Cinta itu ada masa kedaluwarsanya, tapi hanya Tuhan yang tahu kapan cinta itu datang dan pergi.
Satya dibuat kesal karena kalah tender pembangunan mega proyek kilang minyak baru dan surat penalti yang dilayangkan perusahaan owner akibat kecerobohan karyawan baru yang salah dalam membuat project schedule. Alih-alih menerima konsekwensi pemecatan, Aritha malah memaksa Satya tetap mempekerjakan dirinya agar dapat bertanggung jawab atas kecerobohannya.
Tantangan diterima, namun bertemu pandang dengan mata biru elektrik perempuan itu membuat hatinya bergetar.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah Aritha berhasil menyelesaikan kasusnya atau kecerobohannya semakin membuat bosnya emosional dan bangkrut?
Session 2 :
Tentang bagaimana Ritha berjuang mempertahankan pernikahannya dengan seorang petarung bisnis yang kehidupannya sangat berbeda dengan kehidupan impiannya yang sederhana.
Sanggupkah ia bertahan dengan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya-senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ashar
Coffe break dimulai, Ritha beranjak ke luar business room untuk sholat ashar. Sementara Raina masih sibuk melayani berbagai pertanyaan orang yang memburunya. Ritha sempat mengambil secangkir kopi dan menaruhnya di meja depan tempat duduknya. Bukan untuk diminum segera. Hanya untuk mengulur waktu menunggu, berharap Raina menghalau orang-orang yang mengelilinginya itu untuk pergi shalat ashar.
Semenit menunggu, tak ada tanda-tanda Raina meliriknya apalagi menghalau orang-orang yang telah terlanjur mengelilinginya. Ritha segera pergi menuju mushola. Kecewa itu pasti. Tapi kewajiban pada Tuhan harus lebih diutamakan dibandingkan harapannya untuk bisa mendekati Raina.
Setelah salam mengakhiri sholatnya, Ritha sudah mendapati Raina shalat di sisi pojok yang berseberangan dengan dirinya. Akhirnya Ritha tersenyum sendiri. Rupanya ketika mengutamakan Tuhan, harapan remeh yang terbersit di hatinya yang lemah ikut terkabul. Ritha pun meneruskan ibadahnya, memanjatkan dzikir dan doa dengan penuh rasa syukur dan bahagia sambil menunggu Raina selesai sholat.
Seperti biasa, perempuan selalu punya waktu lebih untuk touch up setelah selesai sholat. Air wudhu meluruhkan bedak namun memberikan kesejukan dan membersihkan kulit dari paparan kimia berbagai jenis benda yang dipercaya menambah aura kecantikan perempuan. Dengan touch up, wajah perempuan yang selesai sholat jauh terlihat lebih cantik dan bersinar.
Ritha tadi sudah memperhatikan bagaimana keahlian Raina dalam melakukan touch up make up di wajahnya dengan cepat namun tetap terlihat wow. Pertama, dia menyediakan tissue khusus pengganti make up remover untuk membersihkan seluruh sisa make up sebelumnya. Setelah wajah bersih, dilanjutkan dengan mengaplikasikan bb cream secara tipis ke seluruh wajah, merapikan alis, membubuhkan two way cake, membuat garis mata dengan eye liner, memberi sentuhan blush on di pipi dan terakhir mengoleskan lipstik di bibirnya yang ranum. Selesai. Touch up hanya butuh 5 menit tapi efeknya tampilan jauh terlihat lebih segar dan cantik natural. Ini pengalaman berharga buat Ritha. Tidak perlu menunggu besok, nanti sepulang dari pertemuan ini ia sudah berencana beli benda pendukung touch up yang belum dimilikinya, yaitu tissue dan bb cream. Tentu saja benda-benda itu ke depannya akan berada di kantung kosmetik yang akan selalu ada di dalam tasnya menemani mukena parasut.
"Hai, kamu blasteran eropa ya, Rith?" Raina sedikit kaget melihat mata Ritha tanpa softlens yang dilepasnya sejak wudhu tadi dan belum dipasang kembali.
"Tidak, saya asli Indonesia. Beberapa keturunan suku terasing di Indonesia memang ada yang bermata biru, Nona," jawab Ritha sopan.
"Matamu cantik," puji Raina sambil tersenyum. Tangannya masih aktif membubuhkan blush on warna pink muda pada kulit wajahnya yang putih. Penampilannya pun makin sempurna.
"Terima kasih."
"Tapi kenapa pakai softlens warna hitam?"
"Supaya tidak tampak menyolok perhatian. Kami minoritas, jadi penampilan mungkin bisa mengganggu hubungan kerja."
Tampaknya Raina tidak sepakat dengan jawaban yang menurut Ritha sudah cukup diplomatis. "Kuatkan rasa percaya diri kamu, Baby. Apapun yang Tuhan kasih, pasti yang terbaik buat kita. Semua perempuan berhak memiliki jatidiri sendiri. Buat saya tampil natural itu jauh lebih baik dan nyaman. Kamu lebih cantik dengan tampilan naturalmu. Nggak perlu pakai softlens, Baby," lanjut Raina seraya menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri tepat di depan mulutnya. Artinya, say no to softlens.
Ritha mengangguk. Nasehat Raina khas seperti nasehat aktivis gender dan sosial inklusif. Terdengar agak radikal meskipun apa yang dikatakannya itu benar.
"Saya kagum pada perempuan seperti anda, Raina. Bolehkah saya berteman dan minta saran darimu?"
"Tentu, saya suka perempuan cantik dan hebat sepertimu."
"Anda jauh lebih cantik, cerdas dan berwibawa. Saya mengagumi anda. Saya ingin belajar banyak dari anda." jawab Ritha malu-malu. Berharap Raina segera mengeluarkan kartu nama dan memberikan persetujuan boleh menghubunginya sebagai teman.
Benar saja. Raina baik dan ramah. Kebaikannya itu dari hati, bukan basa basi. Dia mengambil kartu nama dan sebuah pin hijab dari dalam tas croco hermesnya yang mahal itu. "Simpan ya buat kenang-kenangan. Kamu boleh hubungi saya kapanpun. Saya selalu mendukung perempuan muda yang punya semangat tinggi dan cerdas seperti kamu. Jarang saya menemui perempuan cantik yang bekerja di sektor konstruksi bangunan seperti kamu." lagi-lagi Raina memuji sekaligus memberikan dukungan spiritual buat Ritha. Ia meletakan kartu nama dan pin hijab dengan tangannya yang halus. Tangan yang satunya menggenggam tangan Ritha dengan lembut.
Ah, berasa seperti mimpi diberi hadiah benda ajaib oleh ibu peri cantik yang baik hati. Ritha seperti sedang melayang di udara. "Wahai bidadari, bawa aku terbang ke kayangan. Nobatkan aku sebagai bagian dari komunitas kalian." seru Ritha dalam hati.
"Ohya, lupa. Kamu stafnya pak Satya kan?"
"Benar sekali, Nona."
"Bisa menemani saya di acara pesta nanti malam? Kami masih ada acara pesta informal di sebuah hotel bintang lima di kawasan puncak. Saya akan senang sekali kalau ada teman perempuan yang bisa bergabung agar tidak sendirian di acara tersebut," pinta Raina lembut.
Hmmm, Ritha berpikir keras. Nanti malam ada kelas pengganti di kampus. Selain itu Ritha tak suka pesta dan tidak punya baju yang layak untuk pesta bersama kaum jetset seperti Raina. Ritha takut membuat malu bos besarnya yang perfeksionis jika hadir dengan pakaian yang tidak layak. Lebih baik menolak saja secara halus.
Selain alasan itu, Ritha merasa ngeri membayangkan pesta informal. Menurut cerita-cerita orang, pesta orang jetset itu pasti dilengkapi makanan enak, minuman keras dan hiburan malam. Sungguh, itu bukan dunianya. Ritha lebih suka mencari hiburan dengan menikmati keindahan alam. Murah, meriah dan sepi, jauh dari hal yang hingar bingar.
"Maaf, Nona. Sebenarnya saya tersanjung nona mengundang saya, tapi saya ada harus menghadiri kelas di kampus. Mungkin lain kesempatan, saya pasti menghadiri undangan nona," jawab Ritha sopan.
Raina menepuk bahu Ritha. "Belajarlah yang baik, baby. Kapan waktu kamu harus hadir di undanganku yang lebih spesial," kata Raina sambil tersenyum
Ritha merasa lega. Misinya berhasil. Ia akan bercerita pada Ardi bagaimana susahnya menjalankan misi pertama sebagai mak comblang. Bahagia rasanya membayangkan bisa berdua menertawakan misi dua orang moron yang menyatakan diri sebagai partner in crime. Bagai hiburan tersendiri di tengah kepenatan dunia kerja.
Duo R jalan bersama lagi menuju business room. Hanya tersisa satu presentasi lagi tentang rencana awal operasional pabrik dan peluang untuk bergabung menanamkan minimal 10% saham di bisnis tersebut untuk perusahaan lokal. Menurut peraturan pemerintah yang baru, untuk industri strategis tidak diperkenankan penanaman modal asing murni 100%. Harus ada partner lokal yang tergabung dalam konsorsium. Ritha mencatatnya sebagai hal penting yang mungkin akan dirapatkan dalam rapat dewan direksi.
Selesai pertemuan sore itu pak Pri menjemput mereka kembali ke kantor. Seperti kata Ardi, mereka hanya kembali ke kantor berdua. Satya telah membawa mobilnya sendiri entah kemana. Sebagai seorang direktur, ia enggan menggunakan jasa supir pribadi dan sekretaris selain untuk urusan pekerjaan. Dia tidak pernah mempercayakan orang lain tahu seluruh urusan pribadinya. Kadang ia pergi beberapa hari mengurus urusan atau bisnis pribadinya dengan hanya memberitahu sekretarisnya kalau ia tidak bisa diganggu. Sikapnya yang tidak mencampuradukan urusan kantor dan pribadi memang terkesan profesional, tapi menjadikan kehidupan pribadinya begitu misterius bagi banyak orang.
Ritha sendiri bingung, apa kira-kira misinya bersama Ardi akan berhasil. Masabodolah. Misi ini cuma selingan, yang terpenting adalah bekerja sebaik mungkin. Harus yakin hasil pasti tidak akan mengkhianati usaha, kecuali garis takdir berkata lain. Nikmati saja hidup apa adanya.