Alyra Almeera adalah gadis sederhana, Setelah kematian sang ibu, membuatnya menjadi wanita yang senang mengurung dirinya di rumah, dia hanya menghabiskan waktu, dengan melanjutkan bisnis usaha kue milik peninggalan ibunya.
Dahulu saat dia baru saja kuliah di pertengahan semester delapan, tiba-tiba harus menghentikan kuliahnya, akibat terhambat biaya yang bentrok dengan biaya kebutuhan sehari-hari, dia malah terus mendorong sang adik untuk terus sekolah kejenjang yang lebih tinggi. Dia berharap sang adik yang akan meneruskan cita-citanya.
Tidak ada kisah cinta sebelumnya, hingga sang ayah sakit, dia rela jadi pembantu demi biaya pengobatan sang ayah yang tiba-tiba harus di operasi.
Dia hanya mengabdi pada ayah dan adik satu-satunya. Semua kasih sayang hanya tercurah untuk keduanya.
Hingga dia bertemu dengan pria yang bernama Bayu Samudra, juga keluarga lainnya, dia tidak menyangka jika pertemuan setiap hari akan membuat keduanya jatuh cinta.
ikuti kelanjutannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ekha dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BDS.Chapter 28(Ori lebih mengigit)
Adegan romansa tenang tadi beringsut bubar, mereka kaget mendengar suara pintu terbuka, Bayu juga malu jika di lihat langsung adegan mereka tadi.
Wajah Lyra kikuk, melihat Edo senyum senyum menatap bergantian pada wajah dirinya dan suaminya.
"Sorry...Aku tidak tahu kalian sudah datang." wajah jenaka Edo membuat Bayu kesal, dia menatap tajam mengintimidasi, agar Edo terdiam, namun malah sengaja Edo menggoda terus pasangan pengantin itu.
"Jiaaah ternyata melihat Mas Bay jatuh cinta itu terlihat romsntis, ya." Edo dalam suasana hati riang, puas mengejek temannya, jika Bayu pernah bilang tidak jatuh cinta pada gadis itu, tapi melihat adegan itu tadi membuat Edo ketagihan menggoda sahabatnya.
"Diam lo, mau apa kemari?"
Wajah jutek Bayu kembali nampak, terlihat seperti pemuda labil, saat ketahuan sedang main romansa.
"hahaha."
Edo tertawa puas, melihat wajah sahabatnya merah padam, biasanya dia melihat Sonia yang nyosor duluan, dan kenapa melihat Bayu seperti itu membuat dia ingin tertawa.
"Meeting akan di adakan selepas dzuhur, aku sudah meberikan pengumuman dari tadi pagi." Edo melirik jam tangannya melirik bergantian melihat wajah boss dan istrinya.
"Kak Ly. kalau mau jalan-jalan di sekitaran hotel bebas kok."
"Nggak perlu istirahat saja di kamar." Protes Bayu menolak tawaran yang di ajukan Edo, enak saja wanitanya berkeliaran di kawasan hotel, bagaimana jika salah masuk kamar orang berabe, pikir Bayu, dan mengingat itu dia semakin takut Lyra kabur dari ruangannya.
"Boss pembahasan semua perombakan ini, apakah tidak akan membuat pro kontra antar pekerja boss." tanya Bayu sedikit Bimbang, "jika ada yang protes dan menentang siapkan uang pesangon, banyak di luaran sana yang membutuhkan pekerjaan."
Jawaban dingin Bayu menunjukan jika semua aturan dalam pengawasannya harus di turuti, Lyra masih tidak mengerti apa yang menjadi bahasan boss dan Assistennya itu.
Dia memilih diam, kadang mencuri pandang pada pria yang terlihat tampan saat berbicara serius seperti itu, menunjukan jika auranya semakin keluar.
****
"Tenanglah disini, aku akan masuk pada acara Meeting siang ini, nanti setelah semua beres aku akan bawa kamu menemui karyawan yang lain."
"Jika aku bosan bagaimana?"
Bayu mematung mendengar pertanyaan seperti itu, dia juga nggak yakin meeting kali ini akan cepat selesai.
"Aktifkan selalu hp, boleh keluar asal dalam kawasan hotel saja, jangan pergi tanpa memberi tahu aku, oke." peringatan Bayu terdengar serius, Lyra tidak berani membantah apa yang sudah di tetapkan.
Lyra mengangguk, dia begitu menikmati perhatian itu, masa bodoh dengan waktu kedepan yang penting dia merasa bahagia mendapat perhatian itu.
Berkeliling mengitar ruangan isi kantor suaminya, berkeliling dalam kamar itu, hingga dia menekan pintu kamar milik suaminya.
Ranjang khusus terlihat nyaman sekali, dia menatap meraba semua yang terpasang disana, duduk di sisian ranjang mengusap lembut seprai putih yang terpasang disana.
Hingga dia merebahkan badannya, dan tertidur nyaman, perasaan Lyra baru sebentar, tidut disana, saat ada tangan kokoh yang memeluk erat dari belakang tubuhnya.
Wangi maskulin itu terasa mengisi hampir seluruh paru-parunya, saat membuka mata, pria itu tepat di hadapannya, menatap lembut dengan gurat lelah terlihat di wajahnya.
"Mas, Sudah beres ac...."
Belum selesai dengan pertanyaan istrinya, Bayu menyerang tanpa pamit, dia kembali mengulang peraduan seperti semalam, harusnya Lyra menolak, tapi tidak, tubuhnya bertolak belakang dengan hatinya.
Permainan Bayu agresif, Lyra kewalahan mengikuti permainan yang tabu dalam hidupnya, namun respon tubuh mengikuti Alur yang di inginkan tuannya.
Mulai terasa panas udara terasa sesak, saat Lyra tidak tahu cara bernapas dengan benar.
Hingga dia menepuk tubuh suaminya, yang sudah berkabut, Lyra terengah-engah kehabisan nafas, Lyra melihat wajah itu sayu, dia tidak tahu kenapa Bayu menatapnya seperti itu.
"Jangan di tahan, bernapas-lah dengan pelan." ternyata memang gadis itu benar benar masih polos, Bayu menunggu Lyra menunjukan kemampuannya, namun nihil gadis itu benar-benar masih lugu.
Hingga kembali Bayu menyerang peraduan, memberikan petuah, mengajarkan perlahan, sampai Lyra paham, mencari pasokan udara untuk paru-paru mereka saat melakukan itu semua.
Panas dingin, tangannya tidak mau diam, Lyra ingin berontak tapi tidak dengan tubuhnya, mendamba apa yang di lakukan suaminya.
Hingga tanpa sadar entah sejak kapan kemeja itu terlepas dari tubuh atletis di hadapannya, dada bidang dengan bulu-bulu halus terlihat gagah Lyra ketakutan melihat itu, dia belum siap memberikan haknya.
Badannya gemetar, dan Bayu melihat itu heran bukankah wanitanya sudah tidak perawan.
Lyra terlihat tegang, saat Bayu mulai merangkak, melepas semua kain yang melekat sempurna di tubuh istrinya, dia seperti melihat harta karun, pemandangan yang membuat darahnya semakin naik turun, mengusap lembut area gunung gunung tandus, berpegangan lembut.
Menyisir area lembah terlarang. Dia menemukan lembah berawa, tumbuh padang rumput disana. terlihat Ular tegang sedang mengintip mangsanya, bergerak mengumpulkan konsentrasi untuk melumpuhkan sergapan, yang terlihat menangis ketakutan dia tidak peduli itu.
Hingga sapuan tangan berdesir asing dalam diri Lyra, saat pertama kali dalam hidupnya mendapat perlakuan seperti itu, dadanya naik turun, takut, marah kecewa pada dirinya harusnya dia berontak tapi tidak dia menikmati itu semua, calon mangsa terlihat takut.
kelinci itu terlihat imut menggoda, mendorong kuat agar ular bisa memangsa dan memilki itu seutuhnya.
Ancaman Sonia, seakan dorongan untuk egois, dia ingin memiliki gadis itu seutuhnya. Masa bodo, pacar dan semacamnya, yang penting dia mendapatkan haknya.
Peraduan itu membawa mereka pada dunianya, Lyra berteriak dan kembali diam saat di bekap langsung oleh peraduan bibir suaminya.
Ular meliuk mencoba memasuki lembah, mencari mangsa dalam puncak rantai makanan, tidak peduli mangsanya meronta ketakutan, dia dengan susah payah melewati ranting ranting tajam yang menggores punggungnya.
Ular memaksa masuk mencari celah, dia merasakan usaha keras, untuk melewati itu semua, jerit tangis mangsanya membuat dia sadar, jika wanita cantik itu masih Ori, Bayu terhenyak usaha menerobos kawasan lembah itu belum tuntas, dia tidak tega melihat tangisan itu.
Yang penting dia sudah menandainya dan dia tahu, ternyata istrinya masih Ori. dia jadi ingin tertawa saat mengingat pertanyaan Rindi, Ori, yes, masih Ori
Gerutunya dengan keringat membasahi tubuhnya.
Tangisan masih terdengar, dan ular masih setengah memasuki kawasan lembah, menenangkan mangsa untuk melahap habis semuanya. Tinggal satu hentakan mangsa masuk pada perangkapnya.
Dor..
Dor..
Gedoran pintu seperti suara senapan para pemburu, memaksa ular menghentikan penyergapannya, kelinci yang manis hanya ternoda sedikit. Ular melengos melepas gigitannya belum menabur bisa mematikan.
"Bay pleace keluar, Sonia mengamuk, dan akan melukai karyawan bagian dapur." teriakan Edo begitu keras, hingga kedua pasangan itu beringsut.
Bercak merah dari bagian tubuh sang kelinci yang terkena gigitan ular telah menetes, tinggal satu hentakan saja ular menguasai semuanya.
Namun beruntung suara berisik para pemburu menghentikan ular untuk menerkam mangsanya. Ular masih tegang mencari mangsa, untuk memuntahkan bisa.
Namun hatinya bahagia, kelinci itu, belum ternoda, dia yang pertama menandainya.
Senyum ular membuat kesal si kelinci.
seringai itu ingin menenggelamkan dirinya saja di rawa-rawa, dia malu melihat seringai mesum dari suaminya.
Dia menggulung badanya di balik selimut. Bayu gemas melihat itu, namun suara teriakan kembali terdengar. Dia berlari kearah kamar mandi. Membiarkan istrinya kembali berada di balik selimut.
Lyra menangis, jiwanya lemah, pantas banyak wanita bertekuk lutut di pelukan pria itu, dia saja dengan mudahnya hampir menyerahkan tuntas, jika tidak ada teriakan dari luar, sudah pasti melepas mahkota yang selama ini dia jaga.
Lyra kesal dengan tubuhnya, yang dengan mudah merespon rayuan maut dari pria predator itu, bagaimana dalam satu bidikan hampir saja dia lolos dalam jeratnya.
Pintu kamar mandi terbuka, Bayu melihat istrinya masih berada di balik selimut.
Dia tersenyum bangga, tidak ada penolakan dari gadis cantik miliknya.
Walau belum tuntas, tapi dia merasa bahagia, momen itu untuk pertama kali dalam hidupnya, Ori lebih menggigit.
"Terimakasih, telah menjaganya untuk ku Ly." Suara Lirih itu terdengar di samping telinganya, ingin berteriak marah, malu, kesal, menjadi satu, walau bukan sebuah dosa melakukan itu, tapi Lyra kesal dengan dirinya yang begitu mudah terpesona dan merosok mendamba pada pria itu.
Bayu saat ini berdiri di sampingnya. Tangan Bayu menyibak selimut itu. Menghadiahkan ciuman di dahi istrinya.
"Bersihkan dirimu Ly, siap siap akan aku kenal kan kamu hari ini pada semua para pegawai ku."
"Apaaaa."tanpa sadar Lyra berteriak lantang, dia lupa malah menyibak selimutnya, dan gunung gunung tandus terlihat menggiurkan." Bayu tercekat. Lyra melotot bagaimana bisa, dia begitu ceroboh hampir memperlihatkan bagian tubuhnya, merutuk dirinya kesal dia ingin tenggelam saja kedasar bumi ketujuh, menyusul qarun, dia malu, malu, saat mata itu menatap lain pada bagian tubuhnya.
Padahal tadi Bayu pasti melihat itu, tapi saat suasana sedang sadar dan normal itu seperti sebuah aib. Malu luar biasa, ingin dia berubah jadi semut untuk menghindari tatapan Bayu yang mengintimidasi apa yang dia lihat.
Bodoh, Bodoh, Bodoh..kenapa dia ceroboh sekali.
Rutuk Lyra kesal pada dirinya, kaget luar biasa perasaan Lyra semakin di buat takut, pria itu selalu benar-benar serius dengan setiap ucapannya.
"Aku jemput lagi kesini, saat kamu sudah siap, segeralah." Bayu berbicara sambil menyisir rambut yang masih sedikit basah. Dan itu pemandangan yang membuat Lyra tercekat.
Bisa nggak sih jangan gertak-gertak aku begini tuan, aku ingin hidup lebih lama, aku nggak mau mati mendadak.
Gerutu Lyra sambil menggulung badannya.
"Mas Bay." langkahnya terhenti, melihat kearah suara istrinya. "Baju ku." Bayu menepuk jidatnya, dia lupa pakaian Lyra masih di mobil.
"Tunggu, nanti aku ambilkan segeralah bersihkan badanmu." nada serius terlihat dari pria tampan itu.
Bayu melangkah keluar, dan sesekali melihat kearah ranjang, di mana istrinya kembali menggulung badannya dengan selimut.
Berarti itu anugrah dan kejutan besar yang tuhan berikan untuknya, saat dia pernah melakukan dengan Sonia tidak pernah mendapat hadiah yang Ori, entah KW yang keberapa.
Melepaskan Sonia seperti melepaskan petaka dalam hidupnya. Bayu melangkah panjang menyusul Edo yang terdengar panik.
***
Bangun dengan sedikit rasa pedih, melihat tubuhnya terdapat lukisan lukisan aneh, dan Lyra malu mengingat itu, bagaimana pria itu mendamba setiap jengakal tubuhnya.
Saat gesekan Langkahnya berayun dia merasakan ngilu, terasa mencubit cubit.
Rasanya sulit di ungkapkan. Lyra mematung berdiri di kamar mandi.
Lyra meneteskan airmatanya, betapa dia di landa kebingungan, apa arti semua yang di lakukan Bayu padanya, Lyra merasa sakit hati saat Bayu melakukan itu padanya.Tanpa meminta persetujuannya, tanpa menghirau kan tangisannya. Bukankah pria itu tidak mencintainya. Lyra menahan sesak yang melanda hatinya.
Terduduk di lantai kamar mandi mengguyur tubuhnya dengan air mata mengalir deras, bagian inti tubuhnya merasakan sakit.
Padahal dia sudah coba berbohong dengan mengaku sudah tidak lagi Virgin, agar pria itu tidak ingin menyentuhnya.
Tapi tetap saja dia tidak mau melewatkan kesempatan itu, pikir Lyra dengan sesak mendera hatinya.
mencoba mengingat kejadian semuanya.
Semuanya terasa mendadak, Bayu sukanya mendadak dadak, memberikan senam jantung untuknya.
Tok.
Tok.
"Ly cepatlah." Seruan dari Luar memaksa dia menghentikan guyuran di tubuhnya.
Dia memakai handuk suaminya lalu keluar dengan handuk kimono selututnya.
Lyra berjalan menunduk dan Bayu menatap tajam pada langkah yang sedikit berbeda dari istrinya, dia jadi merasa bersalah. Namun tetap hatinya bahagia.
"Apakah sakit, belum tuntas kok."
Suara paling menyebalkan yang pernah Lyra dengar selama hidup di muka bumi ini. Dia ingin mendamprat mulut itu, kesal disaat hatinya sedih masih bisa lelaki itu berbicara seperti itu.
Lyra mendelik tajam tanpa bersuara, dia gedek melihat wajah jenaka di hadapannya.
Bayu melihat wajah istrinya kecut membuat dia berpikir, kenapa istrinya terlihat Marah, apa karena dia kasar,bmencoba mengingat semuanya, namun dia tidak menemukan apa kesalahannya. (Kurang peka)
Lyra masuk keruang ganti yang ada di samping lemari, melihat pantulan dirinya yang terlihat aneh, banyak tanda lukisan memalukan, bagaimana dia pasrah menerima semua itu, dia kesal pada dirinya sendiri, begitu mudahnya membiarkan Bayu menjelajah semuanya.
"Bodoh, Bodoh, Bodooooh." Merutuk menjambak rambutnya kesal. Mencoba mengendalikan emosinya saat kembali mendengar suara gaduh di Luar kamar kantor suaminya.
Dengan kilat memakai pakaian yang di bawa suaminya, "Bunga-bunga." Lyra berucap lirih kemudian berdecih, tidak cocok dengan hatinya yang di landa kesal dan gundah.
"Hentikan Sonia, apa yang kamu ingin kan bukankah kamu sudah puas setelah bertunangan semalam." Belum selesai, bersuara Sonia menyerang mencium bibir Bayu dengan rakusnya.
Lyra mematung dengan tangis tertahan, melipir pelan, menghindari tatapan menyakitkan di hadapannya. Menekan dadanya yang sakit, tenggorokannya panas. melihat adegan yang semakin menyadarkan setatus dirinya dalam pernikahan yang tertulis dalam kertas.
"Kenapa harus sakit, bukankah sudah tahu kalau mereka adalah pasangan kekasih." berbicara Lirih dengan airmata meluncur, menutup matanya, tangisan tumpah tak bisa di bendung, bagaimana Sonia begitu lihai menyerang bibir pria yang baru saja beberapa saat lalu menyentuh kulit-kulitnya.
Ingin menangis keras, namun tidak kuasa, dia hanya menepuk nepuk dadanya yang sesak. ingin berguling-guling meluapkan semuanya namun tidak bisa. Untuk apa, dia hanya pembantu, tidak mungkin pria itu benar benar menginginkannya.
Dia menenggelamkannya wajahnya di deretan baju yang tergantung di sana, menutup mulutnya dengan handuk yang tadi dia pakai, sesenggukan dengan suara tertahan.
like
komentar.
semoga aja mey jodoh nya derek