NovelToon NovelToon
PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

PERANGKAP CINTA SANG DOKTER

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Nikahkontrak / Nikah Kontrak / Dokter / Tamat
Popularitas:886.7k
Nilai: 4.9
Nama Author: Chyntia R

Sequel of PENGASUH TUAN LUMPUH
Disarankan untuk membaca novel tersebut agar bisa mendapatkan feel di alur cerita novel ini 🙏


Abrine Prawiraharja menerima sebuah kesepakatan nikah karena putus asa dan patah hati. Sementara, Dr. Elrich Axel Gustav melayangkan perjanjian nikah karena adanya desakan dari Ayahnya.

Mereka berdua sepakat untuk menikah dan berjanji akan berpisah setelah menemukan cinta yang sesungguhnya.

Tapi, bagaimana jika cinta sejati itu adalah pasangan mereka sendiri?

Maukah Elrich melepaskan Abrine setelah merasa jika istrinya berbeda dari wanita kebanyakan?

Atau, sanggupkah Abrine menepis pesona sang suami meski dia tahu sejak awal Elrich sudah memerangkapnya agar masuk dalam ikatan pernikahan?

Bagaimana keduanya menjalani rumah tangga tanpa cinta? Apalagi setelah semua masa lalu kelam yang mulai terkuak? Akankah mereka bertahan atau justru memilih menyerah dan saling melepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chyntia R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29. Pertemuan kembali

Abrine mengirimkan pesan pada Wildan. Dia mengatakan jika dia ingin berkunjung ke Restoran milik pria itu. Tentu saja hal itu membuat Wildan senang, karena akhirnya dia punya alasan untuk kembali bertemu dengan Abrine.

Setelah Abrine kembali ke Indonesia, memang Wildan sering mengajak Abrine jalan berdua, hanya saja Abrine selalu beralasan sedang sibuk dengan pekerjaannya, entah memang sengaja menghindari Wildan atau memang benar-benar sibuk seperti alasannya itu.

Abrine sendiri, dia sudah tahu sejak awal jika Wildan menaruh harapan besar padanya, jadi dia tak mau memberi harapan lebih pada pria itu. Sudah cukup dia terjerat perasaan dengan Raymond dan itupun belum pulih.

Selain itu, Abrine juga menyadari jika sekarang dia sudah terperangkap oleh kesepakatannya bersama Elrich, jadi dia tak mau memasukkan lelaki lain kedalam kehidupannya, termasuk Wildan. Dia sudah cukup pusing, jadi sekarang Abrine hanya bisa menganggap Wildan teman--tidak lebih.

"Restorannya dimana? Apa kita pasang Maps saja?" celetuk El saat sudah memasuki mobil milik Abrine. Dia menyetir kali ini dan Abrine duduk santai di kabin sebelahnya.

"Boleh, setel saja maps-nya," jawab Abrine setuju.

Abrine tak mengatakan pada Wildan bahwa dia akan datang kesana bersama El, begitupun dengan El, dia tak mengatakan bahwa mereka akan mengunjungi Restoran milik Wildan.

Sesampainya di Restoran bergaya klasik itu, mereka langsung diberikan tempat duduk layaknya tamu biasa oleh seorang pelayan yang tak mengenali keduanya, sebab Wildan berpesan pada pelayan itu untuk menyambut seorang gadis, tapi karena Abrine datang bersama El, pelayan itu jadi tak tahu bahwa Abrine adalah tamu yang sedang ditunggu Wildan.

Abrine menatap sekeliling, mencari-cari sosok Wildan saat El sedang sibu memilih menu pada tab yang diberikan sang pelayan.

"Mau makan apa?" tanya El.

"Ehm, apa saja." Abrine menjawab sambil kepalanya celingukan kesana-kemari.

"Kau sedang mencari siapa?"

"Temanku."

"Temanmu bekerja disini?"

"Dia pemilik tempat ini."

Elrich mengangguk, tak terlalu peduli dengan teman yang Abrine maksudkan. Dia kembali serius memesan menu sekaligus memilihkan makanan untuk Abrine.

Abrine melihat sosok Wildan dari kejauhan, dia sebenarnya bisa saja menelepon Wildan atau mengiriminya pesan bahwa dia telah tiba di Restoran, tapi dia sengaja tak melakukan itu.

Abrine melambaikan tangan pada Wildan yang juga sudah menatap kearahnya. Pria itu membalas lambaian tangan Abrine dan mulai berjalan mendekat.

Senyum semringah di wajah Wildan perlahan memudar saat dia menyadari dengan siapa Abrine berkunjung ke tempatnya hari ini.

"Brine!" El menatap Abrine dan Wildan bergantian. Dia tak menyangka teman yang Abrine maksud adalah Wildan. Tatapannya seolah tengah meminta penjelasan dari gadis itu, tapi Abrine hanya mematut senyum kecil yang El pun tidak bisa menafsirkannya. Dia tak menyangka bahwa akan terjadi pertemuan kembali antara dirinya dengan Wildan.

"Kamu benar-benar datang bersama Kak El," gumam Wildan seakan bicara pada dirinya sendiri, namun ucapan itu cukup terdengar bagi Abrine dan Elrich disana.

Elrich bangkit dari duduknya. "Aku tidak berselera, ada baiknya kita pulang."

Abrine terkesiap kaget, dia tak mengira Elrich sampai seperti ini. Pria itu bahkan tidak mau menatap Wildan lebih dari dua detik.

"El," kata Abrine mencegah Elrich yang sudah ingin beranjak. Tangannya memegang pergelangan tangan lelaki itu dan menggeleng pelan padanya.

"Kenapa kau tidak memberitahuku lebih dulu?" tanya El dingin.

"Aku tidak menyangka kau sampai seperti ini," lirih Abrine.

"Sekarang, kau mau ikut aku pulang atau mau tetap disini?" El bicara tanpa melihat pada Abrine.

Abrine merasa hawa dingin mulai melingkupinya karena sikap dingin El sekarang. Dia sampai menggosok tengkuknya sendiri seakan merinding dengan keadaan ini. Kalau dipikir-pikir kenapa dia selalu takut jika El marah, padahal selama ini Abrine selalu melawan orang yang tidak sejalan dengan pemikirannya. Tapi tidak dengan El, aura pria itu membuat Abrine selalu ciut jika sudah berada dalam situasi ini.

"El, aku--aku hanya mau kau dan Wildan menjalin hubungan yang baik seperti sediakala, aku yakin jika dulu kalian pernah dalam situasi yang baik. Tidak bisakah hal itu terulang lagi di saat sekarang?" Abrine bicara dengan suara ragu-ragu dan menundukkan wajah.

"Tidak bisa!" tegas El langsung.

"Sudahlah, Brine! Antara aku dan Kak El tidak pernah ada permusuhan, tapi mungkin kami tidak bisa seperti dulu lagi." Wildan ikut angkat suara, membuat Elrich tersenyum miring diposisinya.

"El, demi aku... bisakah kau, Wildan dan Tante Erika berdamai?" Entah kenapa kalimat itu tercetus dari bibir Abrine, padahal mana mungkin El mengorbankan harga diri demi dirinya. Memangnya siapa dia untuk El? Percaya diri sekali dia ini.

"Brine tidak usah memaksa Kak Elrich, dia sudah sampai pada keputusan akhir."

Elrich berdecak lidah sekilas. Kemudian entah bagaimana Elrich jadi mau mengulurkan tangan pada Wildan dan disambut Wildan dengan ragu-ragu tapi akhirnya mereka memang berjabat tangan satu sama lain.

"Maafkan aku, disini aku yang terlalu egois, memang seharusnya aku yang banyak mengalah," tutur El tampak sungguh-sungguh. Abrine tidak menyangka Elrich akan seperti ini. Apa El mau berubah karena kalimatnya tadi. Berubah sikap demi dirinya? Benarkah? Bahkan rela menurunkan harga diri dengan meminta maaf pada Wildan.

"El...." lirih Abrine.

Wildan saja sampai terperangah tak percaya karena ucapan El barusan. Apa El benar-benar sangat mencintai Abrine sampai mau berkata demikian padanya karena permintaan gadis itu? Padahal selama ini dia dan Erika sudah mencoba berulang kali untuk mencairkan hubungan dengan Elrich yang lama telah membeku.

"Kami akan makan disini, bisakah kau merekomendasikan menu yang terbaik?" Elrich kembali duduk pada kursinya semula. Abrine mengikuti dengan sikap yang masih antara percaya dan tidak.

"Boleh, aku akan memberitahu menu favorit yang ada di Restoran ini." Wildan dengan sigap memberi isyarat pada pelayan yang sejak tadi sudah melihat apa yang terjadi diantara mereka bertiga. Seketika itu juga sang pelayan langsung bergegas.

Pada akhirnya, Abrine dan El makan dengan menu yang direkomendasikan Wildan dan ternyata makanan itu benar-benar enak. Elrich menyudahi sesi makannya tanpa ada sepatah katapun saat dia dan Abrine makan tadi.

Selama mereka makan, Wildan memang meninggalkan keduanya agar mereka makan dengan nyaman.

"Sudahkan? Jangan pernah lupa jika aku melakukan semua ini demi dirimu!" tegas Elrich sambil menyorot tajam pada Abrine.

Lagi-lagi Abrine hanya bisa meneguk ludah susah payah, sikap El yang seperti ini sulit sekali dia tebak apa maksudnya. Kenapa El mau melakukan ini demi dia. Padahal sebelum Abrine meminta sungguh-sungguh dan mengatasnamakan dirinya, Elrich tampak dingin dan seolah keputusannya tak bisa digoyahkan.

Abrine sudah membuka mulut untuk menjawab tapi pada akhirnya dia bingung sendiri harus menyahut apa pada Elrich.

"Jadi, jika suatu saat nanti kau harus melakukan sesuatu demi diriku.... ku harap kau juga bisa melakukannya. Karena hari ini, hal ini, tidak mudah bagiku."

Abrine tahu yang dimaksudkan El tentang 'hal ini' adalah mengenai ucapan maaf dan rasa mengalahnya pada Wildan.

"Baiklah, suatu saat aku berjanji akan melakukan sesuatu demi kau juga."

Elrich mengangguk samar.

"Tapi, bolehkah aku minta satu permintaan lagi demi diriku?" Abrine menyengir kuda saat Elrich menatapnya dengan sorot kesal.

"Apa lagi?" tanya pria itu.

"Temuilah juga Tante Erika..."

"Apa? Tidak bisa!" tolak El terdengar sangat tegas.

"Please! Aku akan mengabulkan keinginanmu nanti." Abrine mengatupkan kedua jemari, bersikap memohon pada El.

"Benarkah?"

Abrine mengangguk cepat.

"Tapi, sebelumnya bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"

"Mengenai apa?"

"Apa hubungan baik antara aku, Erland dan ibunya, sangat penting bagimu? Apa itu berpengaruh besar untukmu?"

Abrine terdiam beberapa saat. Sampai akhirnya dia menjawab.

"Tak ada pengaruhnya untukku. Aku cuma mau hubungan antara ibu dan anak menjadi baik. Aku juga mau hubungan antar saudara menjadi kembali dekat."

Elrich tertawa sumbang mendengar ucapan Abrine. Tapi kemudian dia mengingat ucapan Abrine sebelumnya.

"Baiklah, jika aku berdamai dengan ibu dan anak itu, kau berjanji akan mengabulkan keinginanku, bukan?" tanyanya disertai senyum culas.

"Iya, aku janji asal jangan permintaan aneh."

"Deal."

*******

1
Isayanti Hernanur
good ceritanya terbaik
Dewi Yani
❤️❤️❤️❤️❤️
Riska Trisna
sumpah berkali-kali baca tetep aja ngakak brutal 🤣🤣🤣
Riska Trisna
sumpah gila el 🤣🤣🤣
Selvy Anton
Lumayan
indira kusuma wardani
Luar biasa
Lisa Icha
baru mampir thor 😍
Setianingrum Ningrum
kerenn
Is Wanthi
Ray,sama Abrin hanya sahabat,tapi kenapa Ray merasa bersalah sama Abrin saat melakukan na ena,,,
lyly & eka hiatus
setuju dengan kata kata mu thor
Ayu Jutika Novella
sangat bagus
Nrl asa
alur critanya ckup memukau....
Erlies Love
Kecewa
Isyraeni Nursyam
Ceritanya Bagus
Adinda Bramantio
sukses terus
Lastri Naila
astaga astaga...🤣🤣🤣🤣🤣
Lastri Naila
astaga.....
Lastri Naila
he he
Mahdivikia Zayyan faiza
menurutku mereka itu seibu tapi tak se ayah....makanya ayah dan ibunya bercerai.,.dan yg memisahkan hub keluarga merekaaaaa
Lastri Naila
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!