Novel ini dalam revisi!
Cinta dalam perjodohan seorang dosen bernama Darren Nicholas dan mahasiswanya Kanaya Syabila.
Dosen muda dengan sejuta pesona tapi terkenal galak dan pelit nilai, menjunjung tinggi disiplin. Dipertemukan dengan Kanaya mahasiswanya yang cerewet, nyablak, seru, gaje. Dan disatukan dalam sebuah pernikahan dengan konflik cinta segitiga yang rumit. Akankah mereka bertahan dengan rumah tangganya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asri Faris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Setelah Menikah
Darren membuka pintu kamar dengan hati-hati, di lihatnya gadis cerewet itu sudah berbaring di atas kasur dengan selimut tebal sampai ke lehernya.
Mungkin dia sudah tidur?
Ia berjalan menuju kopernya yang sudah terletak di kamar Naya, entah siapa yang membawakan koper Darren hingga sekarang sudah di kamarnya seingat dia masih di dalam bagasi mobil. Dengan segera mengambil pakaian yang akan di gunakan setelah membersihkan diri.
Darren keluar kamar, menuju ke kamar mandi karena di kamar Naya tidak di lengkapi dengan kamar mandi di dalamnya. Sekitar sepuluh menit dia pun sudah keluar dengan memakai baju yang ia pilih tadi lalu segera kembali ke kamar.
Setelah melakukan sholat isya yang sudah tertinggal jauh, perlahan Darren mulai mendekati kasur, menepuknya lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur.
lima menit sepuluh dua puluh satu jam Darren belum juga bisa memejamkan matanya padahal seharian cukup melelahkan, entahlah kemudian dia kembali duduk membuka kaos yang ia kenakan karena merasa panas dan tak nyaman, kebiasaan di rumah waktu masih lajang dia selalu tidur dengan bertelanjang dada. Berbaring lagi dan mendekap guling di tengah yang iya yakini Naya yang menata untuk di jadikan pembatas. Perlahan matanya mulai berat dan tertidur.
Keesokan paginya sekitar pukul setengah lima Darren terjaga dan segera bangkit dari pembaringan untuk pergi ke kamar mandi. Namun sejurus kemudian dia berbalik berinisiatif untuk membangunkan Naya untuk melaksanakan sholat bersama namun...
Tak terasa Naya membalikkan tubuhnya hingga menghadap Darren. Darren pun memandangi gadis yang belum genap sehari itu menjadi istrinya. Muka yang teduh dan begitu tenang tidak ada kesan berisik dan nyeselin, sangat berbeda ketika tidak tidur.
Dia memandangi istrinya lekat-lekat. Cantik, gumamnya tanpa sadar Nayapun mulai menggerak-gerakkan matanya, menggeliat dan....
Aaa...
Dia hampir menjerit sebelum akhirnya tangan kekar Darren membekamnya dengan satu tangan sedang tangan yang lainya memberi isyarat diam. Setelah Naya terlihat tenang Darren melepaskan tangan dari mulutnya.
"Kamu mau membuat orang serumah terbangun dan datang kemari ya?" Seloroh Darren menahan kesal
Naya langsung reflek terbangun dari tidurnya dan kaget setengah mati begitu melihat seorang lelaki tidur di sampingnya tanpa memakai baju. Dia segera menyibak kan selimutnya dan mendapati dirinya masih berpakaian utuh.
Untunglah, gumannya dalam hati.
"Bapak ngapain tidur di sini? bukankah seharusnya tidur di ka..." belum sempat menyelesaikan perkatanya sudah di potong Darren.
"Emang seharusnya aku tidur di mana?" Pertanyaan yang membuat Naya bingung namun dengan segera memorinya kembali pulih.
"T tapi kenapa tidak memakai baju? cepat pakai sekarang." Titahnya seraya membuang muka ke arah yang lain.
"Aku sudah terbiasa begini jika tidur." Seraya bangun dan keluar dari kamar.
Sepeninggalan Darren Naya menggerutu dengan sendirinya.
"Hah, pemandangan macam apa ini bahkan kau menodai mataku yang masih suci menyebalkan sekali." Naya memijat pelipisnya, kepalanya terasa pening efek kaget pagi-pagi buta. Baru ia ingin bangkit dari posisi semula dia mendapati pintu kamar terbuka kembali.
Darren masuk ke kamar dengan muka yang terlihat segar dan ujung rambut sedikit basah. Dia mulai menggelar sajadah sepertinya mau sholat. Namun sebelum akhirnya memandangku dan sedikit mendekat kemudian mengambil sebuah mukena yang dia gunakan untuk seserahan.
"Alangkah baiknya di gunakan akan lebih bermanfaat dari pada hanya untuk pajangan." Ucapnya seraya menyodorkan mukena tersebut ke arahku. Aku menerima dengan diam jujur sedikit menyentil hatiku.
"Mau bareng?" Sambungnya.
Dengan sedikit tercekat aku berucap. "Kamu duluan aja."
Darren hanya tersenyum kemudian kembali ke tempat sajadah yang baru beberapa detik di gelarnya, dengan khusuk dia memulai sholatnya dan aku beranjak dari kamar mengambil air wudhu dan masuk kembali ke kamar mendapati Darren yang tengah khusuk berdoa. Aku mengerjakan sholat di belakangnya, setelah salam, aku mendapati ia tengah mengemas barang-barangnya.
"Sudah selesai? mana saja yang ingin di bawa pagi ini kita akan kembali ke kota S, banyak pekerjaan yang musti di selesaikan dan juga kamu harus konsentrasi untuk persiapan semester."
Naya mengangguk namun sepertinya dia masih enggan kembali, masih ada sisa libur tenang selama tiga hari terhitung dari hari sabtu kemarin dia mulai libur.
"Aku masih mau disini, aku akan kembali besok hari minggu." Ucapnya tenang tanpa dosa.
"Bisakah kau menurut dengan suamimu?" Berkata lembut namun sedikit menekankan kata SUAMI membuat Naya hanya bisa membuang napas kasar, sebelum akhirnya dia berucap.
"Papa masih belum pulih, aku ingin merawatnya sebentar sebelum akhirnya pulang bersamamu."
Dengan berat hati Darren mengiyakan. Mereka tampak sibuk dengan urusannya masing-masing. Naya lebih memilih bermain ponselnya membalas chat dari teman-temanya yang kemarin belum sempat terbalas. Sama dengan Darren juga terlihat sibuk dengan ponselnya memeriksa emailnya.
Sebelum akhirnya mereka memutuskan keluar dari kamar karena hari sudah siang. Tanpak di ruang keluarga sudah ada keluarga Darren yang sedang mengobrol sebelum akhirnya menjemput mereka pulang bersama.
"Duh... yang pengantin baru, baru bangun ya?" Seloroh bu Alin seraya mengerlingkan matanya. Kami hanya terdiam tanpa saling memandang. Lebih ke menunduk karena bingung, plus malu harus jawab apa.
"Berhubung sudah ngumpul ayo sarapan dulu." Bu Ayu mempersilahkan semua menuju ruang makan. Di sela-sela sarapan mereka mengobrol satu sama lain hingga sarapan pagi pun selesai masih terdengar ke dua orang tua kami saling bercerita.
"Udah, ayo keburu siang." Ucap bu Alin seraya berpamitan.
"Lho kamu kenapa masih pakaian begini Nay? Tanya bu Ayu heran. "Yang lain udah pada siap."
"Naya belum pulang sekarang ma, masih mau di sini pingin jagain papa, lagian masih libur hari tenang."
"Mana bisa begitu sayang, kamu harus ikut pulang. Papa biar menjadi urusan mama, iya kan Pa?"
"Bener Nay, cepat siap-siap pulang bareng suamimu." Ucap Papa menyakinkan.
"Lagian kan kamu bisa sering-sering datang kesini lain waktu, besok mungkin habis semesteran kan biasanya libur panjang." Sambung bu Ayu. Naya akhirnya mengangguk dan kembali ke kamar untuk mengganti pakaian dan mengemas barang yang akan di bawa.
Lima belas menit kemudian mereka sudah masuk ke dalam mobil, Darren menyetir sendiri diikuti Pak Dahlan di sebelahnya. dan jok belakang di isi Mama Alin, Icha dan Naya. Mereka kembali ke kota Darren.
Sesampainya di rumah hari masih siang Darren mengantar pulang ke dua orang tuanya terlebih dahulu sebelum akhirnya pulang ke rumahnya.
"Ma Darren langsung aja ya, masih mau ke kosan Naya untuk mengambil barang-barangnya Naya."
"Iya sayang, tapi apa nggak sebaiknya nanti sore aja sekalian pulang? sekarang istirahatlah dulu baru perjalanan kan capek." Tawar bu Alin yang melihat putranya sepertinya kelelahan.
Mereka pun setuju untuk singgah sebentar dan masuk kerumah.
nasib nya ga jauh dr aku
aku yg ngelamar kakanya adeknya jd supir kaka nya pas lamar aku
Qodarullah jodoh ku ternyata adek nya
dan sekarang dah 13 th
seindah itu takdirku
suamiku luar biasa baikknya sabarnya,sayang nya ke aku,,,cinta nyq buat ku juga luar biasa
andai aku berjodoh sama kakanya blm tentu aku dptin semua itu
sedarah ga akan ada yg namanya sifatnya sama🤭