Awal yang penuh dengan penderitaan dan perjuangan untuk Marsya yang hanya seorang pekerja di sebuah hotel.
Selama menjadi istri seorang Gilang Baskara, Marsya hanya dapat bersabar dan berdoa menghadapi sikap suaminya.
Ada satu titik balik dimana Tuhan menjawab doanya, suaminya itu perlahan mulai berubah. Tapi...
Satu minggu menjelang kelahiran anaknya, Marsya pergi mempersiapkan surat perceraian tanpa sepengetahuan Gilang.
Apa sebabnya?
Penasaran dengan kisah Marsya dan Gilang?
Simak selengkapnya. Jangan lupa masukkan ke dalam favorite kalian ya, agar jika aku update kalian bisa jadi orang pertama yang baca.
Thankyou readers tersayang author❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delfi Sofya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.28
Malam hari, kota Perancis.
Gilang dan Marsya saat ini tengah berada di sebuah restaurant yang tempatnya berada di Menara Montparnasse.
Resto La Ciel de Paris ini menempati lantai 56 jadi mereka bisa melihat pemandangan sekitar termasuk melihat keindahan Menara Eiffel saat malam, sangat indah.
Tengah asik menyantap makan malam mereka, seseorang tiba-tiba datang menyapa dari arah belakang Marsya.
“Tuan Gilang Baskara.” Sapa pria itu.
Karena mendengar namanya di sebut membuat Gilang mengalihkan pandangannya pada orang tersebut.
Sementara Marsya yang mendengar suara pria tadi langsung menegang di tempatnya, ia hafal dengan suara pria itu.
“Tuan Bramasta.” Balas Gilang menyapa pria itu dengan ekspresi yang susah di jelaskan.
“Senang sekali bisa berjumpa dengan anda di tempat ini.” Kata pria itu sambil berjalan mendekat pada Gilang untuk menyalami rekan kerja nya itu.
“Ya. Senang bisa berjumpa dengan anda.” Jawab Gilang.
Saat pria itu berbalik mengarahkan pandangannya pada wanita yang sedari tadi hanya menunduk diam tanpa suara, pria itu langsung menampakkan wajah bingungnya melihat wanita itu.
“Marsya.” Panggil pria itu.
Dengan ragu-ragu Marsya mengangkat kepalanya memandang pria yang tadi memanggilnya.
Dengan senyum kaku “H…Hai.” Balas Marsya.
“Apa kau mengenal tuan Gilang Baskara? Oh atau tuan Gilang ini merupakan majikanmu yang biasa kau ceritakan itu?” Cecar Leo pada Marsya.
Gilang yang sedari tadi hanya diam menyaksikan interaksi antara Marsya dan Leo, di buat bingung dengan pertanyaan Leo tadi pada Marsya.
Apa maksud yang dikatakan tuan Bramasta tadi. Ucap Gilang dalam hati.
Marya semakin di buat gugup dengan pertanyaan Leo, ia sudah siap jika akan di marahi habis-habisan oleh Gilang di rumah nanti.
“Apa maksud dari perkataan anda tadi tuan Bramasta?” Tanya Gilang dengan suara yang dingin dan tatapan datarnya.
“Begini tuan Baskara, jadi nona Marsya dan saya sudah saling kenal. Nona Marsya bilang dia datang kemari bersama maji…..” Belum sempat Leo menyelesaikan kata-katanya, Marsya langsung memotongnya.
“Aw! Tuan perut saya rasa nya kram, bisakah kita pulang sekarang?” Kata Marsya sambil berpura-pura menunjukkan mimik wajah kesakitan sambil memegang perutnya.
Mendengar perkataan Marsya tadi, refleks kedua pria itu langsung bergerak cepat menghampiri Marsya.
“Ada apa?” Tanya Gilang dan Leo serempak.
Hal itu membuat Gilang langsung beralih menatap tajam pada Leo, sedangkan Leo fokus memperhatikan Marsya yang sedang berpura-pura sakit.
Marsya yang melihat wajah suaminya sudah memerah padam semakin di buat takut.
Matilah aku. Kata Marsya dalam hati.
“Sini biar ku bantu membawamu ke rumah sakit.” Ucapan Leo tadi seperti sedang memancing kemarahan seorang Gilang Baskara.
“Tidak perlu Leo. Tuan mari kita pulang.” Balas cepat Marsya yang tidak ingin suasana menjadi runyam.
Tanpa banyak berkata-kata lagi, Gilang langsung beranjak membantu Marsya berdiri dari tempatnya, memapah Marsya berjalan keluar dari restaurant itu menuju mobil mereka.
***
Dalam perjalanan pulang.
Hening, hanya terdengar suara deru mesin mobil yang berbunyi.
“Kenapa bisa kamu mengenal tuan Bramasta?” Tanya Gilang pada akhirnya, setelah tidak bisa menahan rasa ingin tahu nya.
Namun tidak ada jawaban dari wanita yang saat ini tengah berada di sampingnya.
“Dia tertidur.” Gumam Gilang berbicara sendirian.
Aku akan menanyakan hal ini lain waktu. Batinnya.
***
Mobil memasuki pekarangan rumah dari kediaman Baskara.
Gilang berjalan mengitari sisi sebelah dari mobil yang tadi mereka gunakan, ia membuka pintu dan meraih tubuh Marsya dalam gendongannya.
“Astaga, kenapa badannya bisa seberat gajah.” Oceh Gilang.
Akhirnya dengan langkah yang pasti, pelan-pelan Gilang berjalan sambil membawa Marsya dalam gendongannya.
Saat ini tujuannya adalah membawa wanita itu ke dalam kamar mereka, agar Marsya bisa beristirahat dengan nyaman.
Saat memasuki ruang tengah terlihat Nyonya Baskara dan Tuan Baskara yang saat itu sedang duduk berdua sambil menonton siaran televisi.
“Apa yang terjadi dengan Marsya?” Tanya Lily yang saat itu berbalik karena mendengar suara langkah kaki seseorang.
“Tadi saat makan, Marsya bilang ia merasakan perutnya kram ….” Belum sempat Gilang menyelesaikan kata-katanya, Lily Baskara sudah berteriak heboh.
“APA!” Teriak Lily histeris.
“Lalu kenapa kamu tidak membawanya ke rumah sakit. Astaga Gilang, kamu ini benar-benar bodoh!” Kata Lily lagi, yang merasa jengkel dengan kebodohan anaknya.
“Mah, bagaimana Gilang mau membawa Marsya ke rumah sakit sedangkan ia saja sekarang sudah tertidur dengan pulasnya.” Balas Gilang tak kalah jengkel dengan kata Lily tadi yang mengatainya bodoh.
“Bagaimana kalau Marsya bukan sedang tertidur tapi malah ia pingsan heh!” Omel Lily Baskara lagi.
“Sudahlah mah, daripada kalian ribut seperti itu dan malah menganggu tidur lelap Marsya bagaimana?” Kali ini tuan Baskara lah yang berbicara.
Di sini Kevin Baskara yang pusing mendengar perdebatan kedua orang itu.
“Mama juga aneh, orang Marsya sedang tidur kok. Apa mama tidak dengar dengkuran halus dan teratur yang di keluarkan nya?” Kata Gilang lagi menimpali omongan papanya.
Betapa malunya Marsya pasti jika mendengar kata-kata Gilang tentang dengkuran yang ia keluarkan.
“Sudah Gilang, lebih baik sekarang kamu bawa Marsya ke kamar.” Kata Kevin berusaha menyudahi perdebatan kecil itu.
Gilang langsung pergi dari hadapan kedua orangtua nya menuju kamar mereka yang berada diatas.
Sudah naik beberapa anak tangga “Astaga, dia ini berat sekali sih” Ujar Gilang.
Setiap akan menaiki satu persatu anak tangga, rasanya kaki Gilang sulit untuk diangkat.
Akhirnya dengan kesabaran penuh hahaha, Gilang sampai di depan kamar mereka.
“Astaga, lalu bagaimana caranya sekarang membuka pintu ini?” Kata Gilang frustasi.
“Aih menyusahkan saja sih.”
Dengan hati-hati Gilang membuka pintu kamar agar Marsya nantinya tidak terjatuh dari gendongannya.
Setelah pintu terbuka Gilang langsung membawa Marsya ke tempat tidur, membaringkan wanita itu dengan hati-hati.
Gilang juga membuka sepatu yang tadi Marsya gunakan, lalu menarik selimut menutupi tubuh Marsya.
“Badan ku pegal semua kan jadinya.” Gerutu nya.
“Aku tidak mau tahu, pokoknya ia harus membayar mahal atas ini. Aku akan menyuruhnya memijat seluruh badan ku yang pegal karenanya.”
Gilang kemudian menuju walk in closet untuk menganti pakaiannya dengan piyama tidur sebelum naik ke atas tempat tidur mereka.
Gilang berbaring menyamping mengambil posisi berhadapan dengan Marsya, tangannya ia lingkarkan di area perut wanita itu.
Seperti biasa ia akan mengelus-elus perut Marsya sebelum tidur “Nyaman sekali.” Ucapnya dengan suara pelan.
Gilang akan terus melakukan kegiatan yang menurutnya nyaman itu hingga nanti ia akan tertidur dengan sendirinya.
Dan paginya nanti Marsya yang di buat sport jantung dan kerepotan karena melihat tangan kekar itu melilit di perut buncitnya.
Malam itu mereka tidur dengan lelapnya, berada pada alam mimpi masing-masing.
❤️
Hai readers tersayang harap bersabar ya😊Author sengaja tidak mempercepat cerita, karena author takut ceritanya jadi tidak nyambung dan tidak dapat feel-nya. Jadi bersabar ya readers tersayang🤗Nikmati setiap prosesnya😊 Enjoy ya sayang-sayang author, semoga suka dengan cerita ini😘
Oh iya, author juga boleh ya minta dukungannya lewat Vote, like dan komen kalian semua. Karena dukungan kalian merupakan semangat author untuk menulis🙏
egois kamuuu...