terus melihat wanita paruh baya lewat di depannya.
“Ahh coba saja." ucap Ben dan memacu mobilnya menuju ke sebuah pasar yang ia ketahui. Tak lama kemudian ia sudah turun dari mobilnya berjalan masuk ke area pasar melewati lorong-lorong pasar yang ramai pembeli dan penjual untunglah pasar itu sudah sedikit maju hingga jalan yang di lalui tidak becek dengan sampah yang berhamburan.
Anak itu belum lahir saja sudah mewarisi sifat ayahnya dan merepotkan pamannya seperti ini. Gerutu Ben gemas pada sesuatu yang ia pikirkan.
Beruntunglah Ben yang masuk ke pasar bukan Gara yang tidak bisa bersentuhan dengan orang, bisa-bisa ia bersin-bersin sepanjang jalan.
Ben melihat pedagang buah dan langsung menghampirinya menanyakan apa ada mangga muda dengan ramah pedagang itu menjawab ”Wah istrinya pasti lagi ngidam ya Tuan, coba tuan tanya di penjual sayur.” kata pedagang buah.
Ben tersenyum lalu mengangguk setelah mengucap terimakasih pada pedagang buah walau dengan sedikit bingung, dirinya mencari buah bukan sayur kenapa malah di arahkan ke pedagang sayur begitu pikir Ben lalu memegang wajahnya “ ngomong-ngomong apa wajah ku sudah terlihat setua itu ya.” gumam Ben hampir tidak terdengar, semua mata sedang memandang ke arahnya karena tampilannya yang sangat tidak cocok berada di dalam pasar.
“Permisi, ada mangga muda nyonya?” tanya Ben sambil menahan malu memikirkan pedagang sayur malah di tanya buah, seperti orang buta saja tidak melihat bahan-bahan apa yang sedang di jual oleh sang pedagang.
“Ada Le, aduh jangan panggil nyonya, ga pantes Le panggil bule aja.” sahut pedagang sayur itu dengan ramah.
Ben menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung dengan orang-orang yang baru saja berinteraksi dengannya.
“Tolong 2 kilogram ya nyonya eh bule.” Gagap Ben yang tidak terbiasa memanggil bule.
Pedagang sayur itu menimbang mangga muda setelah genap 2 kg, pedagang itu kembali menghitung ada berapa buah jumlah mangga itu, Ben mengerutkan keningnya pikirnya untuk apa buah yang sudah di timbang di hitung kembali, apa pedagang itu mengira timbangan itu salah.
“Ini ya Le, ada 9 buah harganya 45 ribu. Mangga muda di jual per buah bukan per kilo, jadi jangan bingung melihat bule tadi menghitung jumlahnya.” ucap bule pedagang sayur dengan ramah menjelaskan pada Ben yang tampak bingung. Ben pun membayar dengan 1 lembar uang 100ribu dan pergi tanpa mengambil kembaliannya sengaja ia berikan kepada pedagang itu.
Akhirnya Ben pun sampai di rumah Divine dan menemui Divine dan Gara telah menunggunya di meja makan.
“Ada Ben?” Divine.
“Kenapa lama sekali?” Gara.
Sepasang suami istri itu bertanya dengan bersamaan.
Ben mendengus, kesal dengan pertanyaan Gara yang tidak tau perjuangannya hari ini sangat besar menurutnya. Ben terus saja berjalan menuju dapur membawa buah mangga itu. Divine pun langsung mengikuti Ben diambilnya 1 buah mangga untuk di cuci terlebih dahulu. Saat hendak mengupas mangga itu Gara datang merebut buah mangga dari tangan Divine “Biar aku yang melakukannya sayang, kau tunggulah di meja makan.” ucap Gara seraya mengambil pisau di tangan Divine.
Dua orang Pria itu menebak Divine sedang hamil, namun Divine tidak ingin melakukan pemeriksaan terlalu cepat, cukup sudah hal yang pernah terjadi , dia tak ingin kesalahannya terulang kembali.
Sementara di kamar Eza. Nilo segera melepaskan dirinya dari pelukan Eza yang cukup membuatnya salah tingkah karena tatapan penuh gairah di mata Eza.
kangen banget aku Ama Nilo
penasaran aku gak ilang² lho Thor Ama novelmu ini
setiap up adaaaa aja misterinya😁
Jan lama² ya Thor up nya aku setia nunggu lho😚
kelakuan Evan... jadi suka akunya sama doi🤭
Jerry kemana Thor? kangen juga ama cerita si Deddy satu ini😁