Sekuel Paket cinta sang Embun.
Memiliki tiga anak laki-laki kembar tentu membuat keseharian Embuh dan Keanu jauh lebih berwarna. Tapi dari semua anaknya justru tak ada satu pun yang dekat dengan mereka melainkan sangat menempel pada kakek-kakeknya.
mau tahu keseruannya?
Like komen dan favorit ya 😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nenengsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ekor Buaya
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Praaaaaaaaang.
"Hayo loh Abaaaaaaaaang!" seru Lintang saat kakaknya menabrak ujung meja hingga sebuah pajangan yang untungnya bukan dari kaca itu jatuh ke lantai.
"Ssst, bisik!"
Angkasa berjongkok lalu mengambil benda yang jatuh barusan kemudian diletakkannya kembali seperti sebelumn jatuh.
"Pecah Nda?" tanya Si bungsu.
"Gak, lecet dikit doang. Talau MiMoy tanya ini kenapa telus salahin Abang berarti Lilin ya yang bilang," ucapnya mulai mengancam adik nya.
Lintang langsung menggelengkan kepalanya tak setuju dengan yang di katakan Si sulung barusan.
"Mua-mua tahu talau pecah sama Abang. Lilin Aa nda pelenah tabak-tabak," protesnya kemudian.
"Pokonya talau Moy tahu, ini Lilin yang bilang," oceh nya lagi.
Paduan suara pun langsung terjadi, dan seisi rumah wajib menutup telinga masing-masing.
"Huaaaaaaaaaa, Abang Asha akal, macupin nelaka ayoooooooo," teriak Lintang.
Biru dan Embun yang baru turun tentu langsung menghampiri Si bungsu yang menangis sendirian karna Angkasa pasti sudah kabur duluan entah kemana mengingat Rumah utama sangat luas dan besar.
"Lilin kenapa, Sayang?" tanya Embun yang langsung mengendong bocah berisik itu, di rayu saja sulit berhenti apalagi jika di abaikan.
Dan tak hanya Bubunnya, karna Biru pun ikut menghapus air mata cucu kesayangannya.
"Abang mana?"
"Abang macup nelaka, akalin Lilin," adunya sambil terisak.
Embun membawa Lintang ke sofa sedangkan Biru mencari Angkasa yang entah kini berada dimana.
.
.
.
Ceklek
"PapAy---, bobo yuk," ajak Angkasa yang ternyata kabur ke kandang Buaya. Tempat itu sangat aman karna tak akan ada yang berani memarahinya di depan Tuan besar Rahardian kecuali MiMoynya.
Meski dunia ada dalam genggaman Air, ia akan tetap takut dan tunduk hanya pada Jan Hujan Deres yang takut petir.
"Tidur apa jam segini?" tanya papAynya.
"Apa aja, Abang Asha lagi pengen mimpi," jawabnya sambil menarik pria baya itu kearah ranjang.
Air tertawa kecil, ia tahu pasti cicitnya itu habis bikin ulah, entah ribut dengan adiknya atauh habis memecahkan sesuatu. Ia tak bisa memarahi Angkasa karna baginya ia seolah mengingat masa lalunya. Dan disaat seperti itu juga kenangan bersama Gajah selalu terbayang lagi.
Air rindu dengan papanya yang begitu sangat luar biasa menyayangi keluarga terutama istri dan para keturunannya yang sangat banyak. Beruntung Embun dan Rain masih bisa menikmati sentuhan Appanya meski tak terlalu lama. Harta yang melimpah benar-benar tak bisa membeli sebuah nyawa untuk tetap abadi bersama.
Tapi, mungkin semua tak akan seperti ini jika saja Sang Gajah mau mencium Mak Othor, akan ada cadangan nyawa yang diberikan secara percuma. Wkwk.
"Moy curiga kalo Abang Asha manis gini," sindir Hujan yang ikut ke ranjang.
"Abang emang manis, iyum nih," balas Si sulung yang malah membuat papAy dan MiMoynya tertawa saking gemasnya.
"Wah, gigit aja deh kaya coklat, Ok." goda Air, ketiga cicitnya adalah harta tak ternilai dan hiburan di masa tua yang hanya menghitung waktu kapan saatnya tiba.
"Nda mahu iyum aja ih," tolak Angkasa yang kini malah duduk di atas pangkuan papAynya secara tiba-tiba.
"Aduh," pekik Air karna sakit dan kaget.
"Napa?" tanyanya polos.
"Ekor buaya papAy bisa patah ini di dudukin Abang," kata Air yang meringis.
.
.
Wah, acihan... sini Abang benelin dulu..