Setelah menerima donor mata dari kakak nya, Kanaya terpaksa harus menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi kakak ipar nya sendiri, karena sang kakak meningal akibat kecelakaan yang di sebabkan oleh nya.
Kanaya adalah seorang gadis buta yang berusia dua puluh dua tahun, sejak kecil dia hanya tinggal dengan ibu dan kakak nya, "Aurel" sementara ayah nya sudah meninggal sejak Kanaya masih kecil.
Aurel yang seminggu lagi hendak melangsungkan pernikahan malah meningal karena menyelamatkan Kanaya adik nya yang hampir tertabrak mobil saat hendak menyebrang jalan.
Samuel yang kecewa terpaksa menikahi Kanaya atas permintaan terakhir Aurel, meskipun dia cukup membenci Kanaya karena Kanaya adalah penyebab meningal nya Aurel.
Bagaimana kisah Kanaya dan Samuel yang menikah karena unsur keterpaksaan? Bagaimana perlakuan Samuel kepada Kanaya wanita yang sangat dia benci ini? Ayo baca kisah mereka di sini bersama author Nadia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Sementara itu di sisi lain
"Semuanya sudah aku bereskan, dan sepertinya tidak ada yang tertinggal," ucap Naya yang sudah selesai merapikan semua barang-barangnya dan juga Samuel.
Samuel melirik sekeliling kamar itu, yang terlihat sudah sangat rapi, begitu cepat sang istri merapikannya, hanya dalam waktu tiga puluh menit selama dia mandi.
"Baju ku?" tanyanya sambil menatap Naya.
Naya tersenyum tipis dan berjalan menuju kasur, ia mengambil satu setelan lengkap yang sudah dia siapkan untuk Samuel tadi dan kemudian menyerahkannya kepada Samuel.
"Ini," ucapnya sambil tersenyum manis.
"Mengapa kau terus tersenyum?" Samuel yang bingung akan sikap istri nya itu mengernyitkan dahinya.
"Tidak ada, pakai saja bajunya, aku akan mandi juga," ucap Naya yang kemudian mengambil handuk dan baju ganti, lalu berjalan cepat masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara Samuel yang melihat istri nya tersipu malu pun hanya bisa tersenyum dalam diam.
"Aaaaa, mengapa dia tidak menyadarinya? Dia keluar kamar mandi dengan rambut basah dan handuk yang membalut pinggang, menampilkan perut kekar yang membuat Naya gemetar menahan rasa salah tingkahnya untuk tetap tidak menatap tubuh suaminya itu.
"Naya bodoh, dia itu galak, jahat dan menyebalkan, jangan berharap lebih, dia itu membencimu... Astaga bodohnya aku ini," ucap Naya sambil menepuk-nepuk pelan kepalanya.
Ia pun kemudian masuk ke dalam bak mandi dan mulai merawat dirinya, namun bayang-bayang Samuel masih terus membayangi pikirannya.
Setelah selesai mandi, Naya pun seperti biasa memakai pakaiannya di dalam kamar mandi sebelum keluar.
"Masih belum selesai?" ucap Naya kaget ketika melihat Samuel yang baru saja akan memasang kemeja.
"Kancingnya menyebalkan, rasanya ingin aku copot saja!" ucap Samuel emosi sendiri karena kesulitan mengancingkan kemeja.
"Astaga, dengan baju saja bertengkar... Mengancingkan baju sambil emosi? Aku tak habis pikir tuan, sini biar aku bantu," ucap Naya merasa tak habis pikir dengan suaminya itu, bisa-bisanya berkelahi dengan kancing kemeja.
"Terserah saja," ucap Samuel yang wajahnya sudah memerah karena menahan amarah.
"Jangan melakukan pekerjaan dengan emosi, berusahalah mengendalikannya. Segala sesuatu yang dikerjakan dengan perasaan tenang akan berjalan lancar," ucap Naya dengan tenang, lalu menghampiri Samuel dan mulai mengancingkan kemeja yang dipakai suaminya itu.
Mendengar itu, Samuel seketika menjadi lebih tenang karena nasihat sang istri berhasil menembus hati kecilnya.
Dia pun menatap Naya lekat-lekat, melihat jemari lentik dan mungil Naya yang dengan teliti memasang kancing demi kancing di bajunya.
"Sudah selesai. Begini sudah rapi, kancing paling atas tidak perlu dipasang," jelas Naya sambil merapikan kerah kemeja Samuel.
Sementara Samuel masih terpaku menatapnya, bahkan tak berkedip sedikit pun. Naya yang menyadarinya mengerutkan kening, merasa bingung menerima tatapan yang belum pernah dia dapatkan sebelumnya.
"Tuan, aku sudah selesai," ucap Naya lagi. Kali ini ia melambaikan tangan perlahan di depan wajah Samuel.
Samuel pun tersadar dari lamunannya, lalu melirik kancing kemeja yang sudah terpasang rapi.
"Te-terima kasih." Kata-kata yang tak pernah keluar dari bibir Samuel sebelumnya kini terucap untuk Naya.
Naya sontak terkejut, tak percaya laki-laki yang berdiri di hadapannya—orang yang dulu begitu membencinya—bisa mengucapkan kata terima kasih. Hal ini membuat Naya semakin yakin bahwa kesabarannya tak akan sia-sia.
"Mengapa kau menatapku?" tanya Samuel bingung melihat Naya yang diam mematung.
"Ah, i-iya sama-sama," jawab Naya singkat.
Saat hendak berbalik menjauh, tangannya ditahan oleh Samuel.
"Ada apa?" tanya Naya kembali menghadap sang suami.
"Bisa kah kau bantu memasang jam tangan?" tanya Samuel dengan nada hati-hati.
Sekali lagi Naya merasa salah tingkah saat menyadari tangan Samuel masih menggenggam erat pergelangan tangannya.
"Kalau kau tidak mau, tidak apa-apa, aku tidak akan memaksa," Samuel melepaskan genggamannya, khawatir Naya enggan membantunya.
Naya tersenyum tipis, mengambil jam tangan yang tergeletak di nakas, lalu meraih tangan Samuel untuk memasangkannya.
Untuk kesekian kalinya, Samuel menatap Naya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Tak lama kemudian, Samuel, Azka, dan Naya sudah keluar dari hotel menuju bandara. Pesawat yang akan mereka tumpangi akan berangkat tiga puluh menit lagi.
"Aku harap bisa duduk bersebelahan dengan Naya. Aku tidak akan membiarkan Azka mengambil kesempatan lagi," batin Samuel.
Sesampainya di dalam pesawat, Samuel kembali kecewa saat melihat Naya duduk berdampingan dengan Azka. Entah ini kehendak Azka atau bukan, namun dialah yang mengatur pemesanan tiket mereka.
"Azka, bolehkah aku bertukar tempat duduk?" tanya Naya kepada Azka.
Azka tertegun, tak menyangka Naya justru meminta bertukar tempat padahal biasanya ia lebih sering duduk bersamanya.
"Apa aku tidak salah dengar?" tanya Azka memastikan.
"Tidak, aku kasihan padanya. Dia pasti merasa canggung duduk bersama orang asing," jawab Naya.
"Baiklah, aku akan sampaikan pada tuan muda," ucap Azka sambil memberi kode pada Samuel untuk berganti tempat sebelum pesawat lepas landas.
Melihat kode itu, Samuel merasa sangat lega karena akhirnya Azka paham akan perasaannya.
"Akhirnya..." Samuel segera bangkit dan duduk di sebelah Naya, sementara Azka pindah ke tempat duduk yang kosong.
"Kau yang meminta bertukar tempat?" tanya Samuel memastikan.
Naya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.
"Bukankah kau terlihat nyaman dengan Azka kemarin? Bahkan kau sempat tertidur di bahunya... Kalian terlihat persis seperti suami istri yang sedang berlibur," ucap Samuel panjang lebar dengan nada cemburu yang tak bisa ia sembunyikan.
"Apa? Aku? Tidur di bahu Azka?" Naya terkejut, tak menyangka Samuel memperhatikannya sedemikian rupa.
"Iya, aku melihatnya. Bahkan kakek di sebelahku menyangka kalian adalah pasangan pengantin baru yang mesra. Kau tahu betapa tidak nyamannya hatiku mendengar itu? Saat aku bilang kau adalah istriku, dia tak percaya... Seandainya dia bukan orang tua, mungkin sudah kuajak berantem," ceritakan Samuel jujur tanpa ragu.
Naya menyimak ceritanya sambil menatap wajah dan bibir suaminya, tersenyum gemas melihat Samuel yang begitu terbuka.
"Sudah selesai bercerita?" tanya Naya sambil perlahan menyentuh pipi Samuel agar ia lebih tenang.
"Eh... Eh..." Samuel terpaku dan gugup merasakan sentuhan lembut tangan Naya.
"Ah, maaf..." Naya segera menarik tangannya kembali.
Keduanya terdiam, sama-sama merasakan getaran yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
"Lihatlah pemuda itu... Dia berani duduk bersama istri orang, sepertinya dia mencoba merayu wanita cantik itu," ucap seorang pria tua yang duduk di sebelah Azka.
Azka menoleh terkejut saat mengenali siapa orang tua itu.
"Astaga Kakek... Mengapa Kakek selalu ada di mana-mana? Kemarin duduk bersama tuan muda Samuel, sekarang duduk bersamaku... Dunia ini sungguh sempit," keluh Azka sambil menggelengkan kepala.
"Lho, kenapa? Ini kan pesawat umum, bukan milikmu. Aku kebetulan pulang ke kotaku juga, atau ke kota kita bersama asistenku. Liburanku sudah selesai," jawab kakek itu santai.
Azka hanya bisa menggelengkan kepala bingung sambil menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.
Melihat Azka diam, kakek itu kembali bertanya, "Kau kan suaminya wanita cantik itu? Dia sangat baik, kemarin dia menolongku di hotel. Mengapa kau membiarkannya duduk bersama pemuda yang galak dan kasar itu?"
Sementara itu, di kursi depan, seorang pria memberi kode tulisan kepada Samuel bahwa kakek itu agak pelupa, memohon dimaklumi karena usianya sudah lanjut, dan mengisyaratkan bahwa dialah asisten pribadi kakek tersebut.
Azka pun akhirnya mengerti maksud asisten itu dan mencoba menjelaskan dengan sabar, "Kakek, izinkan aku jelaskan... Dia adalah tuan muda Samuel, atasan saya. Dan wanita di sebelahnya adalah istrinya, Nona Naya. Dia adalah istri sah tuan muda Samuel, bukan istri saya Kek."
Mendengar penjelasan itu, kakek itu terbelalak. Sebenarnya ia sangat menyukai Samuel karena wajah pemuda itu mengingatkannya pada cucunya yang telah tiada, itulah sebabnya ia sering menguji Samuel.
Bersambung ....
🤣❤️