Frisha Natalia, kabur dari rumah ketika dipaksa menikah dengan pria beristri, sebagai penebus hutang ayahnya. Di jalan, Frisha mengalami kecelakaan hingga mengakibatkan gadis itu lumpuh.
Clyton Xavier Sebastian, pria yang tidak sengaja menabraknya, bersedia bertanggung jawab memberi kompensasi dan menjamin pengobatannya.
Akan tetapi, Frisha menolak. Dia menuntut tanggung jawab dalam bentuk lain, yakni menikahinya.
Apakah Xavier, seorang CEO perusahaan besar, mau menerima pernikahan dengan wanita asing begitu saja? Ikuti kisahnya yuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 : SEKONGKOL
Tubuh Gissel bergetar hebat, demi apa pun ia sangat ketakutan saat ini. Dia memang sangat berambisi untuk mendapatkan Xavier kembali. Akan tetapi, siapa yang menyangka? Justru Xavier menunjukkan sisi lain di hadapannya.
Padahal dulu, Xavier mencintainya, memujanya dan selalu melindunginya. Ya, itu dulu. Jauh sebelum Xavier mengendus perselingkuhan dan pengkhianatan yang dilakukan oleh Gissel.
Xavier, pria yang tegas dengan segala keputusannya. Bisa melakukan apa saja untuk wanita yang cintainya. Namun, kekecewaannya pada perempuan itu begitu dalam. Ditambah, kini terbukti Gissel berencana untuk melenyapkan istrinya. Kebencian dan emosinya semakin bertambah berkali-kali lipat. Hingga rasanya ingin menghabisi nyawa mantan kekasihnya itu di tangannya sendiri.
“Gissel! Kamu di mana sih? Dasar bodoh. Kita harus segera pergi dari kota ini kalau perlu tinggalkan negara ini jika ingin selamat. Kamu malah keluyuran enggak jelas. Mau mati kamu ya?” Suara teriakan seorang wanita di seberang telepon mengguncangkan gendang telinga Xavier.
Lelaki itu menjauhkan benda pipih di tangannya, melihat nama pemanggil yang tertera di layar itu. Sebelah alisnya terangkat, “Ibu?” gumamnya sangat pelan.
Kemudian Xavier menyalakan loudspeaker, mengayunkan kakinya mendekati Gissel dengan pandangan menunduk.
“Sel! Cepat pulang. Ni anak malah diem aja! Angkat kaki dari kota ini sampai berita tentang menantu Sebastian itu lenyap. Kau dengerin ibu ngomong apa enggak sih, Sel?!” geram Yenny emosi karena anaknya tak kunjung menjawab.
“Hmm! Apa maksud Anda?” Kening Xavier mengernyit ketika telinganya mendengar rentetan kalimat itu. Ia mendongakkan dagu Gissel dengan ujung sepatu mahalnya. Menatap wajah mengenaskan gadis itu, yang tidak berani menatap matanya. Yang bisa dilakukan Gissel, hanyalah menangis terisak.
“Si ... siapa, kamu?” seru Yenny terbata-bata ketika mendengar suara bariton yang seketika membuatnya bergidik. “Di mana Gissel?” sambungnya lagi, panik mulai merambat di sekujur tubuhnya.
Xavier tersenyum menyeringai, walaupun tak terlihat oleh Yenny. “Kau ingin bicara dengan putrimu? Atau ... bertemu langsung dengannya? Tunggulah, aku akan segera menjemputmu!” sahut Xavier membungkukkan tubuhnya, menyodorkan ponsel pada Gissel. Gissel menatap ponsel dan mata elang lelaki itu bergantian. Tubuhnya masih bergetar hebat, napasnya tersengal.
“Bicaralah!” tegas Xavier dengan tatapan yang sangat tajam, seolah bisa mengoyak benda apa pun yang ada di depannya.
“I ... ibu,” panggil Gissel yang ingin menangis.
Sementara itu, di balik telepon, Yenny terkejut luar biasa. Dadanya bertalu kuat ketika mendengar suara bariton yang begitu dingin dan mengancam.
“Ibu tolong Gissel,” rintih Gissel lagi menyadarkan keterkejutan Yenny.
“Ka ... kamu ....” Tenggorokan Yenny tercekat. Tidak bisa melanjutkan ucapannya. Buru-buru Yenny menutup teleponnya.
Xavier mengeluarkan senyum iblisnya. Tawanya menggelegar dan mampu membuat siapa pun bergidik mendengarnya. Tak lama kemudian, wajah tampan itu kembali mengeluarkan ekspresi kejam dan menyeramkan.
Lelaki itu menegakkan punggungnya, menyerahkan ponsel pada Cliff dan memintanya segera melacak keberadaan wanita yang menelepon tadi.
“Jadi, kamu sekongkol dengan ibumu?” tanya Xavier dengan sekujur tubuh yang kembali menegang. Kilat mata elangnya yang memerah, memindai seluruh tubuh Gissel.
“Kalian ini manusia atau iblis, hah?” berang Xavier menendang nakas di sampingnya. Barang-barang yang ada di atasnya jatuh berhamburan. Andai kakinya mengayun pada Gissel, kemungkinan perempuan itu langsung sekarat.
Gissel semakin meringkuk ketakutan. Tidak pernah terbayangkan dalam hidupnya, akan menjadi tawanan mantan kekasihnya sendiri.
“Cepat temukan dan seret perempuan laknat itu, Cliff! Kabari jika sudah kamu rantai tangan dan kakinya. Kalau perlu lehernya sekalian!” ucap Xavier penuh penekanan dan geraman tertahan.
“Baik, Tuan!” sahut Cliff menundukkan kepala sejenak, sampai bos besarnya berbalik dan melenggang dengan langkah yang cepat.
\=\=\=\=000\=\=\=\=
Di lain tempat ....
Panik mulai merajai tubuh Yenny, ketika menyadari terlambat melarikan diri dari Kota Palembang. Malam itu juga, di bawah gelapnya langit yang membentang, wanita paruh baya itu bergegas melarikan diri dengan sebuah tas yang cukup besar di tangannya. Ia tidak mau tertangkap, padahal belum melihat secara langsung bagaimana hancurnya Keluarga Sebastian saat ini.
Kaki yang terseok terus menyusuri jalanan yang sepi, semakin menjauh dari rumah kumuhnya. Tidak akan ada transportasi yang melalui tempat tinggalnya. Sehingga mengharuskan Yenny segera sampai di jalan raya.
“Bodoh! Kau memang bodoh, Gissel! Seharusnya aku tidak menunggumu, langsung pergi meninggalkanmu! Ternyata keturunan mereka tidak seperti ayahnya, yang mudah dibodohi!” umpat Yenny kesal mempercepat langkahnya walaupun merasa kesulitan.
Yenny berjalan cepat ke sembarang arah, ia harus segera menemukan taksi atau bus yang bisa mengantarkannya pergi dari tempat itu sejauh-jauhnya.
“Aku yakin, menantumu sudah menjadi abu sekarang, Khansa! Dan kalian sedang hancur meratapi nasibnya. Hahaha!” pekik wanita tua itu tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.
Sudah cukup jauh Yenny melangkah. Napasnya mulai tersengal-sengal, peluh pun membanjiri seluruh tubuhnya. Kedua kakinya sudah teramat pegal bahkan gemetar.
“Sialan! Kenapa malam ini sepi sekali sih!” gerutunya ketika sudah mencapai jalan raya yang lebar, tetapi tak satu pun ada mobil yang melintas.
Yenny berhenti sejenak, mengedarkan pandangannya. Hingga keningnya mengernyit dan menajamkan pandangan matanya ketika melihat seseorang yang sangat ia kenali tampak sedang mengomeli seseorang di depan mobil yang berhenti.
Setelah beberapa detik memastikan, bahkan sampai mengucek matanya berulang kali, kini netra itu melebar dengan sempurna. “Jihan?” gumamnya.
Bersambung~
Nah Lo, gimana reaksi mereka kalau ketemu 😂 aku jadi penisirin,,,wkwkwkk... banyakin komennya ya gaes. Kalo rame nanti up lagi, kalo enggak, ya besok lagi 😂 Gift dan votenya juga boleh, wkwkwk.
con; ketika panik, terburu2, kan gak mungkin memakai kata melenggang.
Melenggang itu lbh ke arah berjalan santai...
sdh terburu2 mosok pakai kata melenggang..
sungguh mantap sekali ✌️🌹🌹🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘