Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 13 MEMBERIKAN YANG TERBAIK
"Jika itu memang pilihan kamu... jangan harap saya akan menerima kamu kembali." Setelah mengatakan itu Dimas melangkah pergi masuk ke dalam Villa di ikuti Sinta dan Nana dari arah belakang.
Namun, sebelum Nana benar-benar pergi, dia mendekat ke arah kakak tirinya yang sedang membereskan barang-barangnya yang berserakkan lalu membisikkan sesuatu padanya.
"Aku menang Aline dan apapun yang kamu miliki akan menjadi milikku... Termasuk laki-laki itu." bisik Nana dengan menekan kata diakhir kalimatnya sambil melirik ke arah Erlangga yang sedang memasukkan barang-barang kakak tirinya ke dalam mobil.
Tangan Aline terhenti saat ia akan meraih pigura alm.Ibunya, ia menatap tajam ke arah Nana. "Dan kali ini aku tidak akan membiarkanmu mengambil Ayah dari anakku." balas Aline dengan berani.
Nana langsung menarik tubunya menjauh dari kakak tirinya. Ia tampak biasa saja mendengar kalimat itu seolah ia yakin bahwa ia akan tetap berhasil berada di atas kakak tirinya.
Tanpa membalas perkataan Aline, Nana langsung masuk menyusul kedua orang tua nya.
Aline hanya menghela napas lelah. Ia berharap kehidupannya nanti dijauhkan dari cobaan seperti adik tirinya, saat ia termenung tiba-tiba Erlangga datang menghampirinya.
"Sudah selesai, sebaiknya kita pergi dari sini."
Erlangga menuntun Aline masuk ke dalam mobil, ia membukakan pintu tersebut dan memastikan wanitanya duduk dengan nyaman.
Lalu ia segera beralih ke sisi lain dan masuk ke kursi kemudi. Hari ini sangat melelahkan bagi Erlangga tapi semuanya sepadan dengan kehadiran Aline dan kabar baiknya ia akan menjadi seorang ayah.
Kini mobil itu melaju ke balai desa terlebih dahulu, sebelum akhirnya Erlangga memutuskan untuk mencari Villa agar Aline dan kandungannya bisa nyaman.
Selama perjalan keduanya masih terasa canggung, ini pertemuan pertama mereka setelah kejadian malam itu.
Erlangga tau, Aline masih tampak shok dengan kejadian yang menimpanya, ia memutuskan tidak banyak bicara agar Aline menenangkan dirinya terlebih dahulu. Hingga akhirnya ia melihat Aline yang tertidur dengan sisa jejak air mata di pipinya.
Tangannya terulur merapikan anak rambut yang menutupi wajah Aline. "Aku akan memastikan kamu dan anak kita hidup bahagia... maafkan aku karena kesalahanku yang tidak bisa menahan diri akhirnya membuat hidupmu seperti ini." bisik Erlangga tersirat rasa bersalah kepada wanita itu.
Beberapa menit kemudian kini mobil yang dikendarai Erlangga akhirnya tiba di depan halaman balai desa.
Di depan pintu, Reno sudah berkecak pinggang menunggu kehadiran sahabatnya untuk dimintai penjelasan. Namun, lagi-lagi realitanya ia di jatuhkan semakin dalam saat melihat Erlangga turun bersama wanita yang diam-diam ia kagumi.
Erlangga langsung membawa Aline masuk ke dalam dan menyuruhnya duduk di kursi yang ada di ruangan itu. Ia menghampiri Reno sebentar guna menanyakan kotak PT3K.
"Di mana kamu simpan kotak obatnya?" tanya Erlangga tanpa menatap wajah Reno yang sudah masam.
"Di laci." jawabnya singkat.
Tanpa bertanya lebih lanjut Erlangga langsung mengambilnya dan mengobati tangan Aline yang terluka akibat kejadian tadi.
"Aku obati dulu, ya. Kalau tidak segera dibersihkan takut infeksi." ujar Erlangga lembut.
Aline mengangguk pelan sambil mengulurkan tangannya. Ia melihat pria itu sangat lembut dan telaten saat mengurus dirinya.
"Sts..." ringis Aline saat merasakan perih saat Erlangga memberinya antiseptik.
"Kalau aku terlalu kasar, kamu langsung bilang saja aku akan lebih pelan." katanya sambil terus mengobati luka Aline.
Aline hanya bergumam pelan, jujur saja ini pertama kalinya ia diperlakukan selembut ini oleh pria dan itu membuat perasaanya tersentuh.
Di sisi lain, Reno yang semakin panas karena rasa cemburu. Saat melihat kedekatan Aline dan Erlangga membuatnya tidak bisa lagi mehanan dirinya.
Setelah Erlangga selesai mengobati luka Aline, tiba-tiba saja Reno menarik tangannya dengan paksa. Membawanya sedikit menjauh dari wanita itu.
"Erlangga... kenapa kau bisa mengenal, Aline?" cecar Reno dengan wajah menuntut.
Erlangga tidak membalas pertanyaan itu, ia melangkah menuju mobilnya lalu membuka bagasi dan mengeluarkan lukisan tersebut.
Tanpa menunggu Erlangga menyerahkan benda tersebut, Reno langsung merebutnya. Seketika kedua matanya membelalak tidak percaya saat membuka lukisan itu yang ternyata wajah Aline. Wanita pujaan hatinya ternyata wanita yang dicari-cari sahabatnya.
Kedua bahu Reno merosot, wanita yang mencuri perhatiannya adalah milik sahabatnya sendiri, wajahnya langsung tertunduk lesu. Ia kehilangan semangatnya berada di tempat itu.
"Cinta pertamaku bertepuk sebelah tangan... bahkan sebelum aku menyatakan perasaan ini." gumam Reno pelan, ia tertunduk sedih meratapi nasib cintanya.
Erlangga mengangkat sebelah alisnya merasa bingung, saat melihat gelagat aneh sang sahabat.
"Kenapa ekspresi kamu seperti itu? Bukanya memberiku selamat karena sudah menemukan wanita yang aku cari." kata Erlangga yang tidak tau jika sang sahabat menyukai wanitanya.
Reno mengangguk lemas. "Selamat..." ucapnya singkat dengan nada lesu yang terdengar dipaksakan.
Tanpa ingin menanyai kondisi sang sahabat, Erlangga memutuskan untuk kembali masuk ke dalam. Ia harus menyiapkan tempat tinggal untuk Aline sebelum waktu gelap.
Ia melangkah masuk, lalu mendekat ke arah Aline yang sedang memandangi sebuah pigura foto yang tidak Erlangga ketahui gambar siapa.
Aline yang melihat Erlangga mendekat dengan cepat menyimpan pigura poto tersebut.
Pria itu duduk di sampingnya, menatap ke dalam matanya dengan pandangan intens, ia tidak tau apa yang pria itu pikirkan. Meski wajahnya terlihat sangat lelah tidak membuat ketampanannya berkurang.
"Sebaiknya kita cari Villa yang dekat di tempat ini, kamu butuh istirahat apalagi sebentar lagi malam hari." ucap Erlangga.
"Nggak perlu pesan Villa, itu terlalu mahal... aku cari kosan aja kalau gitu." tolak Aline dengan cepat, ia tidak ingin membebani pria itu terlebih mereka belum memiliki status resmi.
"Tidak apa-apa! Uang bukan masalah, yang penting kamu nyaman. Kalau gitu aku akan cari Villa yang dekat dengan rumah dinas, agar aku bisa memantau kamu." jelas Erlangga dengan penuh perhatian.
Setelah mengatakan itu Erlangga beranjak dari tempat duduknya. Lalu pergi dari sana tanpa menunggu jawaban Aline.
Aline menatap punggung tegap Erlangga dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia masih takut menyimpan harapan pada laki-laki itu, ayahnya saja bisa memutuskan hubungan dengannya begitu saja, apalagi ia hanya orang asing yang datang secara tiba-tiba dalam kehidupan pria itu.
Di sisi lain, Erlangga sedang sibuk mencari Villa yang kosong. Bahkan ia siap membelinya malam itu juga, namun hanya ada Villa yang jauh dari rumah dinas yang ia tempati dan ia tidak bisa membiarkan Aline jauh dari pengawasannya. Apalagi kondisi wanita itu sedang hamil.
Kini Erlangga sedang ber-koordinasi dengan kepala desa setempat untuk meminta izin, bahwa calon istrinya akan menempati rumah dinas bersama dengannya.
"Bagaimana... Pak Kades apa Bapak menginjinkannya?" tanya Erlangga sopan.
"Silakan Pak Dokter! Saya mengijinkannya, tapi Anda tau sendiri rumah dinas kami tidak sebagus dan senyaman Villa." kata Pak Kades tersebut sambil terkekeh kecil.
Erlangga mengucap syukur. Setidaknya untuk sementara waktu, ia bisa dekat dan memantau Aline agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.
"Tidak masalah Pak! Kalau begitu terima kasih, saya permisi dulu mau bersiap-siap." pamit Erlangga. Ia langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Iya, Pak Dokter! Semoga betah di desa kami dan bisa membantu masyarakat di sini." ucap Pak Kades dengan ramah.
Erlangga hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Ia langsung terburu-buru pergi dari sana dan harus menyiapkan keperluan Aline agar wanita itu dan calon anaknya bisa secepatnya istirahat.
Seram, Erlangga seram😬😬😬😬🤣
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣