NovelToon NovelToon
The Last Lotus

The Last Lotus

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Contest / Tamat
Popularitas:37.5k
Nilai: 5
Nama Author: sri devi

Demi rasa cinta yang besar, seorang perempuan menyembunyikan kebenaran. Baginya kebenaran tidak ada gunanya tanpa kepercayaan.

Rasa cinta yang memudar seiring dengan kepercayaannya kepada perempuan itu, ia berusaha mencari kebenaran untuk ibundanya, tetapi ia justru terjebak dalam cinta yang lain.

Sedangkan dia memegang kunci kebenaran yang di sembunyikan perempuan tersebut, dan juga kepercayaan yang di berikan tapi ia juga terjebak dalam cinta yang salah.

Akankah mereka berhasil mencari kebenaran?
Apakah perempuan itu mendapat kepercayaan?
Apakah dia dapat terbebas dari cinta yang salah?

Penasaran? langsung baca yuk

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sri devi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pasutri

"Sa, beneran nggak apa-apa, kan?" tanya Jira serius. Dan untuk yang kesekian kalinya, Arsa tersenyum, mengecup bibir Jira dan mengusap kepalanya. 

"It's okay!"

Jira tertawa lalu kembali memoles make up, mengabaikan Arsa yang sibuk dengan ponselnya. Setelah mengetahui Crystal kambuh panik, Jira meminta Arsa membatalkan rencana honeymoon mereka. Arsa menyetujui karena dia pun tak tertarik pergi ke luar negeri. Baginya menikmati Jira di rumah sama saja. 

Arsa mengakui otaknya mengalami korsleting. Rencananya untuk segera menyelidiki kecelakaan itu berantakan karena nafsunya meningkat tiap kali melihat Jira. Wanita yang kini menjadi istrinya itu sukses mengalihkan fokusnya. Kini saat melihat Jira telah rapi dengan pakaian formalnya, Arsa juga menjadi blingsatan. 

"Aku nggak lama, setelah selesai meeting, aku langsung pulang." Jira mematut dirinya sekali lagi di cermin lalu mencium Arsa dan pergi ke luar kamar. Sebelum ke kantor, Jira menyempatkan diri mengecek Crystal. 

"Mau kerja? Kan harusnya masih cuti honeymoon," kata Crystal heran. Jira tersenyum kecil seraya mengecek suhu tubuh adiknya. 

"Aku sehat!" Crystal memberontak dengan kesal. 

"Oke, obatmu jangan lupa!" pesan Jira sebelum membuka pintu. 

"Kak!" Crystal memanggil. 

"Croissant?" tanya Jira. Crystal hanya memamerkan deretan gigi putihnya dan Jira tersenyum untuk segera pergi. 

Jira tak menyadari mulai kapan dia terbiasa bicara dengan Crystal. Terbiasa menanggapi ocehan tak pentingnya. Terbiasa memikirkannya saat waktu senggang. Yang jelas Jira menyadari selama ini dia telah membuang banyak waktu bersama adiknya. Sedikit penyesalan menyeruak lagi kala teringat perlakuannya pada Crystal saat gadis itu normal. Jira sering berpikir akan jauh lebih baik bila ingatan Crystal tak kembali. Namun dia tahu itu egois, ingatan Crystal harus kembali normal tapi dia berharap kakinya lebih dulu pulih. 

Sepeninggal Jira, Arsa mulai mengeluarkan barang di lemari, menyusun pakaiannya yang masih di koper sekaligus memeriksa barang pribadi Jira. Berharap menemukan satu atau dua petunjuk, Arsa justru mendapatkan kecewa. Tak ada benda aneh yang disembunyikan Jira. Semua isi kamar tampak normal. Setelah mengembalikan segalanya ke tempat semula, Arsa ke luar kamar. Pandanganya teralihkan ke arah taman, tempat Crystal sedang duduk merenung. 

"Hey, sudah baikan?!" tanya Arsa sambil menepuk lengan Crystal. 

"Ya, begini aja. Sekarang baik, besok bisa nggak. Nggak tahu kapan berakhirnya." Crystal menjawab tanpa menoleh.

"Crys, apa yang bikin kamu ketakutan? Ceritain ke aku." Arsa berharap Crystal memberi petunjuk tapi gadis itu diam saja.

"Kalau kamu nggak mau cerita, gimana bisa dibantu?"

Karena Crystal masih diam, Arsa menyimpulkan Crystal tidak memercayainya. 

"Hm, kamu pasti nggak ingat kalau dulu aku teman curhatmu."

Pancingan Arsa berhasil membuat Crystal menoleh tapi tetap tak bersuara. Perlahan Arsa menyentuh kedua belah pipi Crystal lalu tersenyum. "Jangan sedih, ada aku. Aku bisa kok jadi kakak yang baik."

Ada sesuatu yang menyengat diri Crystal, hal samar yang mempengaruhi suasana hatinya. Dia kira akan ada ingatan yang muncul tapi ternyata hanya rasa aneh yang membuatnya tiba-tiba tersenyum. "Apa dulu kita sedekat ini?"

Arsa tertawa lalu melepas tangannya. "Ya. Kita kan kenal dari bayi. Pastilah dekat."

"Tapi Kakak lebih dekat sama Kak Jira?"

"Ya, karena kita seumuran. Dia teman mainku dari kecil."

"Kalau kalian main berdua, aku sama siapa?"

Arsa termenung mengenang masa lalu. Seingatnya Crystal kecil jarang dibawa keluar. Hanya Jira yang kerap main di rumahnya. Sampai Prama meninggal, Arsa baru menyadari Crystal dibedakan, saat itulah dia sering mengajak Crystal bicara. 

"Aku pasti sama mama, kata mereka aku kesayangan mama."

Arsa tersentak kaget akan kebohongan yang didapat Crystal. Dia tak mengerti mengapa Jira berdusta. "Crys, selama ini hidupmu gimana?" tanya Arsa menyelidik. 

Alis Crystal berkerut, bingung dengan pertanyaan Arsa tapi laki-laki itu malah menanyakan hal lain. "Kamu bahagia dengan hidupmu yang sekarang?"

Masih ada kerutan di dahi Crystal tapi lambat laun dia tersenyum, membuat Arsa heran. "Tentu aja aku harus bahagia, itu yang dimau kakak. Dia melakukan apa pun agar aku merasa bahagia, dan ya dia berhasil. Aku bahagia walau nggak sempurna."

Crystal kemudian berdiri, berjalan dengan hati-hati tapi kakinya terasa lemas hingga nyaris menjatuhkan tubuhnya. Dengan sigap Arsa menangkap tubuh Crystal. 

Crystal tak suka situasi seperti ini, saat dia merasa nyaman di pelukan Arsa. Tapi ternyata dia menyadari bahwa dia lebih tak suka ketika kedekatan mereka disela. Seulas kecewa terbit di wajahnya ketika suara mobil Jira memasuki halaman. 

Arsa masih menyangga pinggang Crystal tapi berusaha memberi jarak, tak terlalu dekat seperti saat Jira belum keluar dari mobil. 

"Kenapa, Crys?" tanya Jira cemas, mendekat dengan segera bersama Bas yang langsung mengambil alih tubuh Crystal. "Sakit," jawab Crystal pendek sambil meminta Bas mengantarnya ke kamar. Jira ingin segera menyusul tapi Arsa menahan pinggangnya dengan pelukan. 

"Kok pulang lagi? Nggak jadi rapat?" bisik Arsa.

"Iya, nggak jadi. Sa, aku mau lihat Crystal dulu." Jira berusaha melepaskan diri karena mengkhawatirkan Crystal tapi Arsa malah membawanya duduk ke sofa. 

"Crystal nggak apa-apa, kamu lihat aku aja!" perintah Arsa sambil memaksa Jira menatap wajahnya. Masih ada kecemasan di hati Jira tapi ekspresi menggemaskan wajah Arsa membuatnya terhibur, apalagi saat suaminya itu mendekatkan diri dan berbisik pelan. "Miss, jangan lupa, ini masih masuk waktu honeymoon. Ayo habiskan di kamar!"

Dan tanpa permisi Arsa memindahkan tubuh Jira ke kamar. Membuatnya melupakan Crystal yang sedang merenungi hidupnya. "Apa aku bahagia?" tanya Crystal dalam hati. 

"Mbak, mau makan croissantnya sekarang?" tanya Bi Ami sambil menjengukan kepalanya ke dalam kamar. 

"Ya, tapi aku mau tunggu kakak." Crystal menjawab tanpa menoleh hingga tak melihat wajah Bi Ami yang memerah karena wanita tua itu tadi menyaksikan Arsa menggendong istrinya ke kamar. 

"Egh, Mbak, itu ...."

"Kenapa? Kakak nggak mau?" tanya Crystal sembari menatap Bi Ami yang menggaruk kepala. 

"Bukan gitu, Mbak Jira pasti mau makan croissant tapi kayaknya kalau nunggu mereka bakal lama karena mereka baru masuk kamar."

"Oh."

Hanya itu jawaban yang diberikan Crystal sebelum berbaring membelakangi Bi Ami dan menutup kepalanya dengan bantal. 

"Mbak, jadi dimakan sekarang atau ...."

"Buang aja. Aku nggak mau!" jawab Crystal membuat Bi Ami dan Bas terkejut. 

**

Dahi Jira berkerut, matanya bahkan kedutan saat mendengar kata-kata yang meluncur dari Bibi Ami tentang Crystal yang tidak mau makan malam setelah meminta croissantnya dibuang. 

"Kayaknya Mbak Crystal ngambek." Bi Ami tertawa geli, begitu pun Arsa. Hanya Jira yang gelisah membasahi bibirnya. Crystal terlalu kekanakan, hanya karena Jira tak langsung menemaninya, dia marah seharian. Hati kecil Jira bertanya heran karena Crystal kumat bertingkah aneh. 

"Biar aku cek." Jira berdiri tapi Arsa menahan tangannya. "Biar aku aja," kata Arsa mendahului Jira bergerak ke kamar Crystal yang tak dikunci, tak boleh dikunci karena Jira takut bila Crystal sendirian. 

"Aku nggak mau makan!" suara Crystal menyambut keduanya begitu pintu kamar terbuka. "Kamu belum makan dari siang, Crys." Jira mengingatkan. 

"Aku nggak lapar," jawab Crystal masih dalam posisi membelakangi Jira yang perlahan duduk di tepi ranjang. "Ayo makan croissantnya," bujuk Jira. 

"Nggak, aku nggak suka lagi!"

"Yakin? Mau dibuang?" Kali ini Crystal mengerutkan dahi karena mendengar suara Arsa. 

"Kenapa marah kayak anak kecil begini, Crys?" tanya Arsa sambil menyentuh pundak Crystal. Jira menyentuh tangan Arsa lalu menggelengkan kepala, ingin melarang Arsa memperkeruh suasana. 

"Anak kecil?" tanya Crystal. 

"Cuma anak kecil yang marah kayak kamu gini. Kalau ada sesuatu yang mengganjal tuh bilang, jangan ngambek begini. Kamu ...."

Arsa tak jadi melanjutkan kalimatnya karena Crystal perlahan bergerak, dengan lambat duduk di ranjang dan menatap Arsa juga Jira bergantian. 

"Apa cuma anak kecil yang tiba-tiba bisa  berubah moodnya? Apa orang dewasa nggak boleh sesekali pengen sendirian? Kalian yang bikin aku keliatan kayak anak kecil. Nggak harus kan meributkan aku yang lagi nggak mau makan? Aku udah dewasa, kalau lapar aku bakal makan biar nggak disuruh!"

Arsa dan Jira ternganga, tak menyangka Crystal membalik keadaan. Melihat perlawanan Crystal, Jira tersulut. Dia berdiri lalu menatap Crystal tajam. "Jadi kamu nggak mau makan?"

"Nggak!" Crystal tegas menjawab. 

"Oke. Jangan panggil aku lagi kalau kamu nggak mau dengerin aku." Jira kemudian meninggalkan kamar yang secara tiba-tiba

membuat wajah Crystal berubah. 

"Dia marah?" tanya Crystal pada dirinya sendiri. 

"Kamu bikin dia marah," jawab Arsa geli sambil mengacak rambut Crystal. 

"Tapi selama ini kakak nggak pernah marah."

"Hm, mau mau nguji Jira atau gimana? Dia khawatir," kata Arsa sambil tersenyum. 

"Khawatir atau ..." Crystal terdiam. Pikirannya kalut, lalu tiba-tiba saja dia merasa teringat sesuatu. Samar tapi ada rasa sakit yang tergambar. Perih. 

"Crys, kenapa?" tanya Arsa cemas karena Crystal menutup mata sambil memegang pipinya yang seolah nyeri. 

"Sakit!" Crystal menjerit hingga Arsa panik dan mencoba menenangkannya tapi Crystal makin histeris, menutup telinga dan berteriak-teriak hingga Jira kembali ke kamar. 

Napas Jira memburu panik, dia gelisah dan segera menerjang pintu kamar tapi seketika dia terpaku saat melihat Crystal sudah tenang di pelukan Arsa. 

Bagai menenangkan anak kecil, Arsa mengusap pelan rambut Crystal yang masih terseduh-seduh. 

Belum hilang keterkejutan Jira, perlahan Crystal mengangkat kepala dan menatapnya untuk melontarkan pertanyaan yang membuat jantung Jira berdetak lebih kencang. 

"Kakak pernah nampar aku?"

1
sksksk
kece
??????@!2😍😄6h9
Nemu Lg karya yg the best
Ilfra Ilivasa
dari prolog udah bagus kak! mantap!
Ilfra Ilivasa
mantap kata-katanya! dan akan saya jawab, "ia tidak marah, melainkan sang awan lah yang menghilangkan bulan dan itu artinya bulan itu tidaklah marah. Dirinya hanya membutuhkan waktu untuk keluar dari awan itu"
Eva Sri Wahyuni
ini novel yang paling sad sih 😭
sksksk: sengaja buat yang sad" bund biar keluar air matanya 🤭
total 1 replies
sksksk
bagus banget
🐤
yaa aampuun thor berasa banget beban yg di tanggung jira semasa hidupnya
ga nyangka dia bakal pergi padahal yg berjuang sekuat tenaga adalah jira
kirain endingnga jira bakal bahagia padahal bahagianya hanya sementara
keren sih authornya memang ku akui ceritanya berat banget full masalah tapi itu yg jadi keseruan tersendiri gimana dia bisa menjalani semuanya dan bisa melindungi orang orang yg di sayangi
sksksk: makasi kakak sudah mampir
total 1 replies
Arasa Cimamahmuda
nyimak
nura julian
tulisan rapi 👍
sksksk: terimakasih 🥰
total 1 replies
Quora_youtixs🖋️
semangat terus sukses selalu buat karyamu 👍
Yeni Eka
Aku hadir nih thor kasih boom like
Nona Bucin 18294
💜💜💜
Nona Bucin 18294
like like like 💜
Nona Bucin 18294
Hai kak aku mampir,,,
circle
aku mampir Thor, 😘😘
Sweet chicie💞
wah aku up jejak sampai disini dlu ya kak,, nyicil baca ya ni bakal jadi pr,,, mangattt
Sweet chicie💞
rindu mampir kak, baru mulai baca udah tertarik kak, semangat ya berkarya terus,...
Sweet chicie💞
like
Sweet chicie💞
up
SoVay
hadiiiirrr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!