tentang dua remaja yang bersahabat bersahabat - Rigecherta dan Tivane - yang bersahabat dari kecil, namun tragedi saat mereka duduk di kelas 9 SMP membuat mereka harus berpisah karena Tivane yang hilang ingatan.
Berpisah selama 3 tahun dan bertemu saat kelas 12 SMA. Namun Tivane akan di jodohkan.
Bagaiman nasib Rigecherta yang menunggu 3 tahun dan diam diam suka terhadap sahabatnya itu.
Akankah dia berhenti berharap kepada sahabatnya itu, atau mereka akan kembali bersatu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salbiah pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12/ siapa Revon
Tivane masih berdiri di gerbang dan menatap cowok dia tas motor tersebut dengan dahi mengerut heran.
Pemuda itu membuka helmnya membuat Tivane sedikit mengangguk karena ternyata pemuda itu adalah Evan.
" Apa tadi?" Tanya Tivane sambil keluar dari gerbang.
" Jadi itu cowok yang bikin lo batalin tunangan kita?" Tanya Evan lagi mengulangi kalimatnya tadi.
"Lo ngikutin gue?" tanya Tivane mengangkat alis. "Ya. Itu cowo yang gue bilang malam itu" jawab Tivane lugas membuat Evan mengangguk kecil seolah sudah tau.
"Oke juga selera lo" ucapnya terdengar setengah mengejek.
" Maksud lo?" Tanya Tivane sedikit emosi.
"Lagian ya, gue tuh nggak pernah iyain perjodohan itu. Kenapa? Lo Se tergila-gila itu kah sama gue?" Tanya Tivane percaya diri. Heran juga melihat cowo di depannya yang terkesan memaksa.
" Santaii. Lagian gue cuma takut dia bukan cowo baik-baik. Lo kan belum lama di sini, takut salah orang aja" tanya Evan seolah menakuti namun ucapan itu hanya membuat Tivane terkekeh pelan.
" Lo juga santai aja, itu urusan gue" ucap Tivane langsung menutup gerbang dan masuk ke dalam rumah dengan perasaan sedikit dongkol. Evan hanya menghela nafas lega dan melajukan motornya .
"Paan sih tuh cowo. Sok tau banget jadi orang" gumam Tivane mencak-mencak dan mengambil handphonenya lalu mengirim pesan kepada Rigecherta.
Tivane: gue udah sampe rumah.
Rigecherta: makan abis itu istirahat.
Tivane: iyaa.
Rigecherta tersenyum-senyum sendiri saat membaca pesan dari Tivane.
Malamnya saat Rigecherta asik mengerjakan sesuatu di laptopnya denting handphone nya membuat ia langsung mengambil handphonenya namun alisnya mengerut saat nomor tak di ketahui mengirim pesan kepadanya.
Nomor tak di kenal: ini Rige kan?
Rigecherta: siapa?
Nomor tak dikenal: calon tunangan Vane.
Rigecherta: udah batal.
Nomor tak di kenal: terserah. Tapi gue pengen ngobrol sama Lo, boleh kita ketemu?
Rigecherta: lokasi?
Nomor tak dikenal: @ Sherlock.
Rigecherta: ok.
Rigecherta langsung bergegas ke alamat yang di kirimkan oleh Evan tersebut.
" Ada apa?" Tanya Rigecherta langsung saat ia sudah sampai di depan Evan.
" Kenalin gue Evan" ucap Evan memperkenalkan diri membuat Rigecherta mengangguk dan menatap dari atas ke bawah. _ya lumayan, kayaknya anak orkay._
"Rige" jawab Rigecherta singkat.
" Gue mau nanya sesuatu sama lo. Lo beneran sayang sama Tivane kan?" Tanya Evan membuat Rigecherta menyernyit heran lalu mengangguk.
" Kenapa?" Tanya Rigecherta membuat Evan menggeleng pelan dan menepuk bahu Rigecherta.
" Jagain dia baik-baik" ucap Evan membuat Rigecherta mengangguk.
"Tanpa lo suruh pun, gue bakal jagain dia lebih dari segalanya" jawaban Rigecherta membuat Evan mengangguk singkat dan kembali naik ke motornya.
"Bagus kalo gitu, gue cabut dulu" Evan langsung melajukan motornya meninggalkan Rigecherta yang memandangnya dengan tatapan heran.
"Lah? Gue kirain tadi dia mau ngajak duel dulu" ucap Rigecherta pelan dan kembali naik ke motornya. Saat hendak melajukan motornya, tiba-tiba notif dari handphone nya membuat ia mengeluarkan handphone tersebut dari sakunya.
"Halo" ucap Rigecherta saat panggilan itu tersambung.
" Haiii. Rige, Lo lagi ngapain?" Tanya Tivane dari seberang.
" Lagi di luar. Tunggu bentar gue jemput habis ini" ucapan Rigecherta membuat mata Tivane langsung melebar gembira dan langsung mengiyakan.
Rigecherta melajukan motornya ke rumah Tivane .
" Tivane ada yang manggil tuh di luar" panggil ayah Tivane membuat Tivane langsung bergegas ke luar.
" Haii" sapa Rigecherta tersenyum tipis saat Tivane keluar dari rumahnya sambil sedikit berlari.
" Lo ngapain di sini?" Tanya Tivane mendekati Rigecherta.
" Nggak papa. Kangen aja" ucapan Rigecherta tersebut sontak membuat wajah Tivane memerah lalu berdehem pelan dan mengalihkan wajah.
" Ayo jalan-jalan" ajak Rigecherta membuat Tivane mendelik.
"Malam-malam?" Tanya Tivane terkejut namun di angguki oleh Rigecherta.
" Udah izin kok tadi sama papa lo" ucap Rigecherta membuat Tivane melongok ke dalam rumah.
" Pah. Emang boleh?!" Tanya Tivane sedikit berteriak.
" Iya. Jangan lama-lama" sahut ayahnya membuat Tivane langsung naik ke motor Rigecherta.
" Pegangan" Rigecherta langsung mengambil kedua tangan Tivane agar memeluknya.
" Heleh, modus" ejek Tivane namun ia juga mengeratkan pelukan membuat Rigecherta terkekeh.
Rigecherta menghentikan motornya di depan mini market membuat Tivane langsung bersorak senang.
" Yey... Beli eskrim " riang Tivane turun dari motor Rigecherta.
" Eh iya. Tadi Lo dari mana?" Tanya Tivane saat ia menelpon Rigecherta tadi Rigecherta bilang ada di luar.
" Ada deh" ucap Rigecherta membuat Tivane mencibir.
Rigecherta sedikit memperlambat langakh dengan tatapan mengunci pada satu titik. Tivane yang melihat Rigecherta berhenti pun mengikuti tatapan Rigecherta yang bertumbuk pada seorang orang lelaki paruh baya dan seorang pemuda.
Tivane tersentak kecil saat menyadari pemuda itu adalah Evan yang terlihat sedang berdebat dengan ayahnya.
" Udahlah pa, vane udah ada cowo yang dia sayang. Evan juga capek harus nurut terus sama semua ucapan papa" ucap Evan terdengar lelah dan lirih.
" Kamu udah berani nantang papa sekarang. Papa nyuruh kamu Deket sama Tivane itu juga demi perusahaan kita. Kamu bisa aja sekalian singkirin cowo nya si Tivane itu. Sepertinya juga cowo itu hanya anak yang mudah di singkirin." Sentak ayah Evan membuat Tivane yang mendengar itu syok, namun Rigecherta hanya diam sambil mengangkat alis tenang.
"Pah, Evan ada cewe yang Evan sayang" ucap Evan PDA akhirnya.
Plak!
Ayahnya langsung menampar Evan membuat Tivane dan Rigecherta tersentak menyaksikannya.
" Sudah berani kamu sekarang melawan saya. Ingat, kamu itu hanya anak tiri saya" bentakan tersebut semakin membuat Tivane semakin kaget dan langsung menghampiri Evan. Di ikuti oleh Rigecherta saat melihat ayah Evan hampir memukul Evan kembali.
" Berhenti tuan Revon!" Suara Rigecherta membuat Revon menoleh kaget ke arah Rigecherta.
"Rigecherta?" Tanya Revon pelan namun di Jawab oleh tatapan tajam Rigecherta.