Sebuah tembok besar menghalangi kehidupan dua insan yang saling jatuh cinta satu sama lain.
Mereka dihadapkan oleh keadaan yang hampir tidak mungkin bisa dilewati.
Mereka hanya memiliki dua pilihan, terus melangkah maju tapi menghancurkan semua orang, atau bergerak mundur namun mereka sendiri yang akan hancur.
Akankah kebahagiaan dan cinta akan berpihak pada mereka yang berjuang, ataukah perpisahan yang akan mereka dapatkan?
Dan mungkinkan ruang dan waktu dapan mempersatukan mereka?
Terus ikuti kisahnya di novel "Ruang dan Waktu" sebuah novel terusan dari novel "Keluarga Yang Tak Dirindukan" karya author Weka Hatake~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WK Rowling, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan
Disetiap langkahnya, Kaisar yang menggandeng tangan pelayanan itu dipandangi oleh orang-orang yang ada di sana, namun Kaisar tetap bersikap percaya diri dan tak memperdulikan tatapan mata mereka.
Kaisar mengarahkan gadis itu untuk duduk di kursi yang tersedia, "Duduklah!" Perintahnya.
Setelah keduanya duduk dan orang-orang juga berhenti memperhatikan mereka, Anika langsung memberikan tepuk tangan kecil untuk aksi Kaisar yang baru saja ia lakukan.
"Wah, anak mama benar-benar pahlawan!" Puji Anika.
Kaisar membusungkan dadanya sembari memasang ekspresi kebanggaan, "Siapa dulu dong, Kaisar!"
"Terima kasih karena sudah membantu saya." Ucap gadis itu kepada Kaisar.
"Kenapa sih, setiap ada lo masalah itu ada aja datangnya." Kaisar berkata geram yang membuat Anika memukul pelan tangannya.
"Kai, nggak boleh gitu." Ucap Anika, dia kemudian menoleh ke arah gadis yang tengah menunduk itu, "Nama kamu siapa nak?"
"Saya Adel Bu." Jawab gadis itu yang ternyata adalah Adel.
Anika sedikit tertegun setelah mendengar nama yang disebutkan Adel, "Adel? Kenapa namanya seperti... Ah tidak, ini pasti hanya kebetulan." Anika menggelengkan kepalanya meyakinkan dirinya sendiri.
"Kenapa ma?" Kaisar bertanya dengan khawatir.
"Ah nggak apa-apa." Jawab Anika dengan tersenyum, "Oh ya Kai, mama penasaran apa yang sudah kamu katakan sama bapak itu sampai bapak itu diam nggak melawan?" Anika mengalihkan pembicaraan.
"Oh itu..." Kaisar berusaha menahan tawa sambil memperhatikan sekitarnya, memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka lagi, "Mama pasti tahu orang dengan nama Kaisar Alexander Granada." Ucapnya.
Tanpa menjelaskan lebih jauh, Anika langsung paham apa yang dimaksud oleh putra semata wayangnya itu, Anika menutup mulutnya rapat-rapat berusaha menahan tawa yang akan meledak. Sedangkan Adel memandangi keduanya dengan raut wajah bingung, entah hal lucu apa yang membuat keduanya sampai menahan tawa.
"Pinter kamu nak, pinter! Mama sampai nggak tahu mau ngomong apa." Ucap Anika dengan masih menahan tawa.
"Haha itu kan ajaran mama."
"Bisa-bisanya kamu kepikiran itu." Ucap Anika.
"Bisa dong ma." Jawab Kaisar, pemuda itu kemudian menoleh ke arah Adel yang hanya diam sedari tadi, "Eh lo kok diem aja sih, biasanya juga nyerocos kayak knalpot RX King."
"Ah saya tidak enak ada di sini, apalagi satu meja dengan pak Kaisar." Jawab Adel dengan sopan.
"Heh? Pak pek pak pek, gue bukan bapak lo. Lo sehat? Kok omongan lo jadi formal gitu?" Tanya Kaisar sambil menempelkan punggung tangannya ke kening Adel.
"Kai ih, jangan jail. Kasihan Adel." Anika memukul pelan tangan Kaisar yang ditempelkan ke kening gadis itu.
"Maaf ya nak, putra ibu emang jahil anaknya, nggak apa-apa nggak usah merasa nggak enak, ibu seneng kalo makan rame-rame gini." Ucap Anika dengan tersenyum ramah kepada Adel.
Adel hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum canggung tidak mau berkata lebih jauh karena Adel merasa sungkan.
Rupanya alasan Anika dan Kaisar tertawa adalah karena Kaisar saat berhadapan dengan pria arogan sebelumnya, Kaisar mengaku sebagai anak dari seorang pejabat kepolisian yang cukup terkenal di kota itu, itulah sebabnya pria arogan tadi langsung diam karena mengira telah berhadapan dengan orang yang cukup berpengaruh. Padahal kenyataannya, Kaisar dengan anak pejabat kepolisian itu hanya mirip nama depannya saja.
Hal itu juga yang membuat Adel berbicara formal dan tak ingin berbincang terlalu banyak dengan keduanya, karena Adel sampai saat ini juga masih mengira bahwa Kaisar benar-benar anak dari pejabat kepolisian.
Anika memberi tanda untuk diam saat melihat dua orang pelayan datang ke meja mereka dengan membawa hidangan yang sudah dipesan sebelumnya, termasuk hidangan yang Kaisar pesan untuk Adel.
"Silahkan dinikmati." Pelayan itu mempersilahkan.
"Terima kasih." Jawab Anika.
Ketiganya menikmati hidangan dengan sesekali bercengkrama, Adel hanya berbicara kalau ditanya saja selebihnya hanya diam.
"Lo masih sekolah kok udah kerja?" Tanya Kaisar tiba-tiba.
"Ah itu, buat tambahan uang saku saja pak." Jawab Adel dengan masih memanggil Kaisar dengan sebutan 'pak' Kaisar pun sudah tak memperdulikan soal itu.
"Aduh sayang sekali, harusnya tugas kamu itu belajar, bukan kerja seperti ini nak." Anika ikut menimpali, "Orang tua kamu kemana?" Lanjutnya.
"Hehe tidak apa-apa Bu, saya senang melakukan pekerjaan ini. Hitung-hitung cari pengalaman dan meringankan keuangan orang tua." Jawab Adel, gadis itu berbohong. Alasan sebenarnya adalah Adel yang selalu merasa tertekan berada di rumah, sehingga ia memilih bekerja agar bisa sedikit melupakan masalahnya, tentu hal itu ia lakukan tanpa sepengetahuan Satya.
Kaisar sebenarnya tahu Adel berbohong karena sebelumnya Adel sendiri pernah bercerita dengannya tentang kondisi keluarganya yang kurang harmonis, namun pemuda itu memilih untuk tak berkata apapun karena bukan waktu yang tepat untuk dibahas apalagi di depan Anika.
Anika memegang pundak Adel, "Saya yakin, suatu saat kamu akan jadi orang sukses." Ucapnya dengan memberikan senyum semangat.
"Terima kasih Bu." Jawab Adel.
lanjut thor..
thank ya thor 😁 😁
perang dunia anak dan emak
dasar Rani, waktu sehat nyakitin perasaan Anika dan nipu Rendra... sekarang sakit pun nyusahin Satya dan Adel... 😡