NovelToon NovelToon
KATAKAN CINTA

KATAKAN CINTA

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:289
Nilai: 5
Nama Author: Raden Saleh

Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

INVESTIGASI DIMULAI

"Keluar kalian berdua! Sekarang juga ikut Ibu ke ruang BK!"

Suara melengking Bu Lastri sukses mengakhiri drama akting kelas Oscar milik Aldi. Alhasil, sisa jam pelajaran pertama tidak mereka habiskan dengan tidur nyaman di kasur UKS, melainkan dengan menyalin tata tertib sekolah sebanyak tiga halaman penuh di ruangan yang paling ditakuti se-SMA Bina Karya.

"Ini semua gara-gara bakso lu, Ngga," bisik Aldi dengan tangan yang gemetar menyalin kalimat 'Saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan indisipliner...' untuk yang keseratus kalinya.

"Lah, kok gue? Lu yang tiba-tiba improvisasi bawa-bawa kuah bakso tumpah di otak!" balas Rangga tak kalah sengit, sambil buru-buru menulis sebelum penggaris besi Bu Lastri mengetuk meja mereka lagi.

Setelah melewati penderitaan panjang dan jam sekolah yang terasa berjalan seperti keong, bel pulang akhirnya berbunyi. Di sinilah mereka sekarang, duduk di warung kopi Mak Iyoh yang terletak persis di seberang gerbang sekolah. Sesuai perjanjian, dua mangkok bakso urat dengan kuah merah membara dan dua gelas es jeruk sudah tersaji di depan meja.

"Gila, ini baru namanya surga dunia," ujar Aldi, langsung menyambar sendok dan menyantap baksonya tanpa ampun. "Hukuman Bu Lastri tadi beneran menguras kalori gue, Ngga."

Rangga hanya mengaduk-aduk es jeruknya dengan sedotan, pandangannya lurus menatap motor Vega-nya yang terparkir di pinggir jalan. "Al, buruan telpon sepupu lu. Jangan makan doang yang cepat."

"Sabar, pahlawan kesiangan. Makan bakso itu butuh ketenangan jiwa. Kalau tersedak, info tentang tuan putri lu bisa melayang," sahut Aldi santai. Setelah menghabiskan setengah mangkok dalam waktu rekor, Aldi akhirnya merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponselnya yang layarnya sudah retak seribu.

Dia mencari sebuah nama di kontak, lalu menekan tombol panggil dan menyalakan fitur loudspeaker.

Tut... Tut... Tut...

"Halo? Assalamualaikum, Bang Aldi ganteng tapi bohong, ada apa nih tumben nelpon?" suara seorang cewek terdengar dari seberang telepon, diiringi suara latar belakang yang cukup bising seperti suasana kafe elite.

Aldi langsung berdeham, sok berwibawa. "Waalaikumsalam, curut. Lu lagi di mana, Tasya? Masih di sekolah?"

"Udah pulang lah. Ini lagi nongki sama anak-anak di mall dekat sekolah. Kenapa emangnya? Mau minta jemput? Ogah ya, sopir gue lagi males nerima penumpang daki kayak lu," cerocos Tasya tanpa rem.

Rangga yang mendengarkan langsung menahan tawa, sementara Aldi memasang muka kecut karena harga dirinya jatuh di depan Rangga.

"Sembarangan lu! Gini, Sya... gue mau nanya serius. Di sekolah lu, SMA Garuda Bangsa, hari ini ada anak baru pindahan nggak? Cewek, cakep, namanya Cinta Alisya." Aldi langsung menembak ke inti sasaran sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Rangga.

Rangga seketika mencondongkan badannya ke depan ponsel, menahan napas menunggu jawaban.

Di seberang sana, sempat terjadi keheningan beberapa detik sebelum Tasya menjawab, "Hah? Cinta Alisya? Oh, anak konglomerat pemilik Alisya Group itu ya? Yang tadi pagi heboh di sekolah karena diantar pakai tiga mobil sport?"

Mendengar itu, Rangga dan Aldi saling berpandangan.

"Serius lu, Sya? Sampai segitunya?" tanya Aldi meyakinkan.

"Iya, serius! Satu sekolah langsung gempar tadi pagi. Dia masuk kelas XI IPA 1, kelas unggulan internasional yang isinya anak-anak jenius plus tajir melintir. Emangnya kenapa sih? Lu berdua kenal? Nggak usah ngimpi deh, standarnya dia itu cowok-cowok modelan artis Korea, bukan modelan anak STM yang hobi nongkrong di perempatan," ketus Tasya, jujur tapi menyakitkan.

"Kepo lu ah! Ya udah, makasih infonya, curut. Nanti gue beliin seblak kalau pulang ke rumah nenek," ujar Aldi sebelum langsung mematikan sambungan telepon sepihak.

Aldi menatap Rangga yang kini mendadak lesu. Info dari Tasya barusan bukannya bikin Rangga semangat, malah bikin mentalnya makin ciut.

"XI IPA 1... kelas internasional... diantar tiga mobil sport..." gumam Rangga, tersenyum kecut. "Al, kayaknya ucapan lu di lapangan tadi emang bener deh. Gue sama dia itu emang beda dunia. Kayaknya gue harus sadar diri."

Aldi menghela napas panjang. Dia meletakkan sendoknya, lalu menepuk pundak Rangga dengan keras, membuat Rangga sedikit tersentak.

"Ngga, dengerin gue. Tadi pagi siapa yang bilang ke gue kalau cinta itu nggak mandang kasta? Siapa yang bilang kalau perasaan dia itu beneran dan bukan cuma cinta monyet? Mana Rangga yang tadi berapi-api mau 'Katakan Cinta'?" tanya Aldi dengan nada yang mendadak serius, jiwa solidaritasnya sebagai sahabat mulai keluar.

Rangga terdiam, menatap mangkok baksonya yang mulai mendingin.

"Gue emang suka ngeledek lu, gue emang bilang kalian beda kasta. Tapi itu biar lu bersiap sama kenyataan, bukan buat bikin lu mundur sebelum perang, Bro!" tegas Aldi. "Gembok gerbang Pak Ma'ruf yang segede gaban aja bisa kita akalin sampai kita lolos ke UKS, masa tembok SMA Garuda Bangsa nggak bisa kita jebol?"

Mendengar ucapan Aldi, ada sesuatu yang kembali menggelitik di dalam dada Rangga. Rasa minder yang sempat menyelimutinya perlahan terkikis oleh solidaritas sahabatnya yang luar biasa badung ini.

Rangga mendongak, matanya kembali menatap tajam. "Terus, rencana lu apa, Al?"

Aldi tersenyum licik, senyuman khas yang biasanya muncul kalau dia punya ide kriminal atau ide gila untuk bolos sekolah. Dia mencondongkan badannya ke meja, berbisik misterius.

"Besok kan hari Jumat. Pulang sekolah biasanya anak-anak Garuda Bangsa langsung nongkrong di coffee shop seberang sekolah mereka. Tasya bilang dia juga bakal di sana. Kita bakal nyusup ke sana."

"Nyusup? Pakai seragam sekolah kita? Yang ada kita langsung diusir sama sekuriti karena dikira mau tawuran, Al!" protes Rangga realistis.

"Ya kagak lah, bego! Kita pakai baju bebas yang agak rapihan dikit biar dikira anak kuliahan atau anak tajir yang lagi nyasar," jelas Aldi sambil menjentikkan jarinya. "Gue bakal minta Tasya buat ngenalin kita secara 'nggak sengaja' ke sirkelnya si Cinta. Begitu lu dapet kesempatan buat ngobrol sama Cinta, lu langsung ambil tindakan. Gimana?"

Rangga menimbang-nimbang rencana gila itu di otaknya. Ini berisiko tinggi. Kalau mereka ketahuan atau dicueki, malunya bisa sampai lulus sekolah. Tapi di sisi lain, ini adalah satu-satunya kesempatan bagi Rangga untuk bisa kembali menatap mata indah cewek yang selama ini mewarnai hari-harinya.

Rangga mengepalkan tangannya di atas meja. "Oke. Gue ikut rencana gila lu. Besok pulang sekolah, investigasi kita dimulai!"

"Nah, gitu dong! Itu baru sahabat gue yang otaknya agak gesrek!" Aldi tertawa puas, lalu kembali menyambar es jeruknya. "Tapi inget ya, bensin si Vega lu isi penuh malam ini. Jangan sampai pas kita lagi konvoi sama mobil-mobil sport di sana, motor lu malah kentut terus pingsan di tengah jalan!"

"Sialan lu! Iya, entar gue beliin Pertamax sekalian biar si Vega gaya dikit!" balas Rangga, disambut tawa lepas keduanya yang menggema di warung Mak Iyoh.

Sore itu, obrolan di warung Mak Iyoh berakhir setelah mangkok bakso mereka bersih tak tersisa. Sesuai kesepakatan, malam harinya markas investigasi berpindah ke kamar Rangga. Kamar berukuran tiga kali tiga meter yang dindingnya dipenuhi poster band dan coretan lirik lagu itu mendadak berubah menjadi ruang ganti darurat.

"Ngga, lu serius mau pakai kemeja ini?" Aldi mengangkat sebuah kemeja flanel kotak-kotak merah dari atas kasur dengan dua jari, wajahnya berkerut jijik seolah sedang memegang kaus kaki busuk. "Ini mah bukan mau nyusup ke sirkel anak elite, tapi mau kerja bakti bangun jembatan!"

Rangga yang sedang mengacak-acak isi lemarinya langsung menoleh, tidak terima. "Heh, sembarangan lu! Itu kemeja andalan gue kalau mau malam mingguan ya! Bahannya adem, murni katun!"

"Ketinggalan zaman, Pahlawan! Sekarang anak-anak seumuran kita di Garuda Bangsa itu kiblatnya streetwear minimalis, atau kalau nggak yang casual-preppy ala-ala anak senja Jakarta Selatan. Kain kotak-kotak lu ini udah pensiun dari tren sejak tahun lalu!" cerocos Aldi, melemparkan kemeja itu kembali ke kasur.

Aldi kemudian ikut membongkar lemari pakaian Rangga tanpa izin, membuat tumpukan baju yang sudah rapi menjadi berantakan dalam sekejap.

"Al, lu kalau mau berantakin lemari gue, mending pulang deh! Emak gue bisa ngamuk kalau liat kamar gue kayak kapal pecah begini," gerutu Rangga sambil memunguti beberapa kaus yang jatuh ke lantai.

"Tenang, demi kelancaran misi 'Katakan Cinta', semua pengorbanan ini worth it," sahut Aldi santai. Tiba-tiba pergerakan tangannya berhenti. Matanya berbinar saat menarik sepotong pakaian dari tumpukan paling bawah. "Nah! Ini dia! Jackpot!"

Rangga mengernyitkan dahi melihat pakaian yang dipegang Aldi. Itu adalah sebuah jaket bomber berwarna hitam polos dengan bahan yang sedikit mengkilap, dipadukan dengan kaus putih polos bermerek distro lokal.

"Lu pakai ini besok, Ngga. Kaus putih di dalam, jaket bomber-nya jangan dikesleting, biarkan terbuka. Terus celananya pakai jins hitam yang lu pakai pas perpisahan kelas sembilan dulu—yang potongannya slim fit, jangan yang komprang kayak celana silat," perintah Aldi, bertindak seolah-olah dia adalah desainer fesyen papan atas internasional.

Rangga menerima jaket tersebut, lalu mencobanya di depan cermin lemari yang agak berdebu. Dia mematut dirinya dari berbagai sudut. "Hmm... oke juga sih. Kelihatan rapi tapi gak kaku. Tapi lu sendiri pakai baju apa besok, Al? Jangan sampai lu malah pakai baju compang-camping pas nemenin gue."

Aldi menepuk dadanya dengan bangga. "Gue mah udah siap, Bro. Gue bakal pakai kemeja oversize hitam lengan pendek, dalamannya kaus hitam, plus celana cargo. Kita bakal kelihatan kayak duo agen rahasia yang lagi menyamar di sarang penyamun."

"Sarang penyamun pala lu peyang! Itu tempat tongkrongan pacar gue, ya!" potong Rangga sambil melempar bantal ke wajah Aldi.

"Calon pacar, Ngga. Belum resmi. Jangan kepedean dulu, entar jatuhnya sakit," ralat Aldi dengan seringai jahilnya yang khas, berhasil menangkap bantal tersebut dengan cekatan.

Setelah urusan kostum selesai, keduanya duduk lesehan di lantai kamar yang beralaskan karpet plastik motif catur. Di tengah-tengah mereka, sebuah buku tulis diletakkan dalam kondisi terbuka. Di halaman pertamanya, tertulis judul besar dengan huruf kapital yang tebal: OPSI PENYUSUPAN CAFE GARUDA.

"Oke, sekarang kita bahas taktik," ucap Aldi, mengetuk-ngetuk pulpen ke lantai dengan gaya sok serius. "Gue udah interogasi Tasya lebih lanjut lewat chat tadi. Besok jam empat sore, sirkelnya si Cinta bakal ngumpul di kafe namanya 'The Glasshouse'. Itu kafe yang dindingnya kaca semua, yang menunya pakai bahasa Inggris yang kalau dibaca bikin lidah keriting."

"Terus, gimana caranya kita bisa gabung ke meja mereka tanpa kelihatan aneh?" tanya Rangga, menopang dagunya dengan kedua tangan.

"Strateginya begini: Begitu kita sampai di sana, kita jangan langsung nyamperin meja mereka. Kita pesan minum dulu di kasir, cari meja yang agak dekat tapi nggak mencolok. Nah, nanti si Tasya bakal akting pura-pura ke toilet. Pas dia balik dari toilet, dia bakal sengaja 'nemuin' gue di meja kita. Dia bakal teriak, 'Eh, Bang Aldi! Kok ada di sini?' Nah, dari situ otomatis sirkelnya Cinta bakal nengok ke arah kita," jelas Aldi, memaparkan skenario buatannya dengan penuh percaya diri.

Rangga manggut-manggut, mulai terhanyut dengan rencana gila sahabatnya. "Oke, masuk akal. Terus setelah Tasya ngenalin kita, apa yang harus gue lakuin?"

"Lu harus pasang muka cool, Ngga. Jangan kelihatan grogi, jangan kelihatan kayak anak SMA Bina Karya yang habis dihukum jemur sama Pak Ma'ruf. Pas Tasya ngenalin lu ke Cinta, lu sapa dia dengan santai, kayak dua orang teman lama yang kebetulan ketemu lagi. Biarkan sirkelnya tahu kalau lu itu bukan orang asing di hidup Cinta."

Rangga menghela napas panjang, mendadak dadanya terasa berdebar kencang hanya karena membayangkan skenario itu benar-benar terjadi besok. "Al... kalau nanti pas di sana, Cinta malah pura-pura nggak kenal sama gue gimana? Atau gimana kalau sirkelnya malah ngetawain gue karena bau minyak wangi murah?"

Mendengar keraguan Rangga, Aldi menghentikan ketukan pulpennya. Dia menatap sahabatnya itu dengan pandangan yang jarang sekali dia tunjukkan—pandangan seorang saudara yang siap pasang badan.

"Ngga, Cinta Alisya yang gue tahu dari cerita lu selama dua tahun ini, bukan tipe cewek sombong yang bakal ngelakuin hal kayak gitu. Kalau dia emang kayak gitu, lu nggak bakal jatuh cinta sejauh ini sama dia, kan?" tanya Aldi lembut. "Dan soal sirkelnya... kalau ada yang berani ngetawain lu, tenang aja. Gue yang bakal maju duluan buat ngajak mereka ribut di parkiran."

Rangga tersenyum mendengar ucapan Aldi. Rasa hangat menjalar di hatinya. Solidaritas seorang sahabat badung seperti Aldi ternyata jauh lebih berharga daripada apa pun saat ini. "Makasih, Al. Gue beruntung punya sahabat segila lu."

"Yoiy lah! Tapi inget, besok lu yang bayar kopi gue di kafe itu ya. Denger-denger harga kopi di sana setara sama harga bensin Vega buat dua minggu," cetus Aldi, langsung merusak momen haru yang baru saja terbangun.

"Sialan! Tetep aja ujung-ujungnya duit!" umpat Rangga, disambut tawa terbahak-bahak dari keduanya.

Malam semakin larut, suara jangkrik di luar jendela kamar Rangga mulai bersahut-sahutan. Aldi akhirnya pamit pulang setelah memastikan semua rencana mereka matang dan tertulis rapi di buku 'investasi' mereka.

Setelah mengunci pintu depan, Rangga kembali ke kamarnya. Dia berjalan mendekati meja belajar, lalu mengambil sebuah foto berukuran dompet yang dia selipkan di bawah kaca meja. Di foto itu, terlihat Cinta Alisya sedang tersenyum lebar ke arah kamera saat acara perayaan ulang tahun sekolah tahun lalu. Rambut panjangnya yang dikuncir kuda tampak bergoyang tertiup angin, dan matanya yang berbinar selalu berhasil membuat dunia Rangga berhenti berputar sejenak.

Rangga menyentuh permukaan foto itu dengan ujung jarinya.

"Cinta... tunggu gue besok ya. Gue bakal datang ke dunia lu yang baru, dan gue bakal buktiin kalau perasaan gue ini nyata," bisik Rangga pada keheningan malam.

Dia kemudian mematikan lampu kamar, menyisakan kegelapan yang ditemani oleh rasa debar yang tak kunjung usai. Besok bukan lagi tentang motor Vega yang mogok atau hukuman dari Bu Lastri. Besok adalah langkah awal dari sebuah perjalanan nekat demi sebuah ungkapan yang belum sempat tersampaikan. Investigasi resmi dimulai besok, dan Rangga tidak akan berjalan mundur lagi.

1
Kam1la
kabur, Rangga!
Kam1la
berjiwa besar. si Tasya ya...
Kam1la
keren aksinya Cinta👍😍
Kam1la
👍👍
Kam1la
aksi penyelamatan yang keren...
Kam1la
nah, kan ada pernyataan maaf
Kam1la
keren...💪 tetap semangat Rangga, meski diremehkan
Kam1la
Aldi, ada selera humor juga
Kam1la: siap...👍
total 2 replies
Kam1la
seru....! Pernikahan 2 Rahasia, hadir kak....
Lalat Mu
Ceritanya seru kak, semangat nulisnya ya! /Good/
Raden Saleh: Terimakasih atas partisipasinya, semoga terhibur, dan aku semangat lagi menulis, insya Allah lebih seru lagi 😍
total 1 replies
Kim Borahae
ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!