NovelToon NovelToon
Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Stempel Tua Penyelamat Duda Ganteng

Status: tamat
Genre:Duda / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu / Tamat
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Cuti untuk menjual rumah warisan berubah menjadi awal kisah yang tak pernah dibayangkan Honami Yukari. Setelah menemukan kembali koleksi stempel peninggalan kakeknya, ia justru dipertemukan dengan seorang pria misterius yang nyaris kehilangan nyawa. Anehnya, pria itu tidak ingin diselamatkan. Sejak hari itu, setiap stempel mulai menjadi saksi perjalanan mereka menyembuhkan luka, membuka masa lalu, dan menemukan arti pulang yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PANEN LOBAK

Yukari sudah masuk kembali ke dalam kamarnya, meninggalkan Akira yang masih memandangi buku catatan di tangannya. Di sampul depan, tertulis baris kalimat dengan spidol hitam: "Tabungan Buku Takagi Akira"

Di sampingnya, Daiki meregangkan kedua lengannya lebar-lebar ke atas, lalu mengembuskan napas panjang sampai badannya merosot di sofa.

"Dulu..." Ia menjeda kalimatnya, memilih kata yang pas. "...Apa kau selalu datang ke rumah ini?"

Daiki mengangguk tanpa ragu. "Hampir setiap hari."

"Kenapa?"

"Karena aku khawatir," jawab Daiki santai, namun nadanya terdengar serius." Yukari tinggal sendirian setelah orangtuanya meninggal. Ibu ku sudah membujuknya untuk tinggal bersama tapi dia menolaknya"

Sebuah senyum tipis muncul di wajah Daiki. "Mulai dari makanannya hingga merapikan rumput dihalaman." Ia menunjuk dirinya sendiri dengan jempol. "...ya aku lagi yang potong."

Akira memandangi pria di sampingnya itu cukup lama. "Berarti... kau memang sudah seperti keluarganya."

Daiki tersenyum, lalu menggeleng pelan. "Bukan."

Tatapan Daiki beralih ke arah daun pintu kamar Yukari yang sudah tertutup rapat. "Keluarga itu kan takdir karena kita dilahirkan bersama. Sementara aku..." Daiki menjeda kalimatnya sesaat. "...dipilih olehnya."

Kalimat itu membuat Akira tertegun di tempatnya.

Dipilih.

Satu kata yang terdengar sederhana, tetapi entah kenapa terasa begitu dalam dan bermakna besar.

Daiki tiba-tiba bangkit berdiri sambil memegangi pinggangnya yang berbunyi kretek. "Sudah, ah. Besok kita harus bangun sebelum matahari terbit."

Ia melangkah beberapa tindak menuju arah kamar Namun, tepat saat tangannya memegang tuas pintu, langkah Daiki terhenti. Tanpa membalikkan badannya, dia berkata dengan suara yang lebih berat, "Akira."

"Hm?"

Saat Daiki memutar tubuhnya, tidak ada lagi gurat usil di wajahnya. Ekspresinya tampak jauh lebih tenang dan dewasa. "selama kau masih tinggal di rumah ini..." Daiki menatap lurus ke sepasang mata Akira. "..kau bagian dari keluarga kami."

Akira sedikit terpaku, tidak menyangka akan mendengar kalimat itu dari daiki ia langsung terkekeh geli untuk mencairkan suasana. "Aku bukan orang yang pandai menghibur seperti Yukari."

Daiki menepuk kusen pintu kamar dua kali. "Tapi kalau suatu hari nanti kau benar-benar butuh teman bicara... aku juga bisa mendengarkan."

Kalimat itu meluncur begitu saja. Hanya sebuah tawaran tulus dari seorang pria kepada pria lainnya.

Setelah Daiki masuk ke kamar, Akira menundukkan pandangannya pada buku kuning di pangkuannya.

Rumah ini mulai memberinya rasa nyaman yang lebih dari sekadar tempat berteduh dari hujan. Malam ini, dia baru saja menemukan seseorang yang mungkin bisa ia sebut sebagai teman.

***

Sisa-sisa malam masih betah menggelayut di langit Desa Oku-Nikko. Pukul setengah enam subuh, Udara musim semi yang berkabut tipis menutupi jalanan desa pagi ini.

Mobil pikap daiki perlahan bergerak, meninggalkan pekarangan rumah kayu dan membelah jalanan desa yang masih remang-remang. Di samping kemudi, Yukari membuka tas kain kecil yang sejak tadi dipangkunya dengan hati-hati. "Aku sempat memanggang roti sebelum kita berangkat."

Aroma gurih mentega yang meleleh langsung menguar di dalam kabin begitu Yukari mengeluarkan dua bungkus roti yang masih mengepulkan uap panas.

"Akira-san," Yukari menyodorkan sebungkus roti. "Ayo sarapan dulu."

"Terima kasih." ia membuka bungkus kertasnya perlahan, lalu menggigit roti itu dengan tenang tanpa banyak suara.

Yukari kemudian mengambil bungkus kedua lalu mengarahkan sepotong roti itu tepat ke depan mulut sahabatnya.

"Aa Buka mulutmu," perintah Yukari, tak lama daiki menyambar roti itu dengan gigitan besar. "Hmm..." Ia mengunyah cepat mengangguk-angguk puas. "Enak, Tapi kalau ditambah selai cokelat sedikit, pasti mantap"

Yukari mendengus pelan "Banyak maunya, ya."

Gadis itu menggigit bagian pinggir dari roti yang sama di tangannya, sebelum kembali menyodorkannya ke depan mulut Daiki.

Akira yang duduk di sudut hanya memperhatikan interaksi tersebut dalam diam. Pandangannya bergantian menatap jalanan berkabut di depan dan tingkah kedua sahabat masa kecil di sampingnya. Semuanya terasa begitu natural, seolah aktivitas berbagi roti di dalam mobil pikap subuh-subuh begini sudah menjadi rutinitas yang mereka lakukan ratusan kali.

Melalui pantulan kaca spion tengah, Daiki menangkap basah tatapan mata Akira. Sebuah senyum jahil mendadak terbit di sudut bibir pria berbaju montir itu.

"Hmm... aku masih Lapar" goda Daiki sengaja membuka mulutnya lebar-lebar. "Sini, biar aku habiskan sekalian!"

Belum sempat Yukari menarik tangannya mundur, Daiki sudah memajukan kepala dan menggigit habis sisa roti yang sedang dipegang Yukari.

"Hei!" Yukari langsung melotot jengkel. "Itu bagianku, Daiki!"

Pria itu Terkekeh dengan mulut penuh roti. "Lagian masih ada sisa satu bungkus lagi kan"

Melihat Yukari yang cemberut, jiwa usil Daiki justru makin meronta-ronta. Sambil tetap menatap lurus ke jalanan, dia sengaja menyenggol bahu Yukari menggunakan siku kirinya agak kuat. "Gitu aja ngambek! "

Dorongan diruang kabin pikap sempit dan posisi mereka berhimpitan, Tubuh yukari terdorong ke arah kanan.

"E-eh...!" Yukari memekik kecil, tangannya refleks menggapai udara kosong .

Akira yang bersandar di dekat jendela spontan tersentak. Melihat tubuh Yukari yang hampir membentur kaca pintu dengan keras, refleks tubuhnya bergerak jauh lebih cepat daripada otaknya.

Grep.

Telapak tangan Akira menahan bagian belakang kepala Yukari tepat beberapa milimeter sebelum helai rambut gadis itu menyentuh kaca jendela yang keras.

Gerakan tiba-tiba itu membuat suasana di dalam kabin mendadak senyap.

Yukari tertegun, tidak berani bergerak. Begitu dia mendongak, wajahnya dan wajah Akira hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Sepasang mata mereka bertemu dalam jarak yang begitu dekat, hingga Yukari bisa merasakan embusan napas Akira di keningnya.

Jantung Yukari mendadak berdegup dua kali lebih cepat, menciptakan gemuruh aneh di dadanya.

Sadar akan posisinya, Akira segera menarik kembali tangannya dengan canggung, seolah baru tersengat listrik. "Maaf..." gumam Akira, langsung memalingkan wajah ke luar jendela.

Yukari buru-buru membetulkan posisi duduknya kembali ke tengah kabin. Kedua pipinya mendadak terasa panas dan merona merah. Untuk menutupi rasa salah tingkahnya, dia langsung melempar tatapan membunuh ke arah Daiki.

"KAU SENGAJA DAIKI?!" semprot Yukari dengan nada tinggi.

Daiki meringis ngeri melihat kemarahan Yukari, tangannya mencengkeram setir lebih erat. "Iya, iya! Maaf! Aku benar-benar tidak sengaja, cuma mau bercanda tadi!" kilah Daiki panik.

Akira berdeham kecil dari sudut kanan, berusaha mengembalikan situasi. "Fokus menyetir saja daiki-san."

daiki terkekeh geli "oke oke... "

Mobil pikap hijau itu akhirnya berbelok, membelah jalan tanah berbatu dan memasuki kawasan perkebunan lobak tepat ketika semburat cahaya keemasan mulai memecah langit subuh. Sisa-sisa embun pagi tampak berkilauan di atas hamparan daun-daun lobak hijau yang membentang luas sejauh mata memandang. Udara pegunungan di area ladang ini terasa jauh lebih menggigit.

"Nah, kita sampai!" seru Daiki sambil mematikan kunci kontak mobil.

Yukari merapatkan ritsleting jaket rajutnya sampai ke dagu sebelum membuka pintu mobil. Dia melirik ke arah Akira yang sudah turun lebih dulu dan sedang memandangi hamparan ladang dengan ekspresi tenang.

"Akira-san, kau tidak kedinginan pakai jaket tipis begitu?" tanya Yukari ragu.

Akira menggeleng kecil. "Tidak." Namun, sepasang matanya justru tertuju pada ujung hidung Yukari yang sudah berubah memerah akibat terpaan angin pagi. "Kau sendiri?" tanya Akira balik.

Yukari terkekeh, menggosok kedua telapak tangannya. "Aku sudah kebal."

Di bagian belakang mobil, Daiki sudah sibuk menurunkan belasan boks plastik kosong dari atas bak pikap. *Brak! Brak!*

"Baik, pasukan! Waktunya pembagian tugas!" seru Daiki lantang sambil bertepuk tangan sekali untuk mengumpulkan fokus.

Ia menunjuk dadanya sendiri. "Aku bagian eksekutor, cabut lobak dari tanah." Lalu jarinya beralih menunjuk Yukari. "Kau bagian finishing, bersihkan sisa tanah yang menempel di akarnya pakai air parit." Terakhir, telunjuknya mengarah lurus ke hidung Akira. "Dan kau, bagian logistik. Susun lobak bersih ke dalam boks, lalu angkut semuanya kembali ke atas bak mobil. Bagaimana, sanggup?"

Akira mengangguk mantap tanpa keraguan. "Sanggup."

Daiki menyeringai jahil. "Kalau nanti encok atau capek, langsung bilang ya. Jangan sampai kau tiba-tiba pingsan dan roboh di tengah ladangku."

Yukari yang berdiri di antara mereka hanya bisa tersenyum simpul. Tanpa kedua pria itu sadari, obrolan singkat yang terdengar ketus itu sebenarnya jauh lebih akrab dan hidup dibandingkan hari-hari pertama mereka bertemu.

Pekerjaan pun dimulai di bawah siraman matahari pagi.

Daiki bergerak dengan sangat cekatan. Kedua tangannya dengan bertenaga mencabut lobak-lobak putih berukuran raksasa dari dalam tanah, lalu melemparkannya ke dekat parit kecil tempat Yukari sudah bersiap dengan sikat kecilnya untuk membersihkan sisa-sisa tanah yang pekat.

Sementara itu, Akira bekerja dalam keheningan yang efisien. Satu per satu lobak yang sudah selesai dibersihkan oleh Yukari langsung dia tata dengan presisi di dalam boks plastik. Gerakan tubuhnya saat mengangkat boks-boks berat itu ke atas bak pikap terlihat sangat terlatih dan bertenaga.

Tepat pukul setengah tujuh pagi, seluruh boks plastik di ladang sudah terisi penuh. Di atas bak pikap, tumpukan boks itu kini berdiri kokoh, berjejer dengan sangat rapi tanpa ada celah yang longgar.

Daiki berjalan mendekati bak mobil sambil menyeka keringat di dahinya, lalu tertegun melihat hasil kerja Akira. "Hebat juga kau, Akira. Susunan boks buatanmu jauh lebih rapi dan presisi daripada standarku."

Daiki kemudian menarik rantai besi tebal untuk mengunci pintu bak belakang pikapnya. Klak! Clank! "Sip! Semua aman. Ayo naik lagi, kita harus sampai di pasar induk sebelum jam delapan tepat!"

***

Sekitar pukul setengah delapan pagi, kawasan pasar induk kota yang sudah dipadati oleh hiruk-pikuk para pedagang dan kuli angkut. mobil Pickup daiki sudah merapat di area bongkar muat, Daiki dan Akira segera melompat turun untuk bersiap menurunkan muatan.

Namun, belum sempat kedua kakinya menyentuh tanah, telapak tangan Daiki sudah lebih dulu menahan pundak gadis itu. "Kau,Tolong jaga sisa barang-barang itu agar tidak hilang,"

"Tunggu saja di sini," pesan Akira dengan nada suara yang melembut.

Yukari mengangguk pelan sambil menyunggingkan sebuah senyuman manis. "Iya. Kalian berdua hati-hati"

Akira sempat terpaku selama satu detik menatap senyuman tulus itu, sebelum akhirnya dia mengangguk kecil dan berbalik untuk mengikuti langkah Daiki membelah keramaian pasar.

1
Putri Ayu/PqxxyZ
Halo kak... mari kita saling dukung dalam berkarya 😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: sama aja kak 😄 baru coba coba di sini
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!