Aarav Baskara Darma, seorang jaksa yang harus menyewa jasa bodyguard untuk melindunginya dari teror yang terus saja menghampirinya, setiap dia berhasil menyelesaikan satu kasus. Dia tidak menyangka jika bodyguard cantik itu selalu bisa menarik perhatiannya, hingga hatinya merasa nyaman dengannya dan perlahan-lahan mulai menyukainya, walaupun gadis itu sangat dingin dan bahkan kejam padanya, dia juga sangat mata duitan. Dan jelas selalu saja membuat Aarav dengan mudahnya naik darah.
Bagaimana perjalanan kisah manis mereka?
Yuk! ikuti ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wachid Tiara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 28
.
28
.
"Jangan bicara saat sedang makan. Ada baiknya jika kalian cepat selesaikan makanan kalian, dan setelah itu segera pergi dari sini. Aku merwsa tidak enak pada tetangga yang mungkin melihat kalian berdua masuk bersamaku tadi. Biar bagaimanapun, aku adalah seorang wanita. Jadi, ada baiknya jika kalian juga manjaga kehormatan ku." ucap Erza pada keduanya.
Adrian segera menganggukkan kepalanya, "aku mengerti, aku juga akan segera pulang. Lagi pula aku juga masih memiliki banyak pekerjaan. Aku harus ke kantor papa Dio hari ini." jawab Adrian
Sementara Aarav, dia hanya diam saja dan melanjutkan memakan makanannya.
"Kamu juga pulang tuan Aarav." ucap Erza.
"Iya." jawab Aarav singkat.
Erza melihat Aarav yang sama sekali tidak mengalihkan perhatian pada mangkuk sup yang ada di depannya.
Melihat itu Erza hanya bisa mengangkat kedua bahunya, dia tidak peduli dengan itu juga.
Kini semuanya sudah selesai memakan makanan mereka. Adrian juga sudah pergi dari sana. karena memang dia memiliki banyak sekali pekerjaan yang tertunda karena dia harus membawa Erza menenangkan dirinya tadi.
"Tuan Aarav, kamu tidak pulang?" tanya Erza saat dia melihat Aarav yang masih duduk di ruang tamu apartemennya.
"Erza, duduklah." jawab Aarav yang tidak memperdulikan apa yang Erza katakan.
"Ada apa lagi? Ao kali ini kamu akan benar-benar memecatku?" tanya Erza seraya menatap wajah tampan Aarav yang sedang tersenyum begitu manis padanya.
Itu membuat jantungnya berdetak dengan sangat cepat. Walaupun Aarav tidak terlalu sering tersenyum, tapi senyuman manisnya saat ini benar-benar berbeda dengan yang biasanya dia lihat. Dan itu membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya.
"Duduk dulu. Sini!" ucapnya seraya menepuk sofa yang ada di sebelahnya.
Walaupun ragu, Erza hanya bisa mengikuti langkah kakinya untuk duduj di sebelah Aarav seperti yang Aarav inginkan.
"Ada apa sebenarnya?" tanya Erza dengan sikap siaga-nya, dia harus selalu siap dalam kondisi apapun, terlebih jika Aarav ingin berbuat sesuatu yang jahat padanya, walaupun itu sebenarnya tidak mungkin.
"Ini untukmu..." Aarav memberikan sebuah kotak kecil pada Erza
"Ini... Apa ini?" tanya Erza yang masih merasa ragu untuk membukanya.
"Buka saja, kamu pasti akan sangat menyukainya." jawab Aarav.
"Benarkah? Ini bukan serangga penyengat atau semacamnya bukan?" tanya Erza dengan penuh selidik.
"Hei!" teriak Aarav seraya menjitak kepala Erza.
pletakkk!
"ouch! Sakit!" Erza mengusap kepalanya seraya memberikan tatapan mengancam pada Aarav
"Buka saja! Aku juga tidak ada waktu untuk memasukan serangga penyengat atau semacamnya!" sungut Aarav.
Erza hanya mencibirkan bibirnya pada Aarav, sebelum dia membuka perlahan kotak kecil yang ada di tangannya saat ini.
"Ini... Wow!" Mata Erza berbinar-binar begitu melihat isi dari kotak itu.
"Itu mobil yang aku janjikan padamu. Sudah aku bawa kesini tadi. Sekarang ada di parkiran. Yang warnanya merah menyala, juga sangat berkilau." jawab Aarav
Erza tersenyum lebar, dia mencium kunci mobil yang kini ada di tangannya.
"Aku kira ini adalah pemantik api. Tapi ternyata adalah kunci mobil impianku..." ucapnya yang terlihat begitu bahagia.
"Jangan hanya kunci mobilnya yang kamu cium, kamu juga harus berterimakasih padaku bukan?" Mendengar itu Erza dengan begitu cepat merangkul leher Aarav, dia juga mendekatkan dirinya agar lebih dekat dengan Aarav.
cup!
Erza mengecup bibir Aarav sekilas.
"Terimakasih banyak tuan Aarav..." ucapnya dengan begitu manis.
Aarav masih melongo melihat dan merasakan bagaimana Erza yang tiba-tiba saja menciumnya seperti kemarin
Wajahnya kini memerah, dia juga merasa jika suhu di ruangan itu meningkat dengan drastis
Aarav melepaskan tangan Erza yangasih saja melingkar di lehernya. Dia juga segera mengambil jarak sedikit menjauh dari Erza.
"Kenapa kamu menciumku?" tanya Aarav.
"Bukankah kamu yang mau? Kamu tadi bilang, jika aku tidak boleh hanya mencium kunci mobil baru ku dan aku harus berterimakasih padamu bukan? Itu berarti jika aku juga harus mencium-mu sebagai ucapan terimakasih ku." jawab Erza masih dengan begitu bersemangat dan ceria, seolah-olah dia tidak melakukan apapun yang membuat perasaan seseorang jungkir balik tidak karuan.
Mendengar itu Aarav hanya bisa membiarkannya saja, lagi pula dia tidak merasa keberatan sama sekali dengan itu.
"Erza... karena kamu sudah mendapatkan mobil mu, kamu tahu bukan, jika itu berarti kamu adalah kekasihku. Jadi, kedepannya kamu harus ubah cara memanggilku, dan juga sikapmu padaku. kamu juga harus menunjukkan pada semua orang, jika ku ini adalah kekasih mu, dan kamu adalah kekasihku. Aku tidak mau, kalau sampai mama Bellan atau siapapun tahu, jika kita hanya berpura-pura saja. Mengerti?" jelas Aarav.
"Iya. Aku akan berusaha. Tapi aku juga tidak mau terlalu mesra. Kita berpacaran seperti biasa saja, jangan yang terlalu vulgar. Aku tidak mau, jika kamu seenaknya saja menyentuhku." jawab Erza.
Mendengar itu Aarav menatap jengah pada Erza.
"Kamu sendiri yang selalu menyentuhku seenaknya Erza!" jawab Aarav.
"Kapan? Sembarangan!" sungut Erza seraya menatap kesal pada Aarav.
"Baru saja. Kamu baru saja menciumku tadi!" jawab Aarav seraya menyentuh bibirnya dengan jari telunjuknya.
"Itu... Aku hanya sebagai ucapan terimakasih ku, dan lagi, itu juga karena kamu yang memintanya." wajah Erza memerah saat ini, dia baru menyadari jika dia memang sudah mencium bibir Aarav begitu saja. Walaupun dia pikir jika itu karena permintaan dari Aarav.
"Aku tidak menyuruhmu untuk menciumku, apa lagi bibirku. Aku hanya memintamu untuk berterimakasih padaku." jawab Aarav seraya mendekati Erza, sengaja ingin menggodanya karena wajah Erza saat ini benar-benar merah.
"Kalau aku memang mencium-mu memangnya kenapa?! Jika kamu keberatan, aku juga bisa mengambilnya lagi!" sungut Erza seraya menarik kerah baju yang Aarav pakai, hingga dia kembali mencium bibir Aarav sekilas.
Setelah itu, Erza mendorong tubuh Aarav untuk menjauh darinya.
"Aku sudah mengambilnya lagi!" ucap Erza dengan kesal, namun tetap saja terlihat jika wajah Erza semakin memerah.
Aarav mengerjapkan matanya berkali-kali, dia masih tidak percaya jika Erza kambali menciumnya.
"Bukankah ini berarti kamu kembali menciumku..." ujar Aarav yang msih memegangi bibirnya yang sudah dua kali di cium oleh Erza dalam beberapa menit terakhir.
Erza melihat ke arah Aarav yang masih memegangi bibirnya. Dia benar-benar merasa malu saat ini.
"Itu... Aku akan mengambilnya lagi." jawab Erza seraya bersiap untuk kembali mencium bibir Aarav, namun Aarav segera menghentikanya.
"Jangan! Jika kamu menciumku lagi, maka itu berarti jika kamu sudah kembali menciumku sebanyak tiga kali." ucap Aarav.
"Lalu, apa yang kamu inginkan?" tanya Erza yang kini begitu dekat dengan Aarav
Aarav tersenyum lebar mendengar apa yang baru saja Erza katakan.
"Biarkan saja aku yang mencium-mu. Aku sendiri yang akan mengambilnya." jawab Aarav.
Erza melihat wajah tampan Aarav yang begitu dekat dengannya, dan perlahan-lahan mulai mendekat padanya.
Erza menutup matanya saat merasakan bibir Aarav yang dingin menyentuh bibirnya. Rasa dingin yang tadi dia rasakan kini menghilang, dan berubah menjadi rasa manis yang hangat.
Bahkan Erza juga bisa merasakan hangatnya nafas Aarav yang menerpa wajahnya. Dia juga bisa mendengar dengan jelas, detak jantung Aarav yang berdetak dengan begitu kencang.
Erza membuka matanya perlahan saat dia merasakan perlahan-lahan Aarav melepaskan ciumannya
"Aku sudah mengambil satu dari dua ciumanmu." ucap Aarav dengan jarak wajahnya yang masih begitu dekat dengan Erza.
Erza melihat Aarav yang sudah kembali mendekatkan wajahnya padanya. Melihat itu Erza kembali memejamkan matanya untuk membiarkan Aarav mengambil kembali ciumannya yang sudah dia ambil begitu saja darinya tadi.
Ring ring ring ring ring
Dering handphone Aarav mengejutkan keduanya.
Aarav menggeser tubuhnya untuk mengambil handphone miliknya yang ada di saku celananya. Erza juga segera berdiri menjauh darinya.
"Olivia..." ucap Aarav dengan senyuman lebarnya.
Melihat itu Erza hanya bisa memaksakan senyumnya. Dia melihat Aarav yang segera beranjak dari tempat duduknya untuk menerima panggilan dari Olivia di luar apartemennya.
"Apa yang aku harapkan! Aku benar-benar sudah berubah, seharusnya aku tidak menjadi lemah seperti ini!" ucap Erza seraya mengepalkan tangannya, "seharusnya aku sadar, jika aku tidak mungkin bisa menjadi sesuatu yang lain, selain menjadi aku yang kasar seperti biasanya. Ada baiknya jika aku juga memikirkan diriku juga, karena aku juga berhak bahagia..."
.