Nindi seorang gadis belia yang masih duduk kelas akhir bangku menengah atas. terpaksa harus menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husnel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
Ardian mencari istrinya, namun tidak ditemukan di dapur, dia terus ke kamar dan menemukan istrinya sedang makai kan obat luka ke tangannya.
" Sayang... kamu kenapa,.".tanya Ardian panik.
" Nggak apa apa kak, cuma lecet sedikit , aku terpeleset di jalan tadi". jawab Nindi pelan.
" Mulai hari ini, kamu tidak boleh lagi pergi sendirian". ucap Ardian dengan nada yang agak tinggi. Nindi sangat kaget. Akhirnya di cerita kan kejadian yang sebenarnya..
Ardian mengambil nafas dalam dalam, dia sangat kesal dan cemburu, dia pergi ke bawah yang diikuti Nindi.
Melihat mereka jalan terburu buru, mami kaget
" Ada apa nak, kalian bertengkar". tanya mami bingung..
Ardian terus saja jalan keluar, dia memanggil satpam. maminya hanya diam.
" ada apa pak, ada yang bisa saya bantu".
Ardian mengatur nafasnya lagi.
" kamu tau nggak dengan pemuda tadi, bilang sama dia, jangan ganggu istri saya".
" Iya pak, nanti saya sampaikan". ucap satpam kaget melihat wajah bosnya yang merah.
Situasi seperti ini, biasanya ia mengandalkan Soni, namun Soni sangat jauh di sana. Angga tidak secepat Soni yang cepat tanggap, tanpa diminta, dia sudah kerjakan.
Mungkin karena mereka selalu bersama dari kecil. jadi sudah paham sifat dan kemauan masing-masing.
Ardian menarik nafas dalam-dalam. Nindi yang berdiri di belakangnya mematung. Dia belum pernah melihat ke marahan Ardian seperti tadi.
" Ada apa Ardian, kalian bertengkar". tanya papinya.
" Nggak pi, kami hanya ada masalah sedikit, papi nggak usah khawatir". ucap Ardian melunak.
" Oh ya pi, aku ada meeting, jadi tidak bisa makan siang di rumah". ungkap Ardian dan mencium tangan papinya. Nindi mencium tangan suaminya, namun Ardian tidak mencium kening istrinya, seperti bisanya, diapun berlalu.
Nindi sedih, namun diam saja, diapun pergi ke dapur bantu bik Ina. Papi Nugraha hanya temenung dengan sifat anaknya yang keras.
Di dapur Nindi banyak melamun, bik Ina menyadari ke adaan, dia diam saja. karena dia tau watak Ardian yang keras kepala.
Dia sangat marah, kalau miliknya diganggu, apalagi kalau sampai di ambil. makanya tadi bik Ina langsung naik Taxi. agar cepat sampai rumah, ternyata si pemuda mengikuti mereka sehingga tau rumah majikannya.
" Non, kalau nggak enak badan, istirahat sana, bibik bisa sendiri". kata bik Ina.
" oya bik, nggak apakan saya tinggal sendiri". tanya Nindi.
" Emangnya non tinggalkan bibik dimana, sampai takut ditinggal segala". canda bik Ina menghibur majikannya.
Nindi tersenyum mendengar canda bik Ina, dan pergi ke kamar untuk istirahat.
" Ada apa sebenarnya bik, kok seperti nya mereka bertengkar ". tanya mami Rasti.
Awalnya bik Ina berusaha menutupi kejadian tadi, namun buk Rasti selalu bertanya, akhirnya bik Ina menceritakan kejadian sebenarnya.
" Pantas saja, Ardian belum berobah benar, itu yang saya takutkan, makanya saya belum bisa meninggalkan mereka dulu, sampai keadaan tenang, bik Ina kan sudah paham sifat Ardian, tapi Nindi belum, kasihan dia". ucap buk Rasti menjelaskan.
" Iya, seperti nya non Nindi sedih dan kaget, dengan sikap den Ardian". ungkapan bik Ina.
" Gimana lagi bik, kita harus merobah watak keras kepala Ardian pelan-pelan. dan memberikan pengertian Nindi, bagaimanapun dia harus tau juga sifat suaminya".
Mereka berdua asik ngobrol, sambil masak.
Setelah semua masakan selesai dan menatanya di atas meja, buk Rasti pergi mencari suaminya di ruang keluarga.
untuk makan siang.
" Pi, ayok kta makan". ajak buk Rasti ke suaminya. mereka pun ke ruang makan,
" Mi, Nindi dimana, kok sepi nggak keliatan ". tanya pak Nugraha.
Buk Rasti menceritakan kejadian sebenarnya, mereka berdua sama sama menarik nafas.
" Kalau begitu suruh bik Ina ngantar kan makanan ke atas buat Nindi, biarkan dia istirahat". ucap pak Nugraha pada istrinya.
Bik Ina mengantarkan makanan ke Atas.. Nindi sudah ketiduran, tapi bik Ina melihat bantal yang basah, bik Ina membelai rambut majikannya itu.
Nindi terbangun, langsung duduk, dia menggosok matanya yang bengkak habis nangis..
" Non, cucilah mukanya dulu, biar makannya enak". kata bik Ina.
" Ah nggak bik, nggak lapar". ucap Nindi manja.
" Ndah usah gitu, nanti non sakit kalau ndak makan, Ardian marah nanti, istrinya tidak di kasih makan". ucap bik Ina menakuti.
Nindi pun lari ke kamar mandi, setelah cuci muka, dia masih melihat bik Ina duduk di kursi kamarnya.
" Sini non, bibik suapin, biar badannya nambah dikit, katanya mau kuliah. Kalau badannya kecil seperti ini, mana percaya orang kalau non sudah kuliah". kata bik Ina sambil tertawa menghibur majikan kecilnya itu.
Nindi pun menuruti kata bik Ina. bik Ina menyuapkan makanan ke Nindi sambil cerita.
Dia menceritakan Ardian masa kecil sampai dia kuliah diluar negeri.
" itu sebabnya papi Nugraha sayang juga sama Mas Soni". tanya Nindi.
" Iya non,den Soni kuliah di London itu sambil menjaga den Ardian. itu perintah tuan dan nyonya". cerita bik Ina.
" Satu lagi non, aden itu keras kepala, dia tidak mau miliknya di ganggu, mungkin itu sebabnya aden kesal, tapi sekarang sudah lumayan, dulu kalau lagi marah, langsung lari ke diskotik".
Cerita bik Ina.Nindi pun mengerti, sebenarnya dia juga salah, pergi tidak pamit, tambah lagi digoda pria lain. tentu suaminya marah. kata Nindi dalam hati.