Dira, Luna dan Nisa adalah tiga gadis yang bersahabat, mereka berteman sejak SMA.
Dira adalah seorang gadis yang bar-bar sering berantem dengan teman kampusnya. Tetapi dia gadis yang cukup mandiri walaupun terbilang dari keluarga yang berada.
Luna sejak kecil adalah anak yang paling memprihatinkan, dia tinggal bersama ibunya di rumah yang sangat sederhana, bahkan untuk mencukupi kebutuhannya ibunya harus berjualan makanan. Luna gadis yang pintar bisa masuk kampus terbaik di kota itu dengan bantuan beasiswa.
Nisa adalah gadis yang ceroboh, tukang makan, kalau bicara asal benar.
Buat Nisa yang penting ada makanan semua beres.
Arkan dan Elang siapa ya mereka????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
"Dira, kemarin kamu kemana saja? kenapa senang menghilang, tidak kasihan apa sama mamah kamu nyariin," ucap Nisa, membuat Elang tertawa.
"Jalan-jalan Nisa," ucap Luna.
Dira lalu menceritakan kepada temannya, atas kejadian kemarin yang baru saja dia alami.
"Apa? di culik sopir angkot," sahut Nisa.
"Nisa, kamu sudah makan belum?" tanya Elang.
"Belum sempat ke kantin, kakak ganteng," jawab Nisa.
"Pantesan dari tadi cepat ngerti," sahut Dira.
Mamah Meri datang membawakan minuman dan makanan ringan buat mereka.
"Ayo silahkan di nikmati!" ucap mamah Meri.
"Terimakasih, tante," ucap Luna.
"Ada kue, buatan tante bukan?" tanya Elang.
"Tante belum sempat buat, El," jawab mamah Meri.
"Enak banget keliatannya, tante," kata Nisa, sembari mengambil satu potong kue yang ada di meja.
"Dira, besok kamu berangkat ke kampus bareng Elang saja," ucap Luna.
"Tidak Luna, aku lebih suka jalan kaki kalau berangkat," kata Dira, melihat ke arah Elang.
Elang asyik menikmati kue dan camilan yang diberikan oleh mamah Meri, karena sudah tau bagaimana Dira kalau tidak mau. Jadi dia tidak akan memaksa Dira untuk berangkat bareng, sebenarnya mamah Meri juga sering meminta tolong Elang untuk menjemput atau mengantar Dira.
Setelah pulang dari rumah Dira, Elang pulang ke rumah.ya Karena Luna dan Nisa pulang sendiri, mereka tidak mau merepotkan Elang.
"El, kamu dari mana saja? kok baru pulang?" tanya bunda Sinta.
"Rumah Dira, bun," jawab Elang, mendudukkan diri di dekat bundanya.
"Tetangga sebelah itu, bun?" tanya Ayahnya.
"Iya, yang Elang pernah cerita itu, yah," sahut Elang.
"Dira pergi kemana, El?" tanya bunda Sinta.
"Ada yang menculik Dira dan diturunkan di hutan kota," jelas Elang.
"Untung saja bisa selamat, biasanya orang yang masuk hutan itu akan susah keluar," ucap Ayah Elang.
"Ayah, kok bisa tau?" tanya bunda Sinta.
"lho... kalian tidak pernah dengar cerita tentang hutan kota?" tanya Ayah Elang.
"Belum yah, kan kita tidak pernah ke sana juga," ucap Elang.
"Cerita apa ini, kelihatannya seram," sahut Arkan, yang baru datang.
Ayah Elang menceritakan tentang hutan kota itu, hutan yang terbilang angker tetapi tidak banyak yang tau.
***
Pagi ini Dira sudah kembali masuk kuliah, dia berangkat sendiri dengan berjalan kaki. Sesampainya di kampus dia langsung ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas yang tertunda.
"Dira," sapa pak Arkan.
"Iya, ada apa pak?" tanya Dira.
"Bagaimana keadaan kamu?" tanya pak Arkan.
"Baik, pak," jawab Dira, singkat.
"Lain kali hati-hati, jangan suka pergi sendiri," ucap pak Arkan, lalu pergi meninggalkan Dira yang masih berada di dalam perpustakaan kampus.
Kemudian datanglah Sisil yang menghampiri Dira, dia pura-pura baik pada Dira.
"Dira, aku boleh ikut duduk di sini?" tanya Sisil.
"Silahkan!" ucap Dira, kembali fokus dengan tugas yang dia kerjakan.
"Kemarin kamu kemana? kok tidak berangkat ke kampus?" tanya Sisil.
"Ada perlu, aku ke kelas dulu, ya!" pamit Dira.
Karena tugas yang dia kerjakan sudah selesai, Dira masuk ke dalam kelas. Luna dan Nisa sudah menunggu Dira sejak tadi.
Begitu Dira datang mereka berdua sangat senang, kebiasaan seperti biasa mereka saling berpelukan secara bergantian.
"Nanti kita pulang bareng, ya!" ajak Luna, penuh dengan semangat.
"Oke, kita pulang bareng," ucap Dira.
"Kita di antar kakak ganteng lagi, ya?" tanya Nisa.
"Aku tidak mau pulang bareng Elang," sahut Dira.
"Sama aku juga," kata Luna.
"Biar aku saja, kalau kalian tidak mau di antar kakak ganteng," ucap Nisa.
"Di antar kemana?" tanya Elang, yang tiba-tiba datang membawa buku milik Luna.
"Pulang, kakak ganteng! kakak mau antar, kan?" tanya Nisa.
"Aku harus pulang cepat nanti, karena Ayah ada di rumah," jelas Elang.
Setelah memberikan buku pada Luna, Elang kembali ke kelasnya sendiri.
Elang sebenarnya tidak tega dengan ketiga sahabat itu, tetapi karena sudah janji dengan Ayahnya dia menolak permintaan Nisa.
Waktu istirahat tiba, mereka pergi ke kantin untuk makan bersama. Nisa mulai memesan banyak makanan lagi.
"Nisa, kenapa pesan banyak lagi?" tanya Luna.
"Aku sangat lapar," jawab Nisa.
"Mulai deh, Nisa," sahut Dira.
"Biar ada tenaga kita harus makan banyak," ucap Nisa.
"Yang ada ngantuk kalau banyak makan," kata Luna.
"Benar, kalau Nisa malah ada tenaga aneh, kan," ucap Dira.
"Kalian coba! pasti apa yang aku bilang tidak salah," sahut Nisa.
Nisa membuat kedua sahabatnya heran, dia hanya makan dan makan yang dipikirkan. Padahal pagi dia sudah sarapan di rumah.
"Kenapa di kampus tidak ada lomba makan, ya," ucap Dira.
"Besok kita minta adain," ucap Luna.
"Terus? kalian mau nyuruh aku ikut lomba?" tanya Nisa.
"Hahaha... itu jelas, Nisa," kata Dira.
"Pasti menang, Dira," ucap Luna.
"Ayo kita makan dulu! nanti dingin tidak enak," ajak Nisa.
Mereka bertiga lalu menghabiskan makanan yang mereka pesan tadi, setelah selesai baru pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku.
Di perpustakaan mereka bertiga sangat berisik dan menggangu mahasiswa lain, sehingga membuat mereka di usir oleh petugas perpustakaan.
"Luna, ini buku yang aku cari," ucap Dira, merebut buku itu dari tangan Luna.
"Aku duluan yang ambil, Dira," kata Luna, hendak mengambil buku dari tangan Dira.
"Buat aku saja, kalian cari lagi!" sahut Nisa, berhasil mengambil buku yang di tangan Dira.
"Kembalikan!" teriak Dira dan Luna, secara bersamaan.
"Kalian kalau ribut jangan di sini," ucap salah satu mahasiswa.
"Luna mengambil buku yang aku cari," ucap Dira.
"Dira yang merebut," sahut Luna.
"Mereka berdua kak, yang ribut," ucap Nisa.
"Nisa!" teriak mereka berdua lagi.
"Bisa diam tidak, kalian!" bentak petugas perpustakaan.
Dira, Luna dan Nisa diam seribu bahasa setelah mendapat peringatan dari petugas perpustakaan, mereka kembali mengerjakan tugas dengan satu buku untuk bertiga. Tapi tak bertahan lama, mereka kembali ribut lagi. Luna menarik buku ke arahnya karena tidak kelihatan, begitu juga dengan Nisa ikut menarik.
"Bukunya tidak kelihatan, kalau kalian tarik ke kanan ke kiri," protes Dira.
"Aku tidak bisa melihat," ucap Luna.
"Kalau menghadap ke Luna, aku tidak bisa melihat," ucap Nisa.
"Kalian bertiga keluar!" bentak petugas perpustakaan.
"Tapi, kita masih ada tugas," ucap Dira.
"Keluar!" bentak petugas itu lagi.
"Dari tadi kalian berisik, kita jadi tidak konsentrasi," ucap salah satu mahasiswa yang dekat dengan mereka.
Dira, Luna dan Nisa segera keluar dari perpustakaan itu, mereka membawa buku tadi dan mengerjakan di taman kampus. Mereka kembali ribut lagi, karena posisi buku.
Bersambung.....
Terimakasih semuanya yang sudah membaca dan mendukung 🤗🤗❤❤
...❤❤❤❤❤❤❤...
baik benar jadi teman❣️❣️❣️❣️
masih z suka menyalahkan orang lain 🙄🙄🙄🙄