Nama ku adalah Chandra Felix Lance, seorang siswa SMA biasa, setidaknya itu lah ku pikirkan selama 16 tahun aku hidup. Hingga saat umurku menjelang 17 tahun tiba-tiba saja aku terkena penyakit misterius dan kebenaran pun terungkap saat pacarku (mantan) mengatakan bahwa aku adalah manusia setengah vampir, sekaligus salah satu kandidat putera dari salah satu pemimpin Mesovania The Great Four Majesty yaitu Valter Blau Haar von Diedrich si pemimpin ras vampir yang menghilang 750 tahun yang lalu saat pemberontakan di negeri itu sedang berada pada puncaknya.
Dimulai dari sini kehidupan normal ku sebagai siswa SMA biasa berubah menjadi kehidupan siswa SMA tidak biasa.
Apakah aku memang putera dari si pemimpin ras vampir itu? Jika iya, apa yang harus ku lakukan? Bagaimana cara kami semua dapat kembali ke negeri Mesovania? Dan yang terpenting bagaimana kehidupan remaja SMA tidak biasa ku itu akan berlangsung?
Untuk mengetahui hal itu, maka ku saran kan kau membaca kisah ku sampai habis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brille23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 Belum berakhir
Sandra dan aku akhirnya berjalan menuju hutan yang ditunjuknya tadi (entah mengapa akhir-akhir ini aku sering sekali masuk hutan). Saat sampai di tepi hutan ia terlihat sedang menengok ke kanan dan ke kiri seperti sedang mencari sesuatu.
Seperti sudah menemukan apa yang ia cari, akhirnya ia mulai berjalan memasuki hutan dan menyuruhku untuk mengikutinya. Ia terus berjalan menuju suatu pohon yang ukurannya sangat besar dan kemudian berhenti di sana. Ia clingukan lagi ke kanan dan kekiri nya untuk memastikan bahwa tempat itu benar-benar aman. Saat dirasa sudah aman, ia meletakkan tas yang dijinjingnya dan langsung duduk selonjoran dibawah pohon besar itu untuk mengistirahatkan kakinya.
Aku berdiri mematung di hadapannya tidak berbicara sedikitpun. Aku benar-benar kehabisan kata-kata melihat tingkahnya yang terlihat santai begitu, padahal ia tahu bahwa saat ini ia sedang dikejar oleh orang yang ingin membunuhnya. Sangat berbanding terbalik dengan reaksinya saat di dalam mobil tadi, ia terlihat sangat ketakutan sekali. Sandra ini memang aneh, selama aku terus bersamanya aku merasa ia memiliki banyak kepribadian.
"Chandra, mengapa kamu bengong begitu, sini duduk dulu" Ucapnya tiba-tiba.
Aku hanya menganggukkan kepala dan langsung duduk disampingnya.
"Huuhh~ melelahkan sekali, aku ingin istirahat sejenak" Ucapnya sambil merentangkan tangannya.
"Sandra aku penasaran, mengapa saat ini kau terlihat sangat santai sekali, padahal kau terlihat benar-benar sangat ketakutan saat di dalam mobil tadi ?" Tanyaku yang tidak tahan ingin tahu apa yang terjadi.
"Apa yang harus ku takutkan, Theodore sudah berjanji akan membereskan semuanya untuk ku" Jawabnya singkat.
"Hoo, kau benar-benar mempercayainya ya" Ucapku.
"Tentu saja, memangnya apa arti dari orang kepercayaan? itulah mengapa aku menjadikannya sebagai orang kepercayaan ku" Ucapnya mantap.
"Oh begitu" Jawabku.
"He~ kekuatan kepercayaan itu sangat besar ya" Sambungku dalam hati.
"Hoam...sudahlah sekarang aku mau tidur dulu sebentar" Ucap Sandra yang bersiap untuk tidur.
"Eh, iya Sandra, ngomong-ngomong tas yang kamu bawa itu isinya apa?" Tanyaku penasaran.
"OH IYA, HAMPIR SAJA AKU LUPA !!" Teriak Sandra langsung bangkit dari tidurnya.
"Hah apa?" Ucapku yang kaget dengan teriakan Sandra yang tiba-tiba.
Sandra mengambil tas yang tadi dibawanya dan kemudian mengeluarkan isinya. Ku lihat ia mengeluarkan dua botol minuman berukuran besar, sebuah botol kecil yang berisi cairan berwarna putih seperti susu, dan sebungkus kapas.
"Hahaha maafkan aku, kau menyatu secara alami dengan make up itu sehingga aku hampir lupa kalau kau itu memakai make up" Ucapnya.
"Nih, bersihkan wajahmu dengan cairan pembersih ini menggunakan kapas, setelah itu basuh dengan air ini" Sambungnya sambil memberikan botol yang berisi cairan pembersih yang berwarna putih susu itu beserta kapasnya.
"Baiklah" Jawabku sambil menerima benda-benda itu.
"Akan sangat merepotkan kalau tuan Valter melihat Dianne datang ke kediaman Alex bersama ku kan" Ucapnya yang juga tengah membersihkan make up dari wajahnya.
"Hem...kau benar, apalagi kejadian tadi benar-benar memalukan" Jawabku mengiyakan.
Sambil membersihkan wajah kami dari make up, kami berbicara banyak hal dan tertawa bersama, hingga kamipun lupa bahwa sebelum ini kami benar-benar dalam bahaya. Setelah ku pikir-pikir yang kami lakukan sekarang ini seperti acara menginap para gadis, mereka saling merawat wajah, mengelap-elapkan kapas ke wajahnya sambil bergosip. Ah, semalaman ini aku benar-benar seperti seorang gadis (karena terpaksa).
Setelah selesai membersihkan wajahku, aku menatap Sandra yang masih belum selesai membersihkan wajahnya cukup lama, hingga Sandra pun menyadarinya.
"Um, Chandra mengapa kau terus menatapku? apakah ada yang salah?" Tanya Sandra penasaran
"Bolehkah aku bertanya?" Ucapku.
"Bo-leh, tanya apa emang?" Tanyanya.
"Aku penasaran, menngapa kalian mati-matian mencari anaknya Valter?" Tanyaku.
"Hmm...Jadi begini, penduduk Mesovania yang ada di dunia manusia memerlukan The Great Four Majesty untuk memimpin mereka. Saat itu kami benar-benar tidak tahu keberadaan tuan Valter dan yang lainnya, bahkan kami sempat mengira bahwa mereka semua sudah gugur. Dari keempat pemimpin Mesovania itu, hanya tuan Valter yang memiliki putera dan satu hal yang kami ketahui dari putera tuan Valter adalah ia berhasil keluar dari pulau entah bagaimana caranya. Jadi kami semua sepakat untuk mencari putera dari tuan Valter itu dan menjadikannya sebagai pemimpin dari penduduk Mesovania yang berada di dunia manusia" Jelas Sandra.
"Wow, jadi begitu. Lalu bagaimana dengan sekarang? Valter sudah ditemukan dan terdapat beberapa petunjuk mengenai keberadaan yang lainnya, mengapa kalian masih mencari anak itu?" Tanyaku.
"Yaa apa salahnya mempertemukan anak dengan ayahnya? kami semua tahu rasanya tidak punya siapa-siapa karena terpisah dari orang yang dicintainya" Jawab Sandra mantap.
"Oh iya, kau benar, maafkan aku" Jawabku yang entah mengapa malah meminta maaf.
"Eh?" Ucap Sandra heran
"Ah tidak lupakan" Jawabku.
"Hmm...baiklah, kalau begitu sekarang kamu ganti baju dulu" Ucap Sandra memberikan satu setel baju pria padaku.
"Kau sudah mempersiapkan semua ini ?!" Kataku yang agak kaget dengan persiapan Sandra.
"Ahahaha, tentu saja ! selain karena sekarang kita akan mengunjungi rumah Alex yang mana disana ada tuan Valter dan lagi untuk menuju kesana pun akan sangat sulit jika kita menggunakan pakaian seperti ini" Jelasnya.
"Ahaha, seperti yang diharapkan dari seorang nona SPP !!" Ucapku memujinya.
"Baiklah, kalau begitu kamu ganti baju disana dan aku ganti baju disitu" Perintah Sandra menunjuk tempat yang akan ku gunakan untuk ganti baju.
"Oh, awas saja kalau kau berani mengintip !!!" Sambungnya.
"Wo...wo...tenang saja, aku itu pria bermartabat, mana mungkin aku melakukan hal se-keji itu padamu" Jawabku membela diri.
"Ya, ya aku percaya" ucapnya.
Kami pun berganti pakaian di tempat yang berbeda. Aku selesai terlebih dahulu, jadi aku menunggu Sandra selesai dengan penampilannya. Aku menunggu cukup lama hingga akhirnya ia keluar dari balik pohon dengan penampilan barunya yang lebih santai.
"Ya ampun, kenapa sih kau itu lama sekali? padahal cuman ganti baju saja" Protesku.
"Apanya? itu karena kau yang terlalu cepat ! lagi pula baju wanita itu terlalu ribet jadi untuk memakainya pun lama" Jawab Sandra.
"He~ benarkah? kalau begitu coba praktekan di depanku!" Kataku dengan nada jahil.
PLAKK...!!!
Sandra menampar pipiku dengan sangat keras.
"MENGAPA KAU MENAMPARKU ? AKU CUMAN BERCANDA TAHU !!!" Teriakku sambil mengusap-usap pipiku yang terasa panas karena tamparan Sandra.
"Sepertinya kau masih belum belajar setelah banyak pelajaran yang ku berikan di kelas khusus ku" Ucap Sandra menatapku dengan tatapan jijik.
"Oi, apa-apaan tatapan itu? mana Sandra yang cantik lemah lembut seperti bidadari itu? aku ingin dia yang menjadi teman perjalananku!" Ucapku.
Entah ini perasaanku atau apa, setelah Sandra menghapus make up nya dan mengganti pakaiannya, sifatnya kembali lagi menjadi si Cempreng galak. Ah, jika aku harus memilih, aku ingin bidadari itu dari pada Si Cempreng Galak ini.
"Sudahlah, jangan merengek terus seperti bocah. Sekarang kita harus segera sampai ke tempat Alex, sebelum matahari terbit" Ucap Sandra.
Kemudian Sandra mengeluarkan gps yang di berikan Theodore tadi. Sambil mengerenyitkan dahi, ia mempelajarinya dengan perlahan. Saking perlahannya aku sampai dibuat bosan karenanya. Karena tidak sabar akupun merebut gps itu dan ku pelajari sendiri jalan-jalannya dan belokan-belokannya.
"Apa ini? jalan semudah ini kau mempelajarinya begitu lama" Protesku.
"Berisik! aku mempelajarinya secara detail untuk menghindari-" Belum selesai Sandra menjawab protesku, aku langsung menggendongnya.
Ku lihat ekspresi wajah Sandra terlihat terkejut, setelah sadar ia sudah berada digendonganku, wajahnya berubah menjadi merah.
"A...apa-apaan ini? menggendongku tanpa izin, turunkan aku sekarang juga!!" Protesnya.
"Oh ayolah, lebih cepat seperti ini kan. Apa kau lupa kalau aku ini manusia setengah vampir?" Jawabku.
"Ah iya kau benar" Ucapnya.
"Tenang saja, aku sudah mengingat rute-rutenya jadi kita bisa sampai disana lebih cepat" Kataku.
Sandra mengangguk dan langsung melingkari leherku dengan tangannya, besiap-siap sebelum aku melesat berlari.
Sandra sudah ku gendong dan sudah ku bawa tas yang tadi ia bawa. Semua sudah siap, sekarang waktunya aku mencoba kekuatan berlari baruku.
WUSH~
Aku melesat berlari dengan sangat cepat.
Semua berjalan lancar hingga saat sudah sampai disetengah perjalanan, aku merasakan seseorang mengikuti kami di belakang, ini berarti ia juga bukan manusia.
Aku langsung berhenti untuk memastikan siapa yang mengikuti kami. Sandra yang terlihat bingung bertanya padaku,
"Chandra kenapa kita berhenti?"
"Aku merasa kita seperti sedang diikuti" Jawabku.
"Hah? diikuti?" Ucap Sandra yang kedua matanya terbuka lebar.
"Ja...jangan-jangan itu adalah Morgan !" Sambungnya dengan wajah yang kembali pucat.
Sandra terlihat sangat ketakutan lagi, tubuhnya bergetar hebat, apalagi saat ini aku sedang menggendongnya, jadi aku bisa sangat merasakan ketakutannya. Aku tidak tahan melihatnya seperti itu. Aku turunkan dia dari gendonganku, kemudian ku tatap matanya dan membelai rambutnya, kemudian aku berkata,
"Aku punya permintaan padamu Sandra, aku ingin kau mempercayai ku seperti kau mempercayai Theodore. Bisakah kau memberikannya padaku?" Ucapku menatapnya dengan lembut.
Sandra terdiam, ia masih terlihat ketakutan. Melihatnya yang masih terdiam aku bicara lagi padanya.
"Akan ku buktikan kalau aku pantas mendapatkan kepercayaan mu. Akan ku buat orang mengikuti kita ini tidak berdaya sehingga ia tidak akan mengganggu mu lagi" Kataku dengan yakin.
Kemudian aku merangkul Sandra dan ku amati sekelilingku menggunakan kekuatan pengelihatan jarak jauh yang baru saja ku dapatkan. Setelah beberapa saat, ku temukan orang itu, ia bersembunyi di balik pepohonan dalam jarak 200 meter dari tempatku berdiri.
"Sandra aku sudah menemukan orang itu, kau tunggulah sebentar disini, akan ku bawa dia ke hadapanmu dan akan ku biarkan kau melakukan apapun pada orang itu" Ucapku pada Sandra yang masih terlihat pucat.
Sandra masih tidak menjawab ku, ia masih diam.
"Baiklah, aku pergi dulu sebentar"
Saat aku hendak meluncur menuju tempat penguntit itu, Sandra tiba-tiba menarik bajuku.
Aku langsung melihat kearahnya, dan ia menatapku dengan serius.
"Pastikan kau bawa si bre****k itu ke hadapanku dalam keadaan setengah mati" Ucap Sandra dengan senyum dan wajah yang berubah menjadi cerah kembali.
"Pasti !!" Jawabku matap.
Setelah itu aku pun melesat berlari menuju si penguntit itu.
***
Setelah Chandra pergi meninggalkan Sandra sendirian untuk menangkap penguntit itu, senyum manis yang tadi tersungging di wajah Sandra mulai memudar. Ia mulai memikirkan mengenai perkataan Chandra tadi.
"Kau memintaku untuk mempercayaimu ya?" Gumam Sandra.
"Kau bahkan baru mengenalku beberapa hari, dasar anak aneh" Sambungnya.
^^^Bersambung...^^^