Bercerita tentang seorang wanita bernama Anita Sheila, seorang gadis yang memiliki sifat cuek terhadap hal yang menurutnya tak penting. Fokus terhadap nilai dan prestasinya semasa sekolah, justru membuatnya tak memiliki teman dan susah bergaul.
Namun pandangan Anita berubah ketika suatu hari ia bertemu Zain Azriel. Zain yang memiliki sifat berkebalikan dengan Anita memberi kisah baru dalam romansa tersebut.
Zain merupakan lelaki yang ceria, suka bermain, nakal dan bahkan dihari pertama sekolah ia bertengkar dengan seniornya, walau sebenarnya ia lelaki jenius dalam mata pelajaran.
Hubungan keduanya terbentuk ketika pertama kali Anita mengunjungi Zain untuk mengantarkan sebuah catatan. Namun saat itu juga Anita melihat sisi berbeda Zain dari rumor yang selama ini ia dengar. Dari situlah pertemanan keduanya dimulai.
Saat ini hubungan mereka semakin dekat, namun keduanya bingung dengan ikatan tersebut karena belum pernah memiliki pengalaman sebelumnya.
bagaiman kisah selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R_picisan03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ekstra Harapan
Setelah aku pergi meninggalkan ruang tamu.
"Hebat bener Anita, dia bisa tetap tenang dalam kondisi begini," ujar Zain.
"Yah, ini udah yang keenam kalinya," sahut Ayah.
"Heh? Keenam? Paman ini orang tua yang gak bisa di harapkan ya," pekik Zain.
Mendengar ungkapan Zain, ayah tak mengelak atau marah besar, hal tersebut ia sadari dengan masih menunduk sembari menggaruk kepala.
"Hehehe...ya aku ini memang ayah yang gak bisa di harapkan. Istriku juga bekerja, jadi kami masih bisa bertahan. Tapi aku yakin, Anita dan Raya pasti kesepian. Makanya dia tumbuh jadi orang yang dingin. Dia juga gak punya teman seorangpun. Yah itu sudah jelas sih, dari kecil dia lebih suka soal matematika daripada boneka," jelas Ayah menatap foto kecil Anita di dinding.
"Tapi sekarang dia udah banyak temen kok. Tiga teman termasuk aku," balas Zain tersenyum.
"Ha? Beneran?" kejut Ayah.
"Ayah, aku udah siap bekemasnya," ujarku keluar kamar perlahan menghampiri.
"Anita anak kesayanganku, gadis sepertimu itu seharusnya dandan yang agak lama," jawab Ayah.
"Daripada itu, lebih baik ayah cepat bergegas ganti pakaian."
"Iya," rintih ayah mengikuti arahan.
Setelah ayah bersiap, kami berdua langsung menuju toko dan Zain kembali pulang ke toko Rio menemui Azi dan Alea.
Toko game Rio.
"Eh? Aku pernah kok. Aku pernah pacaran waktu SMP," jelas Azi.
"Benarkah itu, Azi?" sahut Alea.
"Iya beneran. Aku dengar gosip kalau dia menyukaiku, jadi aku mengajaknya pacaran," jelas Azi.
"Aku kira kamu gak pernah pacaran sampai saat ini," gumam Alea.
"Zain, kamu ingat Jannah gak? Aku dengar kalian sekelas pas kelas satu," lanjut Azi melirik Zain.
"Gak ingat, semua orang keliatan sama di mataku waktu SMP. Memangnya beneran kau satu SMP denganku?"
"Lah? Kau gak sadar? Kejem bener lu Zain."
Diantara banyak tumpukkan buku di atas meja, Zain mengambil buku psikolog, kemudia berbisik pada Azi, "Jadi, kalian begituan enggak?"
"Apa yang kalian bicarakan sih! Kasih tau dong!" pekik Alea.
"Bercanda kok, kami langsung putus soalnya," jelas Azi.
"Ya ampun...kalau kalian bicarain soal itu terus lebih baik aku pulang aja," gerutu Alea.
"Ahehehe...maaf maaf, iya gak bahas itu lagi," ucap Azi meletakkan buku di meja.
"Hem."
Kemudian Azi kembali melirik Zain,"Jadi, kalau kau bagaimana Zain?"
"Aku beneran pulang nih!!!" bentak Alea.
Melihat ekspresi Alea, Zain dan Azi justru terbahak-bahak ketika menjahili.
"Hahaha...."
"Ahaha..haha.."
"Ngomong-ngomong Zain, apa terjadi sesuatu dengan Anita?" tanya Alea.
"Gak ada apa-apa kok, pikirannya lagi di sibukkan banyak hal. Katanya, dia akan memikirkan hubungan kami kedepannya."
"Kapan dia bicara begitu?"
"Pas pekan olahraga sih."
"Sebulan yang lalu? Ah, sepertinya aku mengerti kenapa mereka gadak perkembangan sedikitpun. Itu karena sifatnya yang merasa puas dengan situasi saat ini," batin Alea.
"Zain, bisa bantu soal ini?" ujar Azi menunjukan satu buku soal.
"Aku kan sudah bilang, begini dan begini. sini biar kujelaskan lebih simple lagi," balas Zain mengambil buku dalam genggaman Azi.
"Jadi Anita harus melakukan semuanya sendirian? Kalau Zain gak bergerak, Anita akan maju dan terus meninggalkannya," pikir Alea terus menatap Zain yang sedang mengajari Azi.
"Ini aku buatkan dan ini jawabannya, "jelas Zain menuliskan jawaban.
"Begitu ya cara kerjanya," singkat Azi mengambil buku jawaban.
"Andai semua hal bisa semudah ini," gerutu Zain.
"Ha? Apa maksudmu Zain?" tanya Azi kembali melirik Zain.
"Kupikir, orang yang sedang jatuh cinta akan selalu bersama. Tapi aku gak yakin apa akan ada yang berubah di antara kami."
"Ah aku ngerti maksudmu. Tepatnya hal yang seharusnya di lakukan sepasang kekasih bukan?"
"Ya aku bisa memikirkan satu hal yang harus kulakukan sih."
"Tapi yang kita bicarakan ini Anita Sheila loh."
"Lagi-lagi bicarain hal yang bikin aku malas," gumam Alea membaca buku primbo.
Aku yang baru tiba beberapa menit sebelumnya, telah mendengar beberapa bahasan yang terjadi. Tak mendekat namun memperhatikan dari sedikit kejauhan dan mereka bertiga belum menyadari keberadaanku.
"Lah? Sejak kapan dan ngapain disitu? Selamat datang, Anita," sapa Rio yang sedang mengepel ruangan ketika aku masih berdiam diri di pintu masuk memperhatikan Zain, Azi dan Alea.
"Aku bener-bener lupa, aku bilang sama Zain kalau akan memikirkan hubungan kita," pikirku singkat.
"Ah, Anita, akhirnya kamu datang juga," sapa Alea sumringah.
Alea yang amat senang menyambut kedatanganku justru berbeda dengan Zain dan Azi yang menutup wajah dengan buku.
"Cuma mampir sebentar, soalnya ayahku terus-terusan memaksaku datang kesini. Ini darinya," jelasku memberikan makanan pada Alea kemudian melirik Zain.
"Hore, asyik," balas Alea menerima bingkisan tersebut.
"Apa mereka menungguku?" batinku.
"Zain, ada waktu sebentar?" lanjutku.
Aku mengajak Zain keluar walau sekedar berjalan mengitari jalanan kota hingga akhirnya sampai di tepi pantai kota.
"Apa tempat ayahmu baik-baik saja?"
"Maksudmu tokonya? Ayahku udah manggil temennya, jadi sepertinya udah teratasi."
"Tadi ayahmu bilang, kau kesepian karena ibumu harus bekerja, apa benar gitu?"
"Kalau ayahku mikir begitu, seharusnya dia cari pekerjaan. Justru aku ingin seperti ibuku, aku ingin cepat selesai sekolah dan jadi wanita karir."
"Sejauh itu berfikirmu?"
"Iya tapi, Guci...."
"Guci? untuk simpan air kah?" Zain bingung maksud perkataan Anita.
"Dulu, ada sebuah guci besar di teras rumahku dan dulunya kami mau memelihara ikan mas di dalamnya."
"Terus?"
Berhenti melangkah, duduk menatap ujung sunset pantai, "Tapi akhirnya gak jadi, aku sendiri gak begitu tertarik dengan ikan mas. Aku sudah membaca buku tentang ikan itu dan malah sudah membelikanya pakan."
"Apa yang salah dengan itu?"
"Semua sudah kupersiapkan dan aku malah sedikit kecewa. Akhirnya aku simpulkan bahwa aku akan merasa kecewa kalau terlalu berharap."
"Mungkin saat itu kau merasa kesepian bukan? Ikut aku, ada sesuatu yang ingin kuberikan," lanjut Zain menarik tanganku berlari ke jembatan.
Setibanya di sungai bawah jembatan.
"Aku gak butuh udang, Zain!" pekikku melihat Zain mengambil alat pancing dari batang kayu.
"Ada sesuatu yang lebih besar loh, tunggulah," jelas Zain memasang cacing dan melemparkan umpan ke sungai.
"Aku gak bilang kalau ingin pelihara udang di guci itu!"
"Kau pasti berubah pikiran setelah kau melihatnya."
Ketika Zain berfokus memancing sesuatu, aku pergi menuju toko buku di seberang jalanan.
"Maaf, bisa bantu aku carikan buku yang ini?" jelas Gio memberikan contoh buku di meja kasir.
"Maaf tapi buku yang anda maksud gak ada disini. Itu adanya di lantai 2 sektor E."
"Oh baiklah," singkat Gio kembali berjalan.
"Maaf, pintu tangganya sebelah sana."
"Oh, makasih."
"Siswa itu sudah menyakan buku yang sama sebanyak 5 kali loh," bisik rekan kasir.
Ketika Gio menemukan lantai 2 sektor E, berjalan menaiki tangga tersebut.
"Gio?" ucapku melirik sisi kiri melihat kehadirannya.
"Anita?"
"Apa kamu mencari sesuatu?"
"Aku butuh buku referensi tentang kebijakan ekonomi," jelasnya berdiri saling membelakangi melihat-lihat buku di rak.
"Ekonomi modern? Tugas laporan tulis? Untuk indikator ekonomi, aku rekomendasikan buku ini."
"Makasih."
"Aku ingin bertemu denganmu."
"Apa-apaan gadis ini, apa dia tertarik padaku?" gerutu Gio.
"Pada ujian kemarin kau mengalahkanku di pelajaran bahasa inggris. Tapi aku mendapatkan nilai rata-rata tertinggi."
"Peduli amat sih!" kejut Gio.
"Begini, Anita..maaf saja, tapi aku gak niat bersaing denganmu. Lagian apa pentingnya belajar setiap waktu? Jangan tersinggung ya, tapi kupikir kau memang bodoh. Soalnya aku bisa bersenang-senang sekaligus sukses belajar.
"Apa menurutmu itu kehidupan yang sangat menarik? Setidaknya dalam hal akademis kita bisa mengatur hasil akhirnya. Entah bagus atau jelek hasilnya."
"Hari ini Zain gak bersamamu?"
"Zain? Belakangan ini ntah kenapa dia suka main di pinggir sungai."
"Sekarang kan bulan november."
"Dia ingin menangkap sesuatu ntah udang yang sangat besar dan memberikannya padaku. Aku yakin di bulan ini gak bakal ada udang yang bisa ia tangkap."
"Ya, wajar saja. Otaknya mungkin mentok setara anak SD."
****
Sampai disini dulu kak, berhubung otor lagi coba strike di danau toba nyari udang dan belum dapat, nanti kita lanjut up setelah dapat udangnya...mangat gais...
biasanya berhati lembut dan penyayang 🙄
sebenarnya kenapa zain bisa di cap pembuat onar😑
hanya karna game nya kalah😤
pasti ada sebab akibat nya tak mungkin mencelakai orang tanpa alasan 🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️🚶♀️
peristiwa berdarah apa 😧
Segala rasa membelenggu jiwa